an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Kearifan Lokal bukan Tanpa Makna

Kearifan lokal, bukan sekedar mitos dan kepercayaan tanpa dasar. Banyak kearifan lokal yang dewasa ini mulai terampas dan terabaikan, hanya karena kekurang-pahaman kebanyakan orang pada esensi dari sebuah kearifan lokal yang kadang menjelma menjadi kepercayaan masyarakat pemiliknya. Dan, saat ini, ketika aku merasa kegerahan dalam arti sebenarnya, terlintas dalam benakku tentang kearifan lokal yang moyang kita wariskan guna menangkal kerusakan lingkungan oleh perilaku manusia, termasuk jawaban atas tanya kita belakangan ini. “Kok gerah banget ya belakangan ini?”

UU PPLH No. 32 tahun 2009 sendiri mengakui bahwa kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat untuk antara lain melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari.

Ternyata ada diatur dalam undang-undang kita ya, bahwa kearifan lokal itu diakui sebagai salah satu pelindung dan pelestari lingkungan hidup. Sementara itu kearifan lokal sendiri sangat mengenaskan nasibnya ketika semakin terpinggirkan oleh kepentingan-kepentingan yang terkadang tak masuk di akal, dan masyarakat penganutnya hanya mampu tergerus dan terbungkam oleh kebutuhan bertahan hidup yang lebih dari sekedar penghidupan dari alam sekitarnya.

Sebagai contoh, pohon beringin yang dikeramatkan oleh hampir di banyak daerah di nusantara, bukan tanpa tujuan dan kajian ilmiah, yang notabene moyang-moyang kita dengan kesederhanaan sikap hidup mereka telah memiliki daya telaah dan misi yang tak sekedar untuk jangka pendek. Ya, beringin (Ficus benjamina dan beberapa jenis lain, suku ara-araan atau Moraceae) sangat akrab dengan budaya asli Indonesia. Sebagai pohon yang ampuh menangkap gas karbondiaoksida dan produsen oksigen yang handal, beringin juga merupakan tanaman yang memiliki akar yang cukup banyak dapat menampung air tanah. Itu mengapa alasan jaman dulu moyang kita mengkeramatkan beringin, memberi sesajen dan melekatkan kata “angker” pada beringin, semata adalah sebagai wujud terima kasih mereka pada beringin, menghindarkan beringin dari penebangan yang nantinya akan berakibat tak baik juga pada masyarakat karena sumber kelestarian mereka terampas.

Beberapa konsep kearifan lokal yang mengatur tentang penataan lingkungan contohnya di bali adalah adanya Tumpek Wariga/Tumpek Uduh, yaitu hari khusus untuk melakukan penghormatan kepada sang Pencipta dalam hal ini yang telah menganugerahkan tetumbuhan pada bumi dan manusia. Hal ini juga tak lepas dari kepedulian nenek moyang kita yang merasa begitu bergantung pada alam dan lingkungan di sekitarnya. Jadi kearifan lokal bagi kita manusia modern, ada baiknya memang ditelusuri asal muasalnya sehingga tak asal menghakimi bahwa perilaku nenek moyang dan warisan kearifan lokal hanya semata kepercayaan belaka tanpa manfaat dan latar belakang ilmiah; yang selalu dibutuhkan manusia modern untuk menjadi alasan untuk mau menerima sesuatu dari masa silam.

Contoh lainnya daerah-daerah seperti Jogjakarta dengan kearifan yang senantiasa masih dijaga ketat oleh pihak Keraton Jogja dan warga sekitarnya. Coba kita lihat, nama Hamengku Buwono; pemimpin mereka saja sudah mencerminkan komitmen dan wujud penghormatan pada alam semesta yang telah tertanam sejak lama di kehidupan masyarakat Jogjakarta. Dalam filosofi Jawa yang sangat kental di masyarakat menyebutkan Hamemayu Hayuning Bawono, secara global dapat diartikan sebagai upaya berperilaku dan komitmen manusia untuk melestarikan alam dan lingkungan, dilakukan dengan banyak cara yang semoga hingga saat ini masih bertahan. Contoh lainnya ada konsep Tri Hita Karana di Bali, berselaras dengan lingkungan, manusia dan pencipta melalui penataan lingkungan yang selaras dan harmonis. Kepercayaan dalam aturan penebangan pohon untuk keperluan kehidupan sehari-hari yang masih dijalankan masyarakat Dayak, juga merupakan kekuatan kearifan lokal yang jika diberdayakan dengan maksimal akan mengurangi terjadinya kehancuran ekosistem dan lingkungan di bumi.

Pelestarian alam dan kelangsungan kehidupan di muka bumi yang senantiasa membutuhkan sinergi dan keberlangsungan yang berkelanjutan, sangat mungkin diwujudkan dengan menguatkan pertalian antara kearifan lokal dan kepentingan kehidupan modern manusia sekarang ini. Diperlukan komunikasi yang baik dan transfer informasi yang bijak mengenai kajian kearifan lokal setiap masyarakat di mana pun komunitas tersebut ada. Tujuannya agar terdapat informasi yang  jelas maksud dan tujuan tentang latar belakang munculnya suatu kearifan lokal dalam hal ini khususnya yang menyangkut lingkungan hidup.

Bagi Anda semua yang sekiranya berkompeten dan memiliki informasi untuk ini, setidaknya mulailah berbagi. Kita, Indonesia, terutama para pemuda, sadarilah bahwa bangsa kita adalah bangsa besar yang kaya tak hanya oleh sumber daya alam, namun sangat kaya oleh kearifan yang mampu menjaga segala rupa kekayaan kita di bumi khatulistiwa ini dari keserakahan perilaku manusia modern kebanyakan. Mari bahu membahu mulai dari lingkungan diri sendiri, sadari bahwa kita hidup di alam dan masih sangat tergantung pada semesta. Tak hanya alam yang mengkondisikan dirinya dengan kita manusia, kitapun wajib menjadi bagian dari alam yang saling menyokong kelestarian satu sama lainnya.

Universe, is the mother of all the living things…Mother Earth…

~edisi semangat pemuda indonesia, Live Positively!!~

dari berbagai sumber

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 23, 2011 by in Analogi Plesiran.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

October 2011
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Analogi Kliks

  • 33,062 Analogiers
%d bloggers like this: