an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Prau, Satu Titik di Ketinggian Dieng

Di~Hyang, Dieng…
Konon berasal dari sebutan tempat persemayaman para dewata, Hyang…

image

Suatu romantisme ketika mendengar, membaca, melihat tentang ulasan dataran tinggi yang satu ini. Keterikatan emosional lebih karena terdapat situs candi-candi Hindu-Budha di sana, lereng dan lembah pegunungan tua yang menimbulkan perasaan mistis, khayalan yang kadang menyedot energi dengan perasaan gloomy yang tak tergambarkan. Maka, dikuatkanlah niat untuk suatu hari singgah di sana [modus].

Diantara jadwal yang padat usai sidang thesis dan mengejutkan jadwal inagurasi diundur, maka cuti curi-curi dilayangkan di kantor mepet dengan jadwal penerbangan Dps-Jgj paling subuh. Sedikit merajuk di tengah jadwal dateline si Mas yang memaksanya mengiyakan dan tak sekedar menemani menuju Dieng namun mengajak melihat Dieng dari sudut yang berbeda, Gunung Prau.

Awalnya gunung Prau menjadi topik bahasan kami karena banyaknya posting yang menunjukkan cantiknya padang savana di kala musim mekar bunga-bunga daisy. Terlebih jarak tempuh menuju puncaknya relatif singkat demi mendapatkan pemandangan yang moy bangged itu. Dan, kami pun berangkat menempuh 4 jam perjalanan melintas beberapa kabupaten, mengatur jadwal booking lapak agar sunset bisa kami nikmati di puncak Prau; disamping antisipasi wiken spesial bulan Agustus yang bakal ruame. [pertama kali dalam sejarah pendakian kami, ngecamp pas Agustusan]

Sore menjelang, beberapa kali bolak-balik mencari pos lapor dan titik awal pendakian tak pasti kami temui, membawa kami ke sebuah toko outdoor “Prau Outdoor Shop”, woowww…tak menyangka. Ukuran kota kecil Dieng, tempatnya cukup cozy untuk rehat dan memperoleh informasi lengkap tentang Dieng dan sekitarnya.

image
image
image
image
image

Penjaga toko hari itu [dan lupa siapa namanya] ramah luar biasa hingga membuat kami sungkan beranjak mengawali pendakian seperti rencana awal saat langit masih terang, berhubung beberapa rombongan pendaki lain juga berdatangan, maka kami disarankan mendaki bareng saja. Yang artinya selepas maghrib.

Akhirnya, mempertimbangkan sekali-kali keluar dari kebiasaan, mendaki ramai-ramai sepertinya akan menyenangkan juga. Lagipula suasana toko outdoor ini makin membuat betah, ditemani lagu-lagu band indie mulai dari Float, The Sigit hingga Navicula dengan sound system yang tak main-main serius, hahaa…

Setelah berkesempatan ngobrol dengan pemilik toko yang datang malam itu, yang rupanya adalah tokoh pemuda Dieng yang dipercaya banyak komunitas, lembaga dan peneliti sebagai contact person mereka di Dieng [dan aku lupa lagi namanya, payah…coba tanya Mas Priyo]. Kamipun pamitan pada sepasang pendaki yang rupanya juga telah ditunggu rekan lainnya di pos pendaftaran di Balai Desa. Pantas saja kami tak menemukan pos lapor ketika melintas di jalan raya, rupanya basecamp ada di belakang balai desa dan petunjuknya nyempil, hanya ini yang kami temui tadi sore sebagai titik di GPS.

image

Suasana riuh oleh pendaki ABeGeh, hahaa…ini yang dikata “modus” sama si penjaga toko tadi, akhir pekan adalah waktunya pendaki usia sekolah menengah mendatangi Prau. Dengan apparel seadanya, dan warna-warni unyu-unyu; aku jadi terlihat berbeda, keliatan udzurnya, hahaa…; meski di antara mereka yang sepertinya senior nampak melekat nama-nama macam Deuter, TNF, dan Eiger pastinya, sepertinya akan sebagai pemandu.

Malam beranjak, pendakian dimulai. Melewati rumah dan perkampungan, jalan pintas menuju perkebunan penduduk dan berkenalan dengan jalan makadam yang sedang dirampungkan lumayan sebagai pemanasan di 30 menit pertama. Dasar jompo, aku jadi ekor dan trekpole sudah siaga, hahaa…

image

Lambat laun, rombongan besar mulai terpisah, dan setiba di pos II, beberapa saat meninggalkan perkebunan, kami berdua mendahului, hingga tiba di puncak tepat 2 jam perjalanan di tengah kabut yang agak misty, hahaa…maklum entah mengapa malam itu aku parno dengan kabut di antara cemara-cemara, padahal itu bukan kali pertama aku mendaki hanya berdua pada malam hari.

Puncak entah di mana, saat kami tiba tanah lapang itu sudah dihuni 2 tenda dan pemiliknya menyampaikan tempat bermalam di sini dan sekitarnya. Sejenak orientasi, mengamati ada tugu perbatasan kabupaten dan beberapa lereng puncak yang nampak bayangnya saja di kejauhan [berharap tak jauh-jauh amat], serta gugusan Sindoro Sumbing yang perlahan muncul di antara kabut dan langit gemintang mulai jelas. Maka kami mendirikan tenda di sini.

image
image

Niatan piknik dan pendakian hepi skalian menjajal ada yang punya matras tiup baru; Klimit, kami pun masak heboh [sebenarnya memanaskan makanan saja, hehee] dan menyusun rencana stargazing subuh nanti dengan kamera yang baru [hibah] juga, si D90. Dan, mari tidur nyaman malam ini.

image

Sayangnya, yang namanya gunung wiken, Agustusan, jalur singkat, alhasil tidur kami terganggu sepanjang malam oleh cahaya senter yang menerpa tenda, teriakan antar kelompok pendaki, tersandung patok tenda kami, aarrrggghhh… Kawan, mendaki gunung juga ada etikanya. Sepertinya akan muncul ulasan “Etika Mendaki dan Berkemah”. Tak cuma soal sampah yang seperti lingkaran setan, namun hak dan kewajiban pendaki lain juga mesti dihormati. Pendaki macam kami-kami ini, datang ke ketinggian begini dengan membawa banyak harapan untuk bisa nyaman melepas penat pekerjaan dan penuh persiapan agar setiap orang yang ada untuk tujuan yang sama memperoleh area privasinya menikmati alam.
Hhh…pupus sudah harapan tidur tenang di bawah bintang-bintang kali ini, hahaa…

Memutuskan beranjak dari sbwk [sleepingbag warna kuning], mulai melihat suasana yang tiba-tiba akhirnya hening. Kapok, capek tho ngoceh spanjang malam setelah perjalanan. Subuh ini menjadi milikku, menikmati bintang jatuh, nebula Bima Sakti, kesenyapan Sindoro yang nampak sesekali kerlip cahaya summit attack pendaki di sana hingga mentari Indonesia 68 terbit, di ufuk barat [oke, seperti biasa aku disorientasi].

image
image

Pendaki lain mulai berdatangan, mayoritas masih ABeGeh, yang berencana upacara bendera di puncak Prau. Rupanya titik tertinggi masih beberapa meter di belakang kemah kami untuk bisa menikmati telaga warna dan kawasan wisata Dieng yang termasyur. Benar, bunga-bunga Daisy sedang bermekaran, cantik…

image
image
image

Sejenak mengamati tingkah polah pendaki-pendaki muda ini, dan pada satu titik aku memanggil salah seorang darinya untuk mengajak teman-temannya membersihkan area upacara mereka yang mulai penuh sampah dan ditinggalkan begitu saja, hhhh… Aku tiba-tiba nampak seperti ibu tiri yang jahat, dipandang dengan pandangan sinis tapi mereka tak berani menolak ketika aku mulai bicara. Semoga itu menjadi pelajaran bagimu, Nak..eh, Dik…
Sesi operasi semut, lokasi bersih, mereka pamit plus salim padaku dengan acara cium tangan [sumpah, aku kaget] dan mereka melambai dengan senyuman di wajah mereka, ah…🙂

This is it , INDONESIA!

image
image
image
image
And, DAMN! We love Indonesia!
image
image

Alam Dieng memang memukau. Potensi wisatanya amat besar. Semoga dapat dikelola dengan baik dan bermanfaat bagi perekonomian dan kebudayaan serta kehidupan warga Dieng selanjutnya.

image

Melanjutkan perjalanan berwisata ke kawasan wisata Dieng adalah pilihan yang tepat. Kecuali saat libur panjang seperti saat kami datang. Kawasan Dieng ramai pengunjung, dan niatan berkunjung ke candi-candinya pun gagal. Kawasan Dieng memiliki kawasan edukasi berupa gedung pemutaran film dokumentasi tentang kawasan Dieng, cukup baik menambah informasi sebelum keliling Dieng. Jangan lupa, oleh-oleh khas Dieng banyak dijual, Carica.

image
image

Selamat menikmati Indonesia dari sisi yang berbeda.

image

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 28, 2013 by in Analogi Gunung, Dieng- Prau, Jawa.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

September 2013
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Analogi Kliks

  • 33,121 Analogiers
%d bloggers like this: