an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Cerita Kampung Boti dan 1000 Guru

20160827_175023-01Lama aku tidak mengabarkan isi pikiranku lewat menulis. Antara mimpi-mimpi yang ditanam dalam pikiran hingga tanpa sadar terwujudkan dengan cara yang tak pernah diduga, dalam waktu yang tak pernah disangka. Tiba di tanah Seribu Gereja, di Timor ini adalah impian. Sebelumnya menggenapkan langkah di Pulau Seribu Masjid membuatku merasa lengkap mengenal negeri ini dari setiap jengkalnya.

1472532695458-01

Akhir pekan kemarin, bertemu dengan kawan yang baru kali pertama berjumpa tapi sudah terasa seperti kawan lama sebab obrolan-obrolan kami di chat sejak beberapa waktu lalu. Kata mereka yang melihat kami “kalian kawan SD ya? Seru banget ngobrolnya…”, hahaa….

Demikian juga dengan sekitar 20-an orang kawan baru lainnya, ya…aku berjumpa dan senang bisa bergabung dengan 1000 Guru Indonesia yang kali ini mengadakan kegiatan “Traveling and Teaching” di tanah Timor. Singkat kata, disamping memang waktu yang juga singkat, kami menuju Soe, Ibu Kota Kabupaten Timor Tengah Selatan, Propinsi Nusa Tenggara Timur di sabtu pagi ini.

Tujuan pertama kami adalah SDN Oeleu Utara, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Akses hingga di sini dapat ditempuh kendaraan pribadi roda 4 meski melewati jalan tanah dan berkapur menyusuri lembah dan jurang.

20160827_151049Kami disambut secara adat oleh masyarakat dan juga anak-anak serta bapak ibu Guru di sekolah. Suasana riuh dan anak-anak serta orang tua yang juga ikut hadir nampak sangat bergembira. Hari ini selain kami bermain sambil belajar di kelas, kami membagikan beberapa donasi dari pihak donatur maupun dari pribadi masing-masing kakak di 1000 Guru yang datang dari seantero nusantara. Tas, buku, alat gambar, sampai balon pun diterima anak-anak dengan sukacita. Ah, senangnya tertular energi-energi positif mereka yang begitu polos, jujur dan ya…anak-anak yang sepantasnya seusia mereka. Begitu bebas, begitu riang, begitu bahagia meski malu-malu bertemu dengan kami.

Perjalanan berlanjut menjelang sore menghampiri kampung Oeleu. Ojek adalah kendaraan kami menuju sekolah selanjutnya di Nunbaun – Boti. Berjarak kurang lebih 5 km kami berkendara dalam medan yang semakin menantang. Curam, berkapur berdebu, dengan lembah-lembah dalam di samping kanan kami menerjang jalanan yang semakin sempit. Tapi semakin menambah keingintahuan kami tentang apa yang akan kami temui di depan sana. Percayakan saja pada bapa ojek yang tak kalah dengan The Doctor dan kita siap melanjutkan perjalanan.

20160828_083801-01Rupanya di dasar lembah kami harus menyeberangi bekas aliran sungai yang sangat lebar. Pada kondisi saat kami lalui hanya tersisa beberapa aliran sungai yang harus kami seberangi dengan lebar kurang lebih 3 meter. Menurut bapa ojek bulan-bulan ini sungai akan semakin mengering hingga akhirnya akan kering sama sekali beberapa bulan lagi.

Kurang dari 2 jam akhirnya kami tiba di SD GMIT Boti – Nunbaun, Kie. Terharu karena anak-anak SD masih semangat menanti kami di sekolah begitu juga orang tua dan bapak ibu Guru. Mereka tetap bersikukuh memberikan kami penyambutan adat meski hari memasuki petang. Dan malam ini kami bermalam di sini.

Tidak ada aliran listrik di kampung ini. Demikian juga mata air berjarak 1 km menuruni lembah. Namun malam ini istimewa, sekolah menyiapkan genset milik sekolah untuk men-supply penerangan. Demikian pun air telah disiapkan secukupnya untuk kami membasuh muka, atau jika mau orang tua murid siap mengantar kami dalam gelap malam ke mata air. Tentunya kami pilih cukup dengan air yang tersedia alih-alih dalam gelap malam menuju mata air.

Agenda malam ini adalah beristirahat. Namun, anak-anak ini terlalu antusias menemani kami. Beberapa dari mereka menjawab akan menginap di sekolah, hahaa… Sementara beberapa orang tua masih berjaga di halaman sekolah menunggui anak-anak mereka menemui kami dan bercengkerama dengan malu-malu. Khas anak-anak di timur jauh ini. Wajah-wajah yang biasa hanya aku lihat di televisi, di artikel, di buku kini aku ada di tengah-tengah mereka. Mengajak mereka bermain, menyanyi, apa saja yang bisa membuat mereka senang sampai akhirnya kami; yang seharian bahkan sebagian sejak malam tadi belum betul-betul tidur karena sudah memulai perjalanan; satu-satu mulai menyerah. Hingga akhirnya anak-anak mau dibujuk pulang saat malam mulai menua. Kami pun mulai lelap dalam suasana bahagia dan tak sabar menunggu esok berjumpa lagi dengan anak-anak.

Pagi tiba, di tanah timur ini pukul 5 pagi langit sudah memerah. Anak-anak satu persatu mulai muncul di sekolah saat wajah kami masih setengah mengantuk bahkan belum cuci muka dan gosok gigi. Tepat seperti arahan kemarin, pukul 6 pagi anak-anak telah rapi dan datang ke sekolah. Yup, hari ini kami membagikan tempat minum dan sepatu baru untuk mereka, yeyeeyyyy….

1472532727576-01Sambil menunggu persiapan sepatu dan tumbler, anak-anak kami ajak sarapan biskuit. Acara berlangsung dengnan gembira dan lancar dengan beberapa kali kesulitan menyesuaikan ukuran sepatu anak-anak ini karena setiap kami tanya dan pastikan setiap anak menggunakan sepatu yang nyaman, mereka hanya tersenyum dan tersipu tanpa menjawab pertanyaan kami. (adeekkkk….kakak jadi bingung juga ini sepatu nyaman kamu pakai atau sesak, hahahaa….)

Tak terasa waktu menunjukkan kami harus segera mengejar waktu untuk dapat kembali ke wilayah Kerajaan Boti dan berencana mampir menemui Bapa Raja. Teman-teman bisa mencari informasi tentang Kerajaan Boti, yang merupakan kerajaan terakhir di tanah Timor yang hingga saat ini masih mempertahankan tradisi budaya moyang mereka. Wilayah kerajaan kecil dengan segenap kebiasaan leluhur yang masih dipelihara dan dijalankan hingga hari ini.

20160828_090701-01Kembali mengendarai ojek, kami kembali menuruni lembah dan tiba di Kerajaan Boti. Satu hal penting sebagai pelajaran adalah menjunjung tinggi etika ketika melakukan kegiatan, berkunjung, bertamu ke wilayah kampung adat, pun demikian sebenarnya berlaku di semua tempat. Menghormati tuan rumah adalah hal mutlak. Mengikuti tradisi dan mentaatinya adalah wujud kita sebagai tamu yang menjunjung tinggi, memiliki penghargaan yang tinggi pada diri sendiri dan tuan rumah.

Tradisi di Kerajaan Boti yang kami ketahui salah satunya adalah tradisi menggelung rambut bagi lelaki Boti Dalam yang sudah menikah, menganut kepercayaan leluhur Dinamisme, bahkan membatasi akses sekolah umum bagi anak-anak mereka. Untuk itu kita perlu selalu ingat untuk melaporkan setiap kali kita melakukan aktivitas di wilayah Kerajaan Boti, tradisinya dengan membawa sirih pinang kepada Bapa Raja sebelum acara dimulai sebagai permintaan ijin. Selanjutnya selama menemui Bapa Raja ada peraturan yang harus diikuti, kecuali mau percaya atau tidak perjalanan kita dapat berjalan baik atau tidaknya berdasarkan ijin dari Bapa Raja Boti. Peraturan-peraturan itu antara lain saat disambut sebagai tamu disuguhkan sirih-pinang kita harus menerimanya, bicara seperlunya dan dengan volume yang diatur, dan dilarang memotret tanpa ijin. Merupakan satu hal yang mungkin akan sulit ditahan untuk kami yang pada doyang selfie ini, hahaa… Namun, siapa yang berani melanggar di sini?!

Kerajaan Boti kalau bisa aku coba gambarkan, serupa kawasan yang terdiri dari rumah-rumah adat dengan tatanan halaman kebun yang bersih dan rapi, undakan-undakan yang dibuat dari bebatuan dan kayu menyatu dengan tanah, hampir tidak ada sampah dedaunan bercecer di sepanjang jalur menuju bangunan utama kediaman raja. Bangunan dari kayu yang nampak tidak begitu besar sebagai ruang penerima tamu namun nyatanya muat menampung kami yang berjumlah sekitar 20-an orang. Hari ini, Bapa Raja sedang tidak berkenan berfoto bersama, jadi mungkin akan ada kesempatan lain kami bisa menemui Beliau dan berbincang lebih lama lagi.

Nah pada saat berpamitan, kita akan kembali melewati jalan masuk tadi dan ada sebuah bangunan yang merupakan galery seni dan cinderamata khas Boti. Kita bisa membeli buah tangan asli buatan masyarakat Boti seperti kain tenun khas Boti, perhiasan dari batu ataupun tenun Boti semua bisa dipilih. Oiya, kain tenun Boti adalah salah satu tenun terbaik dan dibuat dari bahan-bahan alami yang dikerjakan dengan cara tradisional. Jangan sampai nyesel pulang dari Boti tanpa cinderamata. (sayang karena kalap mau lihat-lihat sampai lupa keluarkan kamera karena galery berada di bagian depan istana dan sudah diijinkan memotret).

Sampai jumpa lagi adik-adik Kampung Boti dan Oeleu Utara. Kami akan melanjutkan perjalanan ke pantai Kolbano yang sangat elok dan singgah di pantai gurun Oetune sebelum akhirnya tiba kembali di Kupang saat perut mulai kelaparan, hahaa…

20160827_162355-01Hati yang penuh dengan pengalaman baru. Bertemu dengan orang-orang baru. Bukan kami yang berbagi, melainkan mereka orang-orang yang tinggal di sudut pedalaman negeri ini, jauh dari hingar bingar ibu kota, hidup dalam kebersehajaan dan keseimbangan hidup menyatu dengan alam. Mereka tampak begitu bahagia, hidup tanpa perlu banyak menuntut.

Namun, jika kita berkaca pada apa yang telah kita punya, kesenjangan itu kadang ada dan membuat kita merasa prihatin. Prihatin dalam sudut pandang kita. Tapi bagi mereka, ini adalah jalan hidup yang terbaik yang mereka dapatkan dari semesta dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai di dalamnya. Hidup seimbang menyatu dengan sekitar, mensyukuri setiap waktu, menyanyikan lagu-lagu alam, menarikan gerakan-gerakan alam, mencintai hidup dalam segala kondisi. Mereka berbahagia, pun kami yang mengenal kehidupan mereka meski hanya sebagian kecil.

20160828_074500-01

20160827_171748(0)-01

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 31, 2016 by in Warna-Warni Analogi.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

August 2016
M T W T F S S
« May   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Analogi Kliks

  • 33,121 Analogiers
%d bloggers like this: