an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

aku dan 1.717 mdpl

Entah sudah untuk keberapa kalinya kaki ini menjejak di ketinggian ini, 1.717 mdpl, gunung Batur, Kintamani. Sejak mengenalnya di awal tahun 2000an bersama kawan-kawan di Sispala Bhuana Yasa, 1.717 selalu menjadi tempat pelarian paling mudah jika keinginan untuk menyepi dan mencuci otak sedang kambuh.

Dan ternyata baru aku tersadar, aku tak pernah berkisah tentang gunung yang satu ini, yang paling sering aku datangi hingga tak kuingat lagi sudah untuk keberapa kali. Sudah hafal betul karakter jalurnya, setiap titik penanda jalur, bahkan mungkin setiap tikungannya sudah terbiasa untuk aku lalui. Dengan demikian, semakin hari datang ke mari, semakin cepat pula aku sampai di puncak, dan segala rutinitas persiapan pendakian tak begitu merepotkan, ibaratnya seperti kali ini, beberapa jam sebelum akhirnya muncak, aku bahkan belum tahu aku akan berangkat bersama siapa. Yang aku tahu aku begitu ingin ke puncak hari kemarin.

Berjalan di kegelapan malam di bawah naungan pinus-pinus hutan, kami bertiga menapaki setapak masing-masing dengan jarak yang tak bisa kami pastikan satu sama lain, sibuk dengan ritme langkah masing-masing, yang jelas perjalanan terasa milik pribadi, bahkan sering kali tak saling melihat cahaya headlamp satu sama lain. Aku sibuk dengan pikiranku dan detak jantungku yang semakin berat terasa, namun aku usahakan tetap tersadar dan tak menutup mata, karena aku tahu apa yang mungkin terjadi jika sampai aku lengah.

Menghayati setiap nafas yang aku hembuskan di antara kabut Batur pagi ini, menghitung langkah-langkah dalam japam, berteman suara serangga malam yang tetap ramai meski rintik mulai turun dengan konstan. Cuaca memang sedang tidak bersahabat, meski hari ini purnama, bahkan seharusnya aku bisa melihat “bulan kepangan” alias gerhana bulan malam ini. Sayangnya, keadaan berkata lain.

Masih tak habis pikir juga, yang ternyata menjadi pikiran yang sama juga dengan satu lagi partnerku, Gin, kami selalu mengawali pendakian dengan kekeliruan persepsi bahkan sering salah paham, yang semakin dirasionalkan semakin tak masuk akal, kata temanku ini. Tapi kok ya jadi juga perjalanannya. Setiap pendakian yang melibatkan kami, dapat dipastikan  di dalamnya ada hal lain di luar kekuatan pikiran kami. Entah kami sadari langsung ataupun baru kami sadari beberapa waktu setelahnya. Seperti kali ini, mana aku sangka perjalananku berteman mereka berdua lagi yang sudah sekian lama tidak aku temui. Ah, tak perlu dipusingkan, yang jelas berangkaaaaattttt…demi bertemu sang Cinta di atas sana🙂

Semalam tidurku tak cukup nyenyak mungkin karena terlalu banyak hal yang melintas di kepalaku; padahal aku sudah berbekal guling kesayanganku dan memilih tidur sejak mulai perjalanan, haha…tak menghiraukan hal lain.

Hingga satu mimpi begitu melekat dalam benak membuatku terbangun dengan keringat dingin, ketika pukul 3.30 pagi kami baru tersadar ternyata ketiduran dan hampir terlambat

untuk memulai perjalanan. Dengan kecepatan penuh dan langkah konstan, dalam 40 menit kami sudah sampai di batas vegetasi, hoshh…sumpah capek!

Tak satupun saling bicara, kami sepertinya sepakat menikmati perjalanan dalam sunyi, sedikit bicara banyak bergerak, hahaa…saling pengertian. Ternyata salah satu dari kami mabok karena maag jadi tak kuat bicara, dan aku memang sedang tak ingin banyak bicara, menikmati sendiri…dan menyenangkan juga…menyadari aku bisa tak merasa takut sama sekali berjalan sendirian dalam gelap di hutan Batur, hmm…mungkin karena keseringan kemari ya, hehee…#sombong#

Gunung Batur adalah sebuah peninggalan gunung purba yang membentuk kaldera Kintamani dengan danau Kintamani dan gunung Batur sebagai anak gunung yang aktif kembali menjadi gunung baru yang terus tumbuh dan beraktifitas.

Dengan tingginya hanya 1.717 mdpl, gunung ini sangat nyaman untuk dijadikan tempat berakhir pekan bagi yang gemar berkegiatan di alam bebas. Hanya 2 jam dari Denpasar dan jalur pendakiannya pun sangat jelas dan mudah. Bahkan, tak jarang banyak keluarga yang membawa anak-anak mereka mendaki ke Batur, sebagai salah satu sarana mendekatkan anak-anak dengan alam, hal yang jarang dilakukan orang lokal; selain para wisatawan asing yang memang banyak membawa anak-anak mereka turut serta mendaki ke gunung Batur dalam paket perjalanan Batur Trekking Adventure.

Aku tak begitu nyaman berada dalam jalur hutan yang berkanopi lebat, karena itu aku dikenal dengan “pejalan buru-buru” jika dalam hutan. Dan aku akan sangat menyukai jalur berbatu yang dapat memberikan respon balik untuk gigitan gigi-gigi sepatu trekkingku. Langkahku akan sangat stabil di jalur seperti ini dan nafasku entahlah selalu mau bekerja sama dalam jalur seperti itu meskipun menanjak curam.

Meski demikian, jangan pernah sekali-kali takabur, jalur pendakian Batur selepas vegetasi pinus sangat berbahaya dengan area terbuka bekas lelehan lahar yang mengeras menyisakan jalur berkerikil dan karang lahar beku yang tajam. Serta di beberapa jalur berpasir dengan turunan tajam yang berbatasan dengan jurang kawah Batur.

***

Ahaa…ternyata ada jawaban untuk mimpiku semalam, ketika langit mulai terang meski kabut dan gerimis tak mau mengalah. Aku melihat samar-samar kain putih terbentang panjang mengular horisontal melintasi jalur. Bersumber dari sebuah berita yang disampaikan ketika aku menunjuk sesuatu berwarna putih itu yang melintang panjang seperti membelit gunung Batur, rupanya keturunan Raja Panji Sakti, yaitu keturunan raja kerajaan Buleleng baru saja melakukan ritual bayar kaul para leluhur mereka yaitu membelit Gunung Batur dengan selendang putih. Hmm…Bali, memang penuh dengan hal fenomenal jika sudah dikaitkan dengan kepercayaan masyarakatnya.

Tak menunggu lama, setelah melintasi kain putih yang memanjang melingkar di pinggang gunung Batur, ketika baju mulai setengah basah, kami tiba di puncak, yang cukup ramai pagi ini. Menuju puncak 2, untuk berteduh sejenak di warung-warung yang ada di puncak ini, memesan teh hangat dan mematangkan telur di goa-goa beruap di ceruk-ceruk dinding kawah Batur.

Inilah salah satu keunikan gunung Batur yang masih aktif, selain menyediakan sumber air panas di tepi danau Batur, keindahan alam yang disajikan dengan danau dan gunungnya, pendaki dapat melakukan kegiatan unik dengan mengukus telur atau pisang di dinding kawah sekitar puncak Batur.

Ah, rupanya awan memang enggan tersibak untuk memunculkan sang mentari, gerimis pun tak lekas berhenti.

Sejenak kawasan puncak terbuka, tak lama kemudian tertutup kembali. Melihat cuaca yang konstan, kami putuskan turun seperti biasa melalui puncak utama, kawasan goa dan sekitar kawasan kawah, hingga kembali ke hutan pinus dengan beberapa perubahan jalur yang sepertinya dibuat untuk kepentingan ritual Panji Sakti beberapa waktu lalu itu.

Penutup pendakian, tak lupa menu utama harus dicicipi, yaitu gurami goreng khas tangkapan danau Batur, yummyyy…menu ini dapat diperoleh di beberapa warung warga yang terdapat di sekitar parkir start pendakian. Harganya terjangkau dan dijamin cita rasanya, karena kesegaran ikannya.

***

Demikian, Batur yang sederhana namun menyimpan sejuta kekayaan bagiku, tak pernah lekang untuk diingat, tak pernah bosan untuk didatangi dan tak pernah menghentikan decak kagumku setiap datang ke sana, dalam suasana apapun, selalu membawa penyembuhan bagi jiwaku, setidaknya memberiku ruang untuk bercengkerama dengan sang diri dalam keheningan dan segarnya udara yang semesta berikan melalui tangan sang Ibu Pertiwi, Batur.

Dan, kembali ke rumah dalam sunyi, karena sepanjang jalan aku kembali memilih tertidur pulas sendiri di belakang, hehee…

***

~Enaknya memang langsung ke salon untuk massage dan melakukan beberapa perawatan sebagai bayaran atas lelahku seminggu ini, mari… ^_^

2 comments on “aku dan 1.717 mdpl

  1. Pendaki Jompo
    June 23, 2012

    Bagus tulisannya🙂

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 11, 2011 by in Analogi Gunung and tagged .
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

December 2011
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Analogi Kliks

  • 33,156 Analogiers
%d bloggers like this: