an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

hening…

Hari ini yang bisa kita dengar hanya suara kokok ayam, desir angin diantara pepohonan di kebun belakang, sesekali ditimpali oleh kicau burung tekukur yang sepertinya bertengger di pucuk pohon kelapa.

Hening tiba saatnya kali ini, memberikan kesempatan pada bumi dan alam semesta untuk memulihkan diri, menenangkan diri, berlaku selayakna alam semesta menjalankan fungsinya. Memurnikan udara, menjalankan siklus.

Manusia dan seluruh makhluk hidup pun sepertinya memiliki waktunya menjadi unsur-unsur murninya kembali. Sejenak berhenti dari aktivitas dan ketegangan saraf yang menuntut pemenuhan setiap sudut kehidupan, kecuali di hari ini, kita semua silakan menikmati sunyinya alam manusia, silakan mendengarkan alam yang berbincang.

Nyepi, bentuk umat Hindu Bali merayakan tahun baru Caka. Berbeda memang dengan perayaan penyambutan tahun baru di lain tempat, namun tidak mengurangi makna dari pensyukuran datangnya sang hari baru. Hari ini masyarakat Hindu di Bali dan Nusantara di beberapa tempat melakukan evaluasi diri, memohon agar sepanjang tahun ke depan, senantiasa dalam keadaan mawas diri dan bersyukur atas seluruh anugerah yang diterima.

Mengekang segala hawa nafsu yang dapat membutakan perjalanan manusia ke depan, diwujudkan dari berbagai simbolisasi perilaku dalam pelaksanaan Nyepi. Para leluhur kami umat Hindu di Bali meyakini segala nilai yang terkandung di dalam setiap perilaku dan tradisi budaya yang ada, akan menjadi penuntun dalam mengisi hari-hari sepanjang kehidupan kami di dunia. Salah satu tradisi budaya yang sampai sekarang masih dipegang erat oleh umat hindu adalah Catur Brata Penyepian, selalu dihikmahi turun temurun sebagai momen perayaan tahun baru bagi umat Hindu.

Catur Brata Penyepian merangkum empat tapa brata yang dapat dilakukan oleh siapa saja, bertujuan untuk mengembalikan manusia dan alam semesta ke kondisi semula, memurnikan unsur-unsur dalam diri, mengekang keinginan yang bersifat tamak dan loba, sehingga manusia bisa selalu menjaga harmoni dalam kehidupannya.

Amati Geni, berarti tidak melibatkan api, cahaya, dalam satu hari perayaan Nyepi. Bermakna agar setiap manusia mengekang hawa nafsu yang bersifat membakar, seperti amarah, dengki, iri serta memaknai bahwa manusia juga harus mampu mengendalikan dan mawas diri dalam keadaan gelap dan kegelapan.

Amati Karya, satu hari ini, manusia diberikan waktu untuk benar-benar berhenti dari rutinitas, membiarkan sel tubuh beregenerasi dalam keadaan beristirahat total. Membiarkan alam semesta tidak terganggu oleh aktivitas manusia.

Amati Lelungan yang mengatur agar manusia sehari ini saja untuk tidak bepergian, bertujuan untuk mengekang keinginan untuk bersosialisasi, mencoba menjadi diri sendiri agar lebih mengenal diri dan pencipta dalam diamnya badan.

Yang keempat Amati Lelanguan, yang merupakan brata yang semakin hari semakin sulit untuk dilaksanakan. Dalam perkembangan teknologi dan modernitas yang mencekoki manusia dengan segala fasilitas serta kemudahan hiburan dan komunikasi, Amati Lelanguan, tidak menghibur diri baik dengan material yang menghibur diri, memberi kesenangan pada diri, menghindarkan diri dari keinginan terhibur oleh hiburan, pikiran dan segenap panca indera. Jika tidak dengan adanya komitmen akan arti pelaksanaan Brata Penyepian ini, brata yang keempat ini yang akan menjadi ujian terberat dalam setiap kesempatan Nyepi.

Dewasa ini jika kita perhatikan, pelaksanaan brata Penyepian semakin hari nampak semakin teratur dan terorganisir. Setiap wilayah banjar dan desa menerapkan sistem Pecalang yang menjaga ketertiban pelaksanaan Nyepi. Sekarang berpulang pada pelaksanaan brata dalam diri sendiri saja, yang bukan orang lain yang tahu, tapi antara kita dan Sang Pencipta Unsur.

Sehari setelah berada dalam konsep hening dan perenungan, keesokan harinya manusia akan kembali pada keriuhan dunia dan aktivitasnya masing-masing, mengisi hidup, memaknai kehidupan. Diawali dengan Ngembak Geni saat matahari menyingsing, umat membersihkan diri, menghaturkan syukur atas anugerah karena kita telah ada di tahun yang baru. Ditandai dengan kembali boleh menyalakan api, melakukan kegiatan seperti biasa, bersosialisasi dan saling berkunjung ke saudara handai taulan, kembali menghibur diri dengan berwisata dan kembali ke dunia nyata yang penuh aktivitas.

Nyepi, memberi makna begitu dalam, dicetuskan oleh leluhur dalam tradisi budaya dengan begitu arif, menyiratkan makna bagaimana seharusnya manusia berharmoni dan bertoleransi dengan diri, dengan sekitar dan dengan Sang Maha Sumber Kehidupan.

 

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 8, 2011 by in Warna-Warni Analogi.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

March 2011
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Analogi Kliks

  • 33,156 Analogiers
%d bloggers like this: