an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Lara Hati


Elang dan Rara duduk termenung berdampingan sembari menatap langit malam yang berbintang dari ketinggian mereka berada saat ini. Ditemani unggun yang masih menyala menghangatkan mereka. Tak ada pelukan seperti di film-film, meski mereka tahu ada sesuatu dalam diri mereka yang meretas bersamaan. Entah itu apa, mereka memilih mengabaikannya.

Elang dan Rara. Baru saja menjalin perteman yang berawal dari pertemuan mereka saat masing-masing menggeluti hobi menjelajah alam dan bertemu dalam satu perjalanan yang mereka rencanakan melalui jejaring sosial bersama rekan mereka masing-masing. Kedekatan terjalin sejak awal perjalanan, Elang yang mengagumi Rara sejak perjalanan itu karena Rara merupakan sosok gadis yang mandiri dan selalu ceria begitu mudah mengisi relung hati Elang yang saat itu sedang kelam karena kegundahan telah merundungnya sejak beberapa bulan terakhir. Sedangkan bagi Rara, Elang adalah seorang kakak sekaligus lelaki yang begitu cerdas dan hangat sekaligus dingin dengan misteri yang nampak dari sorot mata tajamnya. Sepanjang perjalanan memang mereka tak banyak saling bicara, namun gelitik di dada mereka masing-masing mulai terasa. Elang membidik Rara dengan kamera sepanjang perjalanan mengabadikan setiap gerak gerik Rara yang begitu istimewa, membawa semangat dan rasa yang kuat untuk berubah menjadi lebih baik, menjadi dirinya yang baru dari keadaannya saat ini. Rara begitu istimewa sejak saat itu, bersama kenangan mereka bercengkerama dengan alam yang sama-sama menjadi rumah mereka beberapa malam itu.

Rara kerap merenung ada apa dengan hatinya yang tiba-tiba berdesir. Sementara Rara sendiri telah menitipkan hatinya pada seseorang yang lain yang sayangnya tak pernah bisa menemaninya menekuni kegemarannya di alam. Berdekatan dengan Elang membuatnya merasakan ada sesuatu yang berbeda dari dirinya, menjadi lebih ceria dan menjadi ingin selalu mendengar pendapat-pendapat serta kisah yang disampaikan Elang yang bagai ensiklopedi berjalan tahu hampir segala hal yang Rara tanyakan maupun teman-teman mereka bahas. Ah, Elang tiba-tiba membayang di setiap hela nafas Rara sepanjang perjalanan mereka.

Diam-diam, setelah perjalanan mereka bersama teman-teman mereka, Elang dan Rara menjalin komunikasi yang mereka sendiri sadari menjadi lebih dekat dan kerap. Mulai merencanakan perjalanan-perjalanan yang hanya melibatkan mereka berdua. Terkadang masih bersama teman lain, namun sering kali mereka merencanakannya untuk bisa selalu bersama satu sama lain. Hingga suatu hari, Elang mengenalkan Rara pada sisi dirinya yang lain. Mengajak Rara mengarungi dunia musiknya, kegemarannya pada sepeda, fotografi dan tanpa Elang sadari, Elang mengijinkan Rara tahu sisi sepi dari dirinya.

Rara pun tak sanggup menolak karena perasaan itu begitu kuat. Menyebut Elang sebagai kakak, dan berusaha menganggapnya demikian, namun entah mengapa belakangan Rara menyadari sesuatu bahwa dirinya semakin sering merenungkan tentang Elang dan bukan kekasihnya. Semakin sering menghilang dari pergaulan teman-temannya demi bisa bersama Elang setidaknya hanya untuk singgah di rumah Elang dan bercengkerama sambil bertukar info musik dan perjalanan terbaru yang selalu Elang siapkan untuk Rara. Rara semakin menikmati kebersamaan ini. Hingga pada ulang tahunnya, Rara dikejutkan dengan hadiah dari Elang yang tak pernah disangkanya. Hingga Rara begitu tersentuh dan menamai pemberian Elang hingga menjadi benda kesayangannya saat ini, yang senantiasa menemani Rara ke manapun Rara pergi.

Ajakan itu tiba-tiba saja diiyakan oleh Rara, ketika Elang mengirimkan pesan akan mengajaknya ke luar kota untuk menikmati alam. Kembali hanya mereka berdua. Perjalanan sekian jam menjadi begitu indah dan berarti bagi mereka berdua. Hanya mereka, dan dua boneka berpasangan milik Elang yang kini menjadi bagaikan Rara sebagai pendampingnya. Bernyanyi, bercengkerama, tertawa. Menyimak tingkah lucu dan ceria Rara membuat Elang benar-benar menemukan sesuatu yang hilang dalam dirinya. Bersedia menukarkan apapun dalam hidupnya demi bisa melihat senyum Rara.Meski Elang tahu, perasaan Rara telah ada yang memiliki. Tak masalah untuk Elang, dan hal ini masih saja menjadi tanda tanya dalam diri Elang, sedemikian menarik dan cantiknya kepribadian Rara, membuat dunianya jungkir balik, memporak porandakan idealismenya selama ini, memutarkan logikanya hingga tak kuasa menahan perasaan bahwa ternyata Elang menyadari mulai menyukai Rara.

Hari itu mereka menikmati kebersamaan hanya berdua, menikmati keindahan alam dan suasana hanya untuk mereka berdua. Jauh dari dunia yang orang-orang gunjingkan. Menggenggam asa dalam diri mereka berdua bahwa mereka memiliki rasa yang sama. Tak perlu memikirkan apa kata orang-orang, tak perlu mengingat siapa-siapa yang ada dalam kebersamaan yang lain, tak perlu mengingat yang tertinggal di belakang. Mereka berdua terhanyut dalam detik dan hela nafas mereka saat itu. Tak ingin berakhir hanya karena perbedaan yang mereka miliki. Elang dan Rara hanya merasa murni menjadi manusia yang saling memiliki perasaan, tak perlu mereka terganggu norma dan buah pikiran manusia yang mengkotakkan mereka dalam sebuah dogma perbedaan. Elang dan Rara hanya tahu, perasaan mereka murni sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang sama-sama saling mengisi dan ingin bersama.

Hingga tiba malam ini, mereka kembali melakukan perjalanan hanya berdua. Menatap bintang-bintang yang begitu dekat dari puncak gunung ini. Perasaan membuncah saat rasa itu tak tersampaikan meski mereka tahu mereka begitu ingin. Elang begitu ingin menjadi pelindung keceriaan Rara dari rasa sedih apapun. Rara pun sangat ingin selalu menjadi penguat bagi Elang yang ternyata begitu rapuh karena kisah masa lalunya yang begitu menyakitkan. Rara ingin menghibur Elang  dan menjadi pendampingnya selamanya untuk memastikan Elang tak tersakiti lagi.

Keputusan ada pada mereka, Elang dan Rara yang terpisah oleh sekat tipis yang bagi mereka mungkin tak berarti, namun bagi orang-orang di sekitar mereka, perbedaan itu terlalu tajam. Elang tak ingin mengulangi hal yang sama seperti yang pernah dialaminya dahulu yang meremukkan hatinya dan membuat kelam dunianya. Ketika Elang mencintai gadis yang pernah membuatnya tak bisa menaruh hati pada orang lain, namun saat kebersamaan mereka dalam perbedaan yang tak mudah buatnya, gadis itu berkhianat dan memilih meninggalkannya hanya karena tak mampu bertahan atas perbedaan mereka. Elang selalu menyalahkan dirinya karena menerima gadis itu memasuki kehidupannya meski Elang tahu hal itu pasti akan berakhir dengan luka dan membuat hubungan pertemanan Elang dan gadis itu menjadi hancur dan beku, membekukan hati Elang meski berulang kali gadis itu menyesali perbuatannya. Namun Elang terlanjur hancur, hingga akhirnya Rara hadir di sini membawa dunia yang baru baginya, dan Elang begitu mengaguminya.

Rara yang humanis, tak pernah perduli apa kata orang tentang perbedaan, karena Rara memiliki prinsip yang kuat akan makna perbedaan. Sayang ketika bertemu Elang, perasaan campur aduk dan pendirian Rara sedikit tergoyahkan. Rara yang pemberontak dan tak pernah bergantung pada orang lain, tiba-tiba merasakan dirinya menjadi begitu berperasaan halus dan sensitif terhadap perbedaan dan kehadiran Elang. Elang membuatnya menjadi begitu hidup, memperkayanya dengan begitu banyak hal baru dan mengajarinya menjadi diri sendiri dan dicintai.

Arrrgggghhhh…perbedaan ini tiba-tiba saja menusuk mereka dari belakang. Setelah sekian panjang perjalanan yang Elang dan Rara lalui, setelah sekian banyak rasa yang mereka bagi, setelah sedemikian jauh mereka bermimpi akan kebersamaan ini, dunia terasa tak berahabat dengan mereka.

Elang meraih tangan Rara, membawa Rara dalam pelukannya dan mengusap kepala Rara dengan lembut. Tak kuasa bagi Rara untuk menolak membuatnya semakin terbuai dalam hangat dada Elang dan detak jantung Elang yang begitu membiusnya.

“Rara, aku rela menyerahkan dunia untukmu, asal kamu tetap tersenyum untukku”, bisik Elang.

Malam itu, menjadi malam penentuan bagi mereka, yang bergandengan tangan kembali menatap pagi menjelang yang membawa hari baru bagi mereka berdua.

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 1, 2011 by in Analogi Aku Yang Lain, Analogi Kau & Aku.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

November 2011
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Analogi Kliks

  • 33,121 Analogiers
%d bloggers like this: