an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Tambora : Si Bungsu Yang Memesona

Ta Mbora…bersama AGTD a.k.a Aki-aki Gak Tahu Diri

 

Jadi, judulnya sih udah cukup ilmiah, percayalah isinya curcol semata, dan selebihnya let’s make this wacky yet fun rather than criticism the spontaneous decisions.

Banyak artikel yang sudah membahas Si Bungsu ini. Perayaan Tambora Menyapa Dunia (TMD) melahirkannya kembali ke khalayak, saat gaung kedahsyatan letusannya tepat di 200 tahun berlalu, di tanggal 11 April 2015 Tambora terdaftar sebagai Taman Nasional di Indonesia. Selebihnya, cari sendiri yah di inet, hahaa…sayah mau curcol ajah…

Ceritanya begini, pagi itu setelah perhitungan yang diharapkan sangat-sangat matang, jam 5.00 kami sudah berada di bandara BIL, atau LIA, whatever-lah ya…intinya ini bandara internasional rasa lokal. Apa daya memang kuasa Tuhan Semesta Alam itu membuat sesuatu yang mangkelno ternyata akan membawa suatu keceriaan (beberapa jam kemudian). Disalip penerbangan low-cost-carrier setelah 2 jam menunggu itu memang sesuatu meski dengan alasan cuaca [ok fine, i’m such those kinda common people] dan saatnya menyadarkan diri untuk jadi lebih spontan. Rupanya ini jadi awal perjalanan penuh cerita di Tambora. Meskipun tragedi kecil tetap terjadi untuk menambah greget perjalanan kami ini. Yaitu, salah pilih tempat duduk di pesawat, haiiihhhh…niatnya sih udah asik pilih sebelah kiri, cuman lupa kalau  baling-baling bambu pesawat ini tepat di sebelah kursi kami. [Noted : avoid seat number 25-30 unless you obsessed on this kind of propeller. I’m so sorry, Dear…].

Bagi temanz yang ingin ke Tambora, sekarang ini banyak banget informasi yang bisa mengakomodir perencanaan kita. Kami pun berbekal search di inet akhirnya bisa menyusun rencana di tengah jadwal libur (saya) yang sangat mepet yaitu kamis-minggu di awal Mei ini. Setelah urusan transportasi teratasi dengan bantuan orang kantor, hehee…rancangan jadwal pendakian pun sepertinya cukup memuaskan dengan melihat kondisi dan kemampuan kami berjalan di gunung. Informasi detail dan kontak nanti cek di akhir cerita yah, sekarang biarkanlah saya cerita dulu sampe puaaassshhhh…

Tiba di Bima, beberapa hal yang kami perhatikan sejak di BIL tadi, ada 4 (empat) orang bapak-bapak yang jadi objek tebak-tebakan kami. Mulai dari “mereka pekerja tambang”, “oh tidak…apparel-nya sih pendaki”, “ah…kalo pendaki paling udah turun Rinjani yah”. Sampai akhirnya kami melihat mereka berfoto ceria di depan tulisan “Selamat Datang di Bandara Sultan M Salahudin”, maka “ahaaaa….orang baru tuh, mau ke Tambora nih kayaknya…”, kaya gini lah kira-kira penampakan mereka [syukurnya wajah-wajahnya masih agak blur].

Sengaja gak sengaja, saat ambil bagasi (kerirnya aja udah nempel-nempel tuh di –conveyer, modus banget kan) terjadilah percakapan singkat yang akhirnya membawa kami ber-6 memenuhi mobil dengan gak ketinggalan 6 kerir fully-loaded melaju menyusuri jalanan Bima-Dompu yang lumayan baik. Bang Momo, driver kami hanya bisa menghela nafas saat mobil yang dia sopiri terkadang tersendat dan lampu emergency sign-nya tiba-tiba nyala gak bisa dimatiin.

Dalam perjalanan ke Dompu kami singgah membeli bahan bakar di Pasar masih di Bima, dan 4 orang ini yang akhirnya ketahuan udah Aki-aki, membeli logistik untuk pendakian nanti. Rupa-rupanya mereka memang baru saja turun dari Rinjani dan masih punya nyali lanjut ke Tambora.

Sambil menyusun rencana yang agaknya sedikit berbeda dengan para Aki-aki ini, kami hanya mendengarkan dengan baik, karena kami berdua memang sudah memperhitungkan 1 hari ekstra perjalanan untuk kembali ke Lombok, sehingga gak perlu memikirkan rencana ngebut untuk ke puncak dan lanjut mengejar penerbangan pada minggu pagi di Bima. Sebut saja 4 Aki-aki ini Oom Agung (yang paling kalem, karena kakinya linu penuh tempelan koyo turun dari Rinjani) nantinya gak bisa lanjut ke puncak Tambora karena cedera, Oom Thamrin (yang nanti dapet nama keren “Aki-aki Waterprup” dan yang lagi konsentrasi pengangguran), Oom Benny (nih dia yang paling disayang di grup, paling diperhatikan, dan paling sabaaaarrrrr) dan Oom Ratno (a.k.a Robocop yang paling sering di-ceng-in tapi masih tetep cool). Mereka adalah sahabat lama yang sejak SMA sudah bertualang bersama sampai sekarang saat semuanya sudah melewati setengah abad usia. Whata wonderful friendship ever.

Banyak cerita bergulir sepanjang perjalanan. Membuat suasana menjadi nyaman dan kami merasa beruntung bertemu mereka ber-4 (anggep aja gitu, meskipun sebenarnya keajaiban itu adalah kami yang dengan baik hati mungkin karena terhipnotis mau aja ngangkut mereka serta di mobil kami). Hehee…piiiisssss Oom… Sampailah pada saat untuk kesekian kali mereka membahas ngidam es campur yang gak ketulungan, kami bertemu warung pinggir jalan yang padahal sudah lewat beberapa meter, alesannya sih pengen ke kamar kecil. Bang Momo dengan senyum pasrah memundurkan mobil dan menurunkan para Aki-aki ini untuk bertemu pelepas kerinduan sejak di Puncak Rinjani lalu. Es Campur Depan Koramil Pekat. Pokoknya ini heiitttzzz dah…

Bang Ipul,  siapa sih pendaki Tambora yang gak kenal dia, sudah berulang kali menelepon memastikan kami sampai di mana. Dasar memang bandel, pake acara mampir nge-es campur, akhirnya dalam 5,5 jam perjalanan kami tiba juga di rumah Bang Ipul; basecamp Tambora [Pondok (bagi) Petualang].

Pondok ini dikelola dengan sangat baik oleh Bapak Saiful Bahri, dikenal dikalangan pendaki dengan Bang Ipul K-pata (Kelompok Pecinta Alam Tambora) yang sudah sejak 2004 dirintisnya hingga kini Bang Ipul mampu menata pondok ini menjadi 3 unit pondok penginapan bagi pendaki hanya dengan tarif Rp100.000,00 per-malam dengan fasilitas kamar mandi umum, tempat jemur pakaian, teras di rumah panggung yang nyaman dan berasa hommy. Bang Ipul dan keramahtamahannya memang menjadi nilai tambah untuk singgah di sini. Jika temanz mau dan sempatkan bisa bertukar informasi dengan Bang Ipul yang kenal dengan banyak tokoh pendakian, trail runner, sampai artis sekelas Medina Kamil dan Vino G Bastian juga kenal karena pernah nginep di sini, hehee… Hari itu kami memutuskan meninggalkan buku Tambora edisi Ekspedisi Cincin Api – Kompas kami (eh, punya Mas Priyo sih) dan peta rupa bumi Tambora yang sudah di-plot jalur oleh Mas Priyo untuk Bang Ipul yang nampak sangat senang terutama dengan buku ulasan Tambora itu.

Jangan salah, Bang Ipul juga punya banyak kumpulan buku, majalah, artikel hingga yang serius berupa buku-buku karya ilmiah yang membahas beragam hal tentang Tambora seperti flora dan fauna, sejarah, dan lainnya. Temanz boleh meminta sebagai koleksi beberapa tulisan terbitan Taman Nasional dan kampus terkemuka yang telah melakukan berbagai penelitian di Tambora. Ingat untuk berdonasi juga ya atas karya-karya itu demi tetap mendukung dan menjaga eksistensi alam dan budaya di Tambora melalui mereka para penjaga, petugas dan sukarelawan Taman Nasional Tambora. Tenang, semua teregistrasi dan teradministrasikan dengan baik oleh Bang Ipul.

Selain itu Bang Ipul juga mengkoordinir para penduduk sekitar sebagai porter atau guide yang enaknya kita sebut saja “Kawan Lokal” yah dan para abang ojek yang akan mengantar pendaki (yang jompo kayak kami ini dan sok sibuk mesti kejar waktu) sampai di pintu rimba dengan tarif ojek Rp50.000,00 atau lanjut sejam perjalanan ngojek sampai di Pancor (ya gak sih ini namanya?!), tangga beton menuju hutan jalur Pos 1 dengan tarif Rp100.000,00 yang worth to live lah. Dan percayalah tukang ojek saya yang namanya Bang Midun ini handal beud. Jempol dah. Gak pake acara turun motor apapun medannya kecuali pas kehalang truk guling. Gak pake acara ketiban ojek meski ngebut a la Valentino Rossi di medan berlumpur dan penuh akar pohon. My Tukang Ojek is My Hero, yoyoooo…thanks to Bang Midun, Bang Manto, dkk.

Singkat cerita rayuan gombal aki-aki ini berhasil membuat kami packing kilat dan memulai pendakian hari ini, yang akhirnya saat jam tangan menunjukkan 16.55 kami duduk di atas ojek dan melaju dengan menahan nafas dan pegangan erat ke ojek. Oom Agung kami tinggal di basecamp mengingat kondisi kakinya yang cedera. Hampir 1 jam kami akhirnya tiba di Pancor, sebuah areal dengan tangga dan jalur setapak berbeton dan dipagari besi, merupakan akses terakhir ojek sebelum kami harus mulai berjalan kaki mendaki. Bang Daus, kawan lokal kami yang paling greget yang akan menemani kami hingga kembali lagi ke Pancasila, hari itu hanya memakai alas kaki merk Bare Foot by God. Dengan lincahnya menyusuri setapak sementara kami ber-5 masih menyesuaikan ritme dengan nafas yang rasanya mulai panas di dada. Kata bang Daus Pos 1 ditempuh sekitar 2 jam perjalanan dari Pancor. Okay, I’ll be fine, all izz well, all izz well, just keep moving. Hoossshhh…

Ehhh…mak bedundhuk…ada bangunan shelter padahal jam tanganku baru menunjukkan 18.34 yang artinya baru sekitar 40 menit kami ngesot di jalur. Hehehee…aki-aki ini emang super, rupanya, Bang Daus aja ketipu sama penampilan “tas pinggang” dan uban-uban mereka. Rehat sejenak sambil menyusun estimasi membongkar nasi bungkus titipan Bang Ipul tadi, kami putuskan lanjut ke Pos 2 malam itu juga.

Bagi yang mau bermalam atau rehat di Pos 1, tersedia shelter ataupun area camp yang cukup luas dan mata air yang bersumber dari pipa air dari sungai Pos 2 menuju desa Pancasila.

Sementara Bang Daus yang dengan lincahnya tanpa senter terus melangkah sampai sama sekali gak ngeh kalau pembuluh darah di tumitnya sudah mengalir bekas tempelan pacet, hiiii…noooo…please don’t be at me! Tambora memang masih menyisakan hujan dan hutan lembab bulan-bulan ini, jadi gaiter dan kelengkapan lainnya bagi yang parno pacet (aku aja kali yak) wajib dibawa biar perjalanan aman. Lagi-lagi Bang Daus cuma senyum-senyum saat 2,5 jam estimasinya kami libas dalam 1 jam 45 menit. Wakakaa…racer bener nih aki-aki. Malam itu, Pos 2 menjadi campsite kami dengan berbagai pertimbangan. Pos 2 memuat 2 tenda berukuran 2-4 orang dengan sebuah shelter serta beberapa ekor musang yang akan menemani malam ini berkeliaran di sekitar pos yang kondisi sampahnya agak kurang diperhatikan (kotor mah ini…hukz hukz…). Di sinilah pertemuan dan cengkerama kami dimulai dengan Mbak Cie-cie dari Blitar yang sedang menuju ke tanah leluhur di Flores, ditemani oleh Basarnas (Bang Aan, Bapak Basarnas, beneran Basarnas loh, bawa sangkur).

Pos 2 pagi itu serasa riuh, masih jam 6 pagi kami sudah memasak, hahaa…kebut nih yeee… Pos 2 yang berada di atas aliran sungai ini sangat rindang dan tentunya basah. Namun, masih bebas dari babi hutan. Nah, ini dia satu hal yang mesti temanz waspadai saat mendaki Tambora. Menurut cerita dari masryarakat dan para ojekers kemarin, babi hutan saat ini mulai mengganggu pendaki saat camp. Terutamanya setelah Pos 2. Mereka mencari makanan dan sisa-sisa logistik. Untuk itu disarankan sekali untuk menjaga kebersiham lokasi tenda, mengamanakan logistik dan karena Pos 3 yang merupakan tempat favorit pendaki untuk camp adalah lahan penyergapan oleh babi hutan, maka dipastikan harus ada yang menjaga tenda terutama bila ditinggal summit. Gantung dan ikat kerir di pohon atau di tiang atap shelter.  Karena mau percaya ato mau coba-coba, babi hutan di pos 3 ini berukuran besar dan gak disarankan memicu kemarahannya. Mereka bisa merusak tenda dan mencuri kerir temanz yang berbagai merk itu. Gak mau kan Berghaus-nya digondol celeng masuk ke hutan sana atau dikoyak-koyak hanya gegara sebungkus sosis dan sayur sawi. Untuk sampai di “Lokasi Pertempuran #korbanbabitambora” diperlukan sekitar 2 hingga 2,5 jam perjalanan dengan beberapa titik yang kata bang Daus itu Terminal Singgah di tengah perjalanan. Mampir aja, masih pagi juga kan…jadi bisa menikmati burung-burung dan Owa yang baru bangun tidur jugak (sambil tarik nafas dan lurusun dengkul sih yang penting).

Pos 3 merupakan lokasi camp yang luas, ada mata air yang jaraknya cukup jauh sekitar 200 meter dari Pos (jauhlah buat yang abis ngesot dari Pancasila sampai sini tho). Mata air di Pos 3 adalah tampungan air rembesan dari pepohonan disekitarnya ataupun sisa air hujan, sehingga kondisinya memang yang masih layak minum namun terkadang masih memerlukan pengolahan jika warna air keruh.

Selepas Pos 3 jalur pendakian dimulai dengan pendakian sesungguhnya, disamping kita akhirnya bertemu primadona Tambora, yaitu Ladang Jelatang. Pos 4 ditempuh kurang lebih 1 jam perjalanan, dengan areal pohon damar, pinus dan beberapa pohon khas dataran tinggi (ga bisa mastiin pohon apa, pas kami sampai lagi kabuuutttt…nan syahduuuuuuu…itu kata Oom Benny). Begitu juga menuju Pos 5 yang hari itu kami lewati di bawah guyuran hujan jelang Pos 5. Jas ujan pun kepake, kecuali bagi Aki-aki Waterprup yang dengan gagah berani menerjang hujan hingga Pos 5 tanpa raincoat.

Pos 5 cukup ramai siang itu. Sembari membongkar perbekalan makan siang dan memasak, kami menunggu dan berdoa langit bersahabat setelah hujan tadi. Berhubung waktu menunjukkan siang masih panjang, dan estimasi menuju puncak dalam 3 sampai 4 jam (lagi-lagi kata Bang Daus yang diralat sama Oom Robocop, hahaa…Bang Daus masih saja meragukan kemampuan Aki-aki ini dan beralasan itu waktu normal bagi pendaki umumnya, bener juga sih). Akhirnya kami iyakan saja bahwa puncak normalnya dicapai rata-rata dalam 4 jam dari Pos 5 ini.

Pos 5 menyediakan 3 areal untuk mendirikan tenda standar 2-4 orang dan memiliki mata air berupa bebatuan yang menampung sisa air hujan. Namun, seperti halnya mata air di pos 3, di pos 5 kondisinya bahkan lebih buruk lagi terutama jika bukan musim hujan. Jadi, sebaiknya persediaan air disiapkan paling tidak dari pos 3 atau sekalian dari pos 2 yang airnya terjamin bersih.

Setelah para Aki-aki titip pesan-pesan ke Bang Daus diantaranya “kalau Mr.BB datang, ajak ngopi dan ngobrol dulu ya…jangan berani-berani nyolong logistik apalagi bongkar tenda”, atau “jemuran gue jangan lupa diangkat ya Bang, trus londrean inget disetrika”,  “makan malam nanti abang masak-masak aja bahan yang ada yah…tomat, wortel, telur, kentang nanti kita bikin spaghetti…”, aakkhhhh…apalah…yang membuat Bang Daus terbengong-bengong dan akhirnya memilih ketawa telat sampai ga bisa ditahan.

Nah, berhubung tadi nguping Pak Sarnas dan Bu Sarnas Cie-cie juga akan muncak, maka kami pun bergegas mengunjungi lapak mereka dengan harapan mau ditebengin sampe puncak, hihihiii… Dan jadilah jalinan dan ikatan ceng-cengan sepanjang perjalanan yang awalnya ditanggapi malu-malu sama Busarnas berujung gak tau malu, hahaa… What a journey along the way, bersama AGTD.

 Beruntung, siang yang terik itu berselimut kabut. Meski tak henti-henti tirakat kami agar sampai di bibir kawah nanti kami akan dianugerahi langit yang cerah (dasar manusia emang egois, ih…maunya kabut apa cerah sih). Maka perjalanan menuju kawah Tambora masih diselingi canda di sela helaan nafas dan decak kagum melihat wajah khas Tambora.

Rasanya 2,5 jam perjalanan di tengah-tengah lantunan japa mantra dan berbagai tirakat terjawab, ketika pertemuan pertama kami sore itu dengan bibir kawah Tambora yang semakin menampakkan pesonanya diiringi matahari sore yang menghangat muncul di balik awan.

Selamat datang di bibir kawah Tambora yang Melegenda, Aki-aki…dan juga buat Ndoro Bento selamat bertemu dengan Doro Afi To’i…untuk kali pertama.

This slideshow requires JavaScript.

Suasana sore itu di titik 2.850 mdpl pun tak kalah riuh dengan beberapa rombongan siswa-siswa lokal yang juga menemani kami di puncak. Ritual paramuda ini membuatku berkali-kali menyunggingkan senyum, meski sesekali was-was juga dengan tingkah laku mereka yang yah you know-lah…mencari spot yang IG-able, menulisi kertas-kertas bertuliskan beragam pesan, hahaa…syukurnya adek-adek manis ini ingat membawa pulang kertas kenangannya itu [nemu sih 2 set buku gambar lengkap dengan pesannya yang ternyata milik tetangga kami, hahaa…hayoooo…ketinggalan yaaaa…punya Bu Sarnas].

Tambora…

Terima kasih atas sore ini… Doakan kami untuk kembali pulang dengan selamat dan membawa semua pencitraan atas apa yang indera kami cecap di atas sini sebagai penambah kearifan dalam diri kami.

This slideshow requires JavaScript.

Eits, nanti dulu… Keseruan baru dimulai lagi saat ini. Selepas pukul 18.00 saat hanya kami berlima yang ada di puncak, terhipnotis oleh sunyinya senja, menikmati semilir angin yang mulai berhembus mengantar surya ke peraduan dari puncak Ancala Tambora.

Kerlip lampu mereka yang mendahului kami menuruni puncak sudah tidak nampak. Dengan berhati-hati kami memilih jalur dan berjalan beriringan (kecuali sayah yang ngacir, mahap yah…kan sayah penunjuk arah Aki-aki). Maka malam itu setelah 1,5 jam berlalu sorak dan sumringah wajah Bang Daus yang menanti kami di Pos 5 terasa begitu istimewa. Teh hangat telah siap, semua tugas persiapan makan malam telah dilakukan Bang Daus, dan keputusan berpisah dari rombongan Aki-aki kami ambil di sini. Aki-aki super dan Bang Daus akan melanjutkan perjalanan turun gunung  malam ini juga, sementara kami akan bermalam di sini agar esok bisa menikmati indahnya hutan Tambora.

Selamat jalan Aki-aki Super dan Bang Daus, hati-hati di jalan, sampai jumpa lagi di pendakian berikutnya. Terima kasih banyak menunjukkan kami yang muda ini arti sebuah ikatan hati, persahabatan, kepedulian, kasih sayang dan semangat hingga kapan pun dan dalam kondisi apapun. Angkat topi untuk kebersamaan AGTD!

Sampai jumpa lagi AGTD, sampai jumpa lagi Tambora…

This slideshow requires JavaScript.

*Sekilas rincian perjalanan kami di Tambora, semoga bermanfaat.

wp5

2 comments on “Tambora : Si Bungsu Yang Memesona

  1. akuntomo
    May 26, 2016

    Reblogged this on akunto[MO]untain and commented:
    sementara mengumpulkan niat buat bikin catatan perjalanan..mari re-blog dulu perjalanan tambora

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 16, 2016 by in Analogi Gunung, NTB, Tambora, Warna-Warni Analogi.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

May 2016
M T W T F S S
« Nov   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Analogi Kliks

  • 33,170 Analogiers
%d bloggers like this: