an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Mengenal Catatan Butet “Bontet” Manurung

Masih bersama dengan catatan harian Bontet Manurung tentang Orang Rimba di tengah hutan Bukit Duabelas. Mengenal nama-nama unik mereka, Bedinding Besi, Peniti Benang, Bekilat, Besemi, ah.. Serasa pas untuk menikmati hari minggu yang malas selepas hujan semalam berganti terik pagi ini. Matahari cukup menyengat belum lagi jam 9, kayaknya ini efek kulit jarang terpapar sinar matahari; ouh…aku rindu ada di tanah-tanah tinggi itu *halah

Kata sampul buku Sokola Rimba ini akan tayang film layar lebarnya dengan produser dan sutradara yang pasti filmnya selalu mendapat apresiasi, duo Mira Lesmana dan Riri Riza. Hmm…menunggu 21 November, akan aku belain dateng ke bioskop yang jauh dari rumah. Sementara ini, halaman demi halaman semakin menarik untuk disimak. Aku begitu menghayati tiap kejadian yang digambarkan, hahaa…beberapa hal serupa pernah aku alami, dan makin ingin aku lakukan kembali, aaarrgghhh…kapan ya?!
*menghitung cuti tahun depan

Bontet, sebutan Orang Rimba untuk Butet, membahasakan setiap pengalaman yang dilaluinya di tengah rimba dengan begitu ringan, memang sih bukunya adalah kumpulan catatan hariannya selama beberapa tahun di rimba yang beberapa sudah ditambahkan catatan-catatan kaki. Perempuan muda yang cukup nekat, sepertinya efek dari menjadi anggota Palawa Unpad, hahaa…apakah perempuan-perempuan jebolan mapala/sispala/pendaki bakal selalu bermental begini ya?! *nekat

Keputusannya datang ke rimba tanpa mengetahui betul kondisi yang mungkin dihadapinya, berbekal keinginan dan tekad kuat memberi manfaat pada sekitar, di samping hasrat untuk menjelajah rimba yang setia bercokol di kepala. Mengingatkanku ketika aku bertemu beberapa mahasiswa muda dengan semangat berapi-api bergabung dengan sebuah komunitas sosial, cuap-cuap sana sini akan keterlibatannya, dan melihat ketika tibalah waktunya mereka bertemu warga di lokasi, ehh…isinya mewek-mewek, jeprat-jepret sana sini seolah sudah begitu peduli, peluk sana-sini ke anak-anak yang kebingungan melihat kerempongan orang kota ini, and that’s it. Nda ada lagi hal laen yang dilakukan selain meratapi keadaan, tertegun tak tahu apalagi yang harus dilakukan, kembali pulang dalam beberapa jam, ke kehidupan modern mereka.

Tak jarang anak-anak muda ini kebanyakan tak tahu apa yang mesti dan bisa mereka lakukan selain hanya menyaksikan sisi kehidupan berbeda dari yang mereka miliki. Gak semua sih seperti itu. Tapi kebanyakan, yah…anggap saja pengalaman mereka sekali datang itu sedikit tidak membawa manfaat selama beberapa waktu membuat mereka merenung dan tak jadi mahasiswa manja lagi.

Bontet dengan jurus nekat dan ndablegnya pun juga terkaget-kaget dengan kondisi dan reaksi Orang Rimba yang ditemui, bedanya Bontet terlecut untuk semakin dekat dan terlibat dengan mereka bahkan kadang memakai metode yang tak sejalan dengan orang-orang lembaga yang merekrut dan menggajinya, WARSI; sebuah lembaga konservasi hutan, yang menjadi awal keterlibatannya untuk “berkarir” di rimba, yang mana Bidang Pendidikan hanya sebagai pelengkap dari konsentrasi utama WARSI. Beberapa orang-orang di dalamnya terlihat tulus meski beberapa karakter digambarkan Bontet malah agak “lolo” (bodoh, bego; bahasa rimba) gara-gara asal njeplak saja saat memberi pengertian soal pendidikan pada Orang Rimba sehingga merusak suasana. Bahkan lama kelamaan organisasi ini jadi maunya sendiri dan kadang merasa paling benar akan kebutuhan dan keberlanjutan nasib Orang Rimba.
*mungkin menimpa sebagian kelompok anggota WARSI yang sudah bosan di hutan, namun tak punya pilihan pekerjaan lain, ah jadi lembaga Orang Terang pada umumnya; analisa ngasal.

Oiya, kadang; mungkin; aku terlalu skeptis dengan organisasi sosial atau LSM bahkan pada keberadaan Rotary Club, eh…mungkin hanya karena oknum didalamnya kali ya. Aku kadung beranggapan ada orang yang cuma numpang beken melalui kelompok ini. Hahaa…itu sebabnya aku lebih sering terlibat secara pribadi dalam berkegiatan, males banget yang namanya ikut program sosial atau apalah yang melibatkan kelompok besar dan ramai-ramai, aku tiba-tiba malah menjadi pengamat di luar lingkaran tak melakukan apa-apa. Nah, setelah rombongan pergi, barulah aku nyaman berinteraksi dengan warga yang aku temui. Mendapat waktu untuk lebih dekat dengan mereka, dan aku pastikan bisa mendapat informasi yang lebih akurat tentang apa yang sebenarnya mereka butuhkan.

Memang tidak rugi dengan adanya organisasi-organisasi itu, semua membawa dampak positif hanya mungkin porsinya kurang dari harapanku, eng…ini kembali lebih karena adanya oknum-oknum tadi itu kali ya. Sekali lagi paling tidak, sedikit tidaknya, anak-anak muda itu; yang beberapa pernah aku temui dengan perilaku begitu; mendapat pengalaman berharga dalam hidupnya bahwa mereka tak pantas hidup hedonis di tengah banyak ketimpangan yang tersembunyi di sekitar mereka.
*ah…aku sedang gandrung dengan kata hedonis gara-gara Bontet, semoga mereka mengerti apa artinya, hahaa…

Organisasi-organisasi yang memiliki landasan peduli akan lingkungan dan kehidupan sosial memiliki kekuatan untuk menghimpun publik dan melaksanakan kegiatan dengan massa dan hasil sebaran yang luas, pesan bisa tersampaikan dengan cepat. Sehingga bantuan yang dibutuhkan secara instan bisa dikumpulkan. Nah, bagaimana mengelola organisasi ini untuk tetap berada di jalur idealismenya membutuhkan konsistensi tinggi, manajemen yang baik dan orang-orang dengan passion tinggi. Dibutuhkan orang-orang “gila” sebagai intinya, hahaa…

Kembali ke Bontet, yang sangat aku kagumi dari seorang social worker, memiliki idealisme dan berpikir tentang sebuah program jangka panjang. Bukan sebuah sumbangsih instan tak berkelanjutan, yang mana itu bagiku merupakan inti dari setiap kegiatan yang melibatkan warga lokal yang selama ini aku lakukan bersama segelintir orang. Ah ya…aku termasuk golongan soliter, berkegiatan hanya dengan sedikit orang. Sepertinya kami lebih memperoleh waktu berkualitas dengan warga ketika tak banyak yang terlibat. Maklum, masih dalam skala mini, sekedar berbagi sambi piknik-piknik, hahaa…tetep yaaa…

Baeklah, akeh kembali membaca Sokola Rimba, bergabung dengan Linca dan Gentar, anak Orang Rimba, yang memiliki kecerdasan mencengangkan, membuatku semakin tertarik mengikuti jejak-jejak mereka di belantara Jambi…
*siapa tahu ketemu si macan kumbang
image

*pertanyaan untuk diri sendiri…
how many life you can change today?__pandeputusetiawan

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 3, 2013 by in Analogi Sosok, Warna-Warni Analogi.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

November 2013
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Analogi Kliks

  • 33,170 Analogiers
%d bloggers like this: