an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Torean…Aku Menuju Rinjani

 

Mendaki, menapakkan kaki di tanah vulkanik berkerikil tajam, mampu membuatku menjadi seseorang yang lain… Perjalanan kali ini diawali dari satu ketertarikan dan rasa keterikatan yang aneh dengan Rinjani bagi diriku pribadi, juga merupakan satu lagi kesempatan untuk menemukan arti sebuah kalimat “temukan jati dirimu di hadapan alam” yang begitu melekat dalam pikiranku yang selalu menuntunku melangkahkan kaki melanjutkan perjalanan ini.

Masih tersisa rasa lelah setelah sehari sebelumnya menghadiri acara tahunan Sispala Bhuana Yasa, almamater Sispala-ku, di gunung Batur, pelantikan anggota angkatan XV, saat waktu memaksa kami untuk mempersiapkan perjalanan serta packing segala kebutuhan. Dua tenda dome dan masing-masing carrier telah rapi terpacking pada pukul 03.00 dini hari di Sabtu yang masih gelap. Meluncur dengan kecepatan tinggi menuju pelabuhan Padang Bay selama 1 jam perjalanan. Ternyata kami kurang beruntung karena kapal yang kami harapkan akan mengantar kami pagi-pagi ternyata telah mengangkat jangkarnya saat kami tiba di depan dermaga.

Akhirnya menikmati sarapan pagi sembari menunggu kapal berikutnya yang akan datang 2 jam lagi. Obrolan canggung mengawali perjalanan mengingat aku belum seberapa mengenal rekan satu timku kali ini kecuali Widi. Ginastra sang Ketum BY, berperawakan mungil dan terlihat cukup ceria. Meindra dengan penampilannya yang sangat mirip Surya angkatanku, tak henti membuat aku selalu tersenyum karena merasa langsung dekat dengannya karena kemiripan mereka. Werdhi, yang tampak lebih serius saat itu. Serta aku dan Widi sebagai bagian tertua dari perjalanan kali ini, ughh…

Ternyata ada maksud di balik semua itu. Saat kapal perlahan meninggalkan pulau Bali, matahari mulai merekah di ufuk timur. Mengawali perjalanan kami dengan cuaca cerah dan RINJANI nampak di kejauhan berdiri dengan anggun seakan memanggil kami untuk segera berkunjung.

Lombok…akhirnya aku, Ginastra, Meindra dan Werdhi merasakan juga udara di pulau ini untuk pertama kalinya untuk sebuah perjalanan. Mengawali travelling menuju pusat kota untuk melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan umum ke tujuan kami, dusun TOREAN, di timur laut kaki Rinjani. Sepanjang perjalanan yang memakan waktu 3 jam perjalanan menuju desa BAYAN, tak terelakkan sisa-sisa kelelahan kegiatan di Batur dan panjangnya perjalanan menuju Lombok membuat kami semua tertidur sepanjang perjalanan, dan tak terasa pada tengah hari kami sampai di desa Bayan, titik terakhir yang dapat dicapai oleh kendaraan umum roda empat. Setelah tawar-menawar yang alot antara para sopir angkutan yang meyakinkan dan membujuk kami dengan tawaran-tawaran semanis mungkin untuk menggunakan jasa mereka.

Tawar-menawar itu dimenangkan tukang ojek setelah mendapat referensi dari para siswa SMA yang kebetulan menunggu angkutan di terminal Bayan dan menyarankan kami lebih baik menggunakan ojek. Hmmm…kejujuran anak sekolah.

Perjalanan dilanjutkan dengan jasa ojek menuju TOREAN yang ternyata memang benar bermedan dahsyat untuk ukuran kendaraan roda empat. Beruntunglah kami memilih ojek saat itu walau sempat tersirat keraguan untuk mengendarai ojek dengan beban carrier dan tenda.

Sore itu kami habiskan dengan berkeliling dusun Torean yang tidak begitu luas. Menyaksikan kehidupan warga setempat pada sore hari yang diisi oleh waktu bermain bagi anak-anak Torean. Memasuki setiap pekarangan rumah warga Torean yang tidak dipisahkan oleh pagar, dengan bentuk bangunan tradisional berupa rumah tinggal berupa gubuk dan bangunan khas mirip JINENG di Bali yang berukuran lebih kecil yang disebut BRUGAK ternyata memiliki fungsi sama dengan JINENG sebagai penyimpan padi. Senja merayap pelan menyisakan guratan-guratan cahaya pada punggung Rinjani yang terlihat dengan jelas dari Torean dalam cuaca cerah tak berawan sore itu.

Fiuuhh…sedikit menimbulkan kegetiran pada wajah-wajah kami melihat Rinjani yang menjulang tinggi jauh di sana namun tetap menantang nyali untuk mendakinya.

Merasakan tidur di pondokan Pak Mangku, PORTER yang akan mengantarkan kami besok sampai di danau SEGARA ANAK, melewati malam dengan suasana mistis dan gonggongan anjing sepanjang malam akhirnya tak membuat kami terlelap meski kelelahan.

Mengingat perjalanan menuju SEGARA ANAK yang sepertinya akan cukup panjang, maka diputuskan berangkat sepagi mungkin untuk menghindari camp di tengah perjalanan. 06.35 perjalanan diawali dengan doa bersama dan seperti biasa berpose di depan Rinjani yang kami harapkan untuk dapat dicapai puncaknya beberapa hari di depan.

Ladang penduduk Torean di sisi lembah yang menghubungkan SEGARA ANAK dan Torean menjadi pembuka perjalanan. Jujur saja, tanpa pemanasan membuat laju jantung dan nafas terkuras di awal perjalanan ini disamping karena memang jalur yang sudah mulai sedikit menanjak. Sementara matahari dengan hangat menyambut dari sisi kiri kami menampakkan puncak Rinjani yang terlihat tenang dan menantang. Menelusuri jalan setapak dan sesekali berpapasan dengan warga Torean yang akan menuju ataupun telah datang dari danau Segara Anak pagi itu membuat kami sedikit melupakan kelelahan karena medan mulai melipir menyusuri tepian ceruk dalam dan lembah-lembah Torean sebagai jalur lintasan. Turun naik lembah dalam bersungai kering membuat nafas semakin memburu. Hingga akhirnya kami sampai di pos I setelah kurang lebih 3 jam perjalanan.

Pos I berupa shelter yang cukup luas dengan sungai di sisi kirinya yang memotong lintasan selanjutnya. Terdapat keterangan tentang peraturan memasuki Taman Nasional Gunung Rinjani dan penunjuk arah yang menunjukkan jarak Segara Anak entah 3 atau 7 km lagi karena kondisi papan petunjuk tersebut telah penuh coretan tangan tak bertanggung jawab.

Perjalanan kembali menanjak dan semakin ramai oleh rombongan penduduk desa yang telah kembali dari rutinitas mereka memancing di Segara Anak. Aroma ikan bakar menggoda perut kami, dan yang lebih menakjubkan lagi adalah hasil pancingan mereka berupa ikan-ikan karper berukuran besar yang tampak masih segar. Hmm…tak pernah terbayangkan di atas sana terdapat kehidupan air yang subur.

Tak berapa lama berselang, jalur Torean yang sesungguhnya yang benar-benar membedakannya dari jalur lainnya di Rinjani mulai tampak. Cerukan dalam yang mengalirkan aliran air sungai Kokok Putih, melipir di bibir ngarai dan tebing vertikal yang dari kejauhan nampak mustahil untuk dilewati, namun ternyata menyimpan setapak untuk satu orang untuk melintas. Hijaunya rumput pada permukaan tebing dan aliran sungai Kokok Putih serta semilir angin lembah membuat perjalanan terasa menyenangkan walau beban di pundak sudah semakin terasa membebani.

Bertemu beberapa air terjun pada tebing-tebing sepanjang jalur hingga di PELAWANGAN TOREAN yang akhirnya menjadi tempat peristirahatan sementara untuk mengambil gambar dan sebelum melanjutkan perjalanan pada medan yang semakin curam dan sempit hingga suatu waktu carrier terpaksa dilepaskan dan dilempar terlebih dahulu pada rekan yang sudah lebih dulu melewati jalur. Disinilah kami baru menyadari bahwa kami mulai menerapkan teknik pendakian scrambling pada beberapa lintasan saat menuruni turunan maupun tanjankan yang tajam.

Tujuan berikutnya adalah menelusuri dua tanjakan curam pada tepian tebing jalur Torean yang kemudian turun ke sungai Kokok Putih dan menyeberanginya. Jalur selanjutnya adalah mendaki bukit yang berada di seberang Kokok Putih dan beberapa aliran sungai yang ternyata menjadi satu pada titik pertemuan di hulu sungai Kokok Putih ini. Terlihat kembali beberapa aliran air terjun yang cukup besar dan menawan dengan asap yang samar-samar menyelimuti aliran airnya yang berwarna putih kekuningan. Hangat…namun ada pula satu aliran air yang berair dingin dan jernih, mengagumkan sekali melihat fenomena alam tersebut di atas sini… Inilah satu titik yang biasa dijadikan camp-site bagi pengunjung Segara Anak bila tidak mampu lagi melanjutkan perjalanan. PROPOK namanya. Tanah datar ditepi pertemuan tiga aliran sungai dengan latar belakang air terjun rembesan dari Segara Anak. What a beautiful camp site…

Ughhh…jalur benar-benar tidak memberi ampun. Akhirnya tanjakan curam selama beberapa lama membuat kaki yang telah cukup lama diistirahatkan di Propok harus kembali beradaptasi. Membuat nafas satu dua berhembus…berhenti sejenak dan menarik nafas sampai akhirnya berada di puncak bukit yang kami daki… Terlihat Kokok Putih telah berada jauh di belakang kami. Tergantikan oleh pemandangan yang membentang di hadapan kami…bukit yang membatasi Segara Anak dengan jalur Torean… Perjalanan sedikit lagi…

Kembali menuruni turunan yang amat curam, menuju Goa Susu dan lainnya sebelum menuju Segara Anak. Di sinilah nantinya merupakan pertemuan jalur antara Torean dan jalur lainnya yang menuju Segara Anak.

Melintas dan menelusuri setapak yang dialiri air yang berasal dari segara Anak yang merupakan rembesan dari lapisan tanah dan melalui dapur magma Rinjani membuat air yang kami lalui terasa hangat…sangat nyaman di kaki yang kelelahan namun tidak begitu mengenakkan karena sepatu-sepatu kami tidak cukup lama dapat menahannya. Akhirnya tiba juga di pintu jalur menuju Segara Anak dan Goa Susu… Menyiapkan diri untuk berendam di dalam kalak belerang yang banyak terdapat di depan mulut goa, dan ternyata hari ini sedang terdapat beberapa kelompok orang yang sedang melakukan ritual pengobatan di sekitar goa dan kalak. Jadi cukup ramai seperti perkampungan sementara bagi mereka dengan tenda-tenda besar dan orang-orang yang akan melakukan ritual.

Malam menjelang, membuat kami tak bisa berlama-lama di Goa Susu, sesudah beberapa waktu rehat berendam di air hangat alami melepas penat dan mencoba tempat pertapaan di dalam Goa Susu yang yang berbentuk vertikal menyisakan cerukan kecil seukuran badan untuk tempat bersila, kami berkemas dan melanjutkan perjalanan menuju Segara Anak yang hanya berjarak 30menit mendaki di atas Goa Susu.

Di sinilah, kami melewati malam hari pertama tanpa melihat seluas apa Segara Anak, kami terlelap ditemani malam gemintang yang tenang, menunggu pagi menyapa esok hari dan tak sabar menyapa Segara Anak dan gunung Baru Jari.

-to be continue…-

35 comments on “Torean…Aku Menuju Rinjani

  1. ekodanu
    July 7, 2011

    nice post bro…
    salam kenal

  2. Bambang A
    September 14, 2011

    Kami ada rencana mau ke rinjani lewat Toreang, apakah jelurnya jelas (tidak menyesatkan)? kami berencana tidak pakai porter (menghemat), mohon bantuan jika punya track gps untuk jalur ini,
    Wasalam.
    Bambang A

    • intenarsriani
      September 14, 2011

      jalur TOREAN sangat jelas sepanjang kita ketemu jalur yang benar setelah kebun penduduk. karena pengalaman kami terakhir, kami sedikit melenceng dari jalur dan mengikuti jalur pipa air yg dibuat masyarakat sampai d pos I. untuk amannya, pastikan jalur hingga batas hutan dengan sering bertanya pada warga yg berkebun. pilih jalur paling kiri sepanjang kebun, hingga ketemu batas hutan yang ditandai dengan plang beton kawasan taman nasional. pos 1 dari Torean kisaran 3jam perjalanan. jalur sangat jelas setelah itu, persiapkan air dari pos 1 karena hingga +- 4jam ke depan belum ada mata air lagi hingga di kawasan Propok (pertemuan bbrp mata air), bisa camp di sini atau lanjut hingga goa susu skitar 2jam dan danau skitar 3jam

      jalur ini cukup panjang yaitu 10,5 km hingga danau, jika kondisi team fit, dalam sehari perjalanan bisa sampai danau. jika boleh saran, berhubung jalur ini cukup unik dengan pemandangan yg luar biasa -versi saya-, sebaiknya camp di sekitar propok d mata air terakhir berupa sungai kecil dan campsite yg sangat nyaman. esoknya silakan lanjut ke danau melewati goa susu sekitar 4jam sudah dengan banyak waktu mandi2 di goa susu

      jika buru2 pengen sampai danau, berangkat pagi, maghrib diharapkan sudah sampai danau

      skian info yang bisa saya kasi, contact bisa dg pak SUHARDI. oiya, info porter lewat jalur ini sangat mahal, porter+guide 1hr jalan 300rb, karena jalur ini jarang dilalui dan cukup panjang. sementara angkutan ke Torean sendiri dengan OJEK skitar 40menit karena jalur yg rusak parah, bisa nego ojek skitar 30rb -jangan terlalu sore, karena bisa nda ada ojek ato bakal mahal banget-

      smentara kami tidak pake GPS perjalanan kmaren, cm berbekal ingatan 6th lalu :p

  3. Agung bayu
    November 13, 2011

    bro, kmrn naik lewat torean tu awal januari ya…berarti akhir thn n thn baru rinjani tetap buka untuk pendakian ya…critanya ak rencana mo coba jalur torean akhir tahun /sblm tahun baru…trimakasih infonya

    • inten_arsriani
      November 14, 2011

      hallo…untuk rinjani ditutup bulan NOVEMBER sampai MARET bang, APRIL kembali buka, begitu tiap tahunnya, karena info dari penduduk maupun petugas TNGR bulan2 tsb badai puncak sangat hebat, jadi memang tidak diperkenankan mendaki

      untuk amannya tunggu cuaca bagus sekitar april dst, kalo cm sekedar smp danau mgkn bisa, tp TIDAK saya sarankan lewat TOREAN, jalurnya berbahaya apalagi kondisi hujan, sudah banyak yg longsor di tepi2 jurang dan tidak ada jalur lain di beberapa bekas longsoran jalur
      (cek update terbaru saya tentang jalur Torean yg baru saya posting bulan september kmrn)

  4. Agung bayu
    November 28, 2011

    btw , catper torean diatas, naik-nya bln apa,ak pkir tgl 3 jan ( liat tgl di catper)

  5. Agung bayu
    November 28, 2011

    makanya ak pkir kok bisa jg naik awal thn

    • inten_arsriani
      November 28, 2011

      postingan itu saat blog baru release, tulisannya n naeknya udah 2005. yang terbaru bisa d cek di kategori “jalan-jalan”, bulan september saya ada posting Torean terbaru, naeknya akhir agustus 2011 ini

      semoga bermanfaat🙂

    • inten_arsriani
      November 28, 2011

      pls check this…

      https://intenarsriani.wordpress.com/2011/09/16/dan-aku-kembali-ke-rinjani/

      On 11/28/11, inten arsriani wrote: > postingan itu saat blog baru release, tulisannya n naeknya udah 2005. > yang terbaru bisa d cek di kategori “jalan-jalan”, bulan september > saya ada posting Torean terbaru, naeknya akhir agustus 2011 ini > > semoga bermanfaat🙂 > >

  6. Naufal
    February 20, 2012

    mas, mau tanya jalan ke desa bayan gmn? bisa pake bus apa nggak? soalnya saya rombongan dari malang mau studi ekskursi ke desa bayan.

    • inten_arsriani
      February 20, 2012

      hihii..maaf, saya mbak🙂
      panggil aja saya DAYU

      saya hanya melintasi Bayan d jalan utama saja, karena saya ke desa TOREAN, kalau k desa bayannya belum pernah, mungkin untuk akses bisa dengan minibus, karena desa tetangga bayan, torean, masih agak kecil akses jalannya dan hanya diakses ojek, jadi kemungkinan menuju Bayan dalam jg demikian

      • Naufal
        February 21, 2012

        oh maaf mbak Dayu. makasih infonya. o iya untuk tujuan wisata torean apa terkenal? saya kok nggak pernah dengar ya.

  7. inten_arsriani
    February 21, 2012

    Torean itu adalah desa terakhir untuk menuju gunung Rinjani, dengan suasana khas suku Sasak, perjalanan menujuorean melalui jalur yang menyusuri aliran sungai Kokok Putih, kita akan mengikuti jalur Pakelem (upacara tahunan masyarakat Lombok di Danau Segara Anak, Rinjani), untuk tiba di danau membutuhkan waktu sekitar 8jam untuk normalnya, kalau mau lanjut muncak bisa, atau sekedar mandi sauna, memancing dan menikmati malam di danau sudah sangat luar biasa🙂

    Jalur ini juga menyajikan jalur paling nyaman diantara sekian jalur Rinjani (menurut saya), meskipun ini jalur terpanjang menuju puncaknya, karena di perjalanan terlalu banyak pemandangan yang tidak bisa dilewatkan, salah satunya air terjun Kokok Putih dan tebing bukit Sembalun dan gunung Sangkareang, serasa di jurrassic park, jelasnya semua ada d catper, heheee…

  8. borex reko
    June 25, 2012

    Salam kenal mbak Dayu,
    mbak saya mohon info tentang jalur torean ini karena saya berniat untuk berangkat seorang diri pada tanggal 7 Juli 2012.
    mbak Dayu info pertama yang saya perlukan adalah desa Torean dapat ditempuh dengan kendaraan apa bila saya start dari Bandara Internasional Lombok dan berapa ya kira-kira biaya transportasinya ? yang kedua informasi biaya porter perharinya, yang ketiga kalau masuk melalui jalur Torean perijinannya bagaimana ?
    sekian dulu mbak, sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

    • inten_arsriani
      June 25, 2012

      salam kenal juga (mas) borex reko,

      terakhir tahun lalu saya via bandara lama, kalo dari bandara baru yg tengah kota mungkin sama harus ke MASBAGIK dulu untuk dapet angkot/jenis bison/elf jurusan BAYAN, turun di terminal (lebih seperti perhentian) terakhir angkotnya di BAYAN. Torean hanya bisa di akses ojek, catatan, jangan terlalu sore sampai Bayan karena susah ojek. Ongkos angkot dari Masbagik ke Bayan yang ditempuh 3jam sekitar 30.000. Ojek bisa jadi lebih mahal kalo nda bisa nawar. Waktu itu karena sudah maghrib dan hari takbiran, kami bayar ojek 45.000 per orang. Tapi worthed banget karena tak ada lagi kendaraan ke sana, hari sudah malam dan jalur memang sulit. Menuju Torean ditempuh hampir 1 jam.

      Nanti sampai Torean bisa ketemu Bapak Mangku, rumahnya sebelah musholla dipinggir jalan desa, dulu beliau yang ngantar pertama ke Torean. Biaya Porter cukup mahal di sini karena jalur yang memang jarang dilalui dan tidak banyak porter, sekitar 300.000/hr. Logistik jg sebaiknya disiapkan di kota, karena Torean benar2 terisolasi. Jika perjalanan lancar, jarak ke danau bisa ditempuh dalam 7jam. Untuk perijinan resmi tidak ada.

      semoga cukup membantu🙂
      #dari sekian jalur, Torean adalah jalur favorit saya…#

  9. agung bayu
    September 5, 2012

    akhir tahun kemarin bulan desember 2011 saya mendaki lewat torean pas natal. hujan dengan intensitas sangat lebat menemani sepanjang perjalanan. pengalaman hampir jatuh ke sungai yg kedalamannya kisaran 200 meter lebih karena terpeleset dijalur yang sempit sekali dan yang paling miris hampir tersapu air bah disungai yg semula kering, bener2 hampir saja… tapi syukur masih diberi keselamatan.

    dari sekian pendakian di musim hujan, torean memberi tantangan dan warna lain dari sedikit pendakian yang telah saya lalui.

    pada dasarnya jalur torean memberikan tantangan tersendiri dibanding jalur rinjani lainnya, tetapi hal konyol yang saya lakukan kiranya dapat memberikan pemikiran yang lebih rasional untuk mendaki sendirian lewat jalur torean pada musim penghujan tanpa persiapan yang optimal.

    #salam rimba#

    • inten_arsriani
      September 6, 2012

      yup, Torean memang cantik tapi hati-hati terhadap segala kemungkinan jalurnya yang suka memberi kejutan. Musim Agustus saja banyak sekali medan yang “nyaris”, apalagi kalau mendatanginya saat musim penghujan🙂

  10. satria
    February 24, 2013

    mas punya info lebih buat torean ga ? misalkan koordinat setiap, dll.. kalo punya mohon info nya nih..

  11. dwi meindra
    June 21, 2013

    woiieeee..baru bacaaa…lanjutannya mana???

  12. Hanif Nugraha
    June 24, 2013

    tulisan bagus mbak, kebayang ‘seru’nya jalur torean! saya baru sekali nanjak rinjani, sendirian, tp lewat jalur sembalun-senaru, ketagihan, kalo ada kesempatan pengin balik lg, dan tulisan ini menginspirasi, terima kasih🙂

  13. dwi meindra
    July 7, 2013

    ga buat lanjutannya mbok? yg sampe puncak..heheheh

    • inten_arsriani
      July 8, 2013

      hahaaa…iya yah, ternyata cerita ini ada “to be continue”-nya :p

      badah…sudah lupa aku lah aku sama cerita 8 tahun ini, gmana kalo pak Dok Meindra smenyumbang ingatannya di sini ^-^

  14. tumbur leonardo
    July 17, 2014

    halo mba dayu,, salam kenal saya tumbur leonardo dari jakarta..
    mau tanya, kira” via torean bisakah untuk tidak pakai porter?? trus jalurnya sdh jelas belum mba? ada papan2 tiap pos atau penunjuk arahnya tidak??
    dan klo dari pelabuhan lembar ke masbagik naik angkutan apa ya??
    makasih mba,,

    • inten_arsriani
      July 17, 2014

      Hai mas Tumbur Leonardo,salam kenal…

      Torean malah tidak menyediakan porter sama sekali karena jalurnya tidak seramai sembalun-senaru
      Namun saran saya utk pertama kali ke torean baiknya minimal ada guide (lokal torean), karena jalur belum begitu jelas dan pos pun tidak ada (terakhir th 2011 sih ya…bekas pos 1 satu2nya pos yg dl jelas sudah tidak bertanda)
      Jalur ada beberapa yg sudah longsor dan dialihkan,ini yg membutuhkan pemandu utk yg pertama kali datang.
      Jika dari Lembar,angkutan umum rata2 dengan colt,siap-siap dg gaya terminal aja,krn kernet dan calo-calonya cukup agresif mengarahkan penumpang,hehee…

      Sayangnya saya ga punya kontak warga Torean,karena saat itu sinyal jg ga ada di torean jd warga tidak ada yg punya hp :p

    • inten_arsriani
      July 17, 2014

      Salam kenal Mas Tumbur,

      Terakhir ke Torean 2011 lalu, ini linknya…
      https://intenarsriani.wordpress.com/2011/09/16/dan-aku-kembali-ke-rinjani/

      Saran saya pertama kali pendakian jika belum ada rombongan yg pernah ke sana minimal ada guide (lokal bs minta penduduk torean)
      Kalo porter Torean tidak semudah jalur sembalun-senaru karena memang bukan jalur umum

      Jalur hanya ada 1 pos di 3 jam pertama,yaitu pos 1 namun 2011 lalu sudah tidak berbentuk pos,smentara jalur bbrp sudah ada yg longsor,jadi dialihkan ke jalur sekitarnya.

      Nah sayangnya saya ga punya kontak warga atau kenalan di Torean

      Untuk akses dari Lembar ke kota bisa naik angkot jenis colt atau bison yg banyak mangkal di pelabuhan

  15. Huges
    April 15, 2016

    Kk itu pa suhardi ad kontak nya ga?

    • inten_arsriani
      April 16, 2016

      Hai Huges…maaf banget saya kehilangan kontak…dan waktu 2011 ke sana di sana belum banyak yg punya nomor hp disamping di sana sinyal waktu itu susah

      Saran kalo mau via Torean, usahakan tiba di Torean sehari sebelum pendakian jangan kesorean. So masih ada waktu utk cari guide…sepanjang bukan hari raya, mereka selalu bisa sediakn minimal 1 guide. Ato kalo beruntung bisa nunut penduduk yg mau mancing di danau.
      Harganya akan sedikit berbeda dg jalur sembalun ato senaru karena Torean memang lbh jarang dilalui…

  16. halo kak mau nanya nih, bulan dpn aku mau ke rinjani via torean.. sumber air nya ada dimana saja ya kak? hehe terimakasii

    • inten_arsriani
      May 12, 2016

      Hai jasminee…seingat saya mata air jalur torean ada beberapa, yg jelas bawa air dari awal lalu di pos 1 ada sungai kecil, jelang pos propok di tebing kanan jalur ada rembesan sumber air yg biasa dipakai ambil air suci upacara Pakelem, dan terakhir di pos sebelum Propok kita ada menyebrang sungai kecil lg yg airnya bisa dikonsumsi.
      Pos propok jg sebenarnya adalah pertemuan bbrp aliran sungai, cm pilih sungai yg airnya layak minum ya krn 2 sungai airnya berkadar belerang tinggi.
      Selebihnya mata air baru ada lg di dekat kalak di danau.

      Selamat datang di rinjani via torean…

  17. Yuhermansyah ST
    October 27, 2016

    mbak, boleh minta contact wa ny gk,
    lgi butuh info buat ke rinjani nih. atau wa saya duluan y mbk. 083187097741

    • inten_arsriani
      October 27, 2016

      Allow mas Yuhermansyah, utk info Rinjani kebetulan saya sudah lama banget ga ke Rinjani. Ini tulisannya udah 2011 lalu…jadi ga banyak bisa bantu info terkini.

      Kalau mau…di instagram ada teman-teman komunitas sekitar Rinjani, coba dicek salah satunya RinjaniTrekker 😊

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 3, 2011 by in Analogi Gunung, Rinjani.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

January 2011
M T W T F S S
    Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Analogi Kliks

  • 33,170 Analogiers
%d bloggers like this: