an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Tualang Si Oto Ijo, Buen Camino de Fatumnasi

Buen Camino de FatumnasiPerjalanan menuju desa Kapan, di wilayah kabupaten Timor Tengah Selatan atau TTS ditempuh dalam waktu kurang lebih 2,5 jam dari Kota Kupang tiba di pusat kota Soe dan tambah sekitar 1 jam menuju Kapan melintasi Mollo. Rencana subuh kami batal karena semalam sebelumnya kami habiskan dengan nonton di bioskop dan alhasil  keesokan harinya kesiangan. Ah toh tak ada diburu waktu hari ini jadi nikmati hari malas pagi ini meluncur menuju Soe. Sementara ini kami meluncur mulus dengan berkendara kendaraan rakitan terbaru di tahun 2017 yang perjalanannya masih kurang dari 1.700 km. Beruntungnya kami dipinjami Si Mulus ini.

Jelang memasuki kota Soe kami teringat seorang kawan yang sedang ada di kampungnya di Kapan. Kak Iman Nge Mano. Ya, tak pikir panjang maka ”Mama Ina”-nya kak Iman ini; panggilan spesialnya Iman untukku; segera meneleponnya dan beruntung lagi, Iman menawarkan diri mengantarkan kami menuju kaki Gunung Mutis, Fatumnasi. Karena menurut Iman, jalan menuju lokasi tidak layak bagi kendaraan anyar bin mulus yang kami bawa. [meski sebenarnya bisa saja asal tega dan berpengalaman nyupir di medan berbatu dengan variasi medan berdebu dan beberapa tanjakan].

Maka setelah menyiapkan semua amunisi mulai dari sepanci nasi dalam magicjar dari dapur kak Iman dan hasil ceplokan telor mata sapi dan telor dadar darurat serta “minuman” buat si Oto Ijo yang akan mengangkut kami ke tujuan, berangkatlah kami jelang siang hari itu. Let’s the adventure begin!

Perjalanan dari halaman rumah kak Iman sudah langsung memasuki jalanan utama di Kapan menuju arah Fatumnasi. Beberapa saat kemudian jalanan mulai berlubang di sana sini. Debu beterbangan dan guncangan di dalam Oto Ijo mulai terasa. Belokan pertama yang kata kak Iman adalah jalan baru yang dibuka pemerintah sebagai alternatif jalur lama yang tidak bisa dilalui karena tertimbun longsor, mulai mengintimidasi dengan tanjakan jalan berdebu. Terbayang jika nanti saat musim penghujan di Kapan tiba tapi proyek jalan ini belum selesai maka ini akan menjadi wahana berlumpur dan sulit dilalui.

Setidaknya, jalanan di Mollo ini sedang dalam proses pembangunan karena material pengaspalan nampak sepanjang jalan, jadi percepatan ekonomi masyarakat dan kehidupan sehari-harinya segera terfasilitasi. [Modus. Padahal maksudnya biar kalau main lagi ke Mollo atau Fatumnasi badan ga rontok di jalan, hahaa…]

Oto Ijo terus menerjang garang, dengan kak Iman di belakang kemudi yang setiap bertemu warga di jalanan akan berteriak “wo’iii” dengan nada yang khas. Kata Iman ini salah satu bentuk kebiasaan masyarakat desa menjaga hubungan satu sama lain. Bertegur sapa kepada siapa saja bahkan dengan mereka yang tidak kita kenal, SKSD saja sudah. Hmm…rupanya kehidupan desa masih kuat mengajarkan budaya ramah dan peduli satu sama lain yang sementara di kota entah sudah enyah ke mana.

Kuda-kuda liar dan peliharaan bebas di padangKawasan Mollo menuju Fatumnasi sungguh menakjubkan. Pernah aku baca sebelumnya yang berkisah tentang kawasan gunung marmer dengan tipe alamnya seperti layaknya di Iceland atau New Zealand sana. Sabana dengan vegetasi dataran tinggi seperti pinus dan hewan-hewan ternak bebas berkeliaran. Udara yang sudah pasti sejuk dalam kombinasi debu jalanan dan teriknya mentari menyertai perjalanan. Langit sangat biru dengan hijau pepohonan tumbuh di atas padang rumput yang saat ini sudah mulai menguning karena musim hujan sudah lama berlalu di sini.

Selang 1 jam perjalanan kami melalui sebuah danau, yang lupa apa nama danaunya, hahaa… karena kami ditawarkan menuju lokasi lain yang lebih woww kata Kak Iman, sebuah tebing batu untuk melihat Mollo dari ketinggian. Selanjutnya kami melalui jalur masih dengan jalanan berbatu. Namun pandangan mata terhibur kagum sepanjang jalur karena disuguhi pemandangan macam padang rumput di negara dingin dengan kombinasi pinus, padang rumput lengkap dengan kuda dan sapi yang bebas memamah biak. Ini juga seperti jalan-jalan ke taman safari, hahaa…

Tebing FatumnasiPuas menikmati sensasi dari ketinggian tebing yang yah macam waktu beberapa waktu lalu main-main ke Gunung Fatuleu dan disamping sudah banyak bikin pose foto plus lapar, kami turun ke padang rumput dan makan siang di sana. Aih, angin sepoi dan langit biru ini menambah khusuk suasana sampai akhirnya aku sempat berbaring dan mendapat pemandangan langit biru dengan foreground daun-daun hijau dari ranting pohon-pohon yang menjulang di atas ku.

Piknik di bawah pohon rindang

Sekembali dari makan siang di padang rumput kami menuju Fatumnasi, yang rupanya masih lumayan jaraknya sehingga kami putuskan tidak mampir di danau, cukup menikmatinya sejenak dari atas kendaraan.

Medan menuju Fatumnasi dari danau semakin menantang. Dua motor yang dikendarai keponakan Kak Iman melaju memandu Oto Ijo, sesekali memeriksa jalur dan memastikan Si Oto Ijo aman melintas. Akhirnya kami melewati Lopo Mutis yang legendaris itu. Lokasi basecamp dan penginapan bagi pendaki yang ingin mendaki ke Gunung Mutis. Nampak ramai basecamp sore itu dengan beberapa kendaraan parkir di halamannya dan orang-orang bercengkerama.

Selamat datang di Kawasan Cagar Alam Gunung Mutis. Demikian tertulis di gerbang memasuki kawasan Mutis seperti layaknya gerbang kawasan umumnya, nah yang ini Cagar Alam. Hmm…

Tak berapa lama menajaki jalur berbatu, yang bila mendaki Mutis mulai dari Lopo akan melalui jalur ini dengan berjalan kaki hingga gerbang dan selebihnya aku belum pernah mencoba pendakian Mutis. Awiiihhh…ini jalan makadam yang penuh batu kalau dilalui dengan jalan kaki gempor juga, apalagi ada kendaraan masih bisa lalu-lalang sesekali. Sepertinya akan nyesek banget kalau mengawali pendakian dengan berjalan kaki di sini. Hahaa…timbul rencana suatu hari nanti bila akan mendaki Mutis maka akan numpang ojek sampai ujung jalur pendakian.

Eh tapi balik lagi, ini kan Cagar Alam. Kenapa bisa didaki ya…sepertinya aku harus membaca ulang Undang-undang Kawasan Konservasi tentang ketentuan Cagar Alam dan memperbanyak imfo tentang Mutis sebelum memutuskan lebih lanjut. [Daripada kena jewer]

BonsaiBenar-benar menambah lengkap petualangan hari ini yang sedari awal telah terasa seperti memasuki negeri dongeng. Sabana, pinus, hewan liar, pemondokan bak rumah kurcaci, dan jalur bebatuan yang masih sangat alami. Belum lagi salah satu sudutnya yang menampakkan jalur yang serupa dengan jalur perjalanan ziarah di Santiago de Compostela. Ah, jadi makin terkagum-kagum.

Bak di negara New ZealandPuas hari ini berkeliling dengan jasa istimewa dari Si Oto Ijo. Kak Iman nampak senang berhasil membawa Oto Ijo sampai sejauh ini berkunjunh ke sanak saudara di kaki mutis dengan medan yang menantang, dan Oto Ijo masih nampak prima tak ada kendala sama sekali dikendarai dalam medan garang. Mungkin Oto Ijo bisa ikutan rally, canda kami, hahaa…

Inilah si Oto Ijo, mobil keluaran Toyota tahun 90-an dengan nama beken Kijang. Berwarna hijau tua dengan onderdilnya yang masih original dengan beberapa modifikasi oleh kak Iman. Salah satunya pada bagian sound system yang sudah luar biasa bisa bernyanyi kencang beberapa waktu lalu. Tapi sayang hari ini pemutar lagu dalam Oto Ijo lagi ngambek. Risalahnya hanya karena Kak Iman terlalu bersemangat ngajak si Oto Ijo mandi sampai bagian dalamnya pun disiram hingga bersih dan meniggalkan kerusakan pada sistem pemutar musiknya. Ah…Kak Iman ada-ada saja. Tapi meski begitu, Oto Ijo dan Kak Iman adalah paket komplit pahlawan perjalanan kami hari ini.

Oto Ijo dan Kak Iman yang Cetar

The Legend

Terima kasih sekali lagi, Oto Ijo dan Kak Iman, atas petualangannya hari ini ke negeri dongeng, Fatumnasi. Buen camino de Fatumnasi.


*untuk informasi mengenai kawasan Mutis, salah satunya bisa diakses di http://www.rimbawan.or.id/umum/2012/04/potensi-dan-tantangan-pengelolaan-cagar-alam-mutis.html

Advertisements

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 4, 2017 by in Analogi Plesiran.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

September 2017
M T W T F S S
« Aug    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Analogi Kliks

  • 37,977 Analogiers
%d bloggers like this: