an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

menarilah bersamaku…

menari…menari sebenarnya secara harfiah, ternyata menjadi hal yang sangat menarik untuk aku lakukan. entahlah, apakah karena darah penari dari keluarga ibuku yang membuat aku menyukainya, lingkunganku semenjak kecil, atau karena memang aku yang hobi menari. yang jelas, setiap mendapat kesempatan bergabung dalam kegiatan ini entah di sekolah, di banjar, di rumah, di kampus, hingga kini di kantor aku selalu merasa sangat antusias untuk melakoninya.

menari…awalnya karena kesukaanku pada tari bali yang diwarisi dari ibuku -sepertinya-, sedari kecil selalu ikut diajak dengan tanteku yang notabene adalah pemilik kelompok kesenian yang kerap tampil di hotel layaknya beberapa kelompok tari di bali ini, teringat sekitar usiaku 4tahun aku pun akhirnya mulai ikut menirukan gerakan-gerakan tari yang dibawakan saat kelompok ini latihan di rumahku.

menari…demikian seterusnya aku mulai bergabung dengan sanggar yang sangat didukung oleh ibuku sampai pernah aku memiliki guru private untuk beberapa waktu untuk melatih kemampuanku menarikan tari klasik tunggal, yang dianggap ibuku tidak bisa aku dapatkan secara intensif di sanggar, haha…sedemikiannya ibuku ingin keahliannya menari menurun padaku. seperti halnya anak kecil kebanyakan, sempat pula aku merasa bosan dan mencari alasan saat jadwal latihanku tiba.

menari…membuatku pernah mencari sebuah liontin berbentuk “Siwa Natha Raja”, perlambang Siwa bertangan empat ketika menari mencipta alam semesta. sekian tahun aku mencari, mendatangi banyak tempat kerajinan perak, pameran kerajinan, bazaar pesta kesenian bali dan akhirnya ketika aku mulai melupakan untuk menemukan ornamen yang biasa berupa hiasan meja berukuran besar, lambang berupa gambar, aku malah menemukan liontin seperti keinginanku nun jauh dari bali. lombok. dengan latar cerita yang mungkin terlihat seperti di adegan film.

dilatari berbagai kejadian hingga saat sore itu aku berjalan-jalan kaki di kota lombok melewati beragam pertokoan, sayup-sayup aku dengar lantunan “lagu Siwa” dari ujung jalan. tak ada perasaan apa-apa dan sedikitpun tak terbersit mengenai keinginan mendapatkan “Siwa Menari” saat itu. ketika tepat berada di depan sumber nyanyian japam Siwa ini, yang ternyata toko seorang hinduis berwajah india, dengan toko berisi beragam ornamen Ganesha, Siwa dan banyak lagi, memajang “Siwa Natha Raja” di sudut utama toko ini. alhasil…tanpa pikir panjang kaki mendekat dan sudah ada di tengah toko, menemukan apa yang aku cari selama ini…liontin “Siwa Natha Raja”, dan tetap selalu menjadi favoritku hingga saat ini, melingkar di saat-saat aku sangat ingin meleburkan diri dalam mencari ketenangan dan penghibur jiwa.

menari…sejauh ini aku lebih sering membawakan tari bali, besar keinginanku menarikan tarian modern, tapi sepertinya jiwaku bukan di sana. sampai pada tahun pertama aku bekerja di kantorku sekarang, aku mendapat kesempatan bergabung untuk menarikan tarian kontemporer dan hal itu berlanjut hingga saat ini, di mana aku sangat antusias membawakan tarian “kidung putih” karya seorang maestro tari I Nyoman Sura.

Kidung Putih dan Sang Maestro

aku menyukai tarian garapan guru tariku kali ini, tanpa meninggalkan unsur bali, namun sangat halus dan kuat menggambarkan karakter tarian yang ingin disampaikan oleh Sura. menggambarkan tentang penciptaan unsur positif negatif, adam hawa, rwabhineda, yang dibawakan secara dinamis dan tak terlalu memakan waktu panjang, namun cukup ekspresif dan berkarakter sangat kuat. menyampaiakn makna bahwa kedua unsur yang saling berlawanan akan selalu mewarnai kehidupan di muka bumi, namun alangkah lebih kuat dan indah ketika kedua unsur ini bergabung menjadi satu menjadi harmoni.

mencari lebih dalam tentang Sura semakin membuatku bersemangat untuk membawakan tariannya, ternyata guruku bukan sembarang koreografer, haha… terima kasih BNI, aku mendapat kesempatan belajar menari dari seorang maestro…

menari…ya menarilah bersamaku, dalam setiap waktu dan sepanjang perjalananku, menari akan tetap lekat pada diriku. meskipun aku bukan ahli dalam menari, tapi aku menyukainya, aku menikmatinya dan aku ingin terus menari… terus dan tetaplah menari bersamaku…penghibur jiwaku..

~foto: @http://baliartguide.com/index.php?option=com_content&view=article&id=59&Itemid=66~

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 16, 2011 by in Analogi Plesiran.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

April 2011
M T W T F S S
« Mar   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Analogi Kliks

  • 33,170 Analogiers
%d bloggers like this: