an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Day 2, Family Trip North Bali

Fiuhh…benar-benar cerah (baca: panas) yah Bali Utara dan Barat ini. Perjalanan dimulai pagi hari setelah menikmati sarapan pagi favoritku di sini, nasi kuning a la pasar Gilimanuk. Eits, jangan sampai salah pilih tukang nasi kuningnya ya, karena nasi kuning ini memang primadona, sederhana saja menunya.

 

Nasi kuning dengan serondeng manis, mie kuning dan kentang serta tempe

kering yang disangrai manis membuat cita rasanya luar biasa dengan aroma khas santan dari nasi kuningnya, yummy… Asli kalo bukan si mbok yang ini yang jualan, aku tak pernah mau coba yang lain.

Okey, kembali menahan keinginan hari ini untuk menikmati masakan kepiting kuah buatan bu Amin, ternyata hari ini adalah 1 Suro, semua nelayan istirahat melaut dan mereka melakukan ibadah di Masjid dan sebagian tetap menganut tradisi nyekar dan ziarah, yang di daerah Gilimanuk sini mereka mengunjungi petilasan Mbah Temon yang katanya terkenal di kalangan para peziarah hingga ke pulau Jawa, yang letaknya di kawasan Taman Nasional Bali Barat di hutan Cekik sana.

Berangkat ketika matahari baru saja keluar menyinari sela pepohonan di hutan kawasan Bali Barat menuju North Bali. Napak Tilas jalur yang sedari kecil sudah biasa aku lalui bersama orang tua, selalu menyukai jalur ini apalagi ketika musim penghujan saat pepohonan di hutan ini rimbun, dibelah jalur beraspal membuatnya menjadi kanopi yang cantik.

Mulai dari Petilasan dan Persimpangan makam Jayaprana, sumber air panas Banyu Wedang, dan tujuan kami adalah di desa Gerokgak, tempat kerabat ayah berada. Hmm…rupanya aku masih ingat dengan daerah ini, meski terakhir kali aku berkunjung ketika TK dulu, hehe…sering orang tuaku bilang, daya ingatku memang cukup kuat.

Semalam sebelum acara panggang ikan, kami juga sempat berkunjung ke rumah kerabat lainnya, lagi-lagi, ketemu dengan orang-orang yang katanya ketika kecilku dulu adalah “pengempu” ku a.k.a baby sitter dadakan yang notabene adalah tetangga tempat tinggal kami dulu ketika ayah dan ibuku bekerja.

Jadilah semua bernostalgia di umurku yang sudah menjelang 28 tahun ini. Hahaa…antara pangling dan gemas aku dihujani pelukan dan pandangan penuh kasih sayang. Ya, mereka semua sudah berumur, tapi ingatan akan Dayu Inten, si Dayu Kapas yang kecil mungil dan penurut itu masih jelas mereka ceritakan kepadaku. Terima kasih, Uwak, Bibi, Gung Kak, semua…

Agenda mengalir saja karena kebetulan dekat rumah kerabat di Gerokgak ternyata berada di kaki bukit tempat bendungan tadah hujan warga Bali Utara. Tak sampai 15 menit berkendara kami tiba di bendungan Gerokgak. Sayang, seperti halnya bendungan Palasari yang kami kunjungi kemarin di Melaya, debit air di sini jauh menyusut.

Bahkan kami bisa turun ke dasar bendungan hingga kedalaman 10 meter menemui para pemancing yang berjemur menahan panasnya terik matahari serta hawa pesisir yang begitu menyengat meski saat itu pagi baru jam 9 lewat. Tanah gersang, pecah-pecah menyambutku, yang sesekali di selingi rerumputan yang bertahan hidup dari sisa-sisa lembab tanah di dasar bendungan.

Prihatin, iya. Sumber air warga di sini hanya sisa sedikit. Maklum curah hujan telah jauh berkurang disebabkan oleh perubahan iklim yang mulai di rasakan warga. Begitu juga di Palasari, warga hanya bergantung dari curah hujan untuk memenuhi debit air di bedungan. Hahh…tak mau aku bayangkan jika kita hidup kekurangan air bersih.

Berwisata bendungan ke bendungan dan Bali barat telah sukses kembali membuat wajah Korea-ku kembali tanning dengan sendirinya, hahaa… Namun cuaca cerah begitu menarik untuk dinikmati, melangkah di bawah sinar matahari, diselingi angin pantai yang cukup sejuk, meski uap panas dari dasar bumi sangat menyengat, membuat keringat bercucuran, kulit terasa perih, tapi aku menyukainya. Terlebih, sehari-hari aku jarang sekali terpapar sinar matahari, ya tahu sendiri tuntutan pekerjaan dalam ruangan ber-AC seperti apa.

Hanya menggunakan pelindung mata andalanku, daripada aku terserang migrain gara-gara mataku yang sensitif cahaya terik menyerangku, aku berlama-lama menikmati menyentuh tanah-tanah di sana, berbincang dengan perbukitan yang mengelilingi bendungan dan laut pesisir utara Bali yang nampak di kejauhan pagi ini.

Kembali ke Bali Barat, istirahat sejenak menikmati makan siang ikan dan sayur bening, rumahan banget menunya, dan benar-benar istimewa bagiku. Di tempat sederhana pak Amin ini, keluarga ini terasa begitu bersahaja, menentramkan, menunggu lewat tengah hari berteman semilir angin, aku duduk di teras depan menerawang membayangkan tempat mana lagi yang akan aku kunjungi liburan nanti.

Sampai jumpa di cerita jalan berikutnya ^_^

#segera#

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 27, 2011 by in Analogi Plesiran.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

November 2011
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Analogi Kliks

  • 33,121 Analogiers
%d bloggers like this: