an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Penyepian, Sebuah Esensi Diri

Dalam dunia digital dan maya sekarang ini, masih ada sebuah budaya dan nilai masyarakat hindu Bali yang ditanamkan serta masih dilaksanakan hingga saat ini serta diupayakan untuk terus  dilestarikan bahkan tidak hanya di kawasan regional namun hingga internasional. Nyepi. Hari pertama memasuki tahun baru Caka bagi umat Hindu, yang dilewati dengan menyepi, setelah sehari sebelumnya dirayakan dengan prosesi Ngerupuk yaitu mengembalikan seluruh unsur alam semesta pada tempatnya dengan sebuah perayaan yang sangat meriah.

Bahkan karena nilai yang terkandung didalamnya, sebuah organisasi dunia pun mengadopsi nilai dan budaya masyarakat Hindu ini untuk diperingati di seluruh dunia meskipun tak seperti layaknya Nyepi di Bali. World Silent Day (http://www.worldsilentday.org/) pada tahun yang lalu diselenggarakan pada 21 Maret 2012 sebagai wujud kepedulian umat manusia pada lingkungan.

Nah, yang menjadi perhatianku kali ini adalah Nyepi di tengah ketergantungan masyarakat pada dunia maya. Sementara Nyepi yang dilaksanakan mewajibkan setiap orang memenuhi 4 hal sebagai kesempurnaan dalam melewati Nyepi yang merupakan wujud kesiapan lahir dan bathin memasuki tahun Caka yang baru.

Ada 4 Tapa Brata (Tapa : pemusatan bathin, Brata : mengekang keinginan diri) yang harus dilakukan bagi seseorang yang akan menjalankan Nyepi. Hal ini diatur sedemikian rupa sebagai wujud refleksi dan perenungan diri pada esensi yang terkandung di balik pelaksanaan Nyepi. Tapa Berata ini dilakukan selama 24 jam penuh mulai matahari terbit hingga keesokan harinya pada waktu yang sama, atau suatu daerah dapat menjadikannya 32 jam dari pukul 00.00 hingga 06.00 di hari berikutnya.

Dikenal dengan Catur Brata Penyepian, yaitu 4 hal yang tidak boleh dilakukan atau dihindari pada saat Nyepi, yaitu :

1. Amati Geni, tidak menyalakan api, cahaya, penerangan pada saat Nyepi. Esensi didalamnya adalah meredupkan bahkan mematikan unsur-unsur api dalam diri, amarah, sifat yang meledak-ledak, sikap diri yang kurang tenang. Dalam satu hari ini, unsur-unsur semesta dalam diri maupun alam, dikembalikan ke titik 0 untuk kembali memasuki tahun yang baru dengan ketenangan dan kejernihan bathin, jiwa dan pikiran serta perbuatan.

2. Amati Karya, terbayang kita sering mengeluh betapa membutuhkan istirahat ketika hampir 364 x 24 kita disibukkan oleh beragam aktivitas, belajar, bekerja. Pada 1 x 24 kali ini kita diharapkan dan memang diharuskan dapat beristirahat total. Memberikan kesempatan pada tubuh dan lingkungan untuk beristirahat sejenak mengembalikan kesegaran dan daya juangnya pada sisa 364 hari mendatang untuk kembali bekerja untuk hidup.

3. Amati Lelungan, menjadi satu ciri lain yang menjadikan hari ini berbeda. Saban hari, saban waktu selama memungkinkan kita adalah energi yang selalu berpindah tempat. Kali ini Nyepi memberikan kita kesempatan untuk sejenak berdiam diri tidak bepergian. Melakukan perenungan akan apa yang telah kita lewati pada perjalanan sebelumnya. Henti sejenak di awal jalan baru ini. Untuk kembali memetik hikmah dan menjadikannya bekal perjalanan selanjutnya tentunya untuk menjadi diri yang lebih berkualitas.

4. Amati Lelanguan, menahan diri untuk menghibur, mencari hiburan, menghindarkan diri dari jerat hausnya diri akan penghiburan. Dalam era maya yang begitu merasuki segenap masyarakat, besar kecil tua muda, satu hal ini dari tahun ke tahun menjadi semakin memprihatinkan dan menjadi kekhawatiran berkurangnya pemahaman masyarakat dan penghargaan pada brata ke-4 ini.

Sementara budaya dan sastra menyampaikan pelaksanaan Nyepi seyogyanya dilakukan dengan melaksanakan lengkap ke-4 Brata, sehingga jiwa dan diri menjadi lengkap dan berusaha menjadi sempurna dalam memasuki tahun Caka yang baru. Kali ini adanya media sosial, keleluasaan teknologi informasi, ketergantungan kita pada gadget, semakin mengurangi kualitas pelaksaan Brata kita yang ke-4 bagi sebagian dari kita. Saat kita menggeser nilai Brata Amati Lelanguan ini secara sepihak, mungkin sedikitnya pemahaman akan esensi didalamnya, sehingga kita memberikan toleransi pada diri untuk tetap melakukan penghiburan dengan membiarkan diri tergoda oleh keberadaan hiburan dunia maya.

Kembali kepada kualitas diri yang ingin dicapai, sejauh mana keinginan dan upaya seseorang saat menjalankan Catur Brata Penyepian adalah menjadi tanggungjawab dan kewajiban masing-masing. Namun perlu diingat, sebuah nilai adi luhung yang telah ada beratus tahun dan diakui sebagai sebuah nilai yang bermanfaat bagi kehidupan tak hanya manusia tapi juga semesta alam dan lingkungan, mengapa tidak kita sebagai orang Bali khususnya yang memiliki budaya ini menjadikannya benar-benar berkualitas.

Misal, bagi para Facebookers, aL4Y’ers, Bingers, Pathers, dan yang biasa bercuap tiap menit di Twit mari menjauhkan sejenak keinginan untuk eksis dalam komunitas. Menjadikan keberhasilan melewati nafsu menjelajah dunia maya, melaksanakan Brata Amati Lelanguan yang hanya 24 jam saja, sebagai sebuah bentuk kualitas dari sebuah eksistensi.

“EKSIS itu…nda ngetwit nda onlen saat Nyepi! #SelamatNyepi #Caka1935

Tidak mengakses dunia maya juga akan mengurangi kemungkinan kita untuk menyulut emosi yang tidak perlu, melontarkan buah pikiran yang mungkin tidak seharusnya dimunculkan dalam kesucian pelaksanaan Tapa Brata kita, dan terpenting adalah mengendalikan diri dan menjaga keseimbangan bathin yang telah lelah terseret jaman dengan semakin meningkatnya keinginan indriya yang tak terbatas.

Menjaga kualitas diri dan juga orang lain, dengan tidak mengganggu orang yang sedang melaksanakan Tapa Brata Catur Brata Penyepian, juga merupakan cerminan seseorang yang telah memahami esensi dan nilai dari Penyepian. Dan perlu kita ketahui, berdasarkan pengamatan organisasi penyelenggara World Silent Day, Bali mengurangi 20.000 ton Karbondioksida bagi bumi pada pelaksanaan Nyepi.

Nah, betapa berharganya partisipasi perilaku kita bagi keberlangsungan bumi dan semesta alam, yang tak pernah lelah menyediakan kita sumber energi yang melimpah setiap saat. Kini waktunya kita bersumbangsih. Biarkan IBU BUMI beristirahat untuk kembali memberikan kasih sayangnya esok dan seterusnya bagi kita hingga anak cucu.

Selamat menjalankan Tapa Brata Penyepian, kawan-kawanku.

Semoga menjadi sebuah pribadi yang berkualitas dengan memahami nilai yang terkandung dalam pelaksanaan Nyepi, menjunjung esensi yang diperoleh bagi peningkatan kualitas diri yang lebih baik di tahun Caka yang baru datang. Seandainya tak sepaham dengan penanaman nilai yang telah diwariskan leluhur dalam pelaksanaan Nyepi, setidaknya hormati hak orang lain dalam menjadikan pelaksanaan Nyepi mereka dengan lebih berkulitas tanpa mengganggu dengan hal-hal yang masih bisa ditunda dalam 24 jam ke depan.

Atau, karena saya pendaki gunung, ada yang mau Nyepi di gunung? Silakan tentukan nilai yang ingin diperoleh dari pilihan-pilihan saat melaksanakan Tapa Brata yang tetap menjadi tanggungjawab dan kewajiban diri masing-masing.

Yajurveda XXXVI.17

Ya Tuhan, semoga damai di sorga di angkasa, damai sejahtera di bumi, semoga air, tetumbuhan dan tanaman menjadi sumber kedamaian, semoga Tuhan menganugrahkan kedamaian, semoga kita semua damai sejahtera dalam Tuhan. Ya Tuhan semoga dimana – mana ada kedamaian dan semoga suasana damai sejahtera itu datang kepada kami.

Selamat Hari Raya Nyepi Caka 1935…

santhi…

https://soundcloud.com/massiveabstract/kaimsasikun-ada-saat-berhenti

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

March 2013
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Analogi Kliks

  • 33,156 Analogiers
%d bloggers like this: