an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Let’s Act Sceptically!!

Apa yang ada dalam pikiran Anda saat pertama kali membaca judul dari tulisan ini?

Ya, terkadang dalam keseharian kita tanpa sadar kita sering menyelipkan aksi ini dalam pikiran kita. Bisa dalam rumah tangga, pertemanan, apalagi di kantor, terkadang rasa ketidakpuasan yang timbul memicu adanya sikap mencurigai apa yang ada di sekitar kita. Pikiran-pikiran skeptis masuk dalam kategori energi negatif yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku kita sepanjang hari di mana kita memunculkannya dalam pikiran kita. Untuk itu, berhati-hatilah jika Black Evil kita mengajak kita memantik kata ini muncul di kepala.

Kita tidak pernah tahu kapan kita akan memunculkan kata ini dalam kepala, sebenarnya hal itu dapat diantisipasi dan dicegah bila kita mau menyadari bahwa segala sikap curiga akan menguras tenaga dan pikiran. Sikap-sikap skeptis seringnya menimbulkan penghalang pikiran positif kita dan kita pun akan melindungi diri dari kritik yang datang pada diri kita hingga akhirnya terkesan tidak mau menerima kritik. Tentu ini tidak baik untuk kita yang bekerja di kantor bersama banyak rekan kerja.

Banyak hal yang dapat memicu sikap-sikap dan pikiran skeptis dalam kehidupan perkantoran. Mulai dari rekan kerja yang kita anggap tidak memberikan performa terbaik sesuai standar yang kita ketahui bersama dalam melakukan tugas-tugasnya, melihat seorang rekan kerja yang sepertinya tidak melakukan sesuatu yang hebat namun menerima penghargaan melebihi yang lainnya (aha…bener-bener contoh sikap dan pikiran skeptis yang sering muncul di antara rekan kerja, hehe…).

Apalagi saat manajemen mengeluarkan suatu kebijakan yang membuat tugas-tugas kita bertambah, menuntut lebih banyak peningkatan kualitas waktu, menyita pikiran untuk menemukan solusi-solusi terbaik dalam setiap tugas dan kita dituntut lebih banyak belajar. Sementara selama ini kita merasa telah melakukan tugas dengan usaha terbaik kita, mengikuti segala ketentuan yang ada, berpartisipasi dalam setiap kebijakan yang diterbitkan yang pastinya berorientasi untuk meningkatkan keuntungan perusahaan dan perbaikan guna kesejahteraan pekerja.

Lebih parahnya lagi, kita tidak saja bersikap dan berpikiran skeptis pada ketentuan yang kita anggap menyusahkan kita. Seringnya kita menunjukkan sikap skeptis pada orang yang menyampaikan kebijakan-kebijakan perusahaan, dan kita langsung mencap orang itu sebagai orang yang menyusahkan hidup kita sebagai pekerja; haha…ada-ada saja, biasanya sih si bos yang kita cap begini atau unit yang mengeluarkan kebijakan.

Ketika seseorang menutup diri pada perubahan lingkungan di sekitarnya; sementara orang lain berusaha sekuat tenaga menyamakan langkah dengan akselerasi yang ada; tanpa sadar mereka telah menimbun bibit-bibit sikap skeptis yang suatu hari bisa menjadi akut. Mereka akan menjadi seseorang atau kelompok orang yang selalu mengkritisi sesuatu dalam arti sempit, sementara mereka tidak sadar bahwa orang lain  telah membuka mata dan pikiran pada dunia yang lebih luas. Terkesan jika kita berada di posisi kelompok orang tersebut sebagai orang-orang yang tidak memiliki keinginan untuk maju dan berkembang, merasa telah melakukan semua hal yang paling baik sementara pada kenyataannya semua orang tahu bahwa yang mereka lakukan selama ini lebih kepada kepentingan mereka sendiri tanpa mengindahkan keadaan di sekitarnya.

Kelompok orang-orang yang ada di dalamnya cenderung akan menunjukkan sikap self defense yang tinggi, memandang orang lain melakukan hal-hal yang tidak benar, menilai orang lain tidak memiliki kemampuan yang layak dan selalu menumpuk pikiran-pikiran yang buruk pada perubahan yang ada. Parahnya lagi jika orang-orang ini merasa tersaingi ketika ada orang lain yang ternyata memiliki ide atau kemampuan yang lebih dan diakui oleh banyak orang di lingkungan mereka. Kecenderungan yang akan terjadi, kelompok orang-orang ini akan mulai menebarkan benih-benih skeptis ke lingkungan mereka untuk mendapat dukungan dan tak jarang berkedok sebagai pembela kelompok minoritas demi meraih dukungan akan keberadaan sikap mereka.

Mengapa tidak kita coba melakukan sesuatu dengan memandangnya sebagai suatu alat pembelajaran yang akan memperkaya diri? Mencoba melihat hal-hal baru yang muncul sebagai sudut pandang yang baru dan memberi keluasan cara berpikir sehingga kita tidak perlu repot-repot menguras pikiran hanya untuk berkutat dalam prasangka yang sebenarnya mungkin tidak perlu ada. Belajar menerima kritik sebagai masukan untuk perbaikan diri dan kepentingan bersama di lingkungan kerja. Menghargai keberadaan orang lain yang pastinya memiliki tugas-tugasnya sendiri untuk kelancaran dan keberhasilan kelompok dalam skala yang lebih luas.

Mengkritisi sesuatu tidaklah keliru. Asalkan dilandasi oleh data-data yang valid, bagaimana cara kita menyampaikan kritik tersebut dan tentu saja kesiapan memberikan saran demi perbaikan hal yang kita kritisi. Jangan sampai ketika kita mengkritisi sesuatu lebih karena sikap apatis yang kita miliki dan kritik muncul hanya karena emosi sesaat yang dapat menjadi bumerang menyerang balik ke arah kita. Bukankah kita yang mengkritisi sesuatu tidak mau dinilai oleh orang yang kita kritisi sebagai kritikus yang asal omong? Kenapa tidak kita menjadi kritikus yang memang berkualitas memberikan saran dan masukan sehingga apa dan siapapun yang kita kritisi bisa menerima manfaat dari yang kita berikan. Dan kita pun tak percuma melontarkan pendapat guna perbaikan kita bersama. Dan terpenting, jadilah siap saat menerima masukan dan kritikan balik.

Let’s act sceptically, in right way…in good purpose and positive attitude.

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 23, 2011 by in Analogi Aku Yang Lain, BNI 46.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

February 2011
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  

Analogi Kliks

  • 33,121 Analogiers
%d bloggers like this: