an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

apakah engkau merasanya?

rebah aku di sini,

di segala rasa yang kita cipta…entah ini semu ataukah nyata, aku pastikan diriku dapat kau sentuh…aku ada…tak akan biarkan sayap-sayap tumbuh pada punggung indahmu, karena di sini…bumi adalah tempat kita merenda jalan pelangi…

kau dan aku, warna-warni, pelangi…

retas sudah semua asa di dada, melesak dalam pelukmu, jangan lepas…aku damai, aku ke seberang, kulepas baju zirah dan bertelanjang kaki menuju kamu…melepas kulit ksatriya yang mengekang…menuju damaimu…

seluruh dan semesta telah ada di genggammu, aku bahagia mengejanya bersamamu…menyatukan sulur-sulur rindu yang tersembunyi malu-malu penuhi dada membuncah tak bersuara…meski tak jua aku temui peta dan nada dalam diammu yang mengalun indah kudengar dalam sunyimu…aku tenang…memejam, bernafas senada detak dan desir nadimu…ijinkan ini lekat…

aku dan kamu tahu, kita ada…berbulir bulir bilur mengalir menetas tak lagi merah mendarah, tak ada perih, tapi bening sejernih embun yang engkau retas pagi itu…di ujung daun rindu yang selalu menumbuh dalam pucuk-pucuk rinduku…semakin lebat dan menghijau rumpunnya…menumbuhkan putik putik menghias pagi pun pada senja yang hangat…

murni…tulus…aku percaya…putih dan bukan abu abu…aku pejamkan mata dan biarkan detakmu menuntun aku…dalam semerbak dupa dan wewangian bebungaan di malam berbulan sabit, aku katakan pada Tuhanku, “dia pemilik semestaku, ijinkan aku mengiringi langkahnya mengalun menjejak menulis kehidupan”…

ah, aku bukan pujangga, mungkin tulisanku terdengar aneh dan berlebihan, tapi inilah rasa…malam hangat karena sapamu, dekap eratmu menyulur membelit membalut diri tak berharap lepas meski aku tersengal sesak nafas karena bahagia, tak ada ragu…

aku mencintai kamu…pemilik semestaku, yang kulantunkan dalam setiap untai doa, meminta Sang Maha Cinta mengirimkanmu seluruh cinta terbaik di muka bumi ini, agar hari dan waktumu terus menetaskan senyum, tawa, kecadasan yang hanya kamu yang miliki…

aku merindukanmu selalu sama seperti yang dulu, sebanyak juta butir pasir-pasir debu di Segara Wedhi, sebanyak helai Edelweiss di Taman Merbabu, selembut kabut tipis menyusup menjejali setiap sudut Lawu…menyesak dalam dada…hanya kamu jawabnya…

aku masih menyimpan asa itu…hanya untuk kamu dan tak akan ada lagi pilihan…aku tak akan memilih…aku rindu…sangat…hanya untukmu…karena itu hanya kamu…

Ijinkan aku menemani kamu menulis perjalanan…

 

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 27, 2012 by in Analogi Kau & Aku.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

August 2012
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Analogi Kliks

  • 33,121 Analogiers
%d bloggers like this: