an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Kedatangan Sang Hari Baru, iCaka 1933

Segala ceria dan suka cita, kemeriahan, kegembiraan dan semangat memenuhi segala sudut-sudut penjuru pulau Bali. Seperti halnya keceriaan di mana-mana ketika menyambut datangnya sang hari baru di tahun baru, hari ini masyarakat Hindu Bali larut dalam kekhusyukan menyambut datangnya tahun Caka 1933, berbalut kemeriahan dalam persiapan merayakan pergantian tahun.

Seperti kita ketahui bahwa umat Hindu di Indonesia memiliki satu hari raya nasional yang secara khusus dirayakan oleh umat Hindu di Bali masih seperti tradisi terdahulu sejak dicetuskannya tahun Caka pada tahun 78 Masehi. Masyarakat Hindu Bali menyebut pergantian tahun ini sebagai hari raya Nyepi.

Hindu memiliki pemahaman universal, mewujudkan segala ritual keagamaan maupun cara pemujaan kepada Yang Esa dengan melakukan pembauran budaya. Salah satunya adalah perayaan Nyepi ini.

Disebutkan bahwa agama Hindu berasal dari lembah sungai Sindhu si India, ternyata di India sendiri secara umum mulai tidak dikenal perayaan Nyepi ini.

Namun, sesungguhnya Nyepi sendiri berasal dari sejarah adanya suku bangsa Saka, yang bisa di simak dari kutipan artikel mengenai Sejarah Tahun Baru Saka dari situs online PHDI. (http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1097&Itemid=71)

“Kita semua tahu bahwa agama Hindu berasal dari India dengan kitab sucinya Weda. Di awal abad masehi bahkan sebelumnya, Negeri India dan wilayah sekitarnya digambarkan selalu mengalami krisis dan konflik sosial berkepanjangan.

Pertikaian antar suku-suku bangsa, seperti Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya, menang dan kalah silih berganti. Gelombang perebutan kekuasaan antar suku menyebabkan terombang-ambingnya kehidupan beragama itu. Pola pembinaan kehidupan beragama menjadi beragam, baik karena kepengikutan umat terhadap kelompok-kelompok suku bangsa, maupun karena adanya penafsiran yang saling berbeda terhadap ajaran yang diyakini.

Dan pertikaian yang panjang pada akhirnya suku Saka menjadi pemenang dibawah pimpinan Raja Kaniskha I yang dinobatkan menjadi Raja dan turunan Saka
tanggal 1 (satu hari sesudah tilem) bulan 1 (caitramasa) tahun 01 Saka, pada bulan Maret tahun 78 masehi.

Dari sini dapat diketahui bahwa peringatan pergantian tarikh Saka adalah hari keberhasilan kepemimpinan Raja Kaniskha I menyatukan bangsa yang tadinya bertikai dengan paham keagamaan yang saling berbeda.

Sejak tahun 78 Masehi itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun Saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut Caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tarikh Masehi dan Sasih Kesanga dalam tarikh Jawa dan Bali di Indonesia. Sejak itu pula kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama di India ditata ulang.

Oleh karena itu peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional. Keberhasilan ini disebar-luaskan keseluruh daratan India dan Asia lainnya bahkan sampal ke Indonesia.”

Kembali ke perayaan penyambutan tahun baru Caka yang jatuh pada hari Jumat, 4 Maret 2011, seluruh aktivitas warga di Bali terkonsentrasi pada tempat-tempat suci di masing-masing desa. Sementara tahun baru Caka sendiri jatuh pada esok harinya.

Menurut penanggalan Hindu Bali, tahun baru Caka akan dirayakan sehari setelah jatuhnya Tilem Kesanga, yaitu bulan mati ke sembilan menurut penanggalan Hindu Bali, di saat hari ini masyarakat Hindu Bali mengadakan upacara Tawur Agung Kesanga yang bermakna pembersihan jagat raya dan juga individu.

Tatanan penyambutan tahun baru Caka dimulai sejak seminggu sebelum jatuhnya tahun Caka. Masyarakat akan melaksanakan ritual Melasti, yaitu pembersihan ke laut maupun mata air lainnya. Pembersihan ini dilakukan pada semua Pratima dan tapakan-tapakan; perlengkapan simbol-simbol upacara seperti barong, dan lainnya yang merupakan visualisasi dari keragaman bentuk pemujaan terhadap Tuhan yang diyakini oleh umat Hindu. Tak terkecuali seluruh umat pun menyempatkan diri ikut serta pada ritual ini untuk memperoleh pembersihan diri, sebagai simbol penyucian diri, jiwa dan raga sebelum memasuki tahun Caka nantinya.

Hari ini diadakan Tawur Kesanga merupakan serangkaian upacara penyucian alam semesta dengan bebantenan; upakara; yang biasanya diadakan di perempatan jalan utama desa maupun kota yang biasa disebut dengan Catus Pata, karena diyakini bahwa di areal ini segala energi dari penjuru arah angin bertemu dan menjadikannya suci, serta sekaligus menjadi tempat yang paling tepat untuk menyebarkan segala penyucian ke penjuru desa.

Seluruh warga akan tumpah ruah melakukan persembahyangan di pura utama atau Pura Desa, tempat seluruh pratima di desa berkumpul selama pelaksanaan Melasti hingga Tawur Kesanga. Menjelang petang merupakan saat yang dinanti, karena akan berlangsung acara terakhir serangkaian dengan penyambutan Nyepi. Pawai ogoh-ogoh; boneka raksasa simbolisasi sifat-sifat manusia; akan diarak keliling desa dalam upacara Ngerupuk.

Ngerupuk sendiri juga bermakna sebagai pembersihan, pengembalian unsur-unsur ke sifat asalnya, menetralisir segala energi-energi negatif agar menjadi energi positif yang berguna bagi kehidupan. Itu mengapa ogoh-ogoh kebanyakan disimbolkan dalam rupa seram, simbol Bhuta Kala, untuk menyadarkan manusia bahwa dalam diri ada sifat-sifat seperti itu, dan diharapkan sebelum memasuki tahun Caka yang baru manusia dapat menyadarkan dirinya. Simbol-simbol sifat dewa atau kebajikan juga kadang ditampilkan dalam sosok ogoh-ogoh, ini juga guna menyadarkan manusia bahwa ada sifat dewa dalam dirinya karena manusia adalah bagian dari Tuhan itu sendiri. Dalam jaman modern sekarang ini, ogoh-ogoh juga dapat menjadi sarana sosialisasi pada masyarakat, dengan adanya ogoh-ogoh yang sedemikian rupa diwujudkan seperti peran-peran kehidupan manusia jaman sekarang guna mengingatkan bahwa manusia berada di dunia yang penuh dengan sisi-sisi kegelapan. Contohnya ada ogoh-ogoh Gayus, karena dalam kehidupan bermasyarakat, Gayus merupakan contoh simbol pengaruh kegelapan yang membuat manusia terjerumus dalam kehidupan yang buruk.

Pengerupukan dilaksanakan di rumah masing-masing dilanjutkan dengan keliling desa, selain memaknai segala simbol-simbol keagamaan, acara Ngerupuk juga sarat dengan pendidikan tentang tradisi bermasyarakat. Estafet tradisi-tradisi Bali, kaderisasi generasi muda, ajang bersosialisasi dan merekatkan hubungan dalam bermasyarakat karena seperti kita ketahui, Bali sebagai pemegang tradisi yang kuat juga kerap harus tertatih menjaga keutuhan budayanya di tengah desakan jaman.

Melihat semangat warga terutamanya para anak-anak muda, bahkan yang masih TK pun larut dalam kegembiraan mengarak ogoh-ogoh, membuat seluruh energi tradisi dan budaya terakumulasi dalam acara Ngerupuk kali ini. Tanpa banyak disadari sebenarnya estafet kebudayaan dan tradisi telah dilakukan di sini. Pengalihan tanggung jawab dari tangan para tetua ke generasi muda dimulai di sini. Anak-anak dikenalkan sejak dini untuk mengenal lingkungan bermasyarakat, mengenal tradisi-tradisi Bali, dan terpenting adalah anak-anak ditanamkan nilai-nilai dari budaya dan tradisi tersebut.

Keceriaan anak-anak dan muda mudi lebur hingga larut malam. Perhelatan Ngerupuk dalam pawai ogoh-ogoh sekaligus menjadi hal yang dinanti-nanti, bakat-bakat diasah, menari, memainkan gamelan, semua berbaur menjadi satu. Yang tak memiliki bakat pun cukup menjadi penggembira dan pengagum para pemilik bakat yang sudah barang tentu menjadi semangat tersendiri dalam persiapan pawai ogoh-ogoh.

Tak terasa malam semakin larut, semakin meleburkan suasana dalam kegelapan pikiran yang harus segera disingkirkan dari perjalanan kehidupan kita. Ogoh-ogoh pun harus kembali ke banjar masing-masing untuk selanjutnya dilakukan prosesi Pralina; peleburan kekotoran, pemusnahan untuk kembali memunculkan cikal bakal yang murni; yang lagi-lagi merupakan simbolisasi peleburan sifat-sifat gelap dalam diri manusia dan semesta.

Dengan harapan sifat-sifat tersebut tidak menyulitkan langkah-langkah umat menjalani waktu dalam masa setahun ke depan. Ogoh-ogoh biasanya dibakar malam ini juga, namun mengingat perjuangan dan biaya yang dikelurkan terkadang tak sedikit, maka ogoh-ogoh dijual kembali sebagai atribut penambah atraksi wisata di tempat-tempat wisata di Bali, hotel, dan mungkin hanya sekedar dipajang di balai banjar masing-masing untuk tetap menjadi bahan edukasi bagi masyarakat terutamanya anak-anak yang akan selalu senang dengan adanya ogoh-ogoh ini serta mengingatkan mereka bahwa kelak mereka pun memiliki pilihan dan tugas untuk tetap melanjutkan tradisi-tradisi budaya yang sarat makna ini.

Segala prosesi pembersihan Bhuana Agung dan Bhuana Alit; alam semesta dan diri individu; telah dilalui. Memasuki pergantian hari menjelang mentari pertama di tahun Caka, dengan jiwa yang murni, pikiran yang suci, dan raga yang bersih. Biarlah alam memurnikan dan memulihkan dirinya sendiri. Biarkan semesta tiba pada saatnya harus menyepi dan menumbuhkan benih-benih murninya kembali.

Dengan segala harapan dalam perenungan Nyepi esok hari, manusia dan alam dapat saling mengerti tugas dan fungsinya masing-masing untuk saling mengisi, berbagi, dan menjaga. Kesungguhan dalam menyepi, sendiri lepas sejenak dari hiruk pikuk kehidupan, melihat lebih jauh ke dalam diri, semoga seluruh makhluk hidup dilimpahi kedamaian dalam harmoni semesta yang sangat indah untuk disadari.

Selamat Tahun Baru Caka, selamat menjalani Catur Brata Penyepian. Damai di hati, damai di alam semesta, damai selalu dalam kuasaNYa…

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 5, 2011 by in Warna-Warni Analogi.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

March 2011
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Analogi Kliks

  • 33,170 Analogiers
%d bloggers like this: