an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

dan aku kembali…ke Rinjani…

Menulis kembali kisah perjalanan Rinjani Torean untuk kedua kalinya. Sebenarnya sulit menyediakan waktu setelah perjalanan itu, entah karena di kantor yang menyita waktu, kondisi fisik yang ngga fit dan konsentrasi belajar untuk persiapan tugas bertanding bulan depan. Hhh…tapi kenangan akan jalur pendakian Torean yang tak pernah hilang dari ingatan bahkan tentang cerita 6 tahun yang lalu ketika kali pertama aku mengenal Rinjani dan dari jalur ini juga, sangat menggoda untuk menarikan jemari di atar keyboard si PiBi untuk berbagi cerita.

Apalagi nih, barusan sempat iseng searching apakah sudah ada update lain tentang jalur ini, dan ternyata ada. Namun usut punya usut dan setelah dibaca sampai tuntas, kok serasa mengenal gaya bahasa tulisnya, minus foto dan tarrraaaa….di kolom komentar ternyata “yang punya” www.highcamp.info ;(tempat asal tulisan itu, namun tidak dicantumkan si empunya blog yang ternyata jg copas); protes kalo yang diunggah itu adalah asalnya dari highcamp. Hahaa…setelah aku crosscheck, benar rupanya penulisnya untuk bagian Torean adalah aku sendiri. Whata coinsidental invention😀

Dan di sinilah aku sekarang, bersama netbuk imut berwarna biru pearly, si PiBi, aku tergugah untuk menuliskan kisah keduaku bersama Dewi Anjani di jalur Torean.

The Routes pics – http://www.facebook.com/media/set/?set=a.2379391081377.2138496.1148654626

Jalur ini masih tetap cantik dan mampu membuat aku terbuai kembali dengan kekhasan yang dimilikinya. Perjalanan kali ini bisa dibilang perjalanan reuni 6 tahun lalu dengan 3 dari 5 orang peserta terdahulu yang kembali datang mengunjungi Rinjani melalui Torean. Meski di awal perjalanan sedikit berubah formasi, namun akhirnya kami bertiga yang berangkat. Rupanya tak hanya aku, Ginastra, si Bontot yang sangat niat untuk perjalanan kali ini, pun merasakan ada suatu kekuatan yang menarik kami untuk datang kembali kali ini. Hmm…entah apalagi yang akan kami alami dalam perjalanan kali ini, kami serahkan semua pada sang empunya gunung, Dewi Anjani.

Siang itu pesawat Lion Air baling-baling membawa kami tiba di Selaparang airport Mataram dalam 30 menit, agak sedikit mepet menjelang sore bila penerbangan ini andainya tidak tepat waktu, syukurnya kami diberkati jadwal yang sesuai tertera pada tiket. Hanya sempat menuntaskan satu artikel yang kebetulan (ah promo rute NTB

aja paling nih, hehee…)  bercerita tentang pendakian Rinjani yang disponsori oleh LionAir & co. Anggap saja suatu kebetulan dan penuntun arah bahwa perjalanan kami memang direstui untuk sampai di Rinjani kali ini

 

Starting perjalanan yang agak mepet waktu karena setahuku akses menuju dusun Torean akan sedikit sulit dibandingkan dengan akses menuju gerbang pendakian lainnya, maka dari itu pertemuan singkat dengan seorang teman di airport pun berlangsung sambil keluar dari ruang kedatangan menuju luar bandara hingga menemukan angkot untuk melanjutkan perjalanan (maaf ya mbak, kami tak sempat mengajakmu ngobrol bahkan foto bareng pun lupa).

Dan, hampir saja lupa untuk membeli bahan bakar yang di Masbagik ini ternyata susah juga ditemukan, spiritus apalagi gas botol untuk kompor lapanganku. Kembali merasakan keberuntungan yang diberikan pada kami, kami menumpang dengan sopir angkot yang sangat kooperatif mau memberhentikan kendaraannya lebih lama di pasar Gunung Sari beberapa kilometer sebelum kami keluar dari peradaban menjelajah pesisir Lombok Utara di jalur Hutan Pusuk, untuk kami membeli bahan bakar. Puji Tuhan, gas pun ternyata ada di toko yang bersebelahan. Terselamatkanlah kami, terima kasih Dewi Anjani

Dalam angkutan yang jauh dari nyaman ini, kami menjadi penumpang terakhir dalam perjalanan 3 jam menuju Bayan, Terminal Anyar, akses terakhir sebelum ke Torean.

Menumpang kotak besi yang ternyata bertuliskan tagline “CUCU BAYAN” (kembali menyebut nama Dewi Anjani atas pengaturannya). Proses tawar-menawar dengan para tukang ojek (jangan bayangkan tukang ojek dengan helm kuningnya, yang ada mereka pakai sarung dan ikat kepala khas Lombok), dan lagi-lagi akibat kesorean tiba, mereka adalah tukang ojek terakhir yang susah payah kami rayu akhirnya mau mengantarkan kami menuju

Torean yang terdengar mistis saat mereka menyebutnya, menyongsong tenggelamnya mentari kami memasuki jalur ini lagi. Berbatu, debu dan beberapa kali turun dari ojek untuk menghindari terjatuh bersama kerir dan ojek dalam perjalanan.

Bermalam kembali di desa ini, di Brugak (pendopo tradisional Sasak bertiang 6) yang sama dengan 6 tahun lalu, dengan sedikit perubahan pada batas desa yang dulu adalah batas akhir dengan jalur. Dusun Torean tampak ramai hari ini, besok adalah hari raya untuk pemeluk Islam di kampung ini. Tak terasa, malam cepat bergulir, memandangi bintang di langit yang sangat murah hati bertaburan,

sambil menikmati cengkerama dengan bapak Suhardi (Pak Mangku) mengenang perkenalan pertama kami 6 tahun lalu, ditemani suguhan istimewa opor ayam super pedas khas Torean. Ajiiiiibbbbbb…sumpah guling-guling kepedesan tapi habis juga sepiring nasi di tengah sejuknya hawa malam ini.

Rencana berubah setelah obrolan mengenai jasa porter dan pemandu semalam yang masih tetap super mahal di jalur ini, apalagi pak Suhardi tak dapat mengantar karena masih dalam proses penyembuhan akibat kecelakaan yang dialaminya beberapa waktu lalu. Bermodalkan ingatan 6 tahun lalu dan wejangan-wejangan panjang lebar mengenai jalur terkini yang diwanti-wanti pak Suhardi agar berhati-hati dan tetap ingat bahwa jalur Torean adalah jalur yang sakral, maka perjalanan yang sesungguhnyapun kami mulai, bersamaan dengan terbitnya sang telor ceplok di ufuk timur di balik punggung Rinjani.

Mules. Ya, itu adalah rasa biasa yang pasti aku alami jika memulai perjalanan apalagi dengan kerir yang akan jadi teman setia menguji pundak dan kaki untuk melangkah. Namun senyum di balik jalur Torean yang selalu terbayang membuatku bersemangat melangkah satu satu. Perkebunan, merupakan pembuka jalur, dan aku ingatkan untuk berhati-hati memilih jalur, banyak bertanya pada peladang yang kita temui, dan selalu pilih jalur paling kiri dari setiap persimpangan untuk sampai di batas hutan TNGR.

Hmm…3 jam sudah kami meninggalkan dusun Torean, pikiran mulai dihinggapi perasaan kalau kami salah jalur. Namun pipa air yang berdasarkan informasi dari pak Suhardi bermuara di sungai Greneng a.k.a Pos I, membuat kami tetap mencoba mengikuti jalur yang samar-samar mulai kurang jelas. Mungkin karena jarangnya jalur ini dilalui dan bulan puasa pasti tak ada yang menuju danau membuat jalur sedikit tertutup, begitu pikir kami meyakinkan diri. Tengah hari, tak juga kami temui pos I yang seyogyanya merujuk 6 tahun lalu dicapai dalam 3 jam perjalanan. Akhirnya, break dan mencoba orientasi medan.

Jalur semakin rimbun, setapak makin tak nampak, tapi keyakinan tetap pada pipa air yang masih ada di jalur kami. Hingga akhirnya, kubangan binatang hutan dan jejak-jejak mereka kami temui banyak bertebaran, makin memacu kaki melangkah sebelum kami dipaksa harus bertemu mereka, terdengar sayup-sayup suara aliran air di depan. Benar saja, fiuuhhh 6 jam berlalu kami tiba juga di bekas Pos I yang sudah tak ber-shelter lagi, kondisi hanya berupa lahan lapang dan sumber air yang mengalir dari ujung pipa. Papan petunjuk dan peringatan yang 6 tahun lalu menjadi ciri pos ini tak ada lagi, jalur memotong sungai di bawah pohon besar pos I pun sudah tak ada digantikan jalur yang membelah semak di sisi kanan sungai yang tertutup longsor mengantar kamu melanjutkan perjalanan hingga tiba di titik yang aku sangat ingat sebagai tempat istirahat setelah pos I 6 tahun lalu. Maka, tak terbantahkan lagi argumenku yang menyebutkan yang barusan kami lewati betul Pos I, berhubung 2 tim lainnya keukeuh mengatakan barusan bukan Pos I, hhh….cape deh…barusan kita udah melenceng dari jalur yang seharusnya selama 3 jam, mas masssss…..

3 jam meleset dari jadwal tak membuat perjalanan bertambah akselerasinya, mengingat bawaan Widi depan belakang sama beratnya, membuat dia yang ditambah lagi bentar-bentar menikmati keindahan jalur dengan kameranya, serta si Gin yang narsis pol sejak aku katain kalau dia fotogenic cengar-cengir di depan lensa berlatar berbagai perubahan jalur. Jadi tiba di Pelawangan Torean yang berupa lahan sempit di atas jurang air terjun Kokok Putih pun terlambat 3 jam dari seharusnya. Belum lagi perut Gin mengalami sedikit gangguan membuat aku mentandem backpackku yang sedari awal bergantian aku bawa dengan Gin.

Kami sempatkan istirahat, berfoto dan aku mengeluarkan persembahan

kembang yang aku bawa, untuk tanda hormat pada Pemilik Hidup di Ketinggian ini atas berkatnya aku bisa “selamat” 6 tahun lalu dan datang lagi melewati jalur ini untuk kedua kalinya.

Banyak perubahan di sekitar sini, longsor membuat jalur melewati Pelawangan menjadi dibuat menjauh dari jurang dan dibuat bertangga dari batang pohon yang cukup menciutkan nyali saat harus melewatinya, bagaimana tidak,

di bawah tangga nampak celah sempit bebatuan tumpang tindih beberapa meter tingginya. Syukurnya koordinasi gerak masih baik, jadi dapat kami lalui juga. Melanjutkan langkah menyusuri hutan tipis yang terlihat akan berakhir di ujung kaki bukit di depan kami, berusaha agar sebelum gelap menjelang kami sudah sampai di padang Dinosaurus; yang kami beri nama demikian saking besarnya dua buah punggungan gunung yang mengapit jalur ibarat dunia Dino di filmJurassic Park. 

Koordinasi sejenak menghitung persediaan air, karena jalur di depan masih panjang, dengan bekas kebakaran yang parah pasti membuat kami akan banyak menghirup

sisa karbon dan debu, dengan persediaan air yang menipis perhitungan harus tepat. Mata air seingatku masih jauh. Hhh…mulai terasa melelahkan, bersyukur masih sangat terhibur oleh cantiknya jalur, aliran sungai Propok yang putih kehijauan di kiri bawah, membentang perbukitan punggung Gunung Sangkarean di kanan dan Sembalun di atas aliran sungai membuat mata dan hati tak henti memuji takjub atas keindahan ini.

Perjalanan berlanjut…hingga 1, 2 hampir 3 jam kami baru menemukan mata air penyelamat yang kami ingat dan masih seperti yang dulu mata air ini berada di puncak jalur terakhir merembes dari hutan Sangkareang di kanan jalur yang merupakan mata air untuk keperluan

upacara Pakelem umat Hindu di danau Segara Anak. Terlupakan sudah berbahayanya jalur yang baru saja kami lalui dalam gelap malam hanya berteman cahaya senter kepala menuntun langkah kami satu-satu menjaga diri sendiri dari jurang menganga, yang bila sedikit saja hilang konsentrasi saat melangkah pada setapak jalur; yang sesungguhnya memang hanya cukup bagi setapak kaki untuk melaluinya.

Selamat pagi Rinjani. Sangat bersyukur hampir hilang lagi di hutanmu

hingga kemalaman di jalur dan terselamatkan juga dengan segenap doa serta usaha kami bisa bermalam di tempat yang nyaman di sini. Beberapa meter dari sungai Propok yang rencananya menjadi tempat camp kami semalam, tempat ini ternyata jauh lebih baik dengan mata air berupa aliran sungai yang cukup deras dan tentu saja jernih, hangat karena rupanya tempat ini terlindung oleh tebing-tebing dari terpaan angin semalam.

Siap melanjutkan perjalanan yang sudah pasti tak jauh lagi dari tujuan utama 

perjalanan ini, yaitu Goa  Susu dan Segara Anak, membuat kami beranjak dari kemah menjelang tengah hari, hahaa…kumat deh sindrom pendaki nikmat ini…yuk mariiii…menelusuri sungai Kokok Putih menuju Propok yang sebenarnya.

Menikmati nostalgila dengan mengingat kembali jalur berikutnya, yaitu satu bukit lagi yang mesti didaki dengan sepenuh jiwa karena tanjakannya yang pol…kita akan mengakhiri jalur ini dengan tiba di goa Susu, sebelum mencapai danau kurang dari sejam berikutnya.

Melewati beberapa air terjun yang cantik membuat kami melegalkan banyak 

acara menikmati keindahannya sebagai alasan untuk bisa istirahat. Goa Susu terkenal karena warna air yang keluar dari rembesan dinding berwarna putih seperti susu akibat dasar bebatuan yang dilaluinya adalah lapisan sulfur, serta uap air panasnya menyebabkan alirannya seperti aliran susu di dasar bebatuan goa. Memiliki keistimewaan yang konon dahulu dijadikan tempat pertapaan, dalam goa yang bermulut sempit ini, ada sebuah lokasi dengan letak vertikal dari mulut goa cukup untuk ukuran sebadan digunakan untuk bermeditasi.

Puas merasakan sauna alami di goa Susu, perjalanan kami lanjutkan dengan semangat menuju danau yang tiba-tiba terasa sangat lama padahal belum setengah jam kami beranjak dari Goa Susu;

hehee..ekspektasi terlalu tinggi untuk segera tiba di danau sih…

 

 

Akhirnya, ketika sore menjelang, seperti keinginan para pendaki malas ini, kami bisa menikmati jalur untuk tiba di danau dengan sepuas hati. Tinggal

menikmati bermalam di bawah gemintang di teras rumah Dewi Anjani yang begitu tenang malam ini.

 

 

Hmm…mulai berpikir untuk lebih lama di danau, dan benar saja, hingga hampir lewat tengah hari kami masih sibuk dan asik berendam di air Kalak (sumber air panas) dekat danau Segara Anak, sembari menyusun rencana dengan malas untuk mencoba keliling danau mencapai gunung Baru Jari.

Kali ini Kalak tak begitu ramai, mungkin masih suasana hari raya jadi penduduk belum banyak yang mendaki. Puasnya bisa bersauna kembali hari ini memulihkan lelah otot yang sungguh tak terasa capeknya

 

Ternyata benar, bermalam hanya semalam di danau tak akan merasakan nikmatnya keindahan dan kenyaman danau Segara Anak. Dengan bermodal ala kadarnya, kami terpancing hasrat untuk menikmati ikan danau Segara Anak. Susah payah akhirnya aku dan Gin berhasil menangkap 3 ekor ikan segede jempol untuk kami  masak, wakakaa…sisanya ikan-ikan kecil yang dengan teganya juga kami goreng untuk lauk malam ini.

Benar kata orang, kelihatannya saja danau ini mudah dilalui dan tak perlu waktu lama untuk mengelilinginya; padahal uda jelas-jelas luasnya 1.100 hektar, hehe… 2 jam cukup untuk kami menghentikan langkah tepat di sisi utara Baru Jari dan di bawah tebing Pelawangan Sembalun, berpiknik dan tentu saja berpose, menjelang matahari sembunyi di balik punggung Sangkareang, kami kembali ke kemah dengan semburatROL -Ray of Light- di langit mengiringi langkah kami. Entah mengapa, hari ini aku mulai merasa sedikit lebih tenang yang juga entah untuk apa. Merasa menemukan waktu untuk bisa dekat dengan diriku.

Berkata dalam hati suatu hari akan kembali lagi ke Segara Anak dengan pancing dan lebih banyak waktu, hahaa… Bangun pagi di antara tetangga para penduduk lokal yang mulai berdatangan, mengemas tenda berkejaran dengan matahari yang tak ingin aku undang untuk menemani melewati jalur menuju pelawangan  Sembalun; karena udah

tau bakal panas pol…; kami beranjak meninggalkan Segara Anak dalam sejuknya udara pagi ini.

 

 

Semangat…melewati waktu sarapan pagi di sisi tebing menghadap utara Lombok, menanti sentuhan pertama dari mentari pagi ini, nikmatnya karuniamu Dewi Anjani…

Tujuan utama adalah desa Sembalun yang masih 13,5 km lagi untuk dilewati, hahaa…jauh ya untuk ukuran di gunung. Tapi kata

mereka“siap-siap, we will can’t stop you…jalur favoritmu mbaaakkkkk….”, hehee… benar, aku suka jalur berbatu dan bertangga seperti jalur menuju Pelawangan Sembalun atau Senaru di Gunung Rinjani, melewati beberapa lembah dalam yang dihubungkan dengan jembatan-jembatan swadaya, sungguh pengalaman yang jarang bisa dilewatkan. Perjalanan masih kondusif karena mentari masih muda untuk membakar kulitku. Berpapasan dengan beberapa rombongan penduduk lokal, jalur rupanya

mulai ramai.

Bertukar sapa, dan mengangguk taksim pada mereka yang telah renta

tak surut asa ikut pula mendaki Rinjani demi memperoleh kesembuhan, ketenangan jiwa atau mungkin hanya untuk sekedar hiburan melepas penat dan kangen pada Segara Anak, memancing adalah kegiatan favorit warga Lombok di Segara Anak, tak genap hidup di dunia bila belum ke Segara anak, begitu kira-kira pepatah mereka.

Menuju tengah hari, kami mulai menuruni puncak Pelawangan Sembalun, melalui jalur berdebu dan curam, terik mulai menyengat, menyesakkan dada dan menyilaukan mata. Sudah persis seperti ninja berkacamata hitam pula aku melalui jalur ini. Inilah jalur impian untuk dijajal, Sembalun. Yang aku dengar dari cerita-cerita memiliki kecantikan savana yang luar biasa; tentu saja di luar kisah mengais oksigen dan menghalau bakaran matahari saat melalui jalur ini, fiuhhh…ternyata jalur yang HUOOOTTTTT…!!! Tapi aku akui, aku terpuaskan dengan memanjakan mata

memandang keindahan savana yang juga menjadi salah satu landscapefavoritku, hanya saja jika diberikan pilihan, sepertinya aku tak akan melalui jalur ini lagi, terutama di siang bolong begini,  hahaa…meski ada sumber mata air di dekat pos II dan banyak shelter di perjalanan, namun panasnya suhu dan teriknya sekitar di jalur Sembalun ini membuat aku merindukan jalur Torean yang sejuk dan rindang.

Ahhh…ternyata tiba giliranku yang mengalamii sindroma patah semangat, saking panjangnya jalur ini dan tak nampak berujung; genteng rumah penduduk nampak jauh sekali di ujung pandangan, membuat aku semakin putus asa menapakkan kaki di setapak yang sepertinya sering dilalui kendaraan bermotor ini, damn, harusnya aku bisa ngojek!! Tapi semua pasti akan sampai pada ujung jalan, tetap percaya, dan fokus pada tujuan…terus melangkah akhirnya aku sampai di desa Bantas di salah satu gerbang Sembalun

Mumpung di Lombok, dengan kaki yang anehnya sudah tak bisa banyak

digerakkan, manjanya kumat setelah ketemu peradaban, paket pendakian kali ini plus plus untuk memenuhi ide gila singgah di Gili Trawangan untuk semalam dan kembali ke Bali esok hari, mundur dari jadwal, mengurangi jatah istirahat sebelum lusa harus kembali ke kantor. Ah kapan lagi, hajaaaarrrr…Gili Trawangan I’m coming dah judulnya.

Lelah lebih karena mental dan jiwa, namun terobati juga…menyuntikkan adrenalin baru dalam diri. Ternyata aku telah kembali dari Rinjani untuk kedua kalinya, dan telah merasakan ketiga jalur populer di gunung ini. Dewi Anjani, saya akan berkunjung kembali suatu hari nanti.

3 comments on “dan aku kembali…ke Rinjani…

  1. Nyoman Ginastra
    September 17, 2011

    Semoga ini bukan akhir…tapi awal untuk memaknai kehidupan ini….

  2. intenarsriani
    September 17, 2011

    weiiissss…jeg sangar komennya bro😀
    -yuuukkkk dateng skali lagi jangan lupa pancingnya yaaa…dan siapin jasa porter-

  3. Naufal
    February 20, 2012

    mas, mau tanya detail perjalanan menuju desa bayan dong.
    pake bus bisa apa tidak? lama perjalanan?

    trus di bayan itu seperti apa. makasih

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 16, 2011 by in Analogi Gunung.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

September 2011
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Analogi Kliks

  • 33,121 Analogiers
%d bloggers like this: