an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Kenali dan Cintai

“mbok, demen ngigel nggih?”

Kira-kira maksud orang yang tiba-tiba saja bertanya padaku saat pulang kantor hari ini di tempat gorengan dekat taman budaya art center, “mbaknya sering nari, apa penari gitu ya?”.

memangnya kenapa pak?“, tanyaku balik sambil tersenyum bingung?

sepertinya sering lihat wajah mbaknya di pentas tari”

Wakz…!!! Si bapak ada-ada saja, hahaa… Tapi kebetulan yang aneh juga, sementara hari ini sepulang kerja aku dan beberapa orang teman memang sedang latihan tari Bali untuk persiapan piodalan di merajan kantor minggu depan. Bersama beberapa orang yang sukarena ngayah baik yang memang sudah biasa menari bali ataupun tidak boleh ikut serta. Karena tarian persembahan ini sifatnya tarian sakral yang gerakannya sangat sederhana, dan lembut serta gemulai. Jadi dipercaya asalkan ada niatan, kita pasti bisa menarikannya.

Tari Rejang Dewa. Adalah salah satu jenis tarian Rejang  yang tergolong tarian sakral yang dipertunjukkan hanya pada saat ada upacara keagamaan suci di tempat ibadah, bukan untuk upacara kemanusiaan, merupakan tari penyambutan bagi turunnya para dewata dan manifestasi Sang Hyang Widhi saat upacara keagamaan di tempat suci berlangsung. Rejang Dewa sendiri mengandung gerakan-gerakan yang sederhana dan anggun, merupakan cermin tari persembahan kepada dewata yang bermanifestasikan keindahan, keagungan, ketenangan dan harmoni. Berbeda dari tarian Bali pada umumnya yang dinamis dan penuh gerakan rancak, meski beberapa tarian juga memiliki gerakan lembut, disertai ekspresi wajah penari yang sangat beragam, tarian Rejang Dewa jauh dari kesan itu.

Rejang Dewa, didominasi gerakan monoton dan halus, tanpa ekspresi khas dari mata seorang penari Bali, serta kostum yang digunakan hanya terdiri dari warna putih dan kuning sebagai lambang ketulusan, kesucian dan kemurnian.

Ada juga beberapa tari persembahan lainnya yang akan dibawakan oleh anak-anak pegawai yang berusia kisaran 10 tahunan, meramaikan acara latihan sore tadi. Bangga bisa melihat anak-anak ini mulai kenal dan mencintai aktivitas dalam lingkup budaya tradisional. Melihat ketekunan dan kecintaan mereka berlatih, tak lepas dari peran orang tua yang senantiasa mengarahkan serta membantu anak-anak mereka dekat dengan budaya juga membuat aku tersenyum sepanjang menyaksikan mereka latihan dan ditunggui ibu-ibu bahkan beberapa pimpinan hari ini juga larut menyaksikan anak-anak ini bergerak dalam harmoni tari Bali.

Banya sekali manfaatnya bagi perkembangan dan pertumbuhan anak-anak jika mereka kita kenalkan sejak dini dengan budaya. Baik itu tradisional maupun modern yang tentunya disesuaikan dengan porsi pada usia mereka masing-masing. Gerak dan lagu dari tarian yang mereka pelajari juga membantu perkembangan daya kreasi, imajinasi dan kecerdasan mereka. Diharapkan dengan sedari kecil anak-anak telah terbiasa terlibat dalam kegiatan berbaur dengan lingkungan sosial dan banyak pihak,kesiapan mental anak-anak akan menjadi lebih baik ketika mereka beranjak menjadi diri mereka sendiri lepas dari orang tua.

Hmm, anakku, nanti kamu belajar tari yaa…selain bisa naik gunung, hehee… Menyukai cara melalui hari untuk hari ini…sedikit mengalihkan perhatian dan pikiran dari kerinduan itu…

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 3, 2011 by in Warna-Warni Analogi.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

November 2011
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Analogi Kliks

  • 33,170 Analogiers
%d bloggers like this: