an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

another weekend : hidup ini penuh berkah

Niatan hati mau berkunjung ke mbok Nyoman Suprapti dan anak-anak di Tampaksiring, pagi-pagi sudah aku niatkan bangun pagi dan siap-siap. Namun, dasar kemampuan navigasiku yang memang aga lemot; hehee…padahal sering banget wara-wiri Denpasar-Kintamani via Tampaksiring cuma ya nebeng temen; akhirnya aku berakhir di Kintamani, fiuuuhhh…

Syukurnya gunung-gunung trio Agung-Abang-Batur menuntunku dengan kecantikannya hingga akhirnya aku yang sudah setengah parno berkendara sendiri; setengah mati menikmati jalanan panjang yang sepi dan menanjak; hingga tiba di penunjuk jalan yang bertuliskan “KINTAMANI”, hahaa…alone traveller sesat…mengandalkan insting instead bertanya pada orang atau GPS :p

Ah, pikirku tak mengapa toh juga hari minggu, jadilah aku menyusuri rute sepanjang jalan raya Kintamani Penelokan dan menikmati sejuknya hawa serta pemandangan Batur yang cerah pagi tadi. Mengambil beberapa gambar sambil orientasi medan, hahaa…masih keukeuh tetap nda mau tanya sama orang.

Terlintas, mampir museum vulkanologi ah. Rupanya jam 9.20 aku tiba, museum masih bertuliskan TUTUP, yaahhh…tak hilang akal kali ini, tepat ketika seorang petugas; sepertinya; keluar dari dalam museum langsung aku sapa dan tanya museum bukanya kapan aja. Hohooo…aku sedang beruntung, aku diperkenankan masuk saat itu juga padahal museum normalnya buka pukul 10.00 untuk hari minggu, atau 09.00 hari biasa kecuali Jumat museum tutup.

Terpampang di depan pintu kaca “masuk museum GRATIS/FREE”, waaahhh…bole juga nih. Setelah mengisi buku tamu, aku berkeliling dalam museum yang nyaman dan bersih ini ditemani pak Wayan sang petugas jaga, sementara beberapa petugas kebersihan yang masih sibuk mengepel dan membersihkan alat peraga *mahap ya pak, tamunya lancang*.

Untuk ukuran museum modern boleh lah suasananya; ehm…mungkin nanti coba bandingkan dengan Museum Merapi ya; koleksi yang dimiliki Museum Vulkanologi Batur terbilang masih sedikit dan pengetahuan penjaganya pun tak seberapa banyak, mereka textbook dan kalo udah ditanya lebih jauh jawabannya “maaf bu, kalo yang itu saya kurang tahu, yang bisa jawab cuma para peneliti yang menyiapkan museum dan pajangannya ini bu”, hadehhh…

Tapi kebersihannya boleh diacungkan jempol…dapet penghargaan fasilitas Toilet terbersih untuk tempat publik looohhh…

But,overall museum yang menyediakan theater untuk menonton video informasi ke-gunungapi-an dengan kapasitas 150 orang ini, pos pengamatan untuk pengunjung dengan 3 binokular yang mampu menjangkau kawasan puncak dan kawah Gunung Batur, cukup me-refresh kesan museum yang selama ini terpatri sebagai tempat yang beraroma apek karena kekunoan koleksinya dan tak terawat serta tak menarik untuk dikunjungi. *setidaknya pandangan secara umum*

Melanjutkan perjalanan masih dengan insting dan mencari-cari papan penunjuk jalan, horeee…tiba juga di rumah Mbok Nyoman di Tampaksiring ^_^

Yaaahhh…sepi, rupanya anak-anak seperti biasa sedang main dan mandi di sungai dekat rumah, ah…dasar, masa kecil anak-anak di kampung memang menyenangkan dan menyehatkan, minggu lalu ketika kunjunganku pertama kali kemari, aku begitu betah menemani mereka mandi di parit di tengah sawah yang menyajikan suasana persawahan khas Bali, hmm…mengintip villa di seberang sana, wakakakaa…Bali oh Bali…

Nyoman Suprapti, seorang single parent yang harus berpisah dengan suaminya karena terpaksa, keterbatasan fisik yang dideritanya sejak semasa lepas SMA membuatnya melepaskan ikatan dengan suaminya yang telah memberinya seorang anak, Cintya 4th. Eits, jangan berpikir mbok Nyoman seorang yang meratapi keadaannya. Dari ceritanya yang mengalir di sela-sela aku bercengkerama dengan anak-anak, aku tahu secara langsung seseorang yang begitu tegar menghadapi keadaan dan tak pernah mengeluh, tak putus asa dan satu yang membuatku makin salut, mbok Nyoman tak mau menyusahkan keluarganya sendiri dengan keadaannya bersama Cintya.

Mbok Nyoman yang kini tinggal di rumah bersama orang tuanya, tetap tak mau sepenuhnya menggantungkan hidupnya bersama Cintya pada keluarga. Yang ada adalah semangat untuk tetap bekerja semampunya; mbok Nyoman mengerjakan rajutan pesanan dari tetangga berupa pakaian mini dress dan lainnya untuk dijual di Ubud; demi melihat Cintya tetap bisa seperti anak-anak lain menikmati masa kecilnya tanpa kekurangan apapun. Sehari, mbok Nyoman hanya menerima 10.000 rupiah dari hasil merajutnya, yang kata dia sebagian besar pasti dia alokasikan sebisanya untuk kebutuhan Cintya.

Dibalik senyum dan cengkerama ramah mbok Nyoman, aku merasakan betapa dia begitu berserah pada Tuhan dan mensyukuri keadaannya saat ini, menerimanya sebagai Karma dan menjalaninya dengan tulus, rupanya itu obat mujarabnya. Ceritanya tentang bagaimana ketika semasa SMA mbok Nyoman ternyata seorang anggota PMR dan bahkan pernah menjadi relawan saat bencana alam tanah longsor di Tegallalang ketika itu. Energik, ceria, penuh semangat…dan sekarang hanya bisa duduk sepanjang waktu di rumah, benar-benar sebuah keteguhan hati.

Mungkin aku terlambat untuk mengetahui hal-hal ini, tapi daripada tidak sama sekali. Mata dan hatiku masih harus dibuka lebar-lebar, masih banyak di balik bukit sana anak-anak yang juga memerlukan sentuhan dari kita yang memperoleh kesempatan lebih maju. Minggu lalu aku juga berkunjung ke desa di timur gunung Batur, Alengkong, menemui di tengah keindahan alam yang menghentikan hela nafas, aku bertemu dengan wajah-wajah lugu anak-anak dan dengan keceriaan yang luar biasa mereka mengisi keseharian. Sebagian ternyata tak bersekolah.

Haaahhh…hampir aku tak percaya Bali masih menyimpan elegi yang hitam, jika saja tak didukung fakta data statistik dan aku menyentuhnya langsung, mungkin aku akan berpikir hal-hal ini hanya ada di tayangan televisi dan itu tak mungkin ada di Bali, dan ini sama sekali jauh dari lebay-nya tayangan televisi.

Pulau surga yang dikunjungi jutaan orang menyimpan kisah balik bukit yang masih tertinggal. Sekian lama aku menikmati euforia mencapai puncak Batur, menjadikannya pelarian ketika galau, ternyata aku belum memiliki sumbangsih balik pada Batur dan sekitarnya atas pemberiannya itu. Sekarang, tiba waktuku, akan aku apakan kesempatan ini?

Hidup ini penuh berkah, bahkan ketika kamu bertanya pada-Nya, “mengapa aku selalu dipertemukan dengan cerita-cerita dan keadaan penderitaan, kekurangan, ketimpangan, dan kesenjangan, Tuhan?”

Jawabnya hanya karena kamu yang menginginkannya, kamu ingin hal itu lenyap dari kehidupan ini, hanya karena kamu ingin semua memiliki kesempatan yang sama untuk bahagia, sejahtera, mengenyam kehidupan yang lebih layak, harmoni.

#mencoba memberi alternatif jawaban untuk teman seperjalanan yang memberi begitu banyak pelajaran_meski aku bukan Tuhan, Kawan…#

Anak-anak, tunggu aku akan datang…kita akan mewarnai hari bersama, bermain lagi di ladang di atas awan, bernyanyi ketika menuju sekolah meski tanpa sepatu dan alas kaki, bercanda tertawa menanti cerita apa yang akan pak  guru sampaikan di kelas nanti meski kalian datang tanpa seragam sekolah.

Satu yang pasti, dunia kalian masih sangat luas, dan semoga kehidupan berpihak pada kalian, Anak-anak Alam, Anak-anak Balik Bukit, Anak-anak Gunung…cukup dengan menjaga warisan alam yang telah diletakkan dalam genggamanmu… Terima kasih banyak untukmu atas semua pelajaran ini, Anak-anak…

4 comments on “another weekend : hidup ini penuh berkah

  1. Gustu Jr
    June 12, 2012

    salutt banget..,,proud of you..,,:)..,lanjutkan gek.,,pengen sekali berbagi spt itu jg..

    • inten_arsriani
      June 12, 2012

      suksma…dan keinginan tinggal diwujudkan, tak ada lagi yang ditunggu, just do it ada banyak cara😀

  2. Endar Bono Suwarso
    June 12, 2012

    mungkin kau boleh geram dan marah akan kesenjangan yang terjadi dinegeri yang katanya syurga dunia ini; tapi usah kau terpaku akan hal itu…sementara kau liat ada sesuatu yang istimewa perlu uluran tanganmu. Teruslah berjuang dengan keyakinanmu saudaraku….Semoga Sang Hyang Widhi Asih selalu memberkatimu…..

    • inten_arsriani
      June 12, 2012

      terima kasih pak endar bono, sekecil apapun…dengan kasih dan ketulusan, berbagi bukan hal yang sulit…🙂

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 29, 2012 by in Analogi Aku Yang Lain, Other Side, Warna-Warni Analogi.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

April 2012
M T W T F S S
« Mar   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Analogi Kliks

  • 33,121 Analogiers
%d bloggers like this: