an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

bukan SEKOLAH, tapi BELAJAR

Hmm…masyarakat Indonesia memang mengedepankan pendidikan formal sebagai sarana mencapai kesuksesan; meski di jaman modern dan global seperti ini hal tersebut masih berlaku, kadang menjadi penunjuk status sosial sebuah keluarga mungkin jika mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang tertinggi. Bahkan, ketika berita pertikaian Marisa Haque dengan beberapa artis di media massa, menyentil kualitas seorang anak dari artis lainnya yang memilihkan home schooling sebagai pilihan kurang tepat.

Menurut pandangan saya, seseorang tak semestinya merendahkan orang lain hanya karena mereka tidak mengenyam bangku sekolah, karena hidup ini sendiri adalah ajang “sekolah” yang sesungguhnya, di mana esensi dari “berisi” atau “tidak berisi”nya seseorang kembali kepada kemauan mereka untuk BELAJAR.

Bayangkan, di negara kita yang berjarak antara laut dan pulau, hutan dan gunung yang infrastrukturnya jelas belum begitu memadai untuk mencapai setiap sudut di negeri ini, sekolah masih menjadi hal langka, dan masyarakat yang tinggal di sana “sekolah” dari lingkungan dan semesta di sekitar mereka, orang tua dan kerabat adalah guru mereka, dengan metode alamiah dan natural mentransfer segala kearifan hidup bagi generasi berikutnya. Sebuah tanggungjawab moral yang sangat vital dalam membentuk sebuah generasi penerus eksistensi sebuah bangsa.

Ya, memang mereka tak akan memiliki tambahan beberapa huruf di belakang nama mereka, tak mengerti mengenai perkembangan teknologi, namun ada banyak hal lain yang lebih berharga yang mereka terima langsung dari guru kehidupan. Sebuah kearifan menjadi manusia, budi pekerti,  mensyukuri kelimpahan alam dan kehidupan yang telah dianugerahkan pada mereka, membentuk karakter manusia yang sesungguhnya.

Pendidikan informal dan formal sama pentingnya, untuk mereka yang berkesempatan mengenyam keduanya setidaknya seharusnya memiliki lebih banyak sudut pandang yang mampu meningkatkan peran serta mereka sebagai manusia di lingkungannya, unless they studied just for fulfilling “number”.

Bagi mereka yang berkesempatan mengenyam sekolah hingga jenjang tertentu bersyukurlah, menikmati sarana dan tambahan ilmu serta informasi beragam dari mereka yang tak mengenal namanya sekolah, kuliah, kursus dan sebagainya. Terlebih bagi saya pribadi dan orang lain yang juga bisa duduk dan bertatap muka dengan para pemilik informasi yang bermacam-macam, mencari informasi dari berbagai sumber, seharusnya mampu lebih bijak memahami bahwa banyak cara meningkatkan kualitas diri. Terpenting, jadilah seseorang yang ingin BELAJAR, bukan sekedar berSEKOLAH.

Jadi, kapan dan di manapun kita seharusnya dapat memetik banyak hal untuk menjadi pembelajaran dan penambah ilmu pengetahuan serta “mengisi” diri. Ilmu pengetahuan itu tak seharusnya sempit dan dikotak-kotakkan dalam sebuah ruang yang kita sebut sekolah. Kesiapan sumber daya negeri ini berawal dari BELAJAR, tidak hanya SEKOLAH, apalagi jika kita bahas kondisi sekolah-sekolah di Indonesia banyak yang jauh dari kata layak yang sebenarnya; secara infrastruktur yang memprihatinkan, tenaga pengajar yang pas-pasan hingga ketidakpedulian instansi dan masyarakat terhadap eksistensi sebuah pendidikan bagi putra-putri mereka.

Keterkaitan yang bagi saya merupakan sebuah lingkaran benang kusut yang mesti diurai jika ingin menemukan ujung pangkal persoalan di negeri ini mengenai pendidikan. Alasan jati diri dan karakter bangsa yang terkebiri oleh teknologi dan jaman global sebenarnya juga tidak tepat dijadikan kambing hitam, karena jaman memang dinamis dan akan berubah.

Ini hanya permasalahan penanaman konsep BELAJAR yang sedikit keliru dan bablas semenjak jaman beralih Reformasi di negeri ini. Budi pekerti dan karakter bangsa yang telah di bangun para pioneer bangsa ini seolah tidak ada lagi dengan alasan praktis hal-hal tersebut terlalu tradisional, SARA, dan lain-lain yang berbau nusantara kuno yang sepertinya dibuat seolah merupakan buah pikiran sebagian kelompok saja, padahal, isi Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila sebagai landasan negara sungguh bernilai mulia jika kita kupas hingga tuntas.

Bangsa yang berkarakter, tinggal nama untuk Indonesia, apalagi dengan kemajuan jaman yang sangat pesat, kesiapan mental sumber daya manusia Indonesia yang “setengah matang ” memahami perubahan dan revolusi yang prematur, niscaya telah menghasilkan generasi yang mencari jati diri baru tanpa mau mengenal lebih dalam diri sendiri yang sebenarnya adalah bagian terbaik dalam diri dan sejatinya jati diri kita yang hidup dari nafas nenek moyang kita dalam budaya-budaya dan falsafah hidup hadi luhung mereka.

Ingat, Indonesia, Nusantara, pernah menguasai negeri lain yang jauh lebih besar dari kita, tanpa mengenal pendidikan formal jaman itu. Yang mereka kenal adalah BELAJAR dari segala hal di sekitar mereka, memetik nilai dan makna dari kejadian serta keadaan di sekitar mereka. Kita dan negeri ini penuh orang cerdas, Saudara-saudara!

So, yang ingin belajar menjadi lebih baik dan membekali diri menjadi seseorang yang “kaya” akan nilai kehidupan, beranjaklah dari titik nyaman dan mementingkan diri sendiri. Mulai buka mata, hati, telinga dan diri untuk menerima ilmu di mana saja tanpa meninggalkan karakter luhur para patriot yang begitu excellent (sampai tak tahu istilah apa yang lebih baik untuk mengungkapkan warisan falsafah pendirian bangsa ini), mulailah belajar. Sejak langkah pertama di hari ini, dengan hirupan nafas pertama kali di pagi hari, hingga mata menutup ketika bintang mulai menghiasi langit.

Seharusnya tak ada lagi istilah tak berkesempatan meningkatkan pengetahuan karena tak mampu mencicipi bangku sekolah. Hei…BELAJAR-lah dari sekitar kita, dan menjadi lebih bijak pada kehidupan. Masih banyak guru di luar sana!

Jadi, kata kuncinya bukan SEKOLAH, tapi BELAJAR!

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 23, 2012 by in Analogi Plesiran, Warna-Warni Analogi.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

February 2012
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

Analogi Kliks

  • 33,170 Analogiers
%d bloggers like this: