an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Perkenalanku dengan Welirang-Arjuno

Tak pernah terpikirkan perjalanan bersama temen-temen Himapasti (Himpunan Mahasiswa Pencinta Alam di kampusku) yang sekedar aku iyakan sebagai sikap menghargai ajakan mereka, ternyata membawaku semakin menikmati duniaku dengan mendaki gunung. Ketika akhirnya aku memilih ikut dalam acara pembekalan calon anggota mereka yang kali ini mengambil tempat di gunung Arjuno dan Welirang Jawa Timur. Ragu menggantung hampir hingga sehari menjelang keberangkatan. Mengingat perlengkapanku yang terbatas karena belum begitu sering naek gunung kecuali dulu ketika masih SMA, serta aku belum begitu mengenal lingkungan Himapasti kecuali beberapa orang yang kebetulan aku kenal di kampus. Oiya, aku memilih tidak menjadi anggota kegiatan mahasiswa yang memiliki kegiatan alam bebas yang sebenarnya sangat aku minati ini dengan beberap alasan. Sepertinya cukup hanya sebagai alumni Sispala Bhuana Yasa yang mengantarkan aku tetap pada kecintaan kepada alam sekitarku.

Hmm…dilema antara keinginan kembali mencumbu alam dan kekurang-siapan mental melakukan perjalanan bersama komunitas yang masih asing bagiku cukup mempengaruhi keputusan yang aku ambil.

******

Pagi itu aku sudah berkumpul di kampus dan siap berangkat ke titik pendakian di daerah Pandaan, kawasan puncaknya Jawa Timur, dan aku ditemani Dodot, seorang teman dekat yang aku kenal dan tahu punya pengalaman mendaki sebelumnya. Untuk berbagai alasan, akhirnya Dodot mengabulkan permintaanku untuk menemaniku merasakan pengalaman pertamaku mendaki di pulau Jawa, dan tidak bersama komunitas Bhuana Yasa.

Dengan perasaan campur aduk antara penasaran menjajal kembali kemampuan berjalan mendaki dan kecanggungan berada di antara komunitas baru yang terkenal eksklusif di kampus. Obrolan mencair sepanjang perjalanan menuju titik awal pendakian Welirang yang umum digunakan, yaitu jalur Pandaan sekitar satu jam perjalanan dari Surabaya.

Memperhatikan pos lapor pendakian Welirang Arjuno (AW) yang sangat terawat dan terkesan nyaman bersahabat, membuatku menyadari satu hal, bahwa di tanah Jawa ini kegiatan pendakian masih digemari oleh banyak orang. Kepedulian para Jagawana menjaga keberadaan cagar alam dan mensosialisasikan kecintaan pada lingkungan cagar alam masih sangat kental di sini, berbagai informasi seputar pendakian bisa didapat di sini. Mungkin karena beberapa pengalamanku mendaki gunung sampai saat ini hanya di Bali saja yang tidak memiliki pos penjagaan khusus.

Berbeda dengan adat kebiasaan pendakian yang pernah aku lakukan, biasanya pendakian dimulai sepagi mungkin untuk menghindari terik matahari di jalur-jalur terbuka di awal pendakian, kali ini tim baru bergerak sekitar pukul 10 pagi, tepat ketika matahari mulai beranjak menyengat kulit. Pos pertama di jalur Pak Tompul-Pandaan melalui jalan beraspal di tengah hutan pinus yang merupakan gerbang hutan alam Pandaan, berakhir pada mata air di tepi hutan berupa area perkemahan yang menurut cerita pemilik warung di pos ini sering digunakan untuk perkemahan di akhir pekan.

Jalur penambangan belerang berupa jalan lebar berbatu yang sering dilalui kendaraan 4WD macam hardtop mengawali pendakian menuju pos selanjutnya di Kop-Kopan; pos ini merupakan pondokan pengepul terakhir para pemburu belerang dari kawah Welirang sebelum diangkut ke kota, terdapat beberapa pondok singgah dan penampungan belerang para pemburu. Sayangnya hari ini tidak nampak kendaraan itu melintas, sehingga jalur sepanjang 4 jam perjalanan mendaki di bawah terik matahari dan pantulan batu kapur cukup menguras tenaga dan mental kami.

Gunung Welirang berketinggian 3.156 mdpl dan gunung Arjuno berada 3.339 mdpl, merupakan dua buah gunung yang memiliki puncak yang saling berdekatan sehingga dapat didaki dalam satu rute pendakian. Sebenarnya banyak rute menuju puncak Arjuno-Welirang, seperti jalur dari arah Malang lewat jalur Kebun Teh Lawang maka akan mencapai puncak Arjuno terlebih dahulu. Kemudian ada jalur Mojokerto, Songgoriti dan beberapa jalur yang biasa dilalui oleh penduduk penambang belerang. Sedangkan jalur Tretes Pandaan merupakan jalur populer untuk mencapai puncak Welirang dan Arjuno karena akan mengantarkan kita pada titik temu kedua jalur menuju puncak Arjuno maupun Welirang pada satu area yang sangat nyaman untuk berkemah.

Seperti layaknya pendakian dalam jumlah besar, beberapa anggota pendakian akan terbagi dalam beberapa kelompok tergantung pada kekuatan fisik masing-masing. Aku dan Dodot serta beberapa orang calon anggota muda Himapasti tiba lebih dahulu di pos Kop-Kopan. Suasana akhir pekan kali itu cukup ramai, banyak anak-anak SMA mendirikan perkemahan di sudut-sudut Kop-Kopan, sementara tak nampak aktivitas penambang belerang siang itu, sepertinya sedang jam istirahat atau libur mereka hari ini. Pos Kop-Kopan memiliki mata air berlimpah, area perkemahan dan berada di sisi punggungan dari pegunungan Welirang, sehingga dari sini dapat kita lihat kota Pandaan dan sekitarnya jika cuaca cukup cerah.

Jalur berubah memasuki kawasan hutan dan jalan setapak menanjak, namun jika dibandingkan jalur di awal tadi, aku memilih jalur kali ini yang cukup teduh karena dinaungi oleh pepohonan semacam pinus dan santigi. Tipe hutan gunung di Jawa Timur utamanya kawasan AW ini adalah hutan tropis dan pinus dengan kawasan yang terbilang kering musim ini yang mendominasi jalur. Diselingi pepohonan pinus di akhir area menuju puncak, jalur yang cukup berdebu karena sudah jarang hujan. Perjalanan cukup bersahabat masih dengan tim yang sama berjumlah 6 orang termasuk aku dan Dodot, memasuki kawasan hutan Lali Jiwo yang cukup terkenal di jalur ini, mengingatkan aku pesan beberapa senior pendaki bahwa sangat dianjurkan untuk selalu mawas diri dalam setiap pendakian. Jangan memaksakan kondisi fisik dan mental, serta tidak mencemari pikiran dengan hal-hal negatif. Apalagi jika memasuki kawasan Lali Jiwo yang sangat sarat dengan cerita-cerita mistis. Mau tidak mau saat itu ketika sore menjelang, langkah-langkah kami berenam larut dalam konsentrasi diri dan kesadaran tingkat tinggi untuk selalu bersama dalam melangkah.

Gelap merayap menyelimuti kawasan Pondokan yang nampak sepi. Beberapa pondok berupa gubuk-gubuk mungil berjajar di sepanjang tanah lapang berseling semak bebungaan khas pegunungan, samar-samar berwarna ungu dan pink. Hhh…sampai juga di camp mengakhiri perjalanan panjang hari ini.

Rupanya cerita belum berakhir. Dari semua anggota pendakian kali ini, hanya kami berenam yang nampak di pondokan, hingga esok harinya baru kami tahu bawa setengah  kelompok lagi rupanya bermalam di hutan Lali Jiwo.

******

Rencana mendaki puncak Welirang pagi ini pun gagal karena masih berkoordinasi dengan semua anggota tim inti; senior Himapasti; kalau saya kan hanya tamu, jadi manut saja, hehe…

Tepat jam 11 pagi, menjelang siang, kami baru beranjak menapaki jalur menuju puncak Welirang yang diperkirakan berjarak 3jam perjalanan ke arah kanan dari Pondokan. Jalur cukup jelas, namun sedikit mulai mengalami kerusakan karena jalur ini juga menjadi jalur para penambang belerang di puncak Welirang. Jalur melalui hutan pinus, menjelang puncak mulai digantikan  vegetasi berupa perdu, bunga-bungaan gunung, alang-alang. Berasa memasuki kawasan istana pertapaan di masa lampau, tetanggaan tertata rapi berhiaskan bebungaan liar di kiri jalur berbatas tebing cadas, dan di kanan jalan bisa kita nikmati dari ketinggian ini mata leluasa menyapu pandang ke arah kota Pandaan dan Mojokerto.

Puncak Welirang yang sangat luas, mengepulkan asap belerang dari segala penjuru area berupa lapangan luas yang tak jelas di mana titik triangulasinya saat kami tiba di sini. Terus menyusuri setapak di tengah tanah yang berasap sulfur, hingga tiba pada titik buntu untuk menghentikan langkah dan menetapkan bahwa kami telah mencapai puncak Welirang. Sore akan menjelang, mentari nampak beranjak kemerahan bersaputkan asap tipis sulfur berpadu dengan tanah kuning yang mengandung belerang. Akhirnya aku tiba di salah satu tanah tinggi pulau Jawa. Sayang, sedikit kesalahan teknis menyebabkan dokumentasi kami di perjalanan Welirang total tak berbekas untuk dipamerkan ke teman-teman yang lain di base camp.

******

Selamat pagi kawan-kawan…sepertinya semua telah memulihkan tenaga dan tak ada alasan untuk tidak muncak bersama ke Arjuno hari ini, setelah kemarin hanya setengah dari rombongan yang menuju Welirang. Setelah ritual pagi berakhir, sarapan pagi bersama, tim yang lebih besar berangkat menuju Lembah Kidang untuk menuju puncak Arjuno di arah barat daya dari base camp kami. Cuaca cerah, terbilang cukup siang perjalanan ini kami awali, seperti kebiasaanku dan BY biasanya yang namanya summit attack pastilah selepas tengah malam saat tenaga pasti sangat cukup ketika mata baru melek menjelang pagi dan menangkap moment sunrise dari puncak.

Tak mengapa, tim baru, awal perjalanan yang baru, aku ikuti dengan segala perasaan gembira, bisa kembali bercumbu bersama hutan pinus dan segarnya hawa pegunungan, meski dengan satu kebiasaan aneh dan tak pantas ditiru. Mendaki pake sendal jepit, halaahhh… Jadi ingat saat menceritakan pengalaman pendakian dengan sendal jepit ini ke senior BY, aku langsung dapat briefing akan pentingnya melindungi kaki dengan perlengkapan yang sesuai, segala bahaya dan resiko kalo ngga pak sepatu, hehee…ampuuunnn…ngaa akan terulang lagi :p

Lembah Kidang berupa tanah lapang yang menurut cerita pernah dijadikan tempat menyepi para none Belanda dan keluarganya untuk kepentingan penelitian maupun berlibur. Terdapat beberapa bekas pondasi bangunan yang terlihat di beberapa sudut. Dinamakan Lembah Kidang karena pada musim penghujan area ini akan menjadi laguna kecil di tengah ilalang dan hutan pinus yang akan dikunjungi para kijang dan penghuni hutan lainnya untuk merumput dan memperoleh air.

Selepas Lembah Kidang, jalur Arjuno mulai menampakkan karakteristiknya. Jalur berbatu dan tebing berada di depan mata diselingi beberapa pepohonan pinus dan perdu yang mulai jarang, hingga tiba di batas vegetasi ditandai dengan sebuah batu besar yang biasa disebut gerbang menuju jalur Pasar Setan oleh teman-teman pendaki di Jawa. Sejenak beristirahat untuk kesekian kali di bawah batu besar yang bisa dijadikan bivak darurat, mengecek keadaan tim yang nampaknya masih ok punya untuk melanjutkan kembali perjalanan sedikit lagi.

5 jam berlalu, titik tiangulasi di 3.339 mdpl berhasil kami jejak bersama. Langit bersih sedikit terhiasi awan tipis mempercantik pemandangan dari atas sini. Bebatuan besar dan kawasan yang tidak begitu luas membuat cukup berdesak-desakan saat berfoto bersama. Moment keceriaan para pendaki pemula seperti aku dan beberapa calon anggota mapala kampus seperti tak pernah surut. Berbaur dengan para senior yang senantiasa sabar membagikan ilmu dan pengalaman hidupnya bagi kami semua. Terkadang cap dan penilaian negatif sering singgah pada mereka para pendaki dan mapala kampus yang kadang dipandang sebelah mata. Bagiku pribadi, mereka yang pernah merasakan pahit manisnya pengalaman mencapai puncak gunung dengan tujuan baik dan persiapan yang matang, pastilah bukan sekedar para penikmat tantangan yang ingin pamer otot dan cerita keberanian yang tak bertanggung jawab.

Sispala, mapala, siapapun mereka yang berani menamakan diri pencinta alam, sudah sepatutnya memiliki nurani, pikiran dan tindakan yang berpegang pada segala prinsip kecintaan pada lingkungan, tanah air, sesama dan kepada tuhan semesta alam. Meski hanya dengan sedikit usaha dari kami menularkan kecintaan kami pada alam kepada orang-orang sekitar kami, harapan akan terciptanya lingkungan yang tetap lestari bagi sesama selalu terpatri dalam jiwa kami. Merupakan tujuan dari setiap perjalanan kami, meresapi apa yang harus kami lakukan sebagai manusia yang menikmati keindahan alam ini bagi lingkungan hidup. Belajarlah dari pengalaman hidup, yang kami andaikan bagai mendaki gunung. Lelah, gembira, panas, sejuk, sunyi, riuh angin dan badai, semua kami rasakan sebagai pelajaran yang murni yang bisa kami peroleh dari sang Pencipta melalui alam semesta yang menakjubkan ini. Mari mendaki gunung dan sujud bakti padaNya.

4 comments on “Perkenalanku dengan Welirang-Arjuno

  1. antoxhamid
    November 30, 2011

    Nice story, sist..!! Made me miss those clouds, rocks, trees and the fresh air.🙂

    • inten_arsriani
      November 30, 2011

      thanks to come by, brada…🙂
      -and let’s come again, to the place that all those things you can found, hehee… –

      • antoxhamid
        December 5, 2011

        hahaha…!! baru sekedar datang ke labuan sait minggu lalu. supaya anakku bisa kenalan dengan tebing…🙂

      • inten_arsriani
        December 5, 2011

        jempoooollllll…^____^

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 6, 2011 by in Analogi Gunung, Arjuno - Welirang, Jawa.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

June 2011
M T W T F S S
« May   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Analogi Kliks

  • 33,156 Analogiers
%d bloggers like this: