an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Mengunjungi Hyang Merapi

Baru kali ini aku melakukan pendakian bersama orang yang aku baru temui beberapa jam sebelum pendakian. Berawal kenal di jejaring sosial dan ber-sms beberapa hari sebelumnya; ketika rencana awalnya semestinya aku berangkat bersama ”guide”ku, namun karena Kanjeng Mama-nya ternyata bersamaan dengan jadwal pendakian kami datang berkunjung, akhirnya aku putuskan tetap berangkat dengan mencoba mencari rekan lain. Inilah cerita di balik pendakian pertamaku bersama orang-orang yang tak aku ketahui track record dan gaya pendakiannya seperti apa.

Terbiasa dengan persiapan pendakian yang matang dan perhitungan yang presisi dalam melakukan perjalanan, kali ini aku boleh agak sedikit senyum-senyum simpul mendapati diriku di antara mereka yang gemar melakukan perjalanan dengan irama santai. Alhasil dari awal mencoba membuat perencanaan dengan mereka, Oom Andy Glassmoon dan Bro Franztinto Dzastro, semua mereka jawab dengan kalimat “nyamannya panjengenan saja…mau jam berapa”. Glodak…padahal aku berharap banyak mereka sebagai warga lokal di sini bisa memberiku gambaran tentang rute dan alur perjalanan yang akan kami lalui, termasuk segala persiapan serta estimasi waktunya.

Tak mengapa, siang itu aku sudah di-drop di terminal Muntilan dan segera ditinggal setelah turun dari sepeda motor; berhubung mas Priyo ini harus segera ke Solo; hhh…dalam hati masih antara ikhlas dan galau juga tapi mau gimana lagi, hatiku sudah aku kunci untuk Hyang Merapi kali ini. Kembali menikmati terminal…

Setelah memenuhi kerir dan daypack dengan logistik; yang bujubuneng mereka memang serius mau nyaman dan santai sehingga aku berpikir ini kita mau mendaki semalam saja apa beberapa malam; bersama dua motor kami menuju kawasan Selo dan berhenti di Ketep Pass untuk mengisi “bahan bakar” untuk diri kami. Sembari melepas obrolan, sudah aku pasrahkan saja rencana perhitungan perjalanan dimulai siang menuju sore hari mengejar hari sebelum malam tiba di Pasar Bubrah, pupus. Hari beranjak senja ketika kami menuju basecamp Merapi di jalur New Selo dan bertemu beberapa sepeda motor yang juga dikendarai oleh orang-orang dengan kerir besar di punggung. Hmm…benar juga kawasan Selo ini memang menyimpan potensi wisata minat khusus, khusus penikmat wiken di gunung. Jika tak belok kanan menuju New Selo Merapi, maka dapat dipastikan mereka menuju Gunung Merbabu di sebelah kiri.

Sore itu basecamp ramai oleh anak-anak muda yang turun dari puncak maupun yang sedang mempersiapkan perjalanan, termasuk kami yang berniat re-packing, yang akhirnya memilih menyingkir hingga rombongan mereka meninggalkan basecamp barulah kami leluasa memilih tempat untuk melakukan persiapan.

Basecamp ini berjarak sekitar 300 meter sebelum New Selo, basecamp Bara Meru Merapi, berupa bangunan permanen yang bisa kita gunakan untuk menitip kendaraan, istirahat, re-packing dan sebagainya. Sayangnya kali ini daerah ini sedikit kesulitan menemukan sumber air, syukurnya persediaan kami lebih dari cukup jadi tak perlu susah payah menuju rumah-rumah penduduk untuk mengisi persediaan air untuk ke puncak.

Senja tak mau menunggu, lamat-lamat bersama angin sepoi sore itu mentari bersembunyi di balik ladang-ladang tembakau penduduk di depan basecamp, mengantar kami menanjaki jalanan aspal menuju New Selo; kirain ada ojek ato bisa parkir di New Selo, ternyata…

Sempat ditawari seorang warga untuk menggunakan jasa porter dan penunjuk arah, dengan harga 100.000 Rupiah sekali jalan hingga Pasar Bubrah. Yang akhirnya kami berangkat bersamaan dengan rombongan lain yang juga sudah siap untuk mencapai Pasar Bubrah malam ini. Jalanan berdebu di antara ladang penduduk. Malam makin berbintang, dingin mulai menyeruak di antara dedauanan tembakau, menyapa langkah-langkah kami yang masih pemanasan di awal perjalanan. Headlamp, obrolan sesekali, menoleh bintang di atas kepala, hingga akhirnya memasuki jalanan terjal yang tak ada bonus dalam beberapa jam berselang dengan pepohonan mengantarkan kami pada 4 jam perjalanan yang belum berujung.

Unik memang perjalananku kali ini. Aku harus membiasakan ritme langkahku yang sesekali aku syukuri juga karena tidak terlalu berat. Namun sayangnya jeda waktu langkah dan istirahat yang kami lakukan membuatku terlalu sering mengalami kedinginan, hahaha…maklum, aku paling tak suka berlama-lama istirahat karena keringat yang basah akan menjadi dingin dan menusuk tulangku. Waktu menuju tengah malam dan sepertinya sepakat bahwa perut minta disubsidi makanan berat, apalagi  Tinto sudah mulai mengoceh mulutnya sepet; artinya minta dilewatin makanan tuh, hahaa… Jadilah kami bongkar packing dan menikmati hangatnya perapian trangia sembari menyeruput susu coklat hangat di jalur yang ternyata tak jauh dari tanjakan bukit terakhir Pasar Bubrah.

Hampir tengah malam kami tiba juga di Pasar Bubrah yang sudah dihuni oleh beberapa tenda. Dalam kegelapan kami mencoba mencari areal yang nyaman di antara bebatuan tajam Pasar Bubrah untuk mendirikan tenda. Dalam sekejap tenda telah berdiri dan aku mengganti perlengkapan sebelum hawa dingin merontokkan belulangku. Malam makin larut, memasak logistik dan kantuk tak bisa kutahan lebih lama lagi, aku mendahului oom Andy dan Tinto yang masih betah di luar tenda. Hoaahhmmm…mari masup dalam sbwk (sleeping bag warna kuning), dan bercengkerama dalam mimpi; ternyata malah nda mimpi sama sekali saking lelahnya, hanya terganggu sejenak ketika kakiku kram karena separuh kakiku yang terbungkus sbwk keluar tenda yang lupa aku tutup, hahaa…

Lelapnya tidurku tak begitu terganggu oleh riuhnya pendaki-pendaki yang semalaman terus berdatangan, aku terbangun lebih awal karena alarm di hp dan badan rupanya perlu perubahan posisi. Beberapa waktu kemudian kami putuskan untuk mengakhiri tidur karena memang sudah hampir pukul 6 pagi. Di luar tenda pun sudah mulai terang, dengan semangat aku buka pintu tenda dan…ucapan selamat pagiku tertahan karena yang aku lihat hanya bebatuan berselimutkan kabut putih pucat. Mencoba melihat sekeliling dengan melongokkan kepala menyembul masih dari dalam tenda, aku melihat beberapa cahaya blitz dikejauhan di puncak Merapi.

Hmm…ini pertama kali aku melihat seberapa jauh kira-kira puncak Merapi dari camp terakhir kami meski masih samar-samar, hingga akhirnya langit menjawab doa, cerah.

Perjalananku kali ini membawaku pada banyak perenungan yang berkelebat silih berganti di kepalaku bersamaan dengan kakiku menjejak bebatuan dan pasir Merapi. Medan menuju puncak yang cukup berat, pasir yang tebal membuat langkah satu satu kembali merosot setiap dijejakkan. Bebatuan yang sangat labil yang setiap digenggam akan segera rontok, belum lagi jalur berdebu, pasir halus yang tebal membuat perjuangan habis-habisan untuk semakin dekat dengan puncak. Termotivasi oleh jarak pandang ke puncak yang sepertinya tak jauh lagi, namun tahu sendiri di gunung ketika melangkahkan kaki lima langkah saja sudah menguras tenaga sedemikian rupa, namun inilah kecintaanku pada perjalanan di gunung. Aku menikmatinya.

“setiap jalur yang mereka, aku, kamu pun lalui adalah sama,

pijakan yang kau pilih, adalah sepenuhnya hak dan tanggung jawabmu,

keseimbangan langkahmu adalah tugasmu untuk menjaganya,

ketika trekking pole harus ditancapkan dengan tepat untuk menjaga langkahmu,

semangat, ketekunan, keteguhan dan kesabaran menjadi kunci pencapaian kali ini.”

***

Memang tak ada lagi sosok puncak Garuda yang tersohor itu. Letusan Merapi tahun 2010 telah mengubah bentukan puncak dari gunung Merapi.

Kawasan puncak yang berupa igir sempit yang langsung berbatasan dengan kawah Merapi, membuat kami harus pintar-pintar membagi tempat dengan pendaki lain yang hari ini terhitung cukup banyak.

Kawah Merapi Sekarang

Tak kunjung puas memandangi sekitaran puncak yang berlangit biru serta gunung Merbabu di sisi utara, ingatanku terus melaju dan melayang menyusuri birunya langit pagi ini.

Berteman Wall-E, hari ini aku tiba di di istana Hyang Merapi

***

Woww….jangan pernah katakan menuruni lereng puncak lebih mudah dibandingkan ketika kita menanjakinya.

Benar-benar memerlukan koordinasi yang kompak antara seluruh badan dan pikiran agar tak sampai tergelincir. Sementara bebatuan labil dan berdebu serta curam, membutuhkan ekstra kehati-hatian sepanjang jalur menyusuri jalur turun hingga bertemu jalur berpasir yang bersiap menyambut keberanian kita untuk “menunggangi” lapisan pasir longsornya. Yuhuuuuu…dan aku menikmatinya! Jejakan sepatu, tancapan trekpole, hirupan nafas, semua bersinergi…membawaku larut menuruni lereng Merapi di atas medan berbatu dan disambut pasir halusnya yang meluncurkan aku.

Gunung Merapi yang menjadi salah satu gunung berapi teraktif di dunia memang masih menyisakan bahaya pasca letusan terakhirnya.

Dan jalur pendakian via New Selo sendiri merupakan jalur yang memang menyimpan banyak jalur berbahaya. Setelah meninggalkan Pasar Bubrah kita masih harus berjuang menuruni lereng berbatu hingga sampai pada jalur di punggungan yang bertipe batuan tua berhiaskan tanaman perdu-perduan seperti Cantigi dan sebagainya. Salah satu tipe jalur yang aku sukai, bebatuan, perdu dan semak warna warni cerah merah hijau serta kombinasi kondisi kekeringan di Merapi malah membuat jalur ini semakin memikatku. Berselang setengah perjalanan, bebatuan berubah menjadi jalur berdebu tebal dan wajib memasang masker serta kacamata tak boleh lepas.

Dari sekian banyak gunung yang aku daki dengan langkah preventif sebaik mungkin, rupanya Merapi adalah gunung yang paling tidak ramah bagi wajahku, hahaa… Selepas menuruni lereng hingga sampai di basecamp New Selo, masker hanya sesekali aku lepas untuk membetulkan posisinya atau sekedar menukar sedikit udara segar. Namun rupanya itu tak cukup, bahkan dengan kombinasi sunblock tetap menghasilkan kulit wajah dan bibir yang mengelupas kekeringan; jiaahhh…ketahuan deh besok ngantor kalo cuti kali ini ke gunung lagi.

Akhirnya….pendakian kali ini aku hanya berteman Wall-E dan dua kawan baru.

Bercerita tentang banyak hal, Hyang Merapi telah memberiku waktu untuk sampai di halamannya kali ini. Gunung-gunung itu tak pernah berhenti memikat hatiku, atau lebih karena aku kah yang telah mengikat hatiku padanya?

Hmm….mungkin itu tak perlu aku cari tahu jawabnya…

15 comments on “Mengunjungi Hyang Merapi

  1. akuntomo
    September 29, 2012

    wuih merapi….

  2. glass
    October 3, 2012

    di guide’in orang jompo..hehehe
    anyway totally paid with the amazing merapi !!

    • inten_arsriani
      October 3, 2012

      hahahaa…biar jompo yang penting semangad n aksi tetap muda😀
      *halah cuma beda 700an hari doang*

      yes, it’s great Merapi…akan kembali ke sana suatu hari…

  3. MCendana
    November 3, 2012

    selalu suka dengan gaya penulisannya kak Dayu🙂
    tergambar dengan rinci dan sangat jelas – korelasi subyek dan obyeknya.

    • inten_arsriani
      November 3, 2012

      makasi May, mari sama-sama belajar,
      intinya #katanya# tulis sesuai apa yang kamu rasa dan bagaimana kamu mengungkapkannya dengan bahasamu sendiri, dan menjadi natural-lah…😉

  4. dwi permana
    March 12, 2013

    Wahhhh….cerita yang menarik…hyang merapi memang cantik. oya aku boleh minta tolong ga mbak? buat tulisan merapi dan merbabu jadi satu judul giant twins. kl bisa mbak balas ke emailku yah, permanadwi87@gmail.com

    • inten_arsriani
      March 15, 2013

      Salam, bang dwipermana…terima kasih sudah berkunjung
      Maaf baru onlen😀

      Hmm menarik jg tema giant-twins nya,coba nanti saya tulis😀

  5. Hartawan Wong
    April 11, 2015

    Wah boleh nih kita bikin expedisi bareng…Tambora atau Kerinci?

    • inten_arsriani
      April 16, 2015

      Salam kenal, Kang.. Bole juga, Kerinci nampaknya ok
      Tinggal waktu cutinya ittuuuu..hahaaa…

      • Hartawan Wong
        April 17, 2015

        Jahhhahahaha…iya itu masalah nasional sepertinya…Cutiiiii…hik hik…
        Yah kalo pas tanggalnya, kita rame2 ya…

        Salam
        Wong Sleman

      • inten_arsriani
        April 18, 2015

        Wah panjenengan Wong Sleman?! Aseekkkk…saya sering mampir Sleman.

        Eniwe blognya keren juga ttg Jepang, saya suka dengan ulasan tempat menarik n budaya Jepang dan sedang berdoa suatu hari sampai di Jepang😀
        *amin…

      • Hartawan Wong
        April 27, 2015

        Inggih Mbak Inten, wong sleman berprestasi hehehe… Ini bulan May mau ke Semeru, mau ikutan ndak, pas tanggalan merah??

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 29, 2012 by in Analogi Gunung, Jawa, Merapi and tagged .
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

September 2012
M T W T F S S
« Aug   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Analogi Kliks

  • 33,170 Analogiers
%d bloggers like this: