an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Sampah Gunung #AdakahKitaPeduli?

Sampah Gunung

Sebenarnya sangat banyak himbauan tentang sampah, tak harus membandingkannya hingga jauh ke ketinggian gunung-gunung cantik itu. Bagiku, kebiasaanmu dengan sampah-sampahmu adalah cermin caramu menata pribadi dan hidupmu.

Pedulikah kamu? Tertibkah kamu? Sadarkah kamu?

Aku pernah menulis hal serupa seperti yang pernah aku temui di Gunung Rinjani, Lombok tentang keprihatinku menemukan “gunung” pada si  Cantik kawasan TNGR ketika itu, bukan Baru Jari, tapi gunung SAMPAH!

MIRIS.

Itu yang aku rasakan. Kesal, bahkan mungkin marah, sekaligus heran pada mereka yang bisa-bisanya nge-camp di areal yang penuh sampah dan tak tergugah sedikitpun ketika melalui jalur yang penuh ceceran sampah untuk peduli.

sampah #2

Ya, aku sadar, aku bisa pahami, di ketinggian itu jangankan membereskan dan memungut sampah-sampah, untuk bernafas pun itu sulit. Tapi itu semua KONSEKUENSI, Kawan!

Kamu berani menapakkan kaki ke atas sana mestinya kamu siap dengan mental, fisik, jiwa, hati dan pikiran yang sehat! Jangan beralibi kelelahan dan kondisi fisik melemahkan akal sehatmu dan mengurangi kepedulianmu pada kelestarian tempat yang kamu jadikan pemenuhan egomu. Bagai tak berterima kasih ketika dengan SADAR; ya dengan SADAR; kamu meninggalkan sampah-sampah itu di gunung.

Hhhh…tak guna pula jika aku hanya cuap-cuap tapi tak mau berbagi dan bertindak.Okay, aku memiliki beberapa tips yang sekiranya bisa membantu kita semua untuk lebih ringkas akan persoalan persampahan di gunung ini…

1. Selalu sediakan kantong plastik/trashbag khusus untuk sampah. Kemas sampah serapi mungkin.

2. Disiplin untuk membuang sampah pada tempat yang kita siapkan, selama perjalanan sampah-sampah permen biasanya diabaikan dengan dibuang seketika di jalan, KANTONGI dan buang ketika sampai di camp di tempat yang kita siapkan.

3. Kurangi membawa makanan kemasan yang menimbulkan sampah yang tidak dapat diurai oleh tanah. Contohnya makanan kaleng dan dalam kemasan plastik bisa kita wadahi dalam nesting, cup multifungsi yang bisa dibawa pulang, atau bungkus sekalian dengan daun pisang dan packing rapi dalam 1 kantung plastik jika perlu, cukup SATU atau SEPERLUNYA saja!

4. SADAR bahwa badge/merek/quote keren yang menempel pada baju-baju yang kita pakai ketika diperjalanan dan berpose bak iklan berjalan dari produk pendukung lingkungan dan khusus outdoor, memiliki tanggungjawab MORAL yang besar. Pencinta Alam bukan cuma soal mencapai puncak tertinggi dan pamer pose di puncak gunung.

5. BAWA PULANG SAMPAHmu!

***

Tidakkah lebih cantik begini??

after

#hhh…akumulasi memuncak akan kekecewaan pada ketidakpedulian kita pada lingkungan, bahkan cuma soal sampah!

4 comments on “Sampah Gunung #AdakahKitaPeduli?

  1. Made Norgay
    January 26, 2013

    Kegiatan seorang pecinta alam tidak terpisahkan dari lingkungan karena sebagian besar atau bahkan seluruh kegiatan pecinta alam berkaitan dengan lingkungan baik itu lingkungan hutan, gunung, gua, sungai, tebing dan lain-lain. Kegiatan tersebut merupakan wujud kedekatan seseorang dengan alam yang dicintainya.

    Kegiatan kepecintaalaman tersebut pada masa sekarang ini merupakan suatu kegiatan yang cukup populer sehingga banyak orang yang ikut serta dan turut menggemarinya. Akan tetapi sekedar gemar saja tidak cukup. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kejadian semakin rusaknya alam akibat dari kegiatan yang mengatasnamakan kecintaannya terhadap alam dan juga terjadinya peristiwa-peristiwa kecelakaan pada saat kegiatan tersebut dilaksanakan, seperti misalnya pendakian gunung, penelusuran gua, arung jeram, panjat tebing dan lain-lain.

    Kecelakaan ini bukanlah disebabkan alam yang kejam dan tidak terkuasai, tetapi lebih banyak tergantung pada para pecinta alam itu sendiri.

    Demikianlah, kecintaalam tidak hanya menuntut minat dan semangat, namun juga yang terpenting adalah pengetahuan tentang alam dan lingkungannya, keter yang berupa perjalanan alam bebas atau ekspedisi tersebut, seorang pecinta alam harus membekali diri. Bekal tersebut berupa :

    1. Mental. Seorang pecinta alam harus tabah menghadapi berbagai kesulitan di alam terbuka tidak mudah putus asa, dan berani. Berani dalam arti sanggup menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan kemudian mengatasinya dengan cara bijaksana dan benar mengakui keterbatasan kemampuan yang dimilikinya.

    2. Teknik hidup alam bebas. Meliputi tali temali, PPPK, Metoda komunikasi, perkemahan dan bivak, Navigasi Darat, Survival, Mountaineering, Penelusuran Gua, Penelusuran Sungai dan SAR.

    3. Fisik yang memadai. Karena kegiatan kepecintaalaman termasuk olahraga yang cukup berat dan seringkali tergantung kepada kemampuan fisik, maka setiap pecinta alam harus memiliki kemampuan fisik yang cukup kuat untuk menghadapi dan melaksanakan setiap kegiatan tersebut.

    4. Etika. Seorang pecinta alam adalah bagian dari masyarakat yang memiliki kaidah-kaidah dan hukum-hukum yang berlaku. Dalam setiap tindakan, seorang pecinta alam diharapkan menghargai kaidah, hukum dan norma masyarakat itu. Demikian sehingga terdapat kode etik pecinta alam yang akan memberikan pedoman sikap pecinta alam.

    5. Kesadaran konservasi. Dengan memiliki bekal ini, seorang pecinta alam seharusnya sadar bahwa alam bukan hanya untuk dimanfaatkan demi kepentingan pribadi. Tetapi lebih dari itu, dia dituntut untuk mengutamakan perlindungan dan pelestariannya.

    Etika Berkelana di Rimba Raya

    Lokasi rimba raya yang menjadi sasaran kegiatan berkelana biasanya jauh dari tempat pemukiman. Rimba raya di Indonesia terwujud dalam berbagai bentuk ekosistem. Diantaranya adalah ekosistem hutan pegunungan, hutan berbukit-bukit, hutan dataran rendah, hutan savana, hutan pantai dan hutan tanah gambut. Sebaiknya kita tidak melakanakan perjalanan tanpa tujuan yang jelas dan persiapan perencanaan yang memadai. Agar rencana perjalanan berjalan dengan lancar, selamat dan sukses, terlebih dahulu harus diketahui hal-hal yang boleh dilakukan, hal-hal yang tidak boleh dilakukan, kemungkinan yang akan dihadapi, tindakan pada waktu tersesat, perlengkapan yang harus dibawa dan lain-lain.

    Pengelana yang bertanggung jawab tidak akan melakukan :

    · Menyalakan api secara tidak dikendalikan yang dapat menyebabkan kebakaran hutan

    · Merusak tanda-tanda di lapangan, baik tanda-tanda lalu lintas, tanda larangan dan penjelasan tentang obyek-obyek

    · Tidak merusak sarana dan prasarana wisata yang ada

    · Tidak mengganggu unsur-unsur habitat dan satwa khas yang ada

    · Tidak melakukan keisengan-keisengan yang dapat menyusahkan/mencelakakan orang lain (memasang petasan, jebakan dan lain-lain)

    · Tidak membuat corat-coret pada pohon-pohon dan batu-batuan

    · Menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang kurang terpuji (menurut norma agama dan adat istiadat)

    · Tidak membuang sampah sembarangan, sedapat mungkin dibawa pulang

    · Tidak melakukan perburuan satwa, apalagi yang dilindungi

    · Tidak merusak tumbuhan dan batuan dengan coretan cat atau menorehnya dengan pisau

    · Kurangi sedapat mungkin penebangan/pemotongan pohon dan belukar

    · Pada keadaan darurat (tersesat, kecelakaan, perbekalan habis, dan lain-lain) jangan panik. Lakukan prosedur-prosedur yang diperlukan dan cari pertolongan secepatnya

    Etika dalam Mendaki Gunung

    Ketika anda memutuskan untuk melakukan perjalanan menuju sebuah gunung, tentu anda seharusnya mempersiapkan segala sesuatunya secara matang, baik personil, logistik, perlengkapan maupun pengetahuan medan.

    Ketika anda merencanakan untuk menaiki sebuah gunung yang cukup sulit, tentu anda juga akan menyiapkan tim yang ideal dan solid menurut anda, dan anda tahu betul kemampuannya. Perbekalan dan peralatan yang cukup juga situasi medan dan route yang akan anda lalui, kemudian anda siap untuk melakukan perjalanan.

    Bahaya tentu saja akan selalu ada baik itu dari anda dan tim anda yang menyangkut kesiapan perlengkapan dan peralatan tim maupun pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki tim dalam melakukan perjalanan. Bahaya dari luar akan selalu ada, tergantung kesiapan tim dan kesolidan tim dalam menghadapinya.

    Mental akan sangat berpengaruh dalam perjalanan anda. Sejauh mana kemampuan leader dalam memimpin tim dan respect tim terhadap leader dengan segala keputusannya. Bagaimana sesama anggota tim saling mendukung dan membantu satu sama lain.

    Demi keselamatan pengunjung dan kelestarian alam, pendaki hendaknya mematuhi kewajiban sebagai berikut :

    1. Sebelum melakukan pendakian, calon pendaki diwajibkan melapor ke pos jaga terkahir, untuk dilihat apakah persyaratan pendakian telah dipenuhi atau belum

    2. Pendaki juga diwajibkan melapor ke perangkat desa (terakhir) di rute perjalanan

    3. Setelah pendakian, pendaki diwajibkan lapor ke pemberi ijin, untuk memastikan ada tidaknya pendaki yang telambat turun

    4. Pendaki diwajibkan memperhatikan kebiasaan dan adat istiadat setempat (pakaian, hal-hal yang ditabukan dan lain-lain)

    5. Bila terjadi musibah agar segera ke pos kehutanan dan atau aparat pemerintah setempat

    6. Yakinkan bahwa bekas api unggun telah benar-benar padam sebelum ditinggalkan

    7. Pendaki agar mempunyai asuransi kecelakaan diri

    8. Larangan

    Untuk berhasilnya suatu pendakian, agar diperhatikan larangan-larangan sebagai berikut:

    · Dilarang keras membawa obor sebagai alat penerangan (pada pendakian malam hari), agar tercegah kebakaran. Sebagai gantinya dapat digunakan senter

    · Dilarang membuang benda yang mengandung api (misalnya puntung rokok) selama pendakian

    · Dilarang mempergunakan kayu untuk keperluan apapun (api unggun, masak, tongkat)

    · Dilarang mengambil tumbuhan dan binatang, telur atau sarang apapun, terutama bila gunung yang didaki termasuk kawasan konservasi (cagar alam, taman nasional)

    · Dilarang membuat kegaduhan (berbicara keras, membunyikan alat musik) yang dapat mengganggu kehidupan satwa dan pendaki lain

    · Dilarang membuang sampah apapun (kertas, plastik, kaleng). Benda-benda tersebut harus diangkut kembali ke bawah

    · Dilarang mencemari lingkungan, termasuk mencoret-coret batu, kulit/akar/daun pohon

    · Dilarang melakukan tindakan apapun yang dapat mengganggu keaslian alam.

    • inten_arsriani
      February 24, 2013

      terima kasih untuk sharring-nya, bli🙂

    • mima
      May 24, 2016

      Komen mas ini harus diterbitkan sebagai satu artikel yg lain untuk memudahkan perkongsian. Sangat bagus deh tipsnya.

      • inten_arsriani
        May 26, 2016

        Trima kasih sudah ngebaca (kalo mau menyebar tipsnya ke temen lain)….
        Iya, blognya blom sempat dirapiin lagi, sudah ada rencana bikin “rumah khusus” utk bbrp artikel, tapi begitulah…

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 5, 2013 by in Analogi Gunung, Analogi Plesiran, NTB, Rinjani, Warna-Warni Analogi and tagged , , .
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

January 2013
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Analogi Kliks

  • 33,121 Analogiers
%d bloggers like this: