an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Ngardi Paras Paros

Ya… jargon, slogan, harapan, pesan…yang ingin disampaikan ajang PKB, Pesta Kesenian Bali ke-XXXIV yang baru menginjak hari ke-tiga hari ini. Paras Paros dapat berartinya dinamika dalam keragaman. Sarat dengan pesan, dan ini adalah nilai leluhur yang semestinya tak pernah luntur jika kita mau sama-sama membuka mata, hati, mata dan telinga lebih lebar dan dalam lagi.

 Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku yang cuma sepantaran langkah dari taman budaya art center selalu menyempatkan diri untuk melongok sejenak sekiranya ada pertunjukan apa malam ini.

Hmm, terlihat antusiasme masyarakat masih sangat besar pada ajang PKB, setiap tahun tak pernah sepi pengunjung mesti di sana-sini ad saja hal yang perlu dikritisi, tapi sudahlah, aku tak akan membahas itu kali ini, aku sedang menikmati melihat masyarakat yang haus hiburan penuh muatan budaya dan kearifan nilai leluhur lebih dari sekedar mengejar kesenangan hedonis yang semakin mengurung manusia. Ah, kita perlu kembali menjadi sederhana, sesederhana makna di balik setiap gerakan tari dan alunan nada berirama dalam karya cipta yang ditampilkan dalam PKB kali ini…

Yang menjadi favoritku masih sama,  pertunjukan tari legong klasik. Aku juga senang menyatroni pertunjukan budaya dari India, Jepang dan beberapa negara tetangga dan daerah terutama Kalimantan dengan Dayak-nya, yang sekiranya masih menampilkan budaya aslinya. Penampilan tari dan lagu dari seniman kontemporer Bali, tari-tari wali, dan pastinya gong kebyar anak-anak juga kerap menjadi tujuanku kala menyempatkan waktu. Meski anak-anak, penampilan mereka selalu memukau, membuat merinding saat menyaksikan mereka membawakan tarian bak penari kawakan dan memang demikian, tak ada bedanya.

Alunan nada yang  mereka mainkan begitu riang, meriah dan ceria sesuai dengan karakteristik anak-anak yang sedang mewarnai kehidupan kanak-kanaknya. Sejak dini berkenalan dengan budaya dan kearifan lokal, tak berarti menjadikan dirimu kurang gaul, anak-anak. Aku malahan lebih menghargai orang tua dan keinginan kalian yang mau menekuni budaya, ya tari, tabuh, melukis, ukir dan banyak sekali budaya yang mengandung beribu bahkan tak terhingga pelajaran untuk bekal kalian membentuk jati diri. Percaya padaku.

Malam ini, di bawah naungan sang Siwa Natha Raja, Sang Penguasa Jagat Raya menarikan tarian membentuk semesta alam. Anak-anak, kalian adalah ciptaan terbaiknya, kembali membawakan persembahan padanya atas segala kecintaannya pada kalian. Terus menari dan berirama, anak-anak. Ciptakan keragaman warna, nada, suara, gerak dan dunia akan semakin berwarna.

Di mana harmoni akan tercipta dalam keragaman yang sejati, membentuk taman semesta yang semakin indah dalam dinamika keragaman, memberikan pelajaran dan kesadaran bagi setiap insan bahwa sejatinya diri adalah terbentuk dari setiap unsur yang berbeda…

Beda, ragam, macam, akan membentuk satu kesatuan yang begitu kuat, unity in diversity, Bhinneka Tunggal Ika, Paras Paros Sarpanaya…

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 12, 2012 by in Analogi Plesiran and tagged , , .
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

June 2012
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Analogi Kliks

  • 33,170 Analogiers
%d bloggers like this: