an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Lelaki(ku), dengar aku bicara…

Aku bukanlah penulis sajak, puisi atau semacamnya yang bisa menggambarkan rasa hati ini dengan indah dan pantas untuk dinikmati banyak orang seperti layaknya tujuan utama tulisan tercetus. Terkadang aku hanya ingin menulis jujur apa adanya yang aku rasakan tanpa takut dicap bodoh, tak cerdas, bahkan kekanakan ketika aku benar-benar ingin jujur akan apa yang ada dalam pikiran; hatiku.

Ah, kebersamaan kita akhir-akhir ini meski tidak dalam arti yang sesungguhnya, hanya lewat teks dan hanya sekedar tukar pikiran biasa, tak ada rasa, tak ada hati; seharusnya; seperti keinginanmu ketika itu.

Ingin aku jujur mengabarkan hatimu, kehadiranmu yang terkadang muncul tiba-tiba, bahkan hanya sekedar untuk membahas berita tak penting di tv, masih mampu membuat kupu-kupu menari di perutku dan nafasku tersengal beberapa saat; sebelum dengan susah payah akhirnya aku sadarkan diri bahwa itu akan kau ucap SALAH!

Takut-takut aku menikmati rasa itu, meski aku tahu dan terus yakinkan diri bahwa aku yang salah tetap melibatkan rasa, bahkan ketika dengan jelas ketika itu sudah kamu putuskan telah tak ada lagi KITA. Hanya ada aku dan atau kamu sebagai teman. Ya, hanya teman…

Pernahkan sekali saja terpikirkan dalam benak dan sudut hatimu, adakah yang terjadi adalah hanya kita yang berbeda, tapi bukan hati itu. Atau, coba kau jawab sekali ini saja, sekali lagi saja, yakinkan aku…bahwa hati itu memang telah berbeda. Dan aku akan membakarnya hingga abupun tak tersisa, seperti yang rupanya kamu telah mampu lakukan, Sayangku…

Aku tak akan minta maaf seperti yang lalu aku lakukan beribu kali. Kali ini kita sama dewasa dan sama bebasnya memilih jalan hidup.

Aku sadar, tetap memilihmu bukannya tanpa resiko, demikian memilihku bukan tak ada yang harus kamu korbankan.

Yang ada dalam ketetapan hatiku kali ini adalah bagaimana aku melangkah ke seberang dan mengharap begitu akut tangan itu akan terbuka dan siap memelukku erat dan menggandengku mengelilingi setiap sudut duniamu hingga akhir hayat. Menempuh perjalanan bersama, memulai kembali langkah-langkah kecil yang sempat terhapus jejaknya.

Kau boleh marah padaku atas perasaan hatiku ini. Tumpahkan saja seluruhnya padaku semua kekesalanmu padaku karena aku ternyata tak bisa “normal” dan “baik-baik” saja seperti layaknya kamu.

Aku mencintaimu begitu rupa sehingga setiap nafas, detak jantung, pagi dan malamku selalu ditemani kamu. Bahkan aroma dupa malam ini semakin mendekatkan aku tak hanya pada-Nya, tapi entah ternyata juga padamu.

Selalu dapat aku rasakan hangat pelukan dan tatap matamu yang begitu dalam, hangat, dan aku tahu ada perih tersisa di dalamnya. Hanya bukan aku egois, aku ingin itu semua yang semakin menguatkan kita. Kita akhiri perjalanan ini, dengan langkah baru…kita…berkenankah, Sayang…

Bolehkan aku memanggilmu Sayang…?

Hhhh…tak pernah singkat untuk menggambarkan rasaku atas kamu, seperti selalu aku katakan. Tak seperti kamu yang singkat dan padat namun merangkum semuanya, iya…karena aku bukan kamu, Sayang…

Aku belajar menjadi lebih baik, bukan untuk siapa-siapa, hanya untuk aku, hanya untuk menyiapkan perjalanan berikutnya yang sekiranya bisa menjadi perjalanan tanpamu yang akan lebih membutuhkan ketegaran ekstra, aku siap akan itu…

Jawab aku sekali lagi ini saja… Tak usah kamu terburu-buru, ambil waktumu, kumohon tanyakan dengan sungguh-sungguh hati itu untukku. Aku akan menunggumu bulan baru berikutnya, ketika bulan tipis bersabit berikutnya muncul di langit malam berbintang…

Apapun jawabanmu, ijinkan aku menyimaknya dengan seksama. Toh seandainya kamu tak jua menjawab apapun alasannya, maka ijinkan aku meyimpulkannya bahwa sudah saatnya tanah ini aku bakar tuntas dan ijinkan aku mempersiapkan lahan untuk mulai menanam tanaman baru yang aku yakin diisyaratkan semesta akan tumbuh dengan lebih baik dengan humus dari sisa pembakaran lahanku terdahulu…

Ijinkan aku menuliskan ini sekali saja, karena aku begitu tak mampu melupakanmu, melupakan kita, pahit manis semua menjadi penggalan cerita paling indah dalam hidupku kali ini. Kamu hal terindah, kamu cinta terdalam, kamu semesta hidupku, hingga kapanpun…jika aku boleh gambarkan kamu sebagai Ia yang sempurna dalam segala kekuranganmu dan perbedaan aku dan kamu…

Ijinkan sekali lagi aku berucap, aku sayang kamu, Sayangku…terima kasih atas perjalanan-perjalanan ini…menjadilah tegar seperti kamu mengajarkannya padaku, tetaplah dalam kelembutanmu yang selalu mampu menyentuhku bahkan dalam badai amarahmu sekalipun. Tak pernah aku merasa setulus ini pada sebuah hati, hanya pada hatimu…

Terima kasih Cinta, atas perkenanmu pernah menjadi bagian dari dirimu…

~yours, Pearly~

2 comments on “Lelaki(ku), dengar aku bicara…

  1. athiex82
    August 2, 2013

    aahhh..aku meleleh bacanya *hapus air mata*

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 22, 2012 by in Analogi Kau & Aku.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

July 2012
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Analogi Kliks

  • 33,170 Analogiers
%d bloggers like this: