an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Perkenalanku di Arjuno-Welirang

Tak pernah terpikirkan perjalanan bersama temen-temen Himapasti (Himpunan Mahasiswa Pencinta Alam STIKOM) yang tak berani aku iyakan, semula hanya sebagai sikap menghargai ajakan mereka, ternyata membawaku semakin menikmati duniaku di sini. Ketika akhirnya aku memilih ikut dalam acara pembekalan calon anggota mereka yang kali ini mengambil tempat di gunung Arjuno dan Welirang Jawa Timur. Ragu menggantung hampir hingga sehari menjelang keberangkatan. Mengingat perlengkapanku yang terbatas karena belum begitu sering naek gunung kecuali dulu ketika masih SMA, serta aku belum begitu mengenal lingkungan Himapasti kecuali beberapa orang yang kebetulan aku kenal di kampus. Oiya, aku memilih tidak menjadi anggota kegiatan mahasiswa yang memiliki kegiatan alam bebas yang sebenarnya sangat aku minati ini dengan beberapa alasan. Sepertinya cukup hanya sebagai alumni Sispala Bhuana Yasa yang mengantarkan aku tetap pada kecintaan kepada alam sekitarku.

Hmm…dilema antara keinginan kembali mencumbu alam dan kekurang-siapan mental melakukan perjalanan bersama komunitas yang masih asing bagiku cukup mempengaruhi keputusan yang aku ambil.

Tarrraaaaa…. Pagi itu aku sudah berkumpul di kampus dan siap berangkat ke titik pendakian di daerah Pandaan, kawasan puncaknya Jawa Timur, dan aku ditemani Dodot, seorang teman dekat yang aku kenal dan tahu punya pengalaman mendaki sebelumnya. Untuk berbagai alasan, akhirnya Dodot mengabulkan permintaanku untuk menemaniku merasakan pengalaman pertamaku mendaki di pulau Jawa, dan tidak bersama komunitas Bhuana Yasa.

Dengan perasaan campur aduk antara penasaran menjajal kembali kemampuan berjalan mendaki dan kecanggungan berada di antara komunitas baru yang terkenal eksklusif di kampus. Obrolan mencair sepanjang perjalanan menuju titik awal pendakian Welirang yang umum digunakan, yaitu jalur Pandaan sekitar satu setengah jam perjalanan dari Surabaya, karena banyak perempuan dalam perjalanan ini yang kebetulan adalah seangkatan dan adik-adik di bawah tingkatku yang turut serta, jadi obrolan ibu-ibupun mewarnai suasana.

Memperhatikan pos lapor pendakian Welirang Arjuno (AW) yang sangat terawat dan terkesan nyaman bersahabat, membuatku menyadari satu hal, bahwa di tanah Jawa ini kegiatan pendakian masih digemari oleh banyak orang. Kepedulian para Jagawana menjaga keberadaan cagar alam dan mensosialisasikan kecintaan pada lingkungan cagar alam masih sangat kental di sini, berbagai informasi seputar pendakian bisa didapat di sini. Mungkin karena beberapa pengalamanku mendaki gunung sampai saat ini hanya di Bali saja yang tidak memiliki pos penjagaan khusus.

Berbeda dengan adat kebiasaan pendakian yang pernah aku lakukan, biasanya pendakian dimulai sepagi mungkin untuk menghindari terik matahari di jalur-jalur terbuka di awal pendakian, kali ini tim baru bergerak sekitar pukul 10 pagi, tepat ketika matahari mulai beranjak menyengat kulit. Pos pertama di jalur Pak Tompul-Pandaan melalui jalan beraspal di tengah hutan pinus yang merupakan gerbang hutan alam Pandaan, berakhir pada mata air di tepi hutan berupa area perkemahan yang menurut cerita pemilik warung di pos ini sering digunakan untuk perkemahan di akhir pekan.

Untungnya masih ketemu warung di sini, saat aku menyadari sandal jepit yang aku beli di Surabaya ternyata keduanya sebelah sisi kanan, alhasil…beli sandal jepit lagi untuk bekal pendakian. (hihihii…kalau senior BY tahu aku mendaki pake sendal jepit, aku pasti langsung digantung dan di-briefing panjang lebar tentang keselamatan pendakian).

Jalur penambangan belerang berupa jalan lebar berbatu yang sering dilalui kendaraan 4WD macam hardtop mengawali pendakian menuju pos selanjutnya di Kop-Kopan; pos ini merupakan pondokan pengepul terakhir para pemburu belerang dari kawah Welirang sebelum diangkut ke kota, terdapat beberapa pondok singgah dan penampungan belerang para pemburu. Sayangnya hari ini tidak nampak kendaraan itu melintas, sehingga jalur sepanjang 4 jam perjalanan mendaki di bawah terik matahari dan pantulan batu kapur dan bebatuan gunung cukup menguras tenaga dan mental kami.

Gunung Welirang berketinggian 3.156 mdpl dan gunung Arjuno berada 3.339 mdpl, merupakan dua buah gunung yang memiliki puncak yang saling berdekatan sehingga dapat didaki dalam satu rute pendakian. Sebenarnya banyak rute menuju puncak Arjuno-Welirang, seperti jalur dari arah Malang lewat jalur Kebun Teh Lawang maka akan mencapai puncak Arjuno terlebih dahulu. Kemudian ada jalur Mojokerto, Songgoriti dan beberapa jalur yang biasa dilalui oleh penduduk penambang belerang. Sedangkan jalur Tretes Pandaan merupakan jalur populer untuk mencapai puncak Welirang dan Arjuno karena akan mengantarkan kita pada titik temu kedua jalur menuju puncak Arjuno maupun Welirang pada satu area yang sangat nyaman untuk berkemah.

Seperti layaknya pendakian dalam jumlah besar, beberapa anggota pendakian akan terbagi dalam beberapa kelompok tergantung pada kekuatan fisik masing-masing. Aku dan Dodot serta beberapa orang calon anggota muda Himapasti tiba lebih dahulu di pos Kop-Kopan. Suasana akhir pekan kali itu cukup ramai, banyak anak-anak SMA mendirikan perkemahan di sudut-sudut Kop-Kopan, sementara tak nampak aktivitas penambang belerang siang itu, sepertinya sedang jam istirahat atau libur mereka hari ini. Pos Kop-Kopan memiliki mata air berlimpah, area perkemahan dan berada di sisi punggungan dari pegunungan Welirang, sehingga dari sini dapat kita lihat kota Pandaan dan sekitarnya jika cuaca cukup cerah.

Jalur berubah memasuki kawasan hutan dan jalan setapak menanjak, namun jika dibandingkan jalur di awal tadi, aku memilih jalur kali ini yang cukup teduh karena dinaungi oleh pepohonan semacam pinus dan santigi. Tipe hutan gunung di Jawa Timur utamanya kawasan AW ini adalah hutan tropis dan pinus dengan kawasan yang terbilang kering musim ini yang mendominasi jalur. Diselingi pepohonan pinus di akhir area menuju puncak, jalur yang cukup berdebu karena sudah jarang hujan. Perjalanan cukup bersahabat masih dengan tim yang sama berjumlah 6 orang termasuk aku dan Dodot, memasuki kawasan hutan Lali Jiwo yang cukup terkenal di jalur ini, mengingatkan aku pesan beberapa senior pendaki bahwa sangat dianjurkan untuk selalu mawas diri dalam setiap pendakian. Jangan memaksakan kondisi fisik dan mental, serta tidak mencemari pikiran dengan hal-hal negatif.

Apalagi jika memasuki kawasan Lali Jiwo yang sangat sarat dengan cerita-cerita mistis. Mau tidak mau saat itu ketika sore menjelang, langkah-langkah kami berenam larut dalam konsentrasi diri dan kesadaran tingkat tinggi untuk selalu bersama dalam melangkah.

Gelap merayap menyelimuti kawasan Pondokan yang nampak sepi. Beberapa pondok berupa gubuk-gubuk mungil berjajar di sepanjang tanah lapang berseling semak bebungaan khas pegunungan, samar-samar berwarna ungu dan pink. Hhh…sampai juga di camp mengakhiri perjalanan panjang hari ini.

Ah tapi rupanya cerita belum mau berakhir. Dari semua anggota pendakian kali ini, hanya kami berenam, Enno, Elsi, Dodot, Aku, Mas Agus -tetua Himapasti- dan satu lagi perempuan; aku kok tiba-tiba lupa namanya; semoga benar namanya Andi Nurmi, yang nampak di pondokan, hingga esok harinya baru kami tahu bahwa setengah  kelompok lagi rupanya bermalam di hutan Lali Jiwo.

Rencana mendaki puncak Welirang pagi ini pun gagal karena masih berkoordinasi dengan semua anggota tim inti; senior Himapasti; kalau saya kan hanya tamu, jadi manut saja, hehe…

Tepat jam 11 pagi, menjelang siang, kami yang berenam kemarin tiba lebih dulu di Pondokan dan sudah tentu telah memulihkan tenaga, baru beranjak menapaki jalur menuju puncak Welirang yang diperkirakan berjarak 3 jam perjalanan ke arah kanan dari Pondokan, ditemani tiga orang tetua Himapasti lainnya, karena puncak Welirang adalah salah satu syarat keanggotaan mereka. Jadi mereka akan melakukan upacara sederhana di puncak sana sebagai tanda pencapaian para calon anggota baru mereka, sedangkan aku dan Dodot tetap boleh sebagai tamu dalam acara mereka kali ini.

Jalur cukup jelas, namun sedikit mulai mengalami kerusakan karena jalur ini juga menjadi jalur para penambang belerang di puncak Welirang. Jalur melalui hutan pinus, menjelang puncak mulai digantikan  vegetasi berupa perdu, bunga-bungaan gunung, alang-alang. Berasa memasuki kawasan istana pertapaan di masa lampau, tetanggaan tertata rapi berhiaskan bebungaan liar di kiri jalur yang berbatas tebing cadas, dan di kanan jalan bisa kita nikmati dari ketinggian ini, mata dengan leluasa dapat menyapu pandang ke arah kota Pandaan dan Mojokerto.

Puncak Welirang yang sangat luas, mengepulkan asap belerang dari segala penjuru area berupa lapangan luas yang tak jelas di mana titik triangulasinya saat kami tiba di sini. Terus menyusuri setapak di tengah tanah yang berasap sulfur, hingga tiba pada titik buntu untuk menghentikan langkah dan menetapkan bahwa kami telah mencapai puncak Welirang.

Sore akan menjelang, mentari nampak beranjak kemerahan bersaputkan asap tipis sulfur berpadu dengan tanah kuning yang mengandung belerang. Akhirnya aku tiba di salah satu tanah tinggi pulau Jawa. Sayang, sedikit kesalahan teknis menyebabkan dokumentasi kami di perjalanan Welirang total tak berbekas untuk dipamerkan ke teman-teman yang lain di base camp.

Selamat pagi kawan-kawan…sepertinya semua telah memulihkan tenaga dan tak ada alasan untuk tidak muncak bersama ke Arjuno hari ini, setelah kemarin hanya setengah dari rombongan yang menuju Welirang. Setelah ritual pagi berakhir, sarapan pagi bersama, tim yang lebih besar berangkat menuju Lembah Kidang untuk menuju puncak Arjuno di arah barat daya dari base camp kami. Cuaca cerah, terbilang cukup siang perjalanan ini kami awali, seperti kebiasaanku dan BY biasanya yang namanya summit attack pastilah selepas tengah malam saat tenaga pasti sangat cukup ketika mata baru melek menjelang pagi dan dapat menangkap moment sunrise dari puncak.

Tak mengapa, tim baru, awal perjalanan yang baru, aku ikuti dengan segala perasaan gembira, bisa kembali berbincang bersama hutan pinus dan segarnya hawa pegunungan, meski dengan satu kebiasaan aneh dan tak pantas ditiru. Mendaki pake sendal jepit, halaahhh…

Lembah Kidang berupa tanah lapang yang menurut cerita pernah dijadikan tempat menyepi para none Belanda dan keluarganya untuk kepentingan penelitian maupun berlibur. Terdapat beberapa bekas pondasi bangunan yang terlihat di beberapa sudut. Dinamakan Lembah Kidang karena pada musim penghujan area ini akan menjadi laguna kecil di tengah ilalang dan hutan pinus yang akan dikunjungi para kijang dan penghuni hutan lainnya untuk merumput dan memperoleh air.

Selepas Lembah Kidang, jalur Arjuno mulai menampakkan karakteristiknya. Jalur berbatu dan tebing berada di depan mata diselingi beberapa pepohonan pinus dan perdu yang mulai jarang, hingga tiba di batas vegetasi ditandai dengan sebuah batu besar yang biasa disebut gerbang menuju jalur Pasar Setan oleh teman-teman pendaki di Jawa. Sejenak beristirahat untuk kesekian kali di bawah batu besar yang bisa dijadikan bivak darurat, mengecek keadaan tim yang nampaknya masih ok punya untuk melanjutkan kembali perjalanan sedikit lagi.

5 jam berlalu, titik tiangulasi di 3.339 mdpl berhasil kami jejak bersama. Langit bersih sedikit terhiasi awan tipis mempercantik pemandangan dari atas sini. Bebatuan besar dan kawasan yang tidak begitu luas membuat cukup berdesak-desakan saat berfoto bersama. Moment keceriaan para pendaki pemula seperti aku dan beberapa calon anggota mapala kampus seperti tak pernah surut. Berbaur dengan para senior yang senantiasa sabar membagikan ilmu dan pengalaman hidupnya bagi kami semua. Terkadang cap dan penilaian negatif sering singgah pada mereka para pendaki dan mapala kampus yang kadang dipandang sebelah mata. Bagiku pribadi, mereka yang pernah merasakan pahit manisnya pengalaman mencapai puncak gunung dengan tujuan baik dan persiapan yang matang, pastilah bukan sekedar para penikmat tantangan yang ingin pamer otot dan cerita keberanian yang tak bertanggung jawab.

Sispala, mapala, siapapun mereka yang berani menamakan diri pencinta alam, sudah sepatutnya memiliki nurani, pikiran dan tindakan yang berpegang pada segala prinsip kecintaan pada lingkungan, tanah air, sesama dan kepada tuhan semesta alam. Meski hanya sedikit yang bisa kami tularkan kepada orang-orang sekitar kami akan kecintaan kami pada alam, harapan akan kecintaan dan terciptanya lingkungan yang tetap lestari bagi sesama selalu terpatri dalam jiwa kami.

Merupakan tujuan dari setiap perjalanan kami, meresapi apa yang harus kami lakukan sebagai manusia yang menikmati keindahan alam ini bagi lingkungan hidup. Belajarlah dari pengalaman hidup, yang kami andaikan bagai mendaki gunung.

Lelah, gembira, panas, sejuk, sunyi, riuh angin dan badai, semua kami rasakan sebagai pelajaran yang murni yang bisa kami peroleh dari sang Pencipta melalui alam semesta yang menakjubkan ini. Mari mendaki gunung dan sujud bakti padaNya.

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1309037683211.2048069.1148654626

4 comments on “Perkenalanku di Arjuno-Welirang

  1. Bintang Biru :)
    July 24, 2011

    Gunung pertama yang ku daki.. hiks.. masih cupuuu…. pake sendal jepi, tas ga jelas,. jaket seadanya,. bener2 pengalaman pertama dan pelajaran praktek naik gunung pertama,.😀

    • intenarsriani
      July 26, 2011

      yupp..samma…pendakian pertama d luar komunitasku, d luar pulau, bener-bener pengalaman pertama dah bersama kalian😀

  2. Nyoman Ginastra
    July 27, 2011

    lanjutkan mbok…

    • intenarsriani
      July 27, 2011

      lanjutkan…jalan-jalannya yg kurang ditambah utk bahan referensi :p
      (dan seminar cara menulis yg baik dan benar, wekekekee..makasi pak guruuuu…)

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 23, 2011 by in Analogi Gunung.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

July 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Analogi Kliks

  • 33,170 Analogiers
%d bloggers like this: