an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

My Soul Belongs to Mountain

Terpantik oleh sebuah puisi seorang teman jauh yang menceritakan tentang kerinduannya yang di datangkan oleh sang malam di Mandala Wangi, kembali membawa saya kembali ke masa-masa di mana saya sangat begitu tergila-gila dengan yang namanya gunung.

Saya selalu punya rencana perjalanan dalam satu tahun berjalan sehingga pada tahun 2004 untuk pertama kalinya saya kembali secara tidak sengaja menumbuhkan kecintaan saya pada gunung. Saya mendaki 4 rute pendakian gunung baru dalam kurun 3 bulan di Jawa Timur dan Sumbawa yang memiliki ketinggian di atas 3.000 mdpl, serta lebih dari 3 kali pendakian di gunung Batur di Bali.

Ah, kadang tak menyangka juga, saya yang sakit-sakitan sedari kecil bisa menjadi pendaki, yang dengan sangat haru sebutan itu dimunculkan oleh orang-orang nun jauh di ujung timur NTB pada pendakian saya yang pertama di kawasan timur Indonesia.

Semangat dalam setiap perjalanan dalam pendakian begitu lekat dalam benak saya. Bagaimana rasanya menentukan tujuan pendakian, mencari informasi sebanyak-banyaknya, membentuk tim, membuat manajemen perjalanan (di mana sebagian besar perjalanan tim saya, saya adalah manajer tim untuk urusan itinerary, hehehee..) hingga pada hari eksekusi untuk pendakian saya selalu merasa bergairah. Jantung tak henti berdegup rancak membuat senyum sumringah senantiasa menghiasi wajah saya sepanjang kisah ini dimulai.

Pendakian memberikan saya begitu banyak pengalaman dan pelajaran dalam hidup saya. Menjalani kehidupan pun saya ibaratkan mendaki gunung. Ada saat kita berencana mendaki gunung, mempersiapkan diri kemudian memulai perjalanan perlahan, menanjak melandai, menemui jurang terjal pohon tumbang menghalangi jalan, hingga saat-saat di mana terbangun tengah malam melawan dinginnya udara gunung dan sesaknya nafas karena ketinggian untuk mencapai puncak.

Perjalanan ke puncak selalu merupakan hal terpenting dalam perjalanan, karena misi kedatangan saya adalah untuk menuntaskan tujuan perjalanan ini dengan mencapai puncak. Tertatih, terseok bahkan terperosok tak jarang membahayakan jiwa dalam perjalanan ke puncak. Putus asa tak berkesudahan kadang membuat kita menjadi dengan mudahnya menyerah. Namun dengan semangat dari tim, cita-cita menyambut sang mentari pagi ini di puncak sana, membuat saya selalu menjadi kembali tegar dan melangkah mantap, sehingga belum satupun gunung yang saya daki gagal saya capai puncaknya.

Terbayarnya segala jerih payah begitu menjejakkan kaki di puncak gunung bukannya memberi saya kesombongan akan prestasi itu. Sering kali sesampainya di puncak perasaan kecil dan berbagai perenungan menghampiri. Sama halnya dalam hidup, bagi saya segala sesuatu yang telah sampai di puncak akan memberikan pandangan terluas yang bisa kita jangkau (kalo langitnya cerah, hehe..) memberikan kita pertanyaan baru, sejauh mana kita sudah menjelajahinya, sejauh mana kita sudah mengenali sekitar kita.

Semoga kehidupan saya pun dapat saya jalani seperti halnya setelah pencapaian puncak-puncak dalam pendakian saya. Ketika saya harus kembali turun karena waktu yang sudah mengaturnya demikian, entah karena ancama gas beracun di puncak, kabut datang , angin gunung yang menerjang ataupun karena memang sudah kelamaan di atas maka kita harus segera sadar diri untuk segera turun. Saat-saat menuruni puncak selalu menjadi perasaan paling damai sepanjang pendakian. Kepuasan batin yang tak tergantikan dan kesadaran yang diperoleh dari pencapaian hari ini di ketinggian itu, betul-betul membuat saya menjadi kaya akan pengalaman jiwa.

Gunung, akan selalu menjadi tempat terbaik bagi saya untuk menemukan diri saya. Kesunyian puncaknya, keteduhan hutan-hutannya, nyanyian pinusnya, cerahnya langit biru dan mentari pagi hari yang hangat selalu mampu membuat saya merindu. Terlepas dari dinginnya udara malam dan kabut tebal serta angin kencang yang tak pernah mau tahu menerjang menghantam tubuh, membuat saya mengerti bagaimana untuk menumbuhkan rasa menghormati, menghargai, menerima dalam diri.

“My soul belongs to mountain”. Begitu mungkin tepatnya jika saya ditanya sejauh mana saya menyukai hobi saya yang satu ini. Saya benar-benar pernah merasa dekat sekali dengan gunung, merasa bisa berkomunikasi dengannya, merasakan bagaimana saya disentuh olehnya, bagaimana saya bisa begitu pasrahnya akan hidup saya, terlepas dari obsesi saya akan gunung.

Dua tahun berlalu, dan saya tak pernah lagi mencoba menjelajahi gunung-gunung tinggi itu. Rasa rindu ini membuncah. Begitu banyak cerita yang ingin saya bagi dengannya yang terkadang seperti tak kuasa saya kendalikan lagi, terasa meledak-ledak meski itu hanya beberapa saat berpapasan dengan gunung-gunung itu. Mereka seperti menyapa, mengajak saya kembali melebur di sana, menunggu saya menyegarkan jiwa saya kembali.

Semoga, dalam waktu dekat saya bisa kembali bercengkerama bersama kekasih lama saya ini, bercerita di pangkuan ibu Giri Putri, bersenda gurau bersama sahabat terdekat dari jiwa saya.

Semoga, perjalanan saya akan segera di mulai kembali…

2 comments on “My Soul Belongs to Mountain

  1. Fatma Vittitow
    February 28, 2011

    Uday…..wonderful job of this writing, when I am reading it, as if my soul were there. Sebelum aku baca artikelmu aku punya harapan lihat banyak foto2…….mungkin karena aku tahu kamu punya banyak foto2 bagus kali ya =)

    • intenarsriani
      February 28, 2011

      hahaa,,ya thankmba’rien… still in progress, wish to publish the photos soon🙂
      (maklum br blajar, msh baca-baca panduan blogna) :p

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 8, 2011 by in Analogi Aku Yang Lain, Other Side.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

January 2011
M T W T F S S
    Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Analogi Kliks

  • 33,156 Analogiers
%d bloggers like this: