an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Iyakah? Kebanyakan Upacara Adat? Penyebab Kemiskinan?

image

Kemiskinan di Bali Akibat Banyaknya Upacara Adat
http://m.sindonews.com/read/879493/27/kemiskinan-di-bali-akibat-banyaknya-upacara-adat

Dalam sudut pandang saya, sebagai bagian lingkungan yang melakoni banyak upacara adat mungkin lebih banyak dari orang kebanyakan, saya yang hidup di dunia post modernism, bekerja di lingkungan perbankan nasional, bergaul dengan bermacam orang dari semua kalangan, dan saya lahir sebagai seorang keturunan Brahmana, yang notabene mengetahui dan melakoni banyak upacara adat, setiap saat dituntut harus benar dan rutin dalam pelaksanaan upacara adat.

Brahmin, Brahmana, pada jamannya adalah mereka yang dipercaya dan ditugaskan untuk mengetahui perihal hubungan vertikal manusia dan tuhannya, begitu pula hubungan horizontal manusia dengan manusia dan juga pada lingkungan sekitarnya, termasuk kepada hewan, tumbuhan dan seluruh isi semesta. Di jaman sekarang, saya sebagai salah satu keturunan Brahmana memang tidak sepenuhnya mampu menjalankan tugas itu karena budaya bergerak dinamis, pilihan hidup berubah dan kebutuhan kehidupan juga berbeda. Namun sedikit tidaknya untuk urusan upacara yadnya (agama dan adat) saya masih sangat terbiasa.

Nah, artikel ini sempat memicu berbagai argumentasi teman-teman saya dan menjadi bahasan penting. Di satu sisi, betul adanya upacara agama membutuhkan banyak pengorbanan, karena itulah hakekatnya yadnya, melakukan pengorbanan dan perlu digarisbawahi yadnya dapat berupa berbagai hal dan cara. Yadnya memiliki tingkatannya, tergantung kemampuan pelaku yadnya. Kanista, Madya dan Uttama. Skala kecil, menengah dan besar.

Saya bukan penekun kitab dan lontar tentang yadnya, namun pengetahuan tentang hal ini saya ketahui dari lingkungan saya di Griya. Astungkara leluhur saya hingga tetua dalam keluarga saya sampai saat ini masih melakoni tugas sebagai Brahmana. Dan dari situlah keseharian saya masih bergelut dengan pengetahuan yadnya secara umum.

Artikel menyebutkan, BPS memberi data kemiskinan di Bali meningkat dibenarkan juga dengan pernyataan petugas statistik dan memunculkan pernyataan salah satu sebabnya adalah upacara adat, yadnya. Benar, jika yang disurvey sebagai alasan penyebab adalah upacara besar, yang mungkin dilakukan bahkan belum tentu 5 tahun sekali. Contoh piodalan agung; dengan rentetannya Ngenteg Linggih, dll; Ngaben Mamukur; yang belakangan sudah rerpecahkan dengan solusi ngaben massal untuk mengefektifkan biaya, atau Pawiwahan; adalah 3 upacara utama yang dilakukan orang Bali yang tidak membutuhkan biaya sedikit. Dan kembali, akan menjadi pilihan masing-masing manggala karya , si empunya yadnya, untuk menjalankan yadnya dalam skala Kanista, Madya atau Uttama. Hal ini, memerlukan saran bijak dari sang Brahmin. Karena pada dasarnya, yadnya yang dilakukan karena keterpaksaan bukanlah yadnya.

Sebagai contoh, di desa saya, untuk menghindari kesenjangan dan tidak memberatkan masyarakat, dibuatlah awig-awig, peraturan, yang menata bagaimana masyarakat dalam melakukan upacara adat dan agama, yang tidak membuat masyarakat harus menghabiskan semua miliknya hanya untuk keperluan melakukan upacara. Contohnya, saat salah satu warga Banjar melaksanakan upacara, warga sekitar cukup membantu dengan tenaga atau pepeson, sumbangan material yang telah disepakati besarnya pada sangkep warga. Sehingga keputusan penerapan aturan dalam keperluan upacara tidak membebani masyarakat.

Terlepas dari itu semua, sebesar apakah persentase penyebab kemiskinan karena yadnya?
Terpikirkah untuk daerah yang dimunculkan dalam artikel, Karangasem, dan sebenarnya masih ada Buleleng dan Bangli yang merupakan daerah yang belum sepenuhnya mapan di Bali, memiliki faktor lain sebagai penyebab? Kita buka mata dan coba sudut pandang lain.

Daerah bali timur, Karangasem dan Bangli, tak bisa dipungkiri memang kontras dengan Bali selatan yang glamor. Bukan satu dua kali saya berkunjung dan berhari-hari berada di tengah masyarakat terpelosok sekalipun, pernah saya lakoni. Bagaimana melihat dan duduk bersama mereka mencari solusi untuk peningkatan taraf hidup mereka yang bahkan sampai saat ini untuk aliran listrik pun tak bisa mereka nikmati sebagai fasilitas menjadi warga negara. Kenapa bisa begitu ya?

Pertanyaan yang tepat, kita tujukan pada pemerintah daerah dan provinsi yang semestinya bertanggungjawab pada kesejahteraan masyarakatnya, jiwa dan raga. Lihatlah bagaimana perjuangan masyarakat “miskin” di sana dalam mensejajarkan hidupnya dengan saudara lainnya di kota besar. Bagi saya mereka tidaklah miskin, malah jauh berkecukupan namun kita yang melabelkan mereka miskin dengan pembandingan hedon gaya hidup kita, dan menyebutkan yadnya penyebabnya.

Sebut saja dusun Madiya, letaknya di lereng gunung Abang secara geografis merupakan area Karangasem namun secara administratif merupakn bagian dari Kabupaten Bangli. Akses jalan yang jauh dari layak, pasokan listrik masih berupa swadaya masyarakat meminta dari desa sebelah, dan jangan tanyakan soal air apalagi infrastruktur lain selayaknya penduduk di negara merdeka. Kakus pun mereka tak punya.
Ada yang keliru?

Kami menemui aparat dusun dan sekolah, kenyataannya keadaan mereka jauh dari perhatian pemerintah daerah. Bagaimana mereka bisa kita tuntut bekerja maksimal jika kesejahteraan mereka yang mengabdi dengan ekstra keringat tidak diperhatikan? Yang ada setengah hati pengabdian dan tugas dijalankan, efeknya sangat besar pada proses penyiapan Sumber Daya Manusia yang handal, yang semestinya dimulai sejak dini di seluruh penjuru negeri, untuk bertanggungjawab dan mandiri pada kelanjutan hidup mereka, membangun desa bahkan sebenarnya merekalah yang menjadi fondasi pembangunan bangsa ini.

Dan saya sampaikan, yadnya adalah salah satu harapan, penyemangat, kewajiban tertulus yang mereka bisa lakukan sebagai rasa syukur atas kehidupan mereka. Penghargaan pada semesta atas anugerah alam yang bisa mereka olah sebagai penyambung hidup, harapan hidup, penyemangat kelanjutan anak cucu, adalah yadnya. Dengan yadnya masyarakat “miskin” ini terhubung denganNya yang bisa mereka ajak berkeluh kesah, menggantungkan harapan, dan menjawab tantangan masa depan. Beryadnya dengan apa yang mereka miliki, mengorbankan waktu dan tenaga, bukanlah suatu penyesalan.

Terdengar retorik, namun begitulah, disamping kita yang memiliki nalar dan infornasi lebih luas dan akses pengetahuan yang lebih baik, semestinya tersadar. Pemerintah semestinya tertampar karena tidak memberikan infrastruktur yang merata, akses informasi yang layak, pengarahan dan penyuluhan bagi masyarakat di pelosok tentang bagaimana mensejahterakan hidup. Pemerintah seakan sudah banting tulang, sementara setahu saya, banyak hal yang belum mereka lakukan bagi warga “miskin”nya ini. Fungsi edukator, fungsi pengayom, fungsi fasilitator terasa jauh dari terwujud. Mengapa tidak pemerintah mengadakan penyuluhan pada masyarakat bagaimana menyikapi upacara agama dan adat agar tidak sampai jatuh miskin? Mengapa tidak diluaskan jangkauan informasi bagi masyarakat utamanya yang jauh dari peradaban hedonis bahwa beryadnya tak harus mengorbankan segenap milik bahkan hingga harus berhutang? Tugas siapa?!

Sepertinya pemerintah kita sudah impoten, apalagi seglamor Bali, percayalah…anak-anak kita di pelosok sana banyak yang tak kenal bangku sekolah, masyarakat banyak yang tak terjamah informasi

Ah, menghujat tanpa bertindakpun bagai memberi like, jempol pada status kemanusiaan pada media sosial. Beruntungnya saya mengenal kawan-kawan yang penuh dedikasi mengabdikan diri, waktu, tenaga dan pikiran untuk berjuang membantu masyarakat “miskin” di sana. Komunitas Anak Alam menjadi salah satu jembatan saya, begitupun dengan beberapa orang yang malah bukan orang lokal Bali yang membuka mata saya tentang rumah saya sendiri, bersama dengan segenap tenaga dan upaya yang kami miliki membantu mereka. Tapi cukupkah hanya kami? Yang tetap memikirkan hari esok kami masih harus banting tulang untuk menghidupi diri kami sendiri, selain senggang nanti kami akan sempatkan kembali menemui orang-orang “miskin” itu di pelosok sana.

image

Jika masyarakat teredukasi dengan baik, bukanlah hal yang mustahil masyarakat akan dapat membedakan mana yadnya yang semestinya mereka lakukan dan mana yang bisa dipilih sebagai alternatif yang menyesuaikan dengan keadaan mereka namun tak mengurangi esensi upacara itu sendiri. Masyarakat Bali tak akan bisa lepas dari upacara, karena itu wujud rasa syukur kami. Bayangkan saja, manfaat dari yadnya bisa dinikmati tidak saja oleh manusia, tapi juga alam sekitar. Lihat, semut-semut memakan sisa yadnya, ayam memakani sisa yadnya, tanah menampung sisa yadnya sebagai pupuk. Ketika mengadakan yadnya, kekerabatan dan gotong royong tercipta, ini adalah esensi paling mendasar manusia dengan sekitarnya dalam beryadnya. Yadnya bukan momok, namun itu bentuk seberapa besar penghargaan pada semua bagian yang menjadikan kita tetap hidup. Beryadnya adalah jati diri orang Bali. Kecuali, jika yadnya sudah masuk pada ranah gengsi dan eksistensi, silakan hidup dalam kemiskinan bathin.

Jadi bijaklah. Menilik lebih jauh akan lebih baik, agar tidak menjadi buta tuli pada keadaan, atau malah menjadi sebaliknya tapi dengan arogansi sepihak dan tanpa dasar kebenaran.

Astungkara, dengan yadnya, upacara adat dan agama yang baik dan benar, kami tetap bisa makan dalam keadaan bahagia esok hari.

https://m.facebook.com/inten.arsriani/albums/10202040475230620/

4 comments on “Iyakah? Kebanyakan Upacara Adat? Penyebab Kemiskinan?

  1. akuntomo
    July 20, 2014

    semacam lepas tangan dari ketidakberhasilan pemerintah mengentaskan kemisikinan

    • inten_arsriani
      July 20, 2014

      Bagi saya juga demikian…ada maksud pengalihan tanggungjawab dibalik pernyataan artikel itu

      #lempartangansembunyibatu, hahaa…

  2. regita iswari
    November 9, 2014

    tapi menurut saya tidak sepenuhnya artikel itu salah kok. memang kenapa akhir-akhir ini upacara adat yg dilakukan di bali semakin jor-joran. sampai harus dililit utang cuma sebatas ngodalin sanggah. masyarakat kita sudah mendewa-dewakan upakara sehingga lupa esensi upacara yadnya itu. ataupun lebih malu sama omongan orang banjar ketimbang malu sama upacara yg diadain dengan utang dan perasaan berat hati karena utang. kemiskinan itu memang gak cuma satu penyebabnya, kompleks. karena ada kemiskinan kultural dan struktural. untuk struktural memang salah pemerintah, tapi untuk kultural karena rdaerah yang memang kemiskinan sudah jadi budaya & kehidupan sehari2, biasanya masyarakatnya malas untuk berusaha keluar dari keadaan kemiskinan.

    • inten_arsriani
      November 9, 2014

      Terima kasih sharringnya…ada benarnya, saat ini ada kencenderungan orang Bali melakukan upakara dan upacara dengan melupakan esensinya. Upakara hanya sebagai pelengkap dan kewajiban yg mungkin sudah tidak dipahami maknanya. Hal kecil,saat mebanten orang tua lupa menasehati anak2nya untuk sekedar memakai pakaiam yg pantas.

      Masyarakat kita kompleks dan peran semua pihak untuk menyadarkan kita orang Bali yg memiliki keterikatan antara budaya dan perilaku hidupnya. Jangan lupa akan akar, jangan lupa akan tujuan hidup yg sebaiknya dicapai dengan tuntunan budaya sebagai orang Bali dan tentunya sebagai manusia.

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 20, 2014 by in Warna-Warni Analogi.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

July 2014
M T W T F S S
« Jun   Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Analogi Kliks

  • 33,170 Analogiers
%d bloggers like this: