an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

It’s About “5 cm” Effects

Sepertinya euforia “5 cm” ini memang melampaui harapan dari para penggarapnya. Film yang bercerita tentang perjalanan sekelompok sahabat ke atap pulau Jawa, puncak Mahameru di gunung Semeru, Jawa Timur.

5 cm

Menuai kesuksesan, melahirkan banyak pendaki anyar di negeri ini dan beramai-ramai kembali menggiatkan perjalanan ke gunung sebagai suatu hal yang “must do before you die” di negeri ini di kalangan para pemudanya yang sempat meleng teralihkan oleh maniak gadget.

Aku akui itu. Berdampak positif karena pemuda kita akan kembali ditempa oleh alam, membentuk kepribadian pejuang yang gigih, rendah hati, bersyukur dan bertanggungjawab. Dan, untuk diingat,  bersiaplah pada kenyataan bahwa mendaki gunung jauh berbeda dengan sekedar menapak kaki di alam terbuka dan menikmatinya seperti yang terekam dalam tampilan portrait dan lanscape mata kamera kita.

Seorang teman kuliahku yang notabene sekarang adalah seorang ibu muda dengan buah hati berumur 2 tahun, yang semasa kuliah dulu tak mungkin aku bayangkan dia akan memiliki pikiran untuk menginjakkan kaki ke alam, apalagi sekelas alam Mahameru, rupanya menjadi salah satu “korban” dari kepiawaian para kru “5 cm” dalam menstimulasi pikirannya melaui penayangan filmnya. Niscaya dan dapat dipastikan, ada sekian banyak orang yang telah terjangkiti virus “5 cm” untuk menjajal kekuatan cinta dan persahabatan mereka dengan menapakkan kaki ke gunung-gunung tertinggi, dan pastinya ke Mahameru.

#sementara kita belum sembuh dari luka akan tragedi pendakian massal Semeru beberapa waktu lalu, kasihan kau Semeru__SaveSemeru#

Ok, abaikan bagaimana dia beberapa hari lalu setelah menonton suguhan keindahan Mahameru dalam tampilan selebar layar di XX* tanpa harus susah payah untuk melampaui 7 km menuju Ranu Kumbolo. Tak akan ada orang yang menolak untuk melontarkan komentar film ini KEREN. Seperti halnya ketika aku mengetikkan unek-unek ini penyiar radio pun sedang membahas keinginannya menonton “5 cm” yang masih mengular antreannya sejak release seminggu lalu.

Bagi aku pribadi, ketika “5 cm” masih berupa buku, merupakan bacaan yang cukup menarik hatiku bahkan aku memasukkannya dalam jajaran buku-buku must have di rak bukuku. Pun ketika buku ini akan difilmkan sangat membuatku antusias untuk menunggu tanggal tayangnya.

Pesan di balik kisah dalam buku ini, yang mengajak kita untuk selalu optimis mengisi hari-hari dengan mimpi dan cita-cita, cinta dan persahabatan gelora masa muda serta bagaimana meletakkannya tepat “5 cm” di depan jidat kita, biar kemana-mana selalu bisa kita lihat dan ingat untuk kita wujudkan. Menyuguhkan keindahan alam hingga susah payah berjuang ke atas gunung yang tak tanggung-tanggung gunung tertiggi di pulau Jawa, banyak menyelipkan pesan-pesan moral yang apik, sesungguhnya.

Sayangnya, begitu banyak polemik di balik pembuatan film ini yang menggelitik bahkan meledakkan argumen serta kritikan yang tak tanggung-tanggung atas dampak yang disebabkan pada keberlangsungan alam di seputar lokasi syuting, yang merupakan sebuah taman nasional. Kerusakan yang disebabkan, dampak lingkungan yang berawal dari limbah pembuatan film ini, hingga kekhawatiran munculnya para EO dan pendaki dadakan yang ingin mengunjungi lokasi syuting “5 cm” dan merasakan sendiri sensasi seperti yang ditayangkan dalam frame-frame berdurasi kurang dari 2 jam ini. #ah padahal sampai saat ini aku sendiri belum menontonnya

Aku akan berbagi sudut pandang sebagai seseorang yang pernah mengunjungi Ranu Pane yang tenang, Ranu Kumbolo yang tersohor, melewati Tanjakan Cinta yang legendaris, merasakan debunya Arcapada hingga dentum dari kawah Jonggring Saloka ketika kaki ini sampai juga untuk bersujud di ketinggian 3.676 mdpl.

Pamer?

Bukan, bukan itu maksudku.

Perjalananku bersifat pribadi meskipun aku pergi dalam kelompok dan aku bagi pada khalayak kisahnya. Ada keterikatan khusus pada gunung-gunung itu yang aku buat setiap kali aku akan menuju puncaknya.

Iya, mendaki gunung bukan sekedar mengejar foto sunrise di puncak tertinggi, bukan hanya sekedar bahan cerita eksklusif pada orang lain, dan bukan pula uji nyali untuk menaklukkan alam.

Mendaki gunung, adalah olahraga ekstrim yang memerlukan banyak persiapan. Meskipun beberapa ada yang mengatakan “asal ada uang, kamu bisa sampai puncak gunung tertinggi di dunia sekalipun”. Ya, bisa jadi demikian. Kita bisa memanfaatkan jasa porter dan organizer yang mempersiapkan perjalanan menuju puncak tertinggi dan itu adalah hal yang lumrah. Tapi, apakah benar sesederhana itu?

Mari kita mulai pendakian ini… #versi saya

1# Menentukan Tujuan & Observasi

Di mulai dengan menentukan target perjalanan,  mencari informasi jalur, kondisi medan, sumber air, pos, keberadaan vegetasi, flora dan fauna. Cuaca, musim, karakteristik khusus gunung yang dituju hingga mitos dan kepercayaan masyarakat sekitar gunung. Mengapa ini penting? Ibaratnya bertandang ke rumah seseorang yang baru akan kita kenal, perlu kiranya kita mencari tahu siapa dia? Namanya siapa? Seperti apa sosoknya? Rumahnya di mana? Agar tak salah menafsirkan dan tersesat jalan.

2# Persiapan Fisik & Logistik

Jangan bilang mendaki gunung sekedar berjalan dalam jangka waktu tertentu dan refreshing. Mendaki gunung (meski dengan porter) tetap menjadi tanggung jawab kita untuk mempersiapkan fisik untuk beradaptasi dengan medan yang menanjak, pijakan di hutan dan bebatuan yang tak selalu bersahabat, kondisi oksigen di ketinggian yang tipis. Untuk itu mengapa minimal beberapa minggu sebelum melakukan pendakian sebaiknya rutin berolahraga, tak terkecuali bagi Anda yang sudah terbiasa mendaki, olah fisik idealnya tetap harus dilakukan. Demikian juga persiapan logistik. Gunung di Indonesia tak seperti beberapa gunung di negeri tetangga kita yang memiliki ketinggian di atas 3.000 mdpl namun menyediakan akomodasi hampir di sepanjang perjalanan. Penting mengenal jenis logistik yang tepat dimasukkan dalam ransel, cara memasaknya, perhitungan persediaan yang matang, hingga urutan makanan apa yang akan dimakan lebih dulu. Dan bersiaplah untuk mengangkut logistik terutama air  yang biasanya merupakan beban terberat dalam ransel, tapi kunci hidup kita.

3# Perlengakapan/Peralatan/Pakaian

Keren mungkin tetap memiliki foto cantik dan modis ketika berada di puncak gunung. Tapi coba alami sendiri dan buka-buka panduan beraktifitas di alam bebas, dalam hal ini gunung, untuk memilih perlengkapan dan pakaian yang nyaman. Peralatan yang kita bawa lebih untuk menjaga kenyamanan dan keselamatan kita di  alam bebas. Bukan sekedar pamer dan untuk bergaya, bahkan bukan juga sebuah syarat yang mengada-ada bagi sebagian orang yang menganggap pendakian gunung dengan memperhatikan persiapan-persiapan seperti ini hanya membuang waktu dan tak penting. Lebih baik beraktifitas sesuai SOP yang telah disepakati, demi keselamatan jiwa dan raga, sehingga menikmati keindahan suguhan alam di pelosok hutan dan gunung tinggi itu pun tak terganggu oleh ketidaknyamanan yang disebabkan oleh kurangnya persiapan kita. Setidaknya, lengkapilah diri dengan perlengkapan dan peralatan standar keselamatan dan kenyamanan masing-masing, dan berusaha untuk tidak merepotkan orang lain jika kondisi darurat datang sewaktu-waktu.

4# Teman Seperjalanan

Mengapa ini juga penting? Saya bukan menolak seorang pejalan solo, bahkan saya salut pada mereka yang berani dan menggemari perjalanan solo. Artinya mereka pastinya (asumsi saya pribadi) sudah khatam akan pengetahuan dan informasi perjalanan di alam serta mempersiapkan diri dengan mitigasi resiko sebaik mungkin. Teman seperjalanan penting untuk saling menjaga, menentukan arah, memberi pertimbangan dan menghibur ketika kelelahan menyerang. Menemukan yang tepat dengan ritme langkah kaki kita, kesenangan yang sama ketika dalam perjalanan tak ada yang bosan dan mengeluh ketika agak berlama-lama hanya untuk mengamati vegetasi sekitar, dan tentunya dia adalah orang yang kita percaya sebagai penyelamat kita bila terjadi keadaan darurat. Dan ini berlaku sebaliknya pada diri kita.

5# Ijin

Baik itu ijin pada pengelola taman nasional, cari tahu ketentuan pendakian yang terkadang diterapkan dengan terorganisir oleh taman nasional seperti halnya di TNGGP, yang pastinya sebagai pendukung kelestarian alam yang menjadi objek perjalanan kita, memperhatikan daya dukung lingkungan untuk keberlangsungan yang panjang, hingga proses pemulihan dampak lingkungan yang tentu sudah diperhitungkan oleh mereka yang berwawasan tentang itu. So, bukan soal sekedar regulasi mengapa mendaki pun ada aturan mainnya. Ingat, di alam bukan kita yang “berkuasa”, tetap hormati sekitar. Jangan lupa titip pesan pada kerabat tentang perjalanan kita, biar kalo ada apa-apa cepet ada yang tanggap.

Intinya kegiatan apapun yang kita lakukan baiknya dipersiapkan sematang mungkin untuk keselamatan dan kenyamanan kita dan tim, sehingga tidak menyusahkan orang lain hanya karena tingkah konyol kita yang tak memiliki kesiapan ketika sudah memutuskan untuk mencoba bergabung menjadi seorang pejalan atau pendaki di gunung.

Mendaki gunung bagiku adalah sebuah ritual perjalanan jiwa. Ritual ini sudah dimulai jauh ketika terbersit dalam pikiran niatan tujuan yang muncul untuk ditelusuri lebih jauh. Mengumpulkan informasi tentang gunung, menentukan hari perjalanan, packing, adalah hal yang hampir menyamai semangat jatuh cinta bagiku. Semangat yang dimunculkan ketika mempersiapkan perjalanan itu mampu membuat jauh-jauh hari menuju keberangkatan menjadi hari-hari yang tak sabar untuk dilewati dan selalu dipenuhi semangat dan optimisme.

Hingga tiba waktunya perjalanan dimulai. Dibuka dengan jalanan landai hingga keahlian scrambling (mamanjat, dll) dituntut untuk dilalui dengan ransel seberat hingga 15 kg yang menempel di punggung. Menentukan titik-titik perhentian agar target lokasi sesuai harapan dan itu artinya berimbas pada ketepatan perhitungan waktu perjalanan dan juga logistik serta cuaca yang dapat setiap waktu berubah.

Menjadi bijak ketika menjadi pejalan di alam bebas, terlebih di taman nasional hingga di hutan-hutan perawan adalah WAJIB!

Bijak memilih tujuan, bijak menentukan waktu kunjung, mengenal jalur dan medan dengan baik, ramah pada sekitar apakah itu sesama manusia ataupun alam. Menikmati apa yang memang sewajarnya boleh kita nikmati, tidak mengada-ada yang melanggar hak-hak alam, bijak menempatkan diri bahwa kita adalah bagian dari alam dan bertanggung jawab serta berkewajiban menjaga alam. Klasik, jangan lakukan vandalisme, jangan buang sampah sembarangan dan meninggalkan sampah di gunung bahkan untuk sampah yang bisa terdegradasi oleh alam seperti “sampah pribadi” ada aturannya untuk membuangnya. Serta selalu diingat untuk tidak membawa sesuatu yang tidak semestinya berpindah dari gunung tersebut hanya untuk menunjukkan eksistensi kunjungan kita.

Mendaki gunung bukan sekedar euforia keberhasilan mencapai puncak tertinggi dan mengganti foto profil di media sosial kita dengan harapan menuai banyak komentar.  Bukan sekedar pindah tidur di bawah langit bertabur ribuan bintang. Bukan juga sekedar rasa ketika melintasi padang Edelweiss dengan segenap perasaan penuh cinta abadi namun melupakan etika yang alam tentukan. BUKAN!

TNBTSMendaki gunung lebih pada niatan diri dan keterhubungan jiwa dalam diri dengan jiwa yang lebih besar. Mendaki gunung adalah untuk mengenal negeri kita dengan lebih dekat, bersama masyarakatnya dan alam sekitarnya, guru terbaik membentuk kepribadian yang kuat dan bercermin pada alam, bukan demikian kata Gie?!

Mendaki gunung adalah pilihan sadar yang penuh tanggung jawab, pada diri sendiri, pada lingkungan, pada semesta, dan pada sang Maha Cipta…

Selamat menjadi pendaki yang seutuhnya…bertanggung jawab!

#enak ya…publikasi cuma-cuma, efek media sosial pun akan membuat fenomena “5 cm”  ini makin tinggi ratingnya dan makin populer, hahaa…semoga bermanfaat…hanya tak ingin keberadaan puncak-puncak gunung itu hanya sebatas sebagai pemenuhan ego seorang anak manusia untuk menunjukkan eksistensinya…

11 comments on “It’s About “5 cm” Effects

  1. MCendana
    December 19, 2012

    nice🙂

  2. agung bayu
    December 20, 2012

    tulisan yang bagus..

  3. akuntomo
    December 21, 2012

    ah saya belum nonton filmnya…

  4. Santri Dan Alam
    December 25, 2012

    smakin terkenal suatu gunung/tempat, maka dampak kerusakannya smakin besar

    • inten_arsriani
      December 26, 2012

      dilema tempat yang cantik, promosi atau biarkan tetap tak terjamah🙂
      #jadilahturisbijak

  5. agous
    March 15, 2013

    Nyasar lagi kesini, keren tulisannya Dayu.
    Jadi semakin penasaran sama novel, film dan perjalanan ke puncak mahameru.

    • inten_arsriani
      March 17, 2013

      hahaa…monggo dibaca, ditonton trus angkut kerirnya ke Mahameru, oom Agous😀

      • Agous
        March 23, 2013

        Jiah, dia manggil aku OM
        Awas ya klo sampe entar ketemu lagi di Indo, tak suruh cium tangan Om lho ya, lanjut guide ke Gn. Agung sekalian porter🙂

      • inten_arsriani
        March 30, 2013

        hahaa…aahhh masi jauh ini si Omm Ostrali :p

        Gn Agung, siyaaapppp…dengan pertanyaan, wani piro, Oom…😀
        #ajak Chika nanti yaaa…

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 19, 2012 by in Analogi Gunung, Analogi Plesiran, Jawa, Merbabu.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

December 2012
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Analogi Kliks

  • 33,121 Analogiers
%d bloggers like this: