an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Sarongge, aku tenggelam di dalam kabut pagimu…

Sarongge

 

//rangkuman ide dan idealisme untuk berbagi mimpi yang sederhana untuk mencintai sesama manusia dan semestanya… aku tenggelam bersama Karen dan Husin dalam kabut pagi Sarongge

 

 

 

 

*******

Setiap kata, rangkaian kalimat, situasi yang diciptakan, begitu nyata dan mendalam sehingga aku bisa merasa ikut serta dalam setiap jejak yang dibentuk oleh Tosca dalam karyanya ini. Ini adalah kali pertama aku mengenal seorang penulis Tosca Santoso, dan membaca buku ini pun karena mendapat referensi dari mas Pri dan setiap hari ketika dia sedang tenggelam dalam Sarongge, menyempatkan membaginya dengan saya dan tergodalah saya membelinya.

Dan, bisa dipastikan tak perlu waktu lama Sarongge bagai mesin waktu dan pintu ajaib seketika membawa saya lebur bersama kabut pagi Sarongge bersama Karen, Husin, Gede Pangrango dan reroncean Bubukuan dan Puspa yang sedang mekar. Puisi-puisi Karen dan Husin ketika berbagi rindu pada alam, pada dia yang dihati dan sejiwa. Dalamnya sajak yang lahir dalam kebersamaan.

Hal-hal baru bermunculan di setiap aku membalik halamannya. Seperti pekarangan dan kebun yang setiap hari bisa berganti musim dan memberi panen beraneka ragam. Tosca menggabungkan fiksi dengan apiknya pada segala pengalaman hidupnya bergaul dengan desa kaki pegunungan Gede Pangrango. Dengan cantik dan indah Tosca membagi apa yang matanya lihat setiap waktu dari sudut-sudut Sarongge; oiya…Sarongge di sini adalah nama sebuah desa yang berada di perbatasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Semua begitu menarik dan indah serta membuat aku tak sabar membaca terus untuk bisa berada dalam kacamata Tosca sedari mentari terbit di Sarongge ditemani kabut dinginnya di saung Husin, hingga malam-malam berbintang pun bersaput hujan mengantar tidur.

Sarongge, memberi informasi ilmiah pada setiap memasuki bab baru yang akan mengantarkan kita pada kisah Karen dan Husin berikutnya. Jarang aku temui fiksi yang menyajikan informasi langka tentang vegetasi dan kehidupan penghuni Taman Nasional dan sekitarnya.Yang selama ini mungkin sering aku temui dalam perjalananku di alam, namun sayangnya karena minim informasi baru kali ini aku tahu keberadaannya dan diulas secara ilmiah.

Sarongge juga menghadirkan sebuah kenyataan biru dan kelam mengenai keserakahan dan kesemena-menaan atas anugerah di bumi Indonesia. Menyuguhkan ketamakan dalam memperebutkan jengkal demi jengkal bumi pertiwi oleh tangan-tangan dan kuku-kuku hitam tak bertanggungjawab. Menyadarkan bahwa banyak di antara kita merasuk dalam setiap lipitan ketiak daun-daun di hutan tropis Indonesia para penjarah kekayaan alam dengan penutup mata yang tak segan menguras habis isi perut bumi demi pemenuhan perut serakahnya.

Bagaimana kegigihan orang-orang yang masih peduli dan berdedikasi sepenuh jiwa dan raga, mengorbankan kebahagiaan, kebersamaan, waktu-waktu berkualitas dengan orang terkasih demi membela dan mengembalikan hak-hak itu pada orang-orang yang seharusnya dan untuk pewaris hidup selanjutnya, anak cucu kita. Mengikuti para Ksatria Pelangi yang dalam dunia nyata pun mereka ada dan terus mengarungi lautan menuju pulau-pulau di tapal batas nusantara untuk berjuang bersama masyarakat terpencil yang selalu dijajah oleh kepentingan kapitalis dan dianggap tak memiliki hak serta kemampuan atas kekayaan alam di atas tanah mereka. Padahal moyang mereka telah jauh ada dan berharmoni dengan lingkungan sebelum mesin-mesin pengeruk itu datang mengklaim kepemilikan atas hak masyarakat itu.

Ah, begitu banyak kesenjangan yang dilukiskan Tosca di negeri ini yang mengorbankan jengkal-jengkal kecantikan dari hutan, laut, gunung, pedesaan bahkan manusia penghuninya.

Karen dan Husin adalah satu yang mungkin tak ada, begitu ideal dan menjadi inspirasi. Dua yang menyatu, beda yang melengkapi, terpisah namun lekat.

Tak aku pungkiri, aku begitu mudah larut dalam kisah mereka karena Sarongge membawaku bisa begitu dekat dengan gunung, pegunungan, desa kaki gunung, masyarakat sekitar pegunungan, TNGGP. Ya, gunung.

Gunung adalah jiwa. Gunung adalah kearifan. Gunung adalah Chandradimuka. Gunung adalah tempat curhat. Gunung adalah tempat mengembalikan kemurnian jiwa dan raga. Gunung adalah Cinta. Gunung adalah ketika aku bisa dekat dengan-Nya dan kamu…

Ah, aku turut jatuh cinta pada Sarongge dan makin kangen untuk kembali bercumbu dengan alam dengan segala warna-warninya…

Bubukuan; Sakura Sarongge; Strobilanthes cernua Blume, menutup buku ini yang dengan terpaksa aku tuliskan di sini, begitu menyayat. Hikayatnya yang unik serupa Bubukuan, Sakura Sarongge yang merupakan tumbuhan monokarpik yang artinya sepanjang hidupnya hanya berbunga sekali, dan setelah itu mati.

Demikianlah Karen digambarkan menutup kisah. Bubukuan yang merupakan bunga unik vegetasi di kaki Gede Pangrango dan sekitarnya yang memiliki keunikan dan kecantikan membuat kaki Gede Pangrango ketika masa mekarnya yang terjadi hanya setiap 9 tahun sekali,  pernah mendapat julukan oleh seorang peneliti bernama Van Steenis “seperti berbalut busana pengantin” ketika Bubukuan mekar di Sarongge dan sekitar TNGGP.

Dan aku mulai merasa Karen, Husin dan Sarongge hidup…dan nyata…

#Sarongge yang ini adalah desa yang ada di Jawa Barat di areal TNGGP Ciputri, Pacet, Green Radio dan program adopsi pohon hingga @CafeSarongge itu nyata😀

3 comments on “Sarongge, aku tenggelam di dalam kabut pagimu…

  1. MCendana
    December 23, 2012

    jadi tertarik hendak membacanya🙂

    • inten_arsriani
      December 26, 2012

      bacalah May, aku jamin kamu nda bisa tidur nyenyak sebelum menyelesaikannya😀

      • MCendana
        December 27, 2012

        pantas saja sewaktu ke toko buku beberapa waktu lalu terlihat ga asing dg Sarongge hahaha ternyata memang karena pernah baca tulisan kk ini.

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 14, 2012 by in Warna-Warni Analogi and tagged , , .
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

December 2012
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Analogi Kliks

  • 33,121 Analogiers
%d bloggers like this: