an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Selamat Ulang Tahun, Gie…

~17 Desember 2012~

Iya, Selamat Ulang Tahun, Gie… Ini jadi kalimat cinta pertama yang aku ucapkan hari ini… (setelah ucapan selamat pagi pada kekasihku, hahaa…maafkan aku Gie)😀

Soe Hok-Gie, nama yang awalnya sangat asing bagiku ketika sahabat-sahabatku yang jadi para idealis di kampusnya mengenalkan nama ini. Lebih karena Gie adalah seorang pencinta alam dan pendaki gunung aktif pada masanya. Dengan sepak terjangnya di era revolusi pada jaman orde baru, membuat kawan-kawanku pun mencekoki aku untuk mengenal lebih jauh sosok Gie. #dan terima kasih untuk itu Yza dan Mas Pri😉

Melalui sebuah buku, sudah barang tentu buku “Catatan Seorang Demonstran” #ketika itu bergambar sampul Nicholas Saputra, hhhh# yang akhirnya juga menjadi  buku pilihanku untuk aku sumbangankan ke perpustakaan kampus ketika aku diwisuda,

gie

dengan harapan jiwa muda dan nasionalis Gie dapat merasuk ke jiwa-jiwa muda penghuni kampusku. Sementara bukuku sendiri belum kembali lagi ke tanganku hingga detik ini. Semoga masih ada di salah satu rak di sekre mapala kampusku.

Sejujurnya, saat itu pun aku tak begitu ingat dengan rinci sejarah yang ditorehkan Gie di negeri ini, ketertarikanku lebih karena alasan pertama di awal, Gie adalah pendaki gunung. Sementara kisah sepak terjangnya di dunia revolusi Indonesia mungkin sebatas yang aku baca di dalam buku dan beberapa sempat aku telusuri lewat mesin pencari.

Dan ketika gaung seorang Gie dikenalkan oleh sineas Mira Lesmana dan Riri Riza, apalagi waktu itu bintangnya adalah Nicholas Saputra #lagi# aku pun semakin akut ingin mengenal Gie, hahaa… Sampai seseorang berkata padaku, “jangan-jangan kamu ngebayangin sosok Gie itu adalah Nico”, ckckck…wakakaka… Pasrah, aku adalah salah satu korban Nicholas Saputra…tak mengapa, aku tetap bangga, lewat Nico aku mengenal Gie #alibi😀

Okay, aku bukan seseorang yang berbakat mengulas buku, jadi aku tak akan mengulas buku-buku yang memuat tentang Gie, cukup buku-buku itu aku nikmati dan terpajang apik di rak bukuku dalam kategori “buku dewa” :p

Gie, ketika diceritakan mengunjungi Mandalawangi, bercengkerama dengan Edelweiss di lembah kasih itu, membagi cintanya dengan kabut-kabut dan embun di dedaunan hijau, selalu berhasil menyeretku kembali pada ingatan-ingatan ketika aku begitu suka menyendiri saat di gunung. Apalagi dengan “cara yang dipilihnya” untuk kembali ke haribaan, berada di pelukan gunung teristimewa, dan abunya disatukan dengan gunung di padang Edelweiss, pernah menjadi inspirasiku.

Tappiiiii…segera aku cabut beberapa tahun kemudian, ketika beberapa gunung aku lewati setelah pernah berada di dekat memoriam Gie dan Idhan Lubis di Puncak Mahameru, ketika di gunung-gunung yang lain itu bisa aku rasakan Gie sempat menderita ketika dijemput sang malaikat di ketinggian itu, tepat sehari menjelang ulang tahunnya. #ah…Gie, kamu memang orang istimewa, hingga semesta pun menjemputmu di tempat impianmu, dan aku bangga bisa mengenalmu lebih dari kesenanganmu dekat dengan alam, bukan hanya dari sosok nasionalismu.

So, seandainya Gie masih hidup hingga hari ini, seperti apa ya Indonesia? Mungkin Gie sudah menjadi sesepuh dan penasehat Jokowi, hehee…ato mungkin selalu menjadi bintang istimewa di acara petualangan mengalahkan pesona Riyanni Djangkaru dan Medina Kamil, hahaa…

in memoriam gie

Gie, beristirahatlah dengan tenang…di ketinggian itu, di antara dedaunan dan bebungaan Edelweiss, di padang hijau berkabut tipis, bersaput embun di dedaunan yang menanti mentari menghangatkan pertiwi, di bawah langit biru.

Dan aku sepakat, mendaki gunung adalah untuk mendekatkan diri dan mengenal negeri ini dengan lebih baik, mencintai negeri, masyarakatnya dan alam semesta ini. Untuk menjadikan diri pribadi yang berpendirian dan bertanggungjawab pada setiap buah pikiran dan perbuatan, seperti yang Gie dan kawan-kawan telah lakukan untuk mengisi masa mudanya. Untuk selalu bersyukur, memiliki pilihan untuk mencintai Dia sang Maha Cinta dari gunung-gunung tinggi dan hijau elok alamnya yang kaya…

Sekali lagi, Selamat Ulang Tahun, ke 70 tahun, Gie…semangat dan buah pikiran dan hatimu akan selalu muda dan hidup sampai kapan pun di negeri ini, semasih anak muda Indonesia mau sejenak menyepi ke gunung-gunung itu

Yang mencintai udara jernih
Yang mencintai terbang burung-burung
Yang mencintai keleluasaan & kebebasan
Yang mencintai bumi
Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung

#24 Desember 1969_Sanento Yuliman_mengantar kepergian Gie#

 

2 comments on “Selamat Ulang Tahun, Gie…

  1. MCendana
    December 23, 2012

    aku pernah berkata pada mereka – ibu dan temanku,
    setelah dikremasi, abuku ditebarkan di gunung saja #korban_Gie

    • inten_arsriani
      December 26, 2012

      hahaa…demikianlah…mungkin inti di balik itu semua adalah ketertarikan pada yang namanya alam *gunung*😀

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 17, 2012 by in Analogi Sosok, Warna-Warni Analogi and tagged , , .
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

December 2012
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Analogi Kliks

  • 33,170 Analogiers
%d bloggers like this: