an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Belajar Berbicara

Hari ini bermaksud bisa banyak melakukan kegiatan, di rumah maunya ikut ke Besakih acara sembahyang, atau karena nda jadi bisa ikutan ke pura karena ternyata smalam badan meriang dan pagi-pagi pilek berat, maunya bantu-bantu di rumah saja. Yah…semua baru maunya, hehe…

By the way, pelajaran hari ini didapat saat baru saja nonton interview eksklusif Desi Anwar di Metrotv, Face 2 Face dengan pakar dan pelatih komunikasi dunia yang diberi penghargaan sebagai “The Master of Charisma” oleh Sunday Time of London pada 2006, namanya Richard Greene. Ternyata acaranya ini acara inspiring people-nya BNI, hmm..beberapa bulan lalu BNI ngedatengin Richard Branson, sekarang Richard Green, ada apa dengan Richard dan BNI :p

Okay…kok nggak sampe-sampe ke  inti tulisannya. Menjadi seorang pembicara di depan publik ternyata bisa dilakukan oleh siapa saja. Berbicara di depan publik adalah keahlian setiap orang yang hanya perlu ditampilkan dan diasah. Seorang pembicara di depan umum hanya perlu menjadi dirinya sendiri, hanya perlu berkomunikasi dengan pendengarnya sebagai orang biasa, hanya perlu menjadi otentik, asli, dan menjadi diri sendiri. Hanya “hanya”.

Richard Greene adalah  seorang pelatih teknik berbicara dan komunikasi tingkat dunia, merupakan tokoh yang sangat sering mewawancarai orang-orang hebat dunia bahkan melatih mereka berbicara di depan umum, seperti contohnya Putri Diana.

Greene banyak melakukan pelatihan-pelatihan pada perusahaan dan organisasi dunia seperti The United Nations, The World Health Organization, The U.S. Chamber of Commerce, The Young Presidents Organization, konferensi Circuit Court of Appeals Judicial ke-4, The House of Lords, dan macam perusahaan seperti Merrill Lynch, Goldman Sachs, Sandia National Laboratories, Kirkland & Ellis, KLM Airlines, NBC, ESPN, The Hollywood Reporter, Sheraton Hotels dan The Walt Disney Company.

Menjaga kedekatan dengan pendengar sangat penting untuk tetap mendapatkan perhatian pendengar dan untuk memastikan bahwa pesan yang disampaikan tepat. Pidato yang hebat jika disampaikan oleh orang yang hebat dan tepat, akan berdampak sangat efektif. Namun ternyata hal itu tak selamanya benar, contohnya pada era komunis, kemampuan sebagai seorang pembicara hebat disalahgunakan. Richard Greene ini memfavoritkan 2 orang dalam hidupnya sebagai pembicara. Yang pertama rupanya Albert Einstein. Ketertarikan Greene lebih pada isi pembicaraan Einstein, mengingat beliau adalah seorang penemu hebat di dunia fisika bahkan peraih nobel ilmu pengetahuan, membuatnya dikenal dan dianggap sebagai seseorang yang “sedikit” berbicara namun ternyata Einstein termasuk sebagai seseorang yang memiliki kemampuan berbicara di depan umum yang handal dengan isi pembicaraan yang hebat pula. Yang kedua adalah seseorang yang bertolak belakang dengan Einstein, yaitu Martin Luther King, Greene mengakui cara bicara King yang penuh pesona dan kharismatik juga berapi-api akan membius siapa saja yang mendengarnya, sangat berpengaruh pada gaya Green berbicara.

Presiden kita, pak SBY, ternyata pernah juga menjadi “murid” Greene yang sekelas Obama. Greene mengakui bahwa presiden kita memiliki kemampuan berbicara yang sangat baik. Beliau memiliki kemampuan memilih penggunaan kata, gaya bahasa, cara merangkum topik pembicaraan dengan cukup baik di mata Greene. SBY dinilai sebagai sosok tipe pembicara yang jujur, menjadi dirinya sendiri, rendah hati dan sangat memperhatikan pendengarnya.

Greene juga mengatakan dalam wawancara singkatnya itu  bahwa siapa saja dapat menjadi pembicara di muka umum. Sebenarnya 93% keberhasilan pembicara di depan umum adalah sikap pembicara yang menunjukkan dirinya yang tulus dan jujur apa adanya, yang dapat menempatkan simpati, menjadi pemerhati dan  pendengar yang baik (ternyata berbicara merupakan salah satu jalan untuk belajar mendengarkan orang lain) bagi pendengarnya, sisanya adalah isi dari pembicaraan.

Inilah hal yang membedakan dan membuat Greene menjadi pelatih para pembicara dunia sekelas presiden Amerika Serikat, yaitu kemampuannya menangkap bahasa tubuh para pendengarnya dan sebaliknya, Greene mampu berbicara dengan “body languages”nya sehingga para pendengar Greene begitu terpikat oleh cara Greene berbicara dan pesan yng disampaikan oleh Greene dapat diterima dengan baik oleh pendengarnya.

Nah, kemampuan berbicara di depan umum dapat diasah dan dilatih sehingga tidak ada kata malu-malu atau segan saat kita ingin mengemukakan pendapat kita di depan orang lain. Kita hanya perlu sedikit usaha untuk melatih teknis dan mengetahui dasar-dasar cara berbicara yang baik di depan umum. Cukup menyimak siapa saja yang sedang berbicara di depan umum, memetik pelajaran yang baik untuk diterapkan saat kita berbicara di depan umum, membaca-baca jurnal mengenai komunikasi dan tentu saja menambah pengetahuan diri.

Berbicara di depan umum sebenarnya tak lebih dari sekedar bercakap-cakap dengan dua orang atau lebih. Latihlah diri senantiasa untuk berani tampil dengan pendapat dan pernyataan kita di depan umum sehingga mendorong kemampuan kita untuk berbicara di depan umum menjadi lebih baik.

Just visit http://www.richardgreene.org/

29 Januari 2011

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 19, 2011 by in Analogi Aku Yang Lain, BNI 46.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

February 2011
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  

Analogi Kliks

  • 33,121 Analogiers
%d bloggers like this: