an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

write it out loud!

Berbicara, menulis, mengutip, menyadur, copy paste. Sama saja harus memperhatikan segala situasi, dengan siapa kita berhadapan, apa maksud pernyataan yang kita sampaikan, semua harus dapat dipertanggungjawabkan. Terlebih jika kita bukan hanya sebagai pribadi. Di mana kita sebagai representasi dari suatu organisasi, unit atau bahkan perusahaan, diharapkan kita cerdas untuk memilah-milah sedang di sisi mana kita berdiri, pribadi, atau perwakilan di luar pribadi kita. Karena jangan sampai suatu pernyataan dilontarkan hanya karena keinginan pribadi menjerumuskan kita membawa nama instansi dan berbuntut panjang dan serius. Apalagi terkait kedinasan.

Mengutip dan menulis sesuatu hal pun demikian. Menghargai orang yang memiliki karya cipta, dengan mencantumkan darimana kita menyadurnya. Untuk bisa mempertanggungjawabkan hal itu, merupakan langkah bijak tetap menjelaskan bahwa yang kita sampaikan adalah buah pikiran orang lain yang sekiranya tepat, sesuai untuk kita sehingga kita memilihnya untuk dikutip dan disampaikan kembali ke orang lain. Hal ini berlaku bagi karya-karya yang sekiranya akan kita jadikan referensi, penambah daftar pustaka, pelengkap materi.

Di waktu sekarang setiap orang bisa menyampaikan segala pemikiran, pendapat, sudut pandangnya tanpa harus berhadapan langsung dengan orang lain atau sesuatu yang menjadi objek tulisannya. Tak mesti bertemu muka karena hal ini memang membutuhkan keberanian ekstra dan daya juang yang tinggi jika sekiranya apa yang disampaikan adalah hal yang sedikit tidak biasa, serius mungkin, atau sesuatu yang menyangkut perasaan hati yang biasanya sangat hati-hati untuk disampaikan. Maka jadilah tulisan.

Apapun tulisan itu dan untuk siapapun, mengutip dari mana, mendengar dari siapa, pasti ada makna, maksud dan tujuan kenapa kita menuangkannya dalam tulisan kita. Memuatnya dalam halaman-halaman tulisan kita yang juga bisa kita bagi ke orang lain, kadang bisa membantu kita untuk menyampaikannya kepada siapa kita tujukan tulisan itu. Sayangnya, karena objek yang dituju tidak jelas ditulis, maka terkadang tulisan-tulisan itu tidak tepat sasaran, bahkan kadang menimbulkan persepsi yang berbeda pada beberapa orang yang turut membaca. Kitapun dapat dengan mudah mengerti beberapa hal tentang seseorang yang menuangkan tulisan itu, walaupun mungkin hanya sekilas gambaran awal tentang profil mereka. Dan meski dari kutipan; setidaknya mereka tetap ingat mencantumkan asal kutipan tersebut, sebagai pertanggungjawaban; sifat dan siapa kita dan keadaan kita dapat tercermin dari cara kita berbicara dalam ranah non verbal ini.

Yang jelas, apapun yang kita tulis berasal dari saduran, kutipan, salinan, sekiranya kita memang sedang atau pernah mengalami hal tersebut sehingga menarik untuk merepresentasikan keadaan atau diri kita ketika itu. Begitulah kecenderungan keadaan yang kerap terjadi sekarang ini, dengan media komunikasi yang semakin luas dan melibatkan hampir tak  ada jarak dan orang yang tidak terbatas. Dengan mudah kita menemukan ungkapan yang dapat menjadi cermin keadaan kita saat itu.

Bahasa tulis tercipta memang awalnya untuk membantu ketika kita tak bisa langsung berkomunikasi dengan objek yang ingin kita ajak bicara, sehingga komunikasi tetap bisa berjalan meski terhalang jarak, bahasa tulis ada untuk mengabadikan catatan, dan untuk menuangkan pikiran yang tak segera untuk disampaikan. Belakangan pendapatku pribadi sedikit bergeser mengenai bahasa tulis.

Bahasa tulis mengurangi interaksi kita secara langsung, mengurangi keberanian bertatap muka, mengurangi kemampuan kita berbahasa verbal yang aku yakin tak semudah menuangkannya dalam tulisan. Sebagai contoh, menilai kemampuan seseorang berbicara di depan umum sangatlah mudah. Kita bisa menilai mereka tidak menguasai materi, tak memiliki kemampuan berbicara di depan umum, tidak menguasai pendengar dan lain-lain. Kenyataannya, berbicara langsung, bahkan dengan berdasarkan tulisan yang sudah kita siapkan, tidaklah mudah. Perlu adanya latihan, sering mencoba berbicara langsung, sehingga kemampuan kita untuk spontan menjawab dan menanggapi bahan pembicaraan juga terlatih. Terlatih untuk bicara jujur, berpendapat dengan sopan, memilih perbendaharaan kata yang tepat, tepat menjawab, terpenting langsung mengenal lebih dekan dan mengerti perasaan orang yang kita ajak bicara. Sehingga komunikasi bisa berjalan dua arah secara langsung dan “moment of truth” bisa kita alami. Karena dengan bertatap muka kita bisa mengerti perasaan lawan bicara, ekspresi mereka, kita bisa langsung mengetahuinya dari mimik wajah mereka ketika berbicara dan menanggapi pembicaraan.

Bahasa tulis bukan hal yang lebih rumit atau lebih buruk dari bahasa verbal. Bahasa tulis juga memiliki kemampuannya sendiri untuk berkomunikasi. Hanya saja kita harus mampu memilah, kapan kita berbahasa tulis dan sebaiknya kapan sesuatu disampaikan secara verbal dan langsung sehingga tak terjadi kesalahpahaman, menghindari konflik karena ketidak-samaan persepsi atas bahasa tulis, dan menyamakan pemahaman seseorang terhadap hal yang sedang ingin kita sampaikan dalam bahasa tulis. Perlu kiranya juga berkomunikasi dalam bahasa tulis dengan jelas, tepat tempat, dan tak menimbulkan persepsi negatif kepada khalayak umum yang sekiranya akan turut menjadi bagian komunikasi dari tulisan kita.

Namun bagi sebagian orang seperti aku, yang curhatnya lebih leluasa dengan tulisan, merasa lebih intim dengan tulisan dan merasakan perasaan lebih mendalam jika menuangkannya dalam tulisan, mau tak mau mengakui jika bahasa tulis lebih lugas untukku, hahaaa… Yang penting WRITE IT OUT LOUD! Biar lega dan biar semua bisa enak membacanya serta tulisan bisa bermakna bagi semua pihak. Berbagi pengetahuan dan informasi pengalaman pada orang lain yang tak selalu bisa kita temui untuk diajak bercerita. Bahasa tulisan adalah sarana paling tepat, dan aku menyukainya.

Tapi benar di sisi lain ada baiknya sekali waktu aku tetap belajar menggunakan bahasa verbal dalam beberapa kesempatan, mengungkapkan pendapat, sudut pandang, dan perasaan agar bisa sedikit lebih asertif, jujur pada diri sendiri dan jujur pada orang lain. Siapa tahu dengan berkomunikasi verbal aku bisa lebih terbuka dan langsung menyelesaikan suatu topik dengan lebih tepat, cepat dan lugas. Hmm…semoga…suatu hari aku lebih punya nyali untuk itu.

Semoga para penulis muda kita, melalui social media juga belajar tata krama berbicara secara non verbal, mencoba menuangkan sudut pandang dengan benar, tepat dan bertanggungjawab atas buah pikirannya, menujukannya pada seseorang yang tepat, dan pada waktu yang tepat pula. Sehingga harapan pada penerus kelangsungan hidup kemanusiaan dan budaya non verbal tetap membawa kebaikan pada sesama dan sekitarnya. Baik lewat bahasa verbal maupun non verbal.

Tetap ingat pepatah kuno, “mulutmu harimaumu“.

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 8, 2011 by in Analogi Plesiran.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

October 2011
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Analogi Kliks

  • 33,156 Analogiers
%d bloggers like this: