an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

alone traveller

Liputan di tivi tentang Green Canyon Pangandaran atau Cukang Taneuh sebutan masyarakat setempat, kembali membawa aku ke suatu hari yang akhirnya membawa aku benar-benar sebagai pejalan single😀

Yup…aku menuju Pangandaran dari Jogjakarta seorang diri untuk bertemu dengan kawan-kawan di acara kawinannya Ulil di Pangandaran. Awalnya aku berencana berangkat dengan Conny, cuma karena Dian yang sekiranya berangkat dari Jakarta bersama Iin batal bisa berangkat, alhasil Dian minta salah satu dari aku dan Conny untuk menemani dia dari Jakarta menuju Pangandaran. Hhh…Conny aku relakan terbang lagi ke Jakarta untuk menemani Dian, dan aku …tarraaaa…siap menuju Pangandaran seorang diri.

Berkutat berkali-kali dengan berbagai sumber informasi transportasi menuju Pangandaran, yang ternyata minim info. Padahal sebenarnya ada bus malam yang langsung menuju Pangandaran dari Jogja, sayangnya karena satu-satunya PO bus yang menuju kesana sedang ada kontrak kerja beberapa hari, maka layanan ke Pangandaran sementara tidak dilayani. Hadehhh… akhirnya aku berhasil menemukan travel yang menuju kota Cilacap sebelum harus mencari bus umum lagi yang menuju Pangandaran dengan segenap bantuan mas Priyo Akuntomo yang ikutan sibuk mengantar kesana kemari demi mengantarkan aku ketemu sama akses menuju Pangandaran.

********

Pagi itu, pukul 7.30 aku sudah bersiap di lobby hotel menunggu travel yang akan mengantarkan aku. Jam 8 aku berada dalam cabin L300 melintasi kota Kebumen, Purwokerto; sampai sekarang bayangan Mayang Sari selalu melintas di benak mengingat pengalamanku yang satu ini, haha…; kata pak supir yang ternyata menjadi satu-satunya teman seperjalananku sepanjang 4 jam ini hingga tiba di terminal kota Cilacap sebagai ujung perjalanan bersama travel.

Mengejar waktu yang sepertinya masih akan menyisakan perjalanan panjang untuk ditempuh, aku hanya menyempatkan diri cuci muka ke toilet terminal dan membeli minuman bekal perjalanan; walah…aku nda sempat makan siang karena nampaknya bus menuju Pangandaran sudah akan berangkat. Tanpa pikir panjang aku melompat masuk ke dalam bus yang sepintas aku lihat bertuliskan “Pangandaran” di kaca depan dan baru sempat memastikan kembali arah bus melaju saat sudah meninggalkan terminal, “dik, ini bus ke Pangandaran bukan?”.

Hehee…nekat bener dah, syukurnya aku tak salah jurusan. Mulai menikmati kesendirian di dalam bus. Menyimak setiap wajah yang memasuki bus kota yang tak ber-AC ini dan layaknya bus umum, ngetemnya berkali kali mengangkut penumpang yang didominasi anak-anak sekolah jam pulang jumat siang ini. Dalam hati mulai galau juga, alamat sore deh sampe Pangandaran, apalagi setelah ngobrol dengan beberapa orang penumpang menyampaiakan kalau Pangandaran berjarak 3-4 jam lagi. Gubrak…agen travel nda bener, katanya kmaren Jogja-Pangandaran ditempuh dalam waktu 4-5 jam saja…ini mah sudah 4 jam baru sampai Cilacap.

Akhirnya ditemani ipod (nda kurang heboh apa ya, bawa ipod sampe 2, satunya pinjeman, si item 80Gb dan si pinky punyaku) dan kamera handphone, mencoba menikmati perjalanan di tepi jendela bus berangin sepoi khas pesisir selatan Jawa. Melintasi jalur hutan jati, menikmati teriknya pemandangan di sisi selatan jalur, tiba-tiba mengingatkan perjalananku dahulu di daerah Bima-Sumbawa.

********

Satu jam. Dua jam. Masih belum ada tanda-tanda pak kenek bus menyebutkan kata Pangandaran. Duduk di seblahku seorang nenek yang memanggul keranjang anyaman berisi daun tembakau kering. Beliau berusaha mengobrol denganku, sayangnya bahasa yang digunakan bukan bahasa Jawa lagi namun sudah berubah antara Sunda dan Jawa Barat. Duuhhh…maaf Nek, aku berusaha mengertikan dan mencoba menjawab dalam bahasa Jawa, ternyata tak berhasil juga. Hahaa…alhasil ngobrol dengan ekspresi sama-sama bingung sementara si Nenek kekeuh mengajak aku mengobrol sampai tujuannya tiba. Di sebelahnya seorang kakek yang berumur juga menumpang sendiri. Aku perhatikan si kakek yang sepertinya menikmati waktunya dalam bus.

Perlahan bus mulai sepi penumpang, sepi dari para siswa yang pastinya super rame bercengkerama dan sesekali aku sadari mereka memperhatikan aku yang mungkin terlihat asing bagi mereka, hahaa… Badan mulai pegal nih kelamaan duduk dan mata mulai redup, namun sayang banget rasanya kalo dibawa tidur, disamping aku masih belum bisa mengukur waktu untuk sampai ke Pangandaran. Akhirnya kembali menikmati slide di ipod dan mendengarkan track hingga gerbang kota Pangandaran tertangkap mataku.

Tak berapa lama setelah melintasi kota Pangandaran yang khas sekali suasana kota pantainya yang tak terlalu besar, akhirnya aku sampai di terminal kota Pangandaran setelah 4 jam lagi perjalanan. Perut lapar adalah hal pertama yang aku catat, hehe… Menunggu Ulil datang menjemput, aku mengedarkan pandangan sekeliling terminal yang juga tak terlalu besar. Mencoba browsing tempat-tempat menarik yang ada di sekitar Pangandaran, dan semoga cukup waktu untuk menikmatinya berhubung tujuan ke sini menghadiri acara teman.

Ulil datang bersama keluarganya dari Bali yang kebetulan sore ini akan berkeliling menikmati Pangandaran. Asiiiikkkk….langsung jalan-jalan…namun tak lupa ngajak Ulil mampir beli camilan dulu, hehee… Kota pantai Pangandaran setelah diterjang tsunami sekitar 5 tahun lalu telah memulihkan diri meski di garis pantai bekas terjangan tsunami masih terlihat bangunan yang ditinggalkan tidak dibangun lagi. Menurut sopir yang mengantar kami, masyarakat memang sengaja tidak membangun kembali kawasan itu untuk mengenang kejadian itu. Masyarakat sedikit menggeser kawasan wisata ke timur garis pantai, berdiri banyak hotel dan penginapan yang cukup memadai yang kali ini full-booked oleh wisatawan terutamanya para peselancar. Jadi aku mau tidak mau akhirnya menginap di rumah keluarga calon suami Ulil.

Garis pantai yang panjang. Ombak bergulung tinggi, adalah ciri khas pantai selatan dan sudah pasti bersama mitos yang melegenda masih setia menjadi bagian dari cerita sopir kami sebagai pengantar sore yang kami nikmati di pantai Pangandaran ini. Hari pertama menikmati perjalanan seorang sendiri, menyenangkan juga.

********

Sedikit tips bagi yang ingin jalan sendiri,

– pastikan sudah memiliki informasi mengenai kota tujuan dan rute perjalanan menuju ke sana.

– akses transportasi yang cukup jelas atau setidaknya rajin bertanya pada orang yang tepat mengenai moda transportasi.

– bawa bekal teman di perjalanan, ipod, buku favorit, makana dan minuman ringan.

– percaya diri dan bisa jaga diri sendiri, seandainya bepergian sendiri, selalu tinggalkan contact dan info keberadaan kita pada orang terdekat; maklum…perempuan di tempat asing seorang diri perlu was-was juga, karenanya sikap PD dan supel harus selalu melekat pada diri kita.

– catatan kecil untuk modal menulis cerita perjalanan kita, heheee…

Yup…ingin mencobanya kembali lain kali, bepergian seorang diri dan menikmati perjalanan dengan diri sendiri. Ternyata tidak kalah mengasikkan dengan berjalan bersama beberapa orang. Selamat bertualang menikmati diri sendiri…🙂

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 7, 2011 by in Analogi Plesiran.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

July 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Analogi Kliks

  • 33,121 Analogiers
%d bloggers like this: