an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Mbolang sama Nay

Hmm…kalo nda ditulis dulu, biasanya bakal nda publish ceritanya, jadi…foto menyusul untuk digarap, kerjain dulu yang ini…

Malam itu akhirnya kami berdua berada di bus malam dengan nafas yang ngos-ngosan karena jam sudah menunjukkan 9 malam, estimasi jam paling lambat untuk kami berangkat sesuai perjanjian. Masih cekikikan dan saling pandang dengan ekspresi geli karena menyadari akhirnya jadi juga kami pergi setelah berjuta janji jalan bareng yang kandas dengan alasan masuk akal sampai alasan yang dibuat untuk menghindari kekecewaan masing-masing. Hahaa…dua perempuan mbolang yang siap menuntaskan keinginan travelling bersama kali ini, Probolinggo, kami datang!

Kurang lebih 8 jam kami tiba juga di jalan Soetta Probolinggo, meleset sedikit dari tempat janjian dengan teman lain di sana karena kenek dan sopir bus ternyata nda tau di mana halte perhentian yang kami maksud. Akhirnya alternatif kami pilih tempat umum dekat alun-alun kota subuh itu, di sebelah penjual roti yang pagi itu sudah sibuk dengan pesanannya. Akhirnya tak berapa lama, MasPe’ datang disusul mas Papang menjemput kami, dilanjut menjemput mas Slatem di rumahnya. Kenalan baruku.

Mampir ke rumah unik milik masPe’ yang memang membuat lupa diri dan mbetahi (kata tuan rumah), bersih-bersih badan dan persiapan menuju tempat aktivitas pertama selesai, tepat ketika dua orang teman lainnya dari Jember sudah memasuki Probolinggo dan siap bergabung.

Jadilah, hari itu kami berenam plus satu gandengan lagi dari mas Slatem, menuju Pekalen, sungai tempat kami akan menjajal jeram yang sebelumnya sudah dibookingkan oleh mas Papang, dkk. Aku, Nay, Ningrum, Irma, Mas Papang, Mas Slatem dan Tiara mulai mengenal satu sama lain dengan sedikit demi sedikit percakapan ringan (padahal bisa ditebak di akhir acara semua sudah biasa saling cela, wakakakaa…).

Tiba di NOARS rafting, kami dibagi tim dan menuju starting point. Singkat cerita, NOARS rafting memang menyuguhkan suasana yang sangat bersahabat dalam perjalanan rafting kami, dengan jeram yang mencapai tak kurang dari 50 jeram, 7 air terjun cantik sepanjang aliran sungai, menyusuri lembah dalam sungai Pekalen di dusun Ranugedang yang memiliki arus jeram sekitar 3-3+ dan menyenangkan bisa menikmati jeramnya yang sesekali memang membuat kaki siaga menyangga tubuh agar tidak sampai terlontar dari perahu.

Perjalanan hampir 2 jam diselingin dengan sesi foto yang dengan baik dikelola oleh tim Noars, membuat perjalanan memiliki cerita yang bisa diabadikan sepanjang perjalanan. Menikmati STMJ dan gorengan di tengah sesi, mengagumi air terjun dan hijaunya lembah, ditutup dengan tantangan melompat dari tebing setinggi 5 meter membuat tak satupun dari kami kuasa menahan diri mengekspresikan kegembiraan. Whoaaaaa…it’s great rafting experience and cool place! Thanks to www.noarsrafting.com

Makan siang dengan sajian istimewa menu sederhana, tapi jangan sekali-sekalimengatakan menunya tak menggugah selera. Sambel penyet dan ikan bakar yang  membuat kami tak kuasa menahan kantuk dalam perjalanan berikutnya karena kekenyangan dan begitu berkesan. Berpisah dengan Tiara yang tak ikut berlibur ke tempat selanjutnya, kami mulai menanjak mengikuti jalan raya di desa Sukapura, menuju Bromo yang mulai berkabut ketika di kanan kiri kami telihat perkebunan sayur milik penduduk. Ya, sore itu jalan menuju Bromo hujan deras, namun syukurnya ketika tiba, cuaca mulai bersahabat, dan langit sore mulai mengundang kami untuk jalan-jalan di desa Cemoro Lawang.

Ramai. Sudah pasti, karena kamipun datang kemari karena alasan long wikend yang sayang untuk dilewati. Ya…tak mengapa, sedikit tak nyaman sebenarnya dengan suasana ramai di sini, namun tak membuat kami mengurungkan niat menghangatkan badan berkeliling menikmati bulan yang bulat sempurna malam itu. Tak usah khawatir, untuk menghangatkan badan kita bisa bergabung dengan tungku-tungku arang penduduk sepanjang jalan, menikmati pisang goreng hangat dengan kopi dan teh, hmm…next time datang ke sini jangan pas wiken aahhh…

Jam 4 pagi, kami semua sudah berada dalam jeep yang disiapkan oleh homestay tempat kami menginap. Sedikit firasat tak nyaman di awal perjalanan ternyata memang terbukti, mendekati akhir perjalanan, jeep tiba-tiba berhenti, dan tiba-tiba seketika mesin menderu dan jeep tak terkendali ketika kami menyadari ada yang salah, pak sopir banting setir ke arah kiri menghindari di kanan kami yang menyuguhkan jurang menganga, dan akhirnya badan kesakitan semua karena kami akhirnya terhenti karena jeep akhirnya menabrak tebing.

Fiuuhhh…tak ada yang berkata-kata karena semua sibuk dengan detak jantung yang memburu. Pak sopir berkata “sepurane ya mas, kaya’e ada masalah sama rem dan sasisnya”, walaaahhh…pantes sejak awal si bapak terlihat gusar dan susah payah ketika beralih perseneling. Kami pun dievakuasi ke jeep lainnya yang menyusul di belakang, dan bisa menikmati sunrise di Penanjakan view point.

Sayang pagi itu matahari sedikit malu-malu, namun karena yang aku rindukan tak hanya sunrise, di sisi selatan, dia berdiri gagah dalam hamparan rangkaian pegunungan Tengger dan Semeru dengan kubahnya mengeluarkan si Wedhus Gembel, membuatku melupakan ketegangan perjalanan tadi. Cukup lama kami di sini sibuk dengan aktifitas masing-masing, kami memutuskan menuju Bromo seperti aktifitas pengunjung pada umumnya.

Hmm…keruwetan ternyata masih belum jauh, menambah cerita dalam perjalanan kami, rupanya jeep pengganti belum juga datang hingga akhirnya sesi foto dan menghabiskan logistik selesai, kami putuskan naek ojek ke Bromo, hahaa…whatta unpredictable situation, but it’s fun!

 

Menyepi sejenak dari keramaian kawasan laut pasir Bromo, kami memilih melanjutkan perjalanan ke bukit Teletubbies di balik sisi Bromo ketika jeep pengganti kami tiba. Akhirnya kami bertemu sopir jeep yang ramah, informatif dan menyenangkan, mengantarkan kami tiba di Bukit Teletubbies yang….tak kalah ramainya, wahahaa…deuhh…salah pilih destinasi wisata nih sepertinya. Tak mengapa, sesi foto-foto lagi, beruntung membawa 2 fotografer yang dengan sukarela jeprat-jepret sana sini.

 

Hijaunya bebukitan, biru langit, kemuning bebungaan adas dan warna-warni bebungaan liar membuat suasana begitu menenangkan, menepi sejenak menjauh dari kerumunan menikmati segarnya udara dan semilir angin di sini. Hmmm…Damn! I Love Green Indonesia!

Yup…yup…perjalanan belum berakhir. Air terjun Madakaripura sudah menjadi pesanan sejak awal perjalanan. Suasana lembah hijau kembali menyambut kami, patung Maha Patih Gajah Mada dengan wibawanya menyambut kami di gerbang sungai. Kami masih perlu menyusuri dan menyeberangi anak sungai Madakaripura untuk sampai di tujuan. Awalnya kami sedikit tak nyaman  ketika kami diharuskan ditemani pemandu untuk mencapai air terjun, apalagi setengah perjalanan kami merasa jalurnya cukup jelas, sungai yang kami seberangi berair jernih dan setapak masih jelas dikenali meski di beberapa tempat telah terputus karena longsor.

Tiba-tiba dari arah depan kami di penyeberangan terakhir menurut pemandu kami, orang-orang berlarian dan seorang guide kenalan pemandu kami berteriak “baliiikkkk…banjiiiirrrrr”. Sontak pemandu kami menggiring kami menepi karena ada yang menyampaikan banjir datang. Walah, setengah kebingungan, di kejauhan aku mulai melihat gulungan air sungai yang berbeda dengan aliran sungai tempat kami sekarang berada. Tepat ketika pemandu lainnya tadi selesai menyeberangkan semua tamunya, air sungai dengan cepat berubah warna menjadi keruh dan bebatuan mulai tak nampak. Woww…sport jantung yang lain.

Meski kami harus kembali dengan acara evakuasi kecil-kecilan dari para pemandu, perjalanan ini cukup memberi cerita, meskipun untuk ketiga kalinya aku ingin melihat air terjun Madakairpura yang dikabarkan cantik dan unik ini gagal lagi. Tak mengapa, dibandingkan dengan pertaruhan nyawa jika nekat menyeberangi arus sungai yang berlumpur itu. Jadi mengingat kutipan “mbolang itu nda cuma modal nekat, tapi modal cerdas”, SETUJU!

Ah, perjalanan berakhir sudah dengan pengalaman dan kawan baru yang seru. Semoga ada perjalanan berikutnya yang tentu lebih seru dan menarik. Akhirnya, terealisasi juga perjalananku dengan Nay, meski kami berpisah di sini, aku kembali ke Bali sendirian, menikmati perjalanan dengan bus yang sudah lama tidak aku lakoni.

Sebuah cerita, sebuah pengalaman, tak mesti harus sama, karena sesuatu yang baru membuat kita menjadi lebih “kaya” dan warna-warni semakin beragam menghiasi cerita perjalanan kita. Wishing fot the next trip!

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 9, 2012 by in Analogi Plesiran.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

April 2012
M T W T F S S
« Mar   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Analogi Kliks

  • 33,156 Analogiers
%d bloggers like this: