an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

bali AGA

Kebanyakan orang mengenal Bali dengan tari Legong, Pendet atau Baris yang senantiasa menjadi hiasan berbagai promo wisata bahkan menjadi icon Bali secara mendunia. Beragam tarian dan budaya yang melekat pada masyarakat Bali dan sangat dekat dengan unsur komersialitas, merupakan wajah Bali yang tercermin bagi siapa saja yang mengenal Bali secara umum.

Bali, merupakan wilayah yang telah dikhususkan sejak jaman Majapahit silam sebagai satu wilayah yang memiliki kekuatan budaya dan adat yang masih bertahan hingga saat ini. Dan hal itu pula berlanjut pada masa penjajahan, para penjajah telah jatuh cinta pada Bali dan membiarkan terus berkembangnya kebudayaan masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu untuk tetap berkembang.

Di balik semua itu, tak semua orang tahu bahwa Bali memiliki lebih dari itu keberagaman budayanya. Cobalah sekali waktu berkunjung ke Bali timur, ke pelosok Karangasem, Anda akan tercenung dengan beragamnya budaya masyarakat Bali Aga -Bali asli- yang masih bertahan hingga saat ini di tengah himpitan jaman.

Pergilah ke daerah-daerah sekitaran Tenganan yang sangat terkenal. Anda akan menemukan desa-desa tua lainnya seperti Asak, Timbrah, Bongaya, yang merupakan desa-desa yang bertetangga dan uniknya mereka memiliki budaya yang berbeda. Baik dari segi kepercayaan pada tata upacara mereka, pada bentuk-bentuk persembahan mereka, bahkan pada cara berpakaian mereka yang unik. Amazing, isn’t it…hanya berjarak beberapa kilometer, tercipta begitu rupa ragam budaya yang cantik dan berbeda satu sama lainnya.

Pertama kali bagiku untuk mengunjungi Asak, salah satu dari desa tua tersebut. Setelah sebelumnya mengenal Tenganan dengan Perang Pandannya yang ternyata aku tidak bisa menikmati atraksi budaya tersebut -ugh, ditengah ribuan orang yang berjubel mencoba menghasilkan gambar terbaik, aku merasa terhimpit dan tak tahan melihat aksi para pemuda Tenganan saat mereka bertarung dengan PANDAN berduri, aku malah limbung dibuatnya dan memilih menjauh dari kerumunan-

Hari ini desa Asak melaksanakan upacara Ngusaba, yaitu upacara tahunan yang berlangsung untuk merayakan beberapa peringatan-peringatan khusus di Pura Bale Agung, pura utama masyarakat Bali Aga. Bisa bertepatan dengan Purnama Sada, Kuningan, atau beberapa hari khusus menurut penanggalan Bali.

Mereka mengikuti upacara yang berbeda dengan Bali Daratan yang telah terpengaruh budaya Mpu Majapahit kala itu. Masyarakat Bali Aga masih bertahan dengan cara mereka sendiri, seperti tata cara mereka berbusana, menyusun sesajen “banten” untuk persembahan, dan alat musik tradisional mereka, Selonding, sangat khas dan berkarakter, penuh daya magis serta begitu menghanyutkan dalam kesederhanaannya.

Meskipun jauh dari jamahan modernitas karena letak geografisnya, masyarakat adat di sini sebenarnya juga tak kalah “melek” dengan desa lainnya yang bukan termasuk Bali Aga. Sebagian besar dari mereka bekerja, kuliah dan tinggal di kota besar. Hanya karena komitmen adat dan keyakinan pada warisan nenek moyang merekalah mereka masih bertahan hingga kini.

Yang aku kagumi dari masyarakat Bali Aga selain keunikan budaya mereka yang sangat eksotis, keramahan mereka sangat lekat, persaudaraan antara mereka terlihat begitu dekat, dan mereka welcome pada siapapun yang ingin belajar dan tahu mengenai budaya mereka.

Terpenting, momen upacara mereka tidak begitu banyak terganggu oleh fotografer-fotografer dadakan yang terkadang tak tahu diri mementingkan diri sendiri mengambil gambar dan tak mengacuhkan etika saat prosesi berlangsung -sigh…pengalaman pribadi, tentang etika memotret kembali terngiang, sangat menusuk…thanks for the lessons-

So, jika berkunjung ke Bali, jangan lupa kunjungi Bali Aga, Bali yang sebenarnya…

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 23, 2011 by in Analogi Gunung.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

July 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Analogi Kliks

  • 33,156 Analogiers
%d bloggers like this: