an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Argopuro Express, Selangkah ke Seberang [30th]

BKSDA Baderan

Bersama Pak Sus_Sang Penjaga

Pagi masih sangat muda saat kami tiba di terminal Bungurasih, Surabaya. Melenceng jauh dari rencana semula yang membuat kami menyusun beragam rencana cadangan karena pasti akan terlambat sampai di Baderan. Dari Bungurasih kami menuju Probolinggo dengan Patas  sekitar 2 jam, jalanan lancar karena masih pagi. Melanjutkan 2 jam selanjutnya masih dengan bus umum jurusan Bondowoso hingga alun-alun kota Besuki ketika matahari sudah hampir tegak di atas kepala. Ojek menjadi pilihan cepat kami sampai di Baderan. Dengan 30 ribu rupiah kami tiba di Baderan 30 menit kemudian, di pos Resort Konservasi Wilayah Situbondo-SM Dataran Tinggi Yang. Nampak 4 orang pendaki lain bersama Pak Sus, kepala BKSDA Pos Baderan, yang sedang mengurus Simaksi untuk mulai mendaki siang itu. Administrasi Simaksi sebesar Rp. 60.000,- dengan menyerahkan KTP dan mengisi buku tamu. Beberapa penjelasan dan cerita tentang pendakian disampaikan Pak Sus dengan ringan, bertukar nomor telepon yang wajib kami hubungi ketika kami tiba di Bremi nantinya sesuai waktu yang ditentukan di Simaksi yaitu  6 hari untuk menuntaskan pendakian. Sebelum pamit, kami wajib berfoto di depan halaman kantor BKSDA sebagai arsip laporan pendaki, dan jaga-jaga jika andaikata kami hilang, heheee… Dan, selamat datang di jalur pendakian terpanjang se-Jawa. [sampai saat itu aku belum tahu bagaimana rupa gunung Argopuro itu dari kejauhan ataupun dari dekat]

Ojek

Korban Ojek Amatir

Pak Sus menghimbau, pendaki diperkenankan menggunakan ojek yang disewakan oleh warga sekitar, namun hanya sampai batas jalan Makadam saja yang jaraknya ternyata ampun dah…jauh [tarif bRp. 50.000,-]! Batu jalan membuat pinggang nyeri hebat dan ginjal paru-paru rasanya rontok. Sementara para tukang ojek dengan semangatnya menawarkan 4 jam hingga Cikasur dengan harga Rp. 250.000,-   Hmm….menggiurkan, bisa menghemat waktu sehari pendakian, dengan kondisi berangkat lewat tengah hari, kami terancam akan camp di ujung perbatasan jalan desa. Bila pendakian normal yang dimulai pagi hari, dalam waktu 6-8 jam akan mampu menempuh jarak dari Baderan hingga Pos Mata Air 1 atau 2 untuk camp hari pertama. Sementara hari kedua kita akan melanjutkan menuntaskan Hm 97 hingga Cikasur dan jika masih memungkinkan lanjut hingga Hm 140 tiba di Pos Cisentor dengan menempuh kurang lebih 3 jam lagi melewati sabana dan lembah yang tidak begitu menanjak.

Sungai Selada

Sungai Selada_Cikasur_Bisa Mandi

Kebanyakan pendaki akan menghabiskan malam kedua di sabana Cikasur dengan pertimbangan dekat sumber air yang melimpah, melebihi kebutuhan hingga untuk mandi pun masih bisa. Bahkan ada pendaki tetangga kami yang selanjutnya dijuluki “Pendekar Selada Air” karena begitu semangat mengumpulkan banyak selada air dari sungai Cikasur untuk dibawa ke Cisentor [dan sampai Cisentor tak ada yang mau memasak seladanya, hahaa…]. Malam itu pun kami lalui di Cikasur, bersama sekitar 4 rombongan besar pendaki yang menjadikannya cukup ramai.

At Home Outdoor_Cikasur

At Home Outdoor_Cikasur

Cikasur memiliki pemandangan sabana yang luas, cantik pada waktu yang tepat dan menarik ketika keinginan membuktikan melihat kawanan Merak sore atau pagi hari di pinggiran hutan Cikasur terkabul. Dan benar saja, ketika matahari mulai menghilang, terdengar suara pekikan yang agak membuat merinding, berpindah dengan cepat dari satu sudut hutan ke sudut lain membuat kami bertanya-tanya. Burung? Monyet? Atau…?

Seorang pendaki meneriaki aku, “mbak….ada Merak…”, hahaa….alhasil si cantik kabur ke tengah hutan sebelum sempat kami bidik dengan kamera, ups! Esok harinya pagi sekali terdengar kembali suara itu, dan rupanya itu pekikan si burung cantik. Hoooo…kirain… [parno].

Bertemu Rombongan

Bertemu Rombongan

Mendaki beberapa bukit dan jalur didominasi sabana serta lembah-lembah berlapis, jalur menuju Cisentor didominasi oleh rerumputan, semak, dan bebungaan sabana yang khas. Matahari belum begitu terik namun segera menyilaukan mata. Hingga jelang Hm 130 medan berubah sabana mendatar berujung pada turunan lembah berhutan yang cukup curam. Kacamata Ndoro hilang di sini. Selanjutnya ada sebagian tebing mulai terlihat di beberapa sudut kawasan jalur hingga akhirnya suara gemericik air mulai jelas terdengar. Kami tiba di Pos Cisentor disambut oleh perkemahan kelompok pendaki yang cukup besar. Rupanya mereka dari Mapala Ubhara Surabaya yang sedang melakukan latihan navigasi dan pemetaan sejak 2 hari lalu sudah berada di Cisentor.

Penanda Cisentor

Penanda Cisentor

Istirahat sejenak memulihkan energi, kami berencana melanjutkan perjalanan dan bermalam di Rawa Embik. Namun setelah ngobrol dengan beberapa rombongan tetangga, cepat kami putuskan membongkar ransel dan nenda di Cisentor saja. Toh besok jalur yang kami lalui menuju Taman Hidup start di sini. Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 dan kami ingin menuntaskan puncak hari ini, dengan pertimbangan waktu dari cerita para pendaki yang turun puncak, meninggalkan beban di Cisentor tentu menambah kecepatan tiba di puncak sebelum malam. Apalagi kami harus kembali lagi ke Cisentor dalam keadaan gelap malam nanti, akan lebih baik tanpa beban berlebihan. Hmm…apa kata Ndoro deh akhirnya.

Shelter Cisentor

Shelter Cisentor

Setelah tenda kami titipkan pada tetangga yang katanya akan menyusul kami ke puncak 1 jam kemudian, kami bergegas mendaki melintasi sabana dan sabana lagi dengan beberapa bukit dan hutan yang mempertemukan kami dengan kawanan monyet, lutung entah owa. Beberapa burung hutan juga sempat mengagetkan kami. Tak butuh waktu lama, sekitar 1 jam kami tiba di Rawa Embik bertemu serombongan besar pendaki yang baru saja turun puncak. Mengisi ulang blader, tak lama kami melanjutkan perjalanan dengan pesan dari ketua rombongan untuk berhati-hati kembali saat gelap. Ada jalur yang akan sedikit melipir tipis yang dapat membelokkan arah menyimpang dari Rawa Embik. Siap! Terima kasih infonya, Bang…dan ternyata benar, ketika kami kembali ke Rawa Embik kami menemui jalur yang dimaksud dan syukurnya GPS kami bekerja, heheee…

Sabana Lonceng_Rombongan Lain

Sabana Lonceng_Rombongan Lain

Jalur masih berupa sabana dan mulai memasuki hutan menanjak, perlahan melipir menyusuri lembah dalam yang berseberangan tepat dengan puncak Rengganis di kejauhan. Lewat 1 jam setelah melewati hutan yang mulai dihiasi cemara, edelweis yang menjadi kanopi jalur, menyeberangi sungai kering, kami tiba di Alun-Alun Lonceng. Telah berdiri beberapa tenda dari serombongan pendaki lengkap dengan porternya. Tak menghabiskan waktu, kami putuskan menuju puncak Rengganis terlebih dahulu. Dari pertigaan Alun-alun Lonceng ini hanya butuh 15 menit memilih jalur paling kiri menanjak untuk sampai di kawasan Puncak Rengganis yang didominasi oleh batuan kapur, beraroma belerang dan terlihat ada beberapa pondasi bangunan yang ada di sekitaran jalur menuju puncak tertingginya.

Puncak Rengganis_Hanya Milik Kami

Puncak Rengganis_Hanya Milik Kami

Berfoto secukupnya, menuntaskan semua misi, kami segera turun kembali ke Alun-alun Lonceng. Nampak ada rombongan pendaki sedang menuju puncak Argopuro yang memiliki kemiringan lereng yang sangat berbeda dari jalur menuju puncak Rengganis. Setiap 10 langkah mengharuskan berhenti menarik nafas. Di kejauhan beberapa orang terlihat meniti sadel penghubung menuju Puncak Arca yang berada di sisi kiri. Ah, tujuan utama sebaiknya dituntaskan terlebih dahulu, Puncak Argopuro. Berpacu dengan waktu yang sudah menunjukkan pukul 16.45, jalur puncak tuntas dalam 30 menit, hoossshhhh…

Rame, Bro! [Puncak Argopuro]

Rame, Bro! [Puncak Argopuro]

Ramai! Pendaki rombongan sudah sibuk dengan aksi foto, kami menyelip menunggu giliran. Gelap pun merambat padahal baru jam 5 sore, angin mulai membawa hawa dingin menusuk, menderu di sela-sela jarum daun cemara. Langit menggelap dan diputuskan puncak Arca tidak kami kunjungi, porter yang mengantar rombongan pun menyarankan kami untuk segera turun karena kabut mulai naik dan tidak mungkin menuju Puncak Arca dengan menyusuri punggungan puncak dalam gelap. Maka tuntas pencapaian puncak Argopuro dan Rengganis hari ini. Tapi tunggu dulu, kami berdua, ya hanya kami berdua, yang masih harus menyusuri hutan dalam gelap menuju Cisentor yg masih berjarak sekitar 4 Km dari sini untuk bisa beristirahat. Auuwwww…

U & I

U & I

Wall-Eve! Yeeyyy...!

Wall-Eve! Yeeyyy…!

Kami disambut ramai oleh tetangga ketika 2 jam kemudian tiba di Cisentor [racing ceritanya]. Sebelumnya sempat mampir di Rawa Embik mengisi amunisi sambil mengobrol dengan Kukuh, Puguh dan lupa namanya si Boboho, yang punya cerita ketinggalan frame tenda di rumah, dan berhasil kreatif dengan memanfaatkan tripod, ranting dan dahan pohon sebagai penyangga tenda mereka, ckckck….

Memasak makan malam, tidur kami cukup nyenyak sampai tengah malam tetangga sibuk persiapan summit attack. Argh…kadang mendaki kala liburan ya begini, ramai. Hingga sayup-sayup obrolan mereka tak terdengar lagi karena akhirnya aku ketiduran juga saking capeknya. Cisentor cukup hangat malam itu hingga aku terbangun kesiangan, setengah 6 pagi, hahaa…langit terang di luar tenda.

Bertetangga di Cisentor

Bertetangga di Cisentor

Enteng!

Enteng

Kekeliruan hari ini diawali ketika kurang cermat membaca catper yang menjadi panduan sejak awal perjalanan untuk memperkirakan waktu menuju Danau Taman Hidup. Jika estimasi sesuai catper saat itu tepat dengan kekuatan langkah kami, maka sore hari sepertinya kami bisa tiba di Bremi [sama sekali gak sadar itu khayal dan gak cross check kembali antara jarak di GPS dan catpernya]. Maka dengan semangat lewat 30 menit dari jam 8 kami mulai “turun” melalui Cisentor menuju Taman Hidup. Mengikuti langkah 2 orang senior rombongan Ubhara yang racing, 1 jam pertama masih bisa imbang hingga akhirnya tersusul oleh rombongan para abegeh itu, hahaa…kami mulai mengakui kalau kami sudah udzur. Tiba di Pos Aeng Kenik dengan mata airnya, kami mulai menjadi ekor anak-anak muda ini. Dibuka dengan tanjakan tajam, tak sampai sejam saat tanjakan mulai konstan gak pake bonus, dan teriakan “djanc*k” khas Jawa Timur sayup-sayup kami dengar. Memasuki areal pohon pedas jelatang yang dikenal dengan nama “jancukan” karena duri-duri daunnya alamak…bikin perih-perih gatal gemana gitu…siapkan longsleeves dan gaiter😀

Auchh!! Djanc*k!!! [Jelatang]

Auchh!! Djanc*k!!! [Jelatang]

Tanjakan pertama terlewati, kami mulai terpisah kembali dan sadar diri tak bisa mengimbangi anak-anak muda racing ini. Satu tempat istirahat kami temui 30 menit kemudian kembali bersama rombongan terakhir Ubhara, yang artinya 2,5 jam telah berlalu dari Cisentor. GPS masih menunjukkan jarak Taman Hidup tetap jauh, ya masih 5 Km lagi. Kami pun terhenyak, menyadari ada hal yang terlewat kami ketahui. Dengan perasaan galau membaca ulang dan seksama catper yang jadi panduan, dan mengkonfirmasi hal itu pada para abegeh ini, mereka menyampaikan benar bukit Cemoro Limo ada di depan sana [jauh di seberang jurang sana] yang harus dilewati dengan beberapa medan tanjakan mampus.

Mereka pun berkata dengan santai, dengkul standar mereka, Danau Taman Hidup via Cisentor biasa mereka tempuh dalam 6 jam. Apppaaaa…??? 6 JAM?! Ouh tidaaaaakkkk…langsung lemes rasanya, mulai merutuki benar ada yang salah dengan persepsi saat membaca catper tadi pagi. Dengan pasrah hati, hampir semaput jelang tengah hari di puncak tanjakan yang entah untuk yang keberapa kali, jalur monoton menuruni jurang tajam berkonsekuensi dengan tanjakannya yang membuat bukan lagi 10 langkah tapi setiap 5 langkah berhenti. Ampuuunnnnn… Emaaaakkkkk…aku kan mau turun gunung, kok pake nanjak giniiiii… T_T

Cemoro Limo, Akhirnyahhh...

Cemoro Limo, Akhirnyahhh…

Menyerah tak mungkin, lanjut pun tak bisa segera karena sudah ngesot rasanya, belum lagi jatuh terpeleset, tersandung dan tertimpa kerir sudah entah keberapa kali, hahaa… Kenapa gak ada yang bilang kalau jalur ini jalur maut, huhuhuuu… [bukan ga ada yang bilang sih, cuma ga ngeh ini yang dimaksud…]

Hingga di ujung semangat mulai condong ke barat, seperti terik siang yang sudah miring, hampir 4,5 jam berlalu kami bertemu rombongan lain yang rupanya rombongan di Puncak Argopuro kemarin. Ealaaahhhh… kami baru tahu ada jalur yang lebih manusiawi bernama jalur Trabasan dari porter mereka, dari arah Alun-alun Lonceng langsung turun tajam hanya membutuhkan waktu 2-3 jam sampai di persimpangan ini, dan Cemoro Limo tinggal beberapa menit lagi di depan. Beuh…para Porter senyum-senyum melihat wajah kami yang sudah pucat dikuras tanjakan yang kata mereka berjumlah 17 bukit yang tersohor. Huhuhuhuhuuuu… Cemoro Limo, selamatkanlah kami…

Cemoro Limo biasa digunakan juga sebagai salah satu campsite dari Taman Hidup menuju puncak via Trabasan ataupun menuju Cisentor. Entah kenapa namanya Cemoro Limo karena sampai capek aku cari kombinasi 5 cemara yang dimaksud, tetap  tak ada yang berkelompok lima-lima. Ah sudahlah…hampir gila aku dibuatnya oleh jalur Cisentor-Taman Hidup ini.

Cieee...Senyumnya yang udah ga ada tanjakan lagi :D

Cieee…Senyumnya yang udah ga ada tanjakan lagi😀

Rombongan besar masih memasak makan siang di Cemoro Limo dan kami tak lama-lama, ingin segera tiba di Taman Hidup, dengan informasi dari Mas Paap, porter andalan Oom Ebenk yang sedang aku cari-cari itu, Taman Hidup bisa ditempuh dengan kekuatan dengkul macam kami ini dalam 4 jam. Gubraaaakkkk… ga bisa diskon? Katanya sih sudah tidak ada tanjakan lagi, hanya turun turun dan turun, sampai nanti di dataran [tinggi] hutan lumut sedikit lagi tiba di Taman Hidup, hahaaa… Apa aja dah, segerakan kami tiba di Taman Hidup. Ceritanya mau turun gunung tapi kok ya ini tetap menanjak dan gak ketulungan absurdnya.

Mencoba melesat namun malah terperosok dan terpeleset beberapa kali karena curam dan tipisnya jalur terhalang rerumputan.

Disalip Pak Porter

Disalip Pak Porter

Belum lama kami berjalan kami sudah disusul Mas Paap dengan bawaannya yang aduhai. Katanya tak mau menyalip kami, akhirnya Mas Paap jadi motivasi untuk kami melangkah ditemani beberapa obrolan [tepatnya kami terintimidasi, hahaa…kesian kan kalau kami jalannya lambat sementara Mas Paap dengan bawaannya harus mengekor kami]. Tak terasa kami tiba di perbatasan hutan lumut dalam waktu kurang dari 1 jam, kembali bertemu para racer muda dari Ubhara yang bersiap melanjutkan perjalanan.

Porter-Porter Siaga [Andai Ku Bawa Porter]

Porter-Porter Siaga [Andai Ku Bawa Porter]

Mas Paap membawa berita gembira, dengan ritme jalan kami seperti tadi, kurang dari 2 jam kami pasti bisa tiba di Taman Hidup. Horeeeee….akhirnya, huhuhu… [eh, masih 2 jam loh]. Sementara pak Porter beristirahat sambil menunggu tamu mereka yang katanya masih jauuuhhh…kami melanjutkan menuruni jalur memasuki hutan lumut. Dengkul kiri mulai terasa nyut-nyut, namun tak terasa dengan egois beberapa kali aku malah meninggalkan Ndoro jauh di belakang, heheee…mahap…saking pengennya cepet nenda di Taman Hidup.

Taman Hidup! [Sebelum Tersesat]

Taman Hidup! [Sebelum Tersesat]

Di ujung perjalanan kami kembali disusul 2 Porter, Mas Paap dan Pak Saipul, ketika akan menyeberangi sungai kecil dekat Taman Hidup yang nampak beberapa jejak-jejak binatang. Kala GPS menunjukkan Taman Hidup kurang dari 500 meter, tak terkira kelegaan kami, pak Porter sudah menghilang entah ke mana, kami temui percabangan jalan dan tersesat. Hahaaa…kembali lagi ke pertigaan arah Danau Taman Hidup di GPS, kami kembali diselamatkan oleh kemunculan pak Porter lainnya dari arah perkemahan Taman Hidup. Akhernyaaaa….tepat 7,5 jam kami tiba sore itu di Taman Hidup. Terharu…

Kapling, Kang!

Kapling, Kang!

Kapling tempat mendirikan tenda selesai, rupanya perkemahan akan penuh sesak mengingat setiap rombongan yang kami temui mengatakan akan menuju Taman Hidup hari itu juga. Pak Porter sudah sigap mengkapling tenda untuk tamu-tamunya, sementara kami beruntung hanya berdua dengan tenda mini MHW Skyledge 2.1 kami bisa mendapat tempat strategis. Terbayang tetangga kami si “Pendekar Selada Air” pasti akan kesulitan mendapat tempat nenda karena sampai saat ini belum muncul batang hidungnya. Ah, syukurlah kami cukup racing eh… cukup pagi berangkat meninggalkan kenyamanan Cisentor untuk sampai di sini lebih awal.

Suatu Sore Di Taman Hidup

Suatu Sore Di Taman Hidup

Danau Taman Hidup lebih mirip Danau Buyan di Bali, eaaaa… Tapi perjuangannya itu loh untuk tiba di sini. Apalagi untuk yang harus berjuang meniti dermaga rapuh yang menjadi icon Danau Taman Hidup untuk mencari air. Harus berhati-hati selain rawan terperosok lumpur juga terdapat jebakan betman berpaku bekas reruntuhan dermaga didalamnya. Intinya mendapat air di Danau Taman Hidup penuh dengan perjuangan. Malam merayap dengan kedatangan banyak rombongan yang kebingungan menentukan lapak tenda, akhirnya jalan menuju danau pun tak ayal menjadi tempat tenda. Hingga di luar kawasan danau sepanjang jalan masuk campsite rupanya juga penuh tenda. Malam agak terganggu dengan keberadaan pendaki bule gemblung yang gagal muncak menghabiskan malam dengan mengobrol dan tertawa keras. Tapi ya akhirnya aku paksa tidur pulas juga karena kecapekan, dengan niatan bangun sepagi mungkin untuk mendapat pemandangan Taman Hidup dengan uap kabut di permukaannya. Taman Hidup, Taman Dewi Rengganis, kami tiba di sini. Segerombol Burung Di Seberang

Di Taman Dewi Rengganis

Di Taman Dewi Rengganis

Maka perjalanan panjang ini pun akan segera tiba di penghujung. Masih 4 jam menuju desa Bremi, hahaaa…siiiaaaapppp… Dengkul sudah dipulihkan, semoga tidak rewel dan minta direparasi. Jalur menurun mengikuti jalur offroad motor trail hingga di kawasan hutan industri dan perkebunan penduduk. Tepat 3,5 jam kami tiba di Pos Lapor Pendakian Jalur Bremi, bertemu pak Arifin dan segera meminta bantuan untuk mencarikan transportasi mengantar kami menuju Probolinggo. Kami bersama 3 orang rombongan Tenda Frameless menyewa kendaraan dengan tarif Rp. 250.000,- hingga Probolinggo dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam, jauh juga. Apalagi jika menggunakan angkutan bus umum yang hanya tersedia 2 kali sehari yaitu pagi pukul 6 pagi dan pukul 4 sore, kami pasti kemalaman tiba di kota. Cerita ini sepenuhnya curhat semata, tidak memuat informasi konservasi atau sejenisnya, hehe… Jika tidak terhalang kesibukan, rekan saya pastinya akan menulis informasi perjalanan ini dengan data yang lebih padat, sementara…ini cerita kami [versi saya].

10 comments on “Argopuro Express, Selangkah ke Seberang [30th]

  1. akuntomo
    June 7, 2014

    Reblogged this on akunto[MO]untain and commented:
    Argopuro..Aku Rapopo

  2. Mann
    January 30, 2015

    wuaaahhh … itu tenda kita tetanggan d Cisentor. apkbr Mbaa . . . ?? saya Temen nya pendekar selada aer🙂

    • inten_arsriani
      January 30, 2015

      Hei bang Man…tmen Pendekar Selada Aer…kabarku baek…slamat datang di blog ku…

      Iya,sayangnya kalian ga nemenin kami muncak, kan ga perlu kami malem2 cm berdua turun ke Cisentor , hahaa…

  3. Hikmah Prahara Kurniawan
    January 30, 2015

    oalah, pendekar salada aer terkenal juga ya xD

    • inten_arsriani
      January 30, 2015

      Heiii…aku panggil bang hikmah?

      Hahaa…iyah kenangan Pendekar Selada Aer tuh nendang bangged😀

  4. arihanda
    February 2, 2015

    Halo Mbak Inten🙂
    Senangnya bisa membaca dan membayangkan catpermu

    aku juga serombongan sama “pendekar selada aer”😀

    • inten_arsriani
      February 3, 2015

      Heiii Arihanda…makasi uda mampir ke blogku…eniwe boleh panggil namaku Dayu, hehee…Pendekar Selada Aer jd terkenal yah :p

      • arihanda
        February 23, 2015

        Siip Mbak Dayu🙂

  5. Afvendiant
    July 12, 2015

    Hai mbak..ternyata nemu blog mbak.. kita papasan di padang verbena deket cisentor. Pas rombonganku turun dari puncak, dan kalian mau summit.😀 salam kenal..

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 7, 2014 by in Analogi Gunung, Argopuro, Jawa and tagged , , .
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

June 2014
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Analogi Kliks

  • 33,121 Analogiers
%d bloggers like this: