an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Gadis Hujan

Dia menoleh kembali ke arah langit yang bergemuruh siang itu, ah…aroma candu akan datangnya nyanyian langit semakin menyesakkan dadanya. Tak sabar dia berlarian melintas di antara ilalang yang berdesir di antara setapak yang menuntunnya menuju tempat pertemuannya dengan hujan. Bayangan tarian yang akan dia tunjukkan dalam rinai-rinai kali ini sudah berkelebat tanpa bisa ditunda. Semua beban dalam pikirannya telah tertinggal jauh di kaki bukit. Ya, hari ini Si Gadis Hujan akan bertemu kekasihnya. Hujan.

***

Kinaya merapikan kembali meja tempatnya menghabiskan sebagian besar hari ini dengan menarikan jemarinya di keyboard kesayangannya. Imajinya masih melekat bersama Si Gadis Hujan. Masih ingin jari-jarinya menciptakan Si Gadis Hujan yang sebentar lagi bertemu kekasihnya. Namun sesuatu mengingatkannya untuk segera bergegas bersiap dan menerobos pekatnya suasana jalanan Ibu Kota sore ini. Senja sore ini memerah berteman kelabu awan di ufuk barat.

Di sudut ruangan bercahaya hangat dan semerbak aroma kopi serta sayup-sayup alunan musik menyambutnya begitu melangkahkan kaki di atas lantai bertekstur batu dan bata ekspos. Suasana di dalam ruangan terasa hangat dan membawa Kinaya menuju meja yang telah ditempati seseorang yang nampak mengenakan jaket kulit kecoklatan dan bersyal tenun ikat. Rambut pendeknya mengkilat tertimpa cahaya lampu meja yang menggantung di atasnya menegaskan kehadirannya didahului dengan menata rambutnya dengan seksama namun tetap terlihat santai.

“Hei, sudah lama?”, sapa Kinaya.

“Ah, baru 15 menit lalu. Dan pesananku saja belum tiba”, sahutnya menyambut Kinaya datang dan berdiri mempersilakan Kinaya duduk di hadapannya.

“Pesan apa? Biasa?”, sambil melambaikan tangan ke arah pelayan yang nampak baru selesai mengantarkan pesanan.

Sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang rapi laki-laki itu mengangguk, “kamu tahu yang kamu mau”, katanya. Kinaya pun menyebutkan pesanannya.

 

Jeda sesaat, dengan senyum di bibir dan mata yang mengirimkan beribu kata.

 

“Hari ini, aku telah menyelesaikan semua yang perlu aku siapkan. Esok, aku akan terbang dengan penerbangan pertama”. Kata-katanya terpotong sesaat pelayan datang mengantarkan secangkir minuman kepada lelaki ini. Aroma kopi menyeruak di antara mereka. Sekilas membawa Kinaya menghayati suasana dengan berlebihan. Ya, Kinaya pencinta kopi meski dia sendiri tak bisa mengkonsumsi kopi secara berlebihan karena tubuhnya bertolak belakang menolak kopi dalam jumlah banyak.

Laki-laki tadi memainkan cangkirnya sambil menatap Kinaya. “Sepertinya aku tak bisa menemanimu ke bandara. Aku memilih malam ini jadi saat aku untuk mengantar keberangkatanmu. Esok, kita sudah tidak akan bertemu lagi”.

“Ya, itu pilihanmu. Aku tak bisa memaksamu menemuiku lagi. Kita telah mengerti ini cepat atau lambat akan terjadi. Hanya saja kita selama ini sepertinya sepakat menundanya hingga hari ini tiba. Dan, ia datang sekarang”, Kinaya menerima pesanannya dari si pelayan yang kemudian datang. Menghirup aroma latte yang dipesannya hari ini, kopi yang tak begitu pekat mungkin yang terbaik bagi suasana hatinya, begitu yang terlintas dalam benak Kinaya saat memesannya tadi alih-alih memesan kopi hitam.

Lelaki di depannya nampak meremas jemari tangan kemudian berhenti sejenak dengan sorot mata tatapan kosong. Kinaya tahu apa yang ingin dilakukan lelaki itu. Tapi Kinaya tahu mereka tak bisa melanjutkannya meski rasa di dadanya semakin sesak ingin menghampiri lelaki itu dan memeluknya erat. Setidaknya menerima genggaman tangannya untuk kali terakhir. Tapi semua tak ia lakukan. Kinaya bergeming di tempatnya dan membiarkan kosong menguasai ruang di antara mereka.

”Kadang aku berharap hal-hal yang tak kita bicarakan, hmm…yang tak ingin kita bicarakan itu adalah hal-hal yang nyatanya tak ada. Di awal aku katakan aku akan menanggung semua rasa yang aku mulai saat menemui mu hari itu. Namun, yah…aku kalah, Kinaya. Rupanya aku tak memiliki kemampuan untuk menerima bahwa waktu itu telah tiba. Menghadapi kenyataan yang dulu pernah aku bayangkan akan mudah saja aku lalui. Entah mengapa tiap kali aku mengingatkan diriku akan batas-batas dan jarak yang harusnya ada antara aku dan kamu, aku semakin terperosok. Aku terlanjur menyerahkan hatiku padamu, kamu tahu itu Kinaya”, lelaki di depan Kinaya menatapnya lekat.

Ia melanjutkan. Masih menggenggam erat jemarinya di atas meja, mencondongkan tubuh ke arah Kinaya.

“Kinaya, aku tak sanggup. Tapi aku bisa apa. Aku ingin tawarkan perjuangan dan jalan bersama tapi aku sendiri tak yakin dengan diriku”, ia mendesah.

“Kemudian apa yang bisa kamu harapkan dari kita? Kamu sendiri tak berani melepasnya. Kamu sendiri tetap terhubung dengannya dan di satu sisi kamu memperlakukan aku dengan hati dan perasaanmu. Dan ketika waktu untuk mengakhiri ini tiba, kamu seolah mempersalahkan aku sudah membuatmu terikat denganku. Apa maumu? Mengharapkan aku merelakan membagi rasa ini dengan dia yang selalu kamu jaga perasaannya?!”.

Kinaya merasakan panas di matanya namun berusaha untuk tak melelehkannya. Hatinya terlalu koyak ketika menghadapi kenyataan lelaki yang selama ini ada di sisinya yang menawarkan kenyamanan setiap saat masih menyimpan seseorang nun jauh di sana. Bercita-cita menjalani hari dengan Kinaya hingga nanti waktu yang akan mengambil alih menghentikan segala rasa ini. Absurd.

“Kinaya. Bisakah kita akhiri pembicaraan ini? Aku tahu tidak ada yang bisa aku harapkan lagi dari ini semua”.

Tatapan Kinaya lurus ke manik mata lelaki ini.

Rasa dan debaran dalam dadanya mengisyaratkan Kinaya harus menyudahinya. Meski dengan beribu pertanyaan dan jawaban yang ia inginkan malam ini sebelum hari berganti esok dan semua tak akan pernah dibuka lagi.

“Aku pamit…”, Kinaya beranjak dan lelaki itu tak menyahut hingga Kinaya kini telah kembali dalam perjalanannya menelusuri malam yang bercahayakan kerlip lampu-lampu kendaraan.

 

Si Gadis Hujan, menengadahkan wajah ke langit. Menanti langit mengirimkan kekasihnya yang tak pernah berpamrih mendekapnya dengan kesejukan. Si Gadis Hujan begitu menantikan saat-saat ia bisa menari dan bernyanyi bersama nyanyian semesta yang tak pernah mengeluhkan seberapa banyak cinta yang ia terbarkan pada bumi. Tak pernah mengeluh kenapa Si Gadis Hujan tak pernah menanyakan mengapa derai air yang ia turunkan begitu banyak. Hujan hanya paham bahwa Si Gadis Hujan akan memberinya energi dan senyum terbaik saat mereka berjumpa, bersama, menghabiskan waktu menarikan rasa dalam jiwa. Meski hujan tahu, Si Gadis Hujan berbohong di tengah senyumnya dia sembunyikan lara. Si Gadis Hujan sedang patah hati…

Hujan.Petrichor.Rindu

~Karnatra – Si Gadis Hujan~

Advertisements

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 30, 2017 by in Warna-Warni Analogi.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

July 2017
M T W T F S S
« Dec   Aug »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Analogi Kliks

  • 39,011 Analogiers
%d bloggers like this: