an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Excitement is All About_Gunung Kidul

Pelajaran yang muncul dari liburan kali ini adalah jangan memilih tempat berlibur pada saat hari besar dirayakan oleh mayoritas masyarakat tempat tujuan kita berlibur.

Pagi itu di tengah kelengangan suasana awal libur panjang aku memacu kendaraan menuju airport untuk meninggalkan pulau Bali. Sejam kemudian mesin jet itu mendarat di Adi Sucipto dan tak menunggu lama aku langsung menuju halte Trans Jogja yang memang aku rencanakan sebagai moda mengantarku ke mana saja kali ini. Maklum, Trans Jogja adalah moda yang paling pas dengan budget, rutenya yang ke mana saja dan bagi aku yang kali ini ber-solo traveler (meskipun kata orang solo traveler is never alone, hehehee…mari kita buktikan), Trans Jogja pilihan paling masuk akal untuk menghabiskan hari ini sambil mikir mau ke mana esok hari.

Dan…bersama dua orang cowok bule yang juga baru sama-sama sampai di sini terbelalak dengan pengumuman yang tertempel di loket halte Trans Jogja; yang ada di sudut parkir bandara yang sangat mudah kita temui karena berada di depan pintu keluar terminal menuju parkir; “Sehubungan dengan Hari Raya, Trans Jogja melayani kembali pukul 13.00”. Glodaaakk…masih 2,5 jam lagi.

Pikir pikir pikir! Enakna ngapain ya yang nda perlu biaya, hehee…maklum semua temen pada berhari raya dan tempat keramaian pun belom pada buka, alhasil…buku bacaan yang selalu ada di ransel tandas dibaca. Sambil mengamati lalu lalang orang-orang yang bersiap liburan masih dengan suasana busana hari raya, semakin siang semakin ramai dengan koper-koper besar. Ternyata masih banyak yang memilih mudik (mungkin) atau pergi berlibur tepat pada hari raya sehingga harga tiket pun tak terlalu bikin parno. Angin semilir dan Jogja yang cerah siang itu membuat mulutku menguap tertahan, di tempat tunggu di bawah pohon rindang memang pas untuk memejamkan mata siang-siang begini, hehee…

Akhirnya 15 menit berlalu dari jam yang dijanjikan oleh halte Trans Jogja, aku menuju halte yang ternyata sudah penuh oleh penumpang, dan sudah terlihat beberapa bus Trans lalu lalang. Hmm…harga tiketnya masih Rp. 3.000 untuk semua rute, dan jangan khawatir untuk yang baru pertama kali datang ke Jogja, moda Trans adalah salah satu alternatif transportasi yang ramah dan nyaman. Tanyakan saja pada petugas halte, maka akan dengan senang hati kita diinformasikan secara lengkap mengenai tujuan rute kita.

Hari pertama kota ini masih lengang dan hingga malam pun aku coba untuk menelusuri jalanan menuju pusat kota untuk sekedar mencari ide akan pergi ke mana aku esok hari. Malam itu alun-alun lor keraton ternyata cukup ramai oleh deretan pedagang dan pengunjung yang aku kira masih memilih menikmati hari raya di rumah saja. Celingukan sambil mengendara motor di tengah alun-alun, gerobak yang aku cari syukurnya ada malam ini, Wedang Ronde, hahaa…maklum…berangin dan memang tiba-tiba terlintas pengen menikmati Ronde sejak siang tadi.

Cerita punya cerita, bertukar obrolan dengan ibu penjual Ronde yang mengaku sangat mengantuk saat itu, menanyakan aku dalam bahasa Jawa dan sejauh ini obrolan masih lancar. Sampai pada akhirnya ketika semangkuk ronde telah menghangatkan badanku, menikmati sejenak riuhnya kembang api di sudut alun-alun tanpa ada yang mengganggu, aku berniat untuk membayar dan dengan pedenya aku bertanya “pinten, bu”, dijawab oleh si ibu “sekawan, mbak”. Glodakkk….”umm… eng… sekawan itu berapa ya bu?”, wakakaka…lantas saja dalam hati aku mentertawakan diriku sendiri, tak sempat menganalogikan arti “sekawan” itu sebagai angka 4 yang berarti “empat ribu, mbak”, jawab si ibu sambil tersenyum. Kali dalam hati dia mikir, ini anak muda jaman sekarang sudah lupa sama bahasa ibu, hehee…mahap bu, saya orang Jogjah wannabe.

Selamat pagi….

Membulatkan tekad akan menghabiskan seharian ini untuk eksplorasi kabupaten Gunung Kidul yang berada di barat daya Jogjakarta. Berbekal uraian peta wisata daerah gunung Kidul yang sekedarnya saja dari hasil online kemarin, serta dua nama tempat yang paling ingin aku kunjungi kali ini yaitu Goa Pindul dan gunung Api Purba Nglanggeran. Mari kita berangkat.

Sebuah sms mengingatkan aku untuk mengisi penuh tangki bensin motor matic ini sebelum memasuki daerah Gunung Kidul yang katanya jarang pom bensin, maka konsentrasiku penuh menyusuri jalan menuju tenggara keluar kota Jogja. Urusan pom bensin sudah beres, siap berkendara kembali. Mengandalkan petunjuk arah menuju Wonosari, aku menikmati pagi ini di antara kendaraan yang masih bersuasana hari raya. Cukup lengang untuk hari ini. Tiba-tiba, aku merasa ada yang janggal, plang penunjuk arah sudah tidak menunjukkan Wonosari, alih-alih Purworejo dan aku sekilas melirik tulisan selamat datang di Parangtritis, haaaaa… Bablas deh…

Banyak bertanya akhirnya mengembalikan aku ke jalur kebenaran sekitar 30 kilometer berbalik arah. Menanjak mengikuti arus lalu lintas yang rupanya mulai padat. Memasuki kawasan Bukit Bintang udara menjadi sedikit sejuk di bawah terik, dan kawasan hutan jati yang mengantar memasuki kawasan kabupaten Gunung Kidul membiusku. Membuat aku memutuskan nanti pas balik ke Jogja aku bakal kemping bentar dipinggir jalanan ini dan memilih satu kawasan yang paling menarik menurutku di bawah pohon jati pinggir jalan. Khayalannya sih bisa istirahat sambil ngemil gitu melihat kendaraan lalu lalang di kawasan hutan jati ini.

Sampai juga di area parkir goa Pindul yang sejak memasuki kawasan Gunung Kidul telah ramai petunjuk arahnya disertai iklan “Goa Pindul, Gratis Ojek”, hmm….sayang aku lupa untuk menyempatkan menggali informasi ini apakah beneran gratis atau tidak, hehee… Sempat beberapa kali salah membaca penunjuk arah yang sepertinya dipasang seadanya oleh masyarakat yang notabene adalah para tukang ojek tadi. Beberapa kali memang salah ambil jalur namun masih cukup jelas bagi seorang nubie untuk mencapai kawasan Goa Pindul ini.

Tak disangka, loket Goa Pindul tiba-tiba membludak setelah aku mengganti pakaian yang tepat untuk mengikuti susur goa dengan ban, istilah kerennya tubbing Goa Pindul. Rupanya masyarakat sangat tertarik mencoba sensasi tubbing di sini yang baru ditemukan sekitar tahun 2010 lalu oleh mahasiswa Geologi UGM dalam suatu studi lapangan mereka. Selain bisa menikmati susur goa dengan ban, kita juga bisa menikmati wisata arung jeram, body rafting dan susur goa-goa lainnya yang rupanya keberadaannya cukup banyak di kawasan ini yang siap untuk diolah potensi pariwisata dan ekonominya.

Melihat situasi seperti itu, aku hanya memenuhi keinginanku untuk menyusuri goa Pindul; rafting dan lainnya tak begitu menarik minatku di sini, lagian highlight perjalananku hari ini adalah sampai di Nglanggeran.

Hmm…hari beranjak siang dan…kesan menyusuri goa Pindul…begitulah, hahaa…disamping karena kondisi ramai wisatawan, susur goa yang hanya berjarak 350 meter ini sangat singkat sehingga harga tiket Rp. 30.000,- cukup masuk akal bagi pendapatan warga sekitar yang berprofesi sebagai guide tur dalam tubbing Goa Pindul ini. Hari itu mereka panen besar.

Siang sangat terik. Setelah mengisi perut yang keroncongan dengan ngemper di warung areal parkir, aku mencoba menyusuri kawasan Pindul sekaligus untuk mengambil beberapa gambar yang pada saat susur goa tadi kamera aku simpan; maklum nda waterproof dan kata guide nanti bakal basah, padahal….

Mengamati mulut goa yang mulai sesak pengunjung sejenak, beralih memasuki kawasan rumah-rumah penduduk yang rupanya masih tradisional, bangunan khas Jawa bergaya Joglo dengan beberapa masih dengan dinding kayu dan bambu. Bertemu anak-anak kampung yang malu-malu sesekali meneriaki aku dengan bahasa inggris “what is your name?”.

Hahaa…memang semua dikira turis oleh mereka, apalagi mungkin dengan keberadaanku yang seorang diri. Mereka mengikuti aku hingga aku keluar jalanan kampung dan sampai di kawasan wisata lainnya, ada Sendang 7 yang merupakan kawasan mata air di gunung Kidul ini, Goa Putri dan lainnya. Memperoleh informasi sekilas dari penjaga parkir di sana, aku memutuskan kembali ke Pindul karena tak begitu menarik bagiku apalagi dengan terik yang menyengat. Hoaaahhh….

Tertarik dengan informasi pada brosur yang menyajikan terdapat monumen gerilya Jenderal Sudirman sejalur dengan gerbang Goa pindul, maka aku melipir ke kiri jalur menaiki tangga yang mengantarkan kita kurang lebih 10 menit kemudian di sebuah bangunan monument berbentuk limas. Neduh sebentar dan meneguk air mineral menghalau panas yang ampun dah di sini, syukurnya rindang pepohonan masih banyak di sekitar sini.

Puas menjelajahi Pindul dan sekitarnya, hari juga mulai beranjak siang, aku putuskan menuju Nglanggeran yang berjarak kurang lebih 40 menit dari Pindul ke arah Jogja. Berdasarkan perhitungan sisa waktu yang aku  punya hari ini, maka aku sempat mampir di beberapa tempat lainnya untuk sekali jalan melihat desa-desa wisata yang dimiliki kabupaten ini.

Pun kali ini menuju Nglanggeran, aku mesti bablas di beberapa belokan jalan, haha…tapi entah mengapa menyenangkan sekali hari ini bisa mengendara sambil bernyanyi-nyanyi dan masih banyak waktu untuk dihabiskan dalam liburan kali ini. Memasuki jalan berbatu dan perkampungan yang memasang penunjuk arah menuju Gunung Api Purba Nglanggeran, serta dari kejauhan tampilan bebatuan Nglanggeran telah menarik hati untuk segera tiba.

Sepi. Loket hanya aku temui dijaga beberapa orang dan parkir pun tak seberapa banyak, mungkin masih hari raya, pikirku. Ah segera aku membayar retribusi dan ditanyakan apakah ada kawan lain yang bersamaku. Aku lanjutkan dengan melihat-lihat di sekitar gerbang masuk kawasan yang menyajikan peta rute dan situs yang terdapat di Nglanggeran ini. Okay…sepertinya cukup menarik, akhirnya aku sampai juga di Nglanggeran.

Menanjaki tanah berundak dari dekat gerbang kita sudah bisa menemukan beberapa situs seperti Goa Song Gudel; entah karena apa dinamakan demikian, Gude a.k.a anak sapi; hingga celah sempit yang menjadi salah satu atraksi favorit dan unik di sini semenjak adanya film petualangan 127 Hours. Memang sepertinya batu tersebut tersangkut di celah sempit itu ketika meluncur dari lereng atasnya merupakan kejadian yang tak disengaja, dan sangat persis dengan setting di film 127 Hours. Maka menjadi sebuah sensasi ketika menyusuri celah sempit yang cukup panjang ini dengan batu besar menggantung di atas kita.

Tak sampai satu jam aku sudah sampai di areal bukit pandang dengan latar Zebra Wall-nya. Matahari mulai teduh dan cukup lama aku melamun menikmati ketinggian yang nggak tinggi-tinggi amat ini dengan hembusan angin yang cukup kencang sore itu.

Lumayan hampir setengah jam aku memuaskan diri menguasai area itu tanpa seorang pun yang datang.

Sampai terbersit niatan ketika melihat waktu masih cukup banyak untuk trekking sedikit lagi ke puncaknya yang kayaknya sih nda jauh. Plus dikompori oleh referensi sms yang mengatakan kayakna puncak nda begitu jauh dari Zebra Wall.

Siap! Meluncur…mendaki dengan sandal jepit ijo toscaku ini dan sepatu trakking anteng terpacking di daypack, ah…setelah turun baru aku sadari kedung-dunganku ini.

Hosh…! Kok tak kunjung habis ya tikungan dan belokan di balik dinding bebatuan ini. Sepanjang perjalanan tak aku temukan seorang pun sejak di Zebra Wall dan di pondok pandang beberapa meter di atas Zebra Wall tadi. Celingak celinguk sendiri, mengatur nafas, memperhatikan sekitar. Ada beberapa tempat mendirikan tenda yang sepertinya benar kata temanku bahwa gunung ini biasanya ramai pada akhir pekan. Sayang kali ini tak aku temui jangankan satu tenda pun dengan rombongannya, seorang pun belum aku temui juga. Hingga seorang bapak menuruni setapak menggendong anaknya aku temui dan aku tanyakan “ada orang di puncak pak?”, dengan harapan dia menjawab ada orang dan puncak tak jauh lagi, wekekekee…lumayan ngos-ngosan juga dengan gaya jalan yang ngepot gini.

Aku berharap ini belokan terakhir, semangat! Akhirnya aku sampai di titik tertinggi di gunung api purba ini. Terlihat ada 5 orang lelaki sepertinya sedang menikmati suasana. Sedikit membuatku was-was karena cuma aku satu-satunya perempuan di sini serta sepertinya gelagat mereka sedikit tidak menyenangkan.

Menjauh dari mereka, aku sempatkan mengedarkan padangan 360 derajat memandangi bebatuan unik yang benar-benar menunjukkan kawasan ini memiliki kelompok kawasan yang berusia jauh lebih tua dibandingkan kawasan perbukitan disekitarnya; sok beranalisa. Bebatuan tua yang ditumbuhi beberapa tanaman perdu dan pepohonan menciptakan sensasi seperti berada di alam Jurassic.

Tak pikir panjang, menenggak air minum sebelum aku pamitan basa basi pada rombongan itu dengan langkah seribu langsung menuruni kawasan puncak dan hampir selam 10 menit non stop berlari. Hahaha…begini rasanya di hutan sendirian jauh dari mana-mana ada perasaan lebih takut bertemu manusia; notabene laki-laki, dibandingkan dengan penampakan lainnya. Bukan ingin berpikiran buruk tapi dari gelagat dan perasaan kadang kami perempuan bisa merasakan sesuatu yang janggal. Padahal sebelumnya aku juga pernah sendirian mendaki bukit di kawasan Bukit Kasih ketika di Manado dulu. Tips, perjalanan sendirian berikutnya wajib bawa alat pengamanan, spray merica kayakna cukup, heheee…

Fiuh…berhenti sejenak dan sama-sama terkejut ketika tepat di sebelahku ada dua orang remaja duduk berdampingan di bawah pohon memandangku dengan pandangan kaget campur heran, hahaa… Sepertinya aku mengganggu suasana mereka kali yak, udah gedebak gedebuk lari trus berhenti tak toleh kanan kiri dulu tepat di depan mereka.

Sore pun menyambut ketika aku menuruni jalanan desa di Nglanggeran ini. Bergegas balik ke Jogja karena mendadak kencan nanti malam, hahahaa… Terlewati juga satu hari ini dengan petualangan a la Solo Traveler yang membuatku senyum-senyum dan bernyanyi sepanjang perjalanan dengan motor matic ini. Esok, akan aku isi dengan pengalaman lainnya yang pasti lebih bercerita.

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 26, 2012 by in Analogi Gunung, Analogi Plesiran, Jawa.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

September 2012
M T W T F S S
« Aug   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Analogi Kliks

  • 33,156 Analogiers
%d bloggers like this: