an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Suatu Masa Di Taman Edelweiss Gn. Merbabu

“I know I don’t fit in that much

But I’m yours”

Pengen aja mengawali tulisan ini dengan sepenggal kalimat itu, yes cause my soul belongs to mountain. 

Aku masih menyimpan kecintaan pada aktifitas alam bebas terutamanya trekking di gunung. Kali ini akhirnya menjejak gunung di Jawa Tengah, yeeeyyyy… ^^

Sekian lama menanti masa cuti yang memungkinkan jadwal yang pas dengan partner duo saya; lagi…bersama mas Priyo Akuntomo; tanpa rencana pasti mau ke mana awalnya, hingga last minute akhirnya pilih yang mudah dan jalurnya cukup menarik saja kata dia, pilihan itu jatuh kepada Gn Merbabu, Boyolali dengan ketinggian 3.142 mdpl.

Perjalanan dimulai dengan enggannya beranjak menuju kaki gunung yang sepertinya pasti sepi pendaki berhubung bulan puasa di minggu pertama, hahaa…benar saja, desa terakhir di gerbang pendakian yang sepertinya biasa ramai pendaki di setiap basecamp nampak lengang. Hanya satu dua orang warga nampak berkebun dan satu-satunya yang ada penjaga basecamp-nya; yang lagi nyuci di depan rumah; adalah basecamp Pak Parman.

Dari gerbang pendakian Merbabu via Selo ini, mentari beranjak ke balik punggungan bukit-bukit Merbabu menjelang sore. Melewati kawasan hutan tropis selama kurang lebih 1 jam dengan singgah di Pos I Dok Malang yang akan diikuti oleh pilihan jalur Lama atau Baru; silakan pilih jalur kiri menanjak jalur Lama atau arah kanan ke jalur Baru yang katanya lebih manusiawi ini. Vegetasi tanaman tropis dan burung serta lutung banyak beredar sekitar jalur ini.

Pos II Pandean akan kita temui dalam 1 jam berikutnya dengan singgah di plang Pos Bayangan yang berada di kawasan yang sudah mulai terbuka, dengan keterangan Puncak Kentheng Songo 3,9 km; beda jauh sama kata GPS. Pos II merupakan kawasan batas hutan menuju padang terbuka yang akan menyambut dengan tanjakan di tengah padang edelweiss dan berry gunung, hahaa…beruntungnya kami ketika kali ini begitu banyak jenis berry yang sedang ranum.

Pos III Watu Tulis menyuguhkan pemandangan yang amat cantik. Mentari senja memburatkan warna keemasan pada dinding Merapi yang ada tepat di depan pos Watu Tulis. Betah rasanya di sini menghabiskan sore yang hangat; sejatinya angin dingin mulai berhembus namun warna jingga sore mengalahkan rasa menghadirkan vibrasi yang berbeda. Hangat…

Menemukan Edelweiss yang sangat banyak dan mekar dengan cantiknya, berwarna putih bersih dengan kekuningan putiknya, masih segar, benar bahwa Juli adalah puncak waktu mekarnya Edelweiss hingga aku bisa memeluk satu buket Edelweiss besar yang penuh dengan putik-putik yang bermekaran. Hhhh…aku cinta sabana di ketinggian ini kalo begini… (pas teduh dan angin tenang tanpa kabut, hehehee…)

Bukit terjal menanti di depan, menuju pos IV Sabana I yang berada di balik bukit taman Edelweiss ini. Sedikit berdebu dan licin karena jenis tanah vulkanik  di musim kering di sela-sela ilalang gunung. Berhati-hati memilih jalur karena banyak sekali percabangan yang meski akan tetap berujung pada satu titik yang sama, tetap fokus dan sesuaikan kondisi fisik dengan pijakan yang sekiranya pas dengan kita.

Memasuki Sabana I hari mulai gelap, headlamp disiapkan dan dingin mulai menggigit membuat kami merapatkan jaket dan mulai berjalan lebih cepat, selain untuk menghangatkan badan, juga untuk mengejar waktu untuk sampai di camp site yang masih beberapa menit di atas Pos V Sabana II. Di kejauhan nampak kerlip beberapa senter, rupanya ada rombongan pendaki dari Jakarta beranggotakan 5 orang yang menuju basecamp setelah melakukan summit attack hari itu.

Sekedar menyapa, kami melanjutkan perjalanan sedikit lagi di gelapnya malam untuk akhirnya tiba di camp site yang nyaman terhindar dari terjangan angin karena terlindung tumbuhan Edelweiss setinggi 3-5 meter, bermalam di antara bebungaan abadi.

Untungnya mungkin malam tadi memang tak seberapa dingin, berhasil menggeber sbwk; sleeping bag warna kuning baru; ku meski dengan beberapa kali terjaga di tengah malam karena badan minta digerakkan serta suara deru angin yang melintas. Pagi yang masih sedikit berangin, tetap memaksaku membuka pintu tenda dan wow…Merapi di balik ranting dan dahan Edelweiss mengintip berbalur hangatnya mentari pagi ini. Cerah😀

Menyiapkan sarapan pagi dan semua rencana masak-memasak yang semalam telah dirampungkan sebagian, pagi ini urusan dapur adalah tugasku, sementara guide-ku antara sibuk membaca koran dan bolak balik masuk sleeping bag lagi, hahaa…pagi yang malas. Sampai akhirnya serombongan pendaki yang kami temui kemarin di Pos II tiba menyapa; plus nanyain persediaan air; gubraakkk…

Bener-bener pendaki santai, dibilang nda perhitungan ya iya, ndaki sampai 2 malam tapi nda mikirin logistik, dibilang sembrono ya wong katanya niatannya emang bakal lama di gunung jadi leyeh-leyeh slow santai, nda ambil pusing dengan kemungkinan survival dengan seadanya bekal yang penting puas ngendon di gunung. Hhhh…akhirnya timbang-timbang, menghitung persediaan kami, 1 botol air 600 ml menemani kami mengikuti mereka menuju puncak yang niatnya akan kami serahkan ke mereka setibanya di puncak kalau kami tak kehauasan, hehehee…

#akhirnya, kami berdua cuma menghabiskannya 1/4 botol setiba di puncak 45 menit kemudian, sementara mereka tertinggal di belakang bersama 2 orang pendaki lain yang boyongan kerir ke puncak pagi itu; airpun berpindah tangan di puncak Kentheng Songo#

Puncak Trianggulasi, hanya kami berdua, tak jauh di arah barat (sepertinya aku disorientasi 180•) menunggu puncak utama Kentheng Songo; sementara di puncak ini hanya ada tersisa 4 lesung; yoni; kentheng. Mungkin beberapa telah berpindah lokasi, entah.

Rombongan lain berdatangan dari jalur berbeda tepat ketika kami telah puas berfoto-foto, hehee…kalo rame mah kami tipe yang nda suka show up; a.k.a malu aja kalo pecicilan, jadi memilih sok cool, hahahaa…bersosialisasi dan aku lebih banyak menjadi pengamat.

Nun di kejauhan, 360 derajat Jawa Tengah memamerkan seluruh koleksi gunungnya, Sumbing, Sindoro, Merapi, Lawu, Ungaran dan Dieng serta gunung Selamet yang kadang bisa dilihat dari sudut tertentu dari Puncak Kentheng Songo ini, hhh…tak membayangkan sebelumnya ternyata bisa memandang semua puncak-puncak itu dari sini, kumplit.

Puas hampir 1 jam lebih di puncak Kentheng Songo sambil menimbang menuju puncak Syarif atau tidak, yang akhirnya diputuskan tidak, jiaaahhh….nda papa katanya cukup lihat saja dari sini, kami berdua pamit dan menuju camp site diiringin sengatan mentari yang semakin terik.

Dan…siapa bilang jalur Selo tak cantik, tak menantang, ketika menuruni puncak beberapa kejutannya adalah terjalnya jalur yang sempit dan licin oleh debu. Siap-siap engsel dengkul dan paha yang bekerja keras menahan lajunya lari kaki.

Si Stormy menanti dengan nyala di antara hijau rumpun-rumpun Edelweiss berlatar Merapi di kejauhan… Whata perfect campsite…

Kemalasan masih saja menjangkiti ketika tiba di camp, sambil packing kami khatamkan niatan mengeksekusi salad yang kami persiapkan dengan highlight berry gunung yang kami petik kemarin sebagai garnish-nya, hahaa…sedap juga, seger…melon, jelly, berry berteman Edelweiss dan yogurth dingin, yummy…dahaga terpuaskan sekaligus isi amunisi untuk turun.

Sempat berpose di atas Edelweiss-Edelweiss yang bisa dipanjati; sekali lagi…baru sekali ini nemu yang gini; bercakap-cakap lagi dengan rombongan pos II yang juga turun dan kami membagi apel yang kami bawa untuk mereka #sebenernya untuk ngurangi beban siiihhh, heheheee…#

Jam 11 tepat.

Melintasi sabana-sabana yang menghadirkan awan-awan sempurna siang itu, cuaca, angin, langit semua bersahabat.

Kami melaju untuk menuju basecamp yang breaknya rencana tinggal rencana hingga di Pos Bayangan yang kami tempuh dalam 1,5 jam baru menghentikan langkah menghabiskan stok perbekalan karena perut juga berontak. Baju sudah agak kering, lutut sudah normal, tancap gas dan tiba di gerbang pendakian dengan penjelasan tentang ragam spesies burung-burung hutan gunung dari pemandu-ku, beruntung banyak sekali jenis burung-burung seperti Anis Gunung warna merah menyala,Sepah, menebak Elang alih-alih itu cuma Alap-alap, hahaaa…semua hadir siang itu sepanjang perjalanan kami😀

Nda cuma sekedar naek, banyak banget yang bisa diamati selama perjalanan. Katanya “jangan kau tanyakan sudah berapa gunung yang pernah seseorang daki, tapi seberapa banyak pelajaran yang dia peroleh dari sekian pendakiannya itu”. Okehlaahhh, Suhu…saya manut😀

Anyway, meski akhirnya cuti panjangku cuma terisi satu kali pendakian, cukup merefresh isi kepala dan mencuci paru-paru serta mengobati rindunya jiwa pada gunung. Jalur Selo mungkin akan menjadi salah satu jalur favoritku di antara gunung-gunung yang pernah aku daki. Bagaimana tidak, trek yang cukup bersahabat, hutan yang tak membuatku “panik”, sabana yang cantik, pemandangan silih berganti beragam dan kaya akan vegetasi serta spesies hewan yang bisa diamati.

Terlebih dengan hadirnya Edelweiss yang memenuhi taman Merbabu pada pendakianku kali ini… Kupersembahkan untukMu perjalananku kali ini…

//And I only share that smile with you

//Yes I only share that smile with you ~M&D’E~

pic*

11 comments on “Suatu Masa Di Taman Edelweiss Gn. Merbabu

  1. athiex82
    August 4, 2012

    suka,suka,sukaaaa…. menulis dengan hati ya selalu mbak yg satu ini…great story, amazing pictures, beautiful places…

    • inten_arsriani
      August 4, 2012

      makasi mbakku…efek tempatnya yang bener-bener merasuk ^^

  2. akuntomo
    August 5, 2012

    Reblogged this on akunto[MO]untain and commented:
    Kembali menjejakkan kaki di merbabu via jalur selo, namun dengan suasana musim semi yang kental

  3. dayat
    October 3, 2012

    jalur favorit, jalur luar biasa di bulan september, gunung indah, gunung favorit, salam rindu untuk merbabu🙂

    • inten_arsriani
      October 3, 2012

      yup…mulai menyusun kalo sempat wiken di Jogja lg pengen kemping cukup mampir Pos III ato kalo mau camp d rumpun Edelweiss di atas Sabana II, cantiknya sore pas matahari cerah, memandang Merapi😀

  4. sukma
    May 5, 2013

    ada rencana naek puncak merbabu lagi g?kami ikut..

    • inten_arsriani
      May 27, 2013

      hai mba’ (mas?) sukmapermanaansika…

      hmm berhubung saya tinggal di luar pulau Jawa, so…Merbabu tidak pasti bisa saya kunjungi lagi dalam waktu depat…

      kalau mau ke Merbabu via Selo, sangat banyak pendaki yang melakukan pendakian, so jangan khawatir akan banyak teman seperjalanan…yang penting persiapan yang matang agar perjalanan lancar, aman dan nyaman🙂

      selamat mendaki Merbabu🙂

  5. leniaini
    September 27, 2013

    aih, catper pendakian yang ditulis dengan manis. sukaaa ^.^

  6. near fanna
    June 5, 2014

    Sabanaaaaa merbabu…miss youuuuuu

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 4, 2012 by in Analogi Gunung, Jawa, Merbabu and tagged , , .
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

August 2012
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Analogi Kliks

  • 33,170 Analogiers
%d bloggers like this: