an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

entah apa judulnya

Merencanakan masa depan sendiri terlampau jauh dan terinci ternyata tak baik ya, meski ada orang bilang rencanakan masa depan sebaik mungkin agar nantinya kita punya tujuan yang jelas. Bagiku mungkin hal ini terlalu berlebihan, karena aku begitu terkonsentrasi merencanakan segala masa depanku,membayangkan apa yang nanti akan terjadi, mengkhayalkan apa yang nantinya harus aku lakukan jika begini jika begitu, sampai akhirnya aku tak sadar kehilangan waktuku saat ini yang seharusnya aku gunakan untuk membangun fondasi untuk memperkuat masa depanku.

Aku merasa bersalah karena mendahului segala kehendak Sang Waktu, aku lupa diri bahwa hidupku bukan hanya milikku seorang, namun milik Sang Misteri. Mengertikan bahwa semua yang terjadi dan akan datang sebagai misteri juga sangat sulit bagiku, aku ingin semuanya menjadi jelas dan tak berselaput. Hahaa…sayangnya aku hanya manusia. Yang hanya bisa mengucapkan andai…andai aku tahu itu baik untukku, andai aku tahu ini memang ditakdirkan untuk aku, sekiranya aku mengerti bahwa aku harus bertahan sedikit lagi, ah…semuanya hanya andai dan aku begitu pengecut untuk menjalankan semua yang ada saat ini.

Yup…big girl don’t cry, bukan anak kecil yang menangis karena kehilangan lolipop kesayangannya. Meski aku tahu benda itu sangat aku gemari. Little girl has to grow, now or sooner…

Arrrgggghhhh…bolehkan sekiranya aku bisa berteriak lantang?

Sesak rasanya dadaku, mengayuh langkah sekuat tenaga untuk bisa melewati ini semua. Bagian cerita yang begitu kuat mencengkeram di dada dan bahkan meresapi setiap cairan dalam jiwaku. Ada apa dengan diriku? Merasa tak punya integritas, aku begitu lemah di sini, aku tahu inginku tapi tak bernyali mengejarnya, ketakutan yang mengalahkan hanya karena membayangkan masa depan yang tak pasti dan belum tentu akan terjadi demikian. Aku hidup untuk masa depan dan kehilangan masa kiniku yang tak aku sadari meniadakan masa depanku. Semua tinggal bayang-bayang.

Dan, akhirnya pejuang pun telah pergi, menaggalkan baju zirahnya di sini bersamaku, melanjutkan perjalanannya tanpa sedikitpun membekaskan jejak untukku. Bunuh diri dengan ksatria pun rasanya aku tak layak untuk membayar segala penyesalanku untuk itu, aku memang tak pantas disebut sebagai pejuang, tak pantas sepertinya aku menjadi pendampingnya di medan juang hanya karena ketakutanku yang berlebihan. Sementara aku selalu bergantung agar dia selalu bersedia tanpa lelah menumbuhkan kekuatanku untuk akhirnya bisa berjuang bersama menerjang batu-batu karang itu.

Semua telah berlalu…sementara aku di sini, menatap punggung itu semakin memudar dan meninggalkan cengkeraman yang semakin kuat di dada, semakin menyadarkan aku dunia semakin gelap karena dia cahaya, perlahan hilang dari ruangku…

Bisakah aku bertahan? Kali ini saja, di nafas terakhirku…

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 26, 2011 by in Analogi Kau & Aku, Warna-Warni Analogi.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

October 2011
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Analogi Kliks

  • 33,156 Analogiers
%d bloggers like this: