an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

My Trip My Trend Semata

Siapa sih yang gak tau kalo sekarang yang punya nama Traveller itu
bisa siapa saja. Mereka yang dulu awam tentang tempat-tempat menarik
di sekitar mereka, saat ini dalam hitungan detik bisa menentukan
tujuan berwisata selanjutnya. Gencarnya peran media sosial dan
informasi membuat siapa saja bisa jadi Traveller, Adventurer,
Petualang dalam waktu sekejap.

image

Travelling dan bertualang jadi kegiatan yang banyak dilakoni dan
banyak mengaku sudah jadi “Life Style”, bukan lagi sekedar
kegiatan pengisi waktu luang. Akses yang mudah, transportasi yang
murah (atau mungkin penghasilan yang dialokasikan lebih untuk bisa
eksis) dan informasi destinasi yang bagai serangan badai bisa kita
terima dari mana saja membuat banyak orang menjadikannya sebagai
identitas. Ditambah lagi foto-foto kece di lokasi, membuat banyak
orang kalang kabut tak mau tersaingi.

Tapi, apakah banyak diantara mereka paham bagaimana etika seorang
pejalan yang bijak?

Contoh saja cerita menarik dari artikel yang sedang “in” hari ini.
“Taman Bunga Gunungkidul Rusak, Warga Buka Kotak Sumbangan”.
http://nasional.tempo.co/read/news/2015/11/28/058723040/taman-bunga-gunungkidul-rusak-warga-buka-kotak-sumbangan

Rupanya untuk bisa eksis sebagai pejalan kitapun tanpa sadar
mengorbankan sekitar kita. Tanpa sadar kadang kita melupakan menikmati
sekitar kita dan sibuk meningkatkan eksistensi. Lebih tidak bijaknya
lagi menikmati atraksi alam dan wisata tapi lupa menjaga mereka untuk
tetap seperti semula. Lupa menjaga kebersihannya, lupa berterima kasih
telah menyuguhkan atraksi alam dan lupa untuk sadar kembali bahwa
menjadi Pejalan memiliki tanggung jawab.

Seyogyanya seorang Pejalan jadilah bijak.
1.      Ikuti aturan yang berlaku di daerah tujuan kita, hormati tuan
rumah. Itu gak bisa dilanggar!
2.      Jaga kebersihan dan suasana seperti sedia kala seperti saat kita
berkunjung, karena masih ada orang lain yang akan datang dengan
harapan menikmati hal yang sama dengan kita. (syukur-syukur bisa
bersumbangsih menjadikannya lebih baik dan layak dikunjungi)
3.      Jangan jadi hedon dengan lupa sekitar dan memonopoli areal tempat
kita berkunjung.
4.      Nikmati sewajarnya, jika ingin berbagi, berbagilah informasi yang
bermanfaat tentang destinasi kita, jangan berlebihan.

Menjadi Pejalan Bijak tentunya juga gak sulit, yang penting tetap
menjadi wajar dan bertoleransilah pada alam sekitar, termasuk kepada
alam yang kita kunjungi dan kagumi, tetaplah rendah hati. Dan sebuah
eksistensi gak harus dengan pamer foto-foto hedon di media sosial dan
ikut trend semata.

Jadiah diri sendiri dan pastikan bermanfaat bagi sekitar kita, petik
pelajaran yang didapat dari perjalanan kita, renungkan dan jadilah
manusia yang baru setiap menyelesaikan satu perjalanan. Bukan semata karena dorongan sebuah eksistensi dan bukan sekedar ikut trend. Itulah
jiwa seorang Pejalan sesungguhnya, bukan?!

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 28, 2015 by in Analogi Plesiran, Warna-Warni Analogi.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

November 2015
M T W T F S S
« Oct   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Analogi Kliks

  • 33,156 Analogiers
%d bloggers like this: