an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Manusia Sang Lubdaka

Sang Lubdaka, yang tak lain adalah simbol dan analogi jiwa dan raga manusia. Diberikan satu kesempatan sempurna untuk bercermin dan mendekatkan diri pada kesadarannya Brahman, inti, asal muasal, energi kekal di dalam raga.

Lubdaka, disimbolkan sebagai seorang pemburu. Demikian pula manusia adalah pemburu dalam hidupnya. Kesenangan, kegembiraan, kebahagiaan, pencapaian, ambisi, keinginan, semua menjadi buruan hidup, sementara semua itu telah disampaikan bahwa akan semakin membebani Atman untuk tetap ringan dan tidak terikat jika saatnya nanti harus kembali ke asal-Nya.

Lubdaka menjalani jagra, upawasa dan monobrata [tidak tidur/terjaga, berpuasa dan tidak/mengurangi berbicara] pada hari ini, Pangelong 14 Tilem Kapitu, yang dianggap sebagai malam bulan mati tergelap dalam siklus bulan setiap tahunnya, yang merupakan hari bersemedi Hyang Siwa, pengendali kehidupan, yang sebenarnya tidak diketahui oleh Lubdaka pada saat itu karena terlalu sibuk untuk berburu ke hutan.

Analogi dalam cerita Lubdaka, manusia pada kesempatan ini yang terkadang lupa dan sering lengah pada keberadaan dirinya yang semestinya selalu mawas diri dan sadar, termasuk dalam melakukan perburuan, diharapkan melakukan hal yang dijalani Lubdaka. Jagra, adalah sikap selalu waspada, sadar, eling. Seperti Lubdaka yang pada saat itu terjebak hingga malam di dalam hutan dan harus terjaga untuk bertahan hidup jika tidak ingin dimangsa binatang buas. Ini adalah bratha tingkat nista [pertama/termudah].

Upawasa. Terlena dan akhirnya terjebak perburuan, Lubdaka kehabisan bekal dan berpuasa seharian. Ini tingkat bratha kedua, madya. menahan keinginan dan hawa nafsu pada pemenuhan indriya.

Karena perburuan dilakukan Lubdaka seorang diri, maka alhasil sepanjang waktu di dalam hutan Lubdaka tidak berbicara sama sekali. Hal ini dimaksudkan sebagai perilaku bukannya tidak boleh berbicara, namun berusaha mengendalikan dan memilih segala tutur kata dan buah pikiran yang tertuang dalam ucapan. Sehingga kata-kata atau ucapan yang terlontarkan tidak menimbulkan ketidakbahagiaan. Inilah bratha yang uttama, untuk lebih memfokuskan diri pada kesadarannya ke dalam, mengurangi mengeluhkan keadaan yang tidak bersumber pada diri.

Hingga malam tiba, Lubdaka duduk di di atas pohon Bila sambil terus melakukan jagra, upawasa dan tetap monobrata. Untuk menjaga kesadarannya di malam itu yang sangat pekat, Lubdaka memetik satu-satu daun Bila dan tak menjatuhkannya ke bawah tepat ke permukaan kolam jernih yang tenang. Daun Bila yang dipetik satu-satu dilakukan secara teratur, adalah jalan konsistensi dan meditasi dalam pencapaian tujuan dan pengingat kesadaran bahwa kita harus tetap ingat ada yang ingin kita mencapai dalam hidup. Kolam yang sedemikian jernihnya hingga Lubdaka mampu melihat dasarnya, adalah simbolisasi kesadaran diri pada Atman yang berada di dalam diri.

Hingga pada puncak malam itu dapat dilalui Lubdaka, Sang Lubdaka dikejutkan oleh hadirnya sinar yang tak lain mewujud Hyang Siwa, yang menyampaikan berkah pada Sang Lubdaka. Bahwa apa saja yang telah dilakukannya saat itu menuju Tilem Kapitu, tepat pada hari semedi Hyang Siwa, jagra, upawasa, monobrata adalah cara “bertemu” dengan-Nya, Hyang Atman.

Menyadarkan kembali Sang Lubdaka, Sang Diri, bahwa perlu kiranya melakukan ketiga bratha itu pada saat yang tepat dan dalam keseharian untuk bisa lebih melihat ke dalam diri. Menemukan kesadaran diri. Menemukan tujuan hidup yang sesunggguhnya untuk selalu terhubung dengan inti diri. Menemukan jalan kembali ke dalam diri dan kesadaran untuk terlepas dari keterikan ketika nantinya waktu akan memanggil kembali Sang Atman ke sumber sinar utamanya dalam moksartham jagadhita ya ca iti dharma.

image

Om Nama Siwa Yaa…

*dari berbagai sumber, kitab Siwaratri Kalpa

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 29, 2014 by in Warna-Warni Analogi.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

January 2014
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Analogi Kliks

  • 33,170 Analogiers
%d bloggers like this: