an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Tengoklah, Ada Dia Dalam Kita

Momentum bagi setiap orang untuk melakukan perenungan dan pencarian ke dalam dirinya sendiri akan menjadi berbeda pada setiap peristiwa yang dialaminya, ketika adanya suatu kesempatan dan kesadaran atau bahkan terkadang karena keterpaksaan.

Siwaratri, merupakan satu moment yang menjadi salah satu kesempatan, ketersediaan waktu, keadaan di mana seseorang tidak akan dipandang aneh untuk melakukan kontemplasi. Padahal bila kita lihat, dari 24 jam yang kita miliki, pernahkan kita menyadari bahwa tak sedikitpun waktu yang kita sediakan untuk diri kita sendiri apalagi untuk DIA yang sekiranya telah memberikan kita nafas sepanjang waktu yang diijinkanNya.

Mungkin bagi sebagian orang ini adalah hal yang tidak sesuai, namun tak sedikit yang dalam hatinya mengiyakan juga keadaan demikian. Kita sibuk berkutat dengan segala macam hal untuk pemenuhan segala kebutuhan yang telah menjadi kewajaran di tengah tuntutan hidup, mencari berbagai alasan dan pembenaran untuk tak mungkin meluangkan sedikit saja waktu untuk berdialog dengan diri kita.

Siwaratri memberikan kita kesempatan untuk kembali menyelam ke dalam diri kita, memberi kesempatan untuk berdialog denganNya melalui jalan terdekat yang kadang tak kita sadari tak jauh-jauh amat, ya ke dalam diri kita sendiri.

Merenung barang sejenak, berhenti berpikir tentang kepuasan fisik semata, melihat ke dalam  diri, ada apa di sana. Masih kah ada DIA? Bukannya seharusnya Dia harus tetap ada di sana karena kita meyakini bahwa kita adalah bagian suci dariNya. Tak sulit harusnya menemuiNya di sana, di dalam diri kita.

Namun nyatanya, terkadang kita tak mengenali sedikitpun apa inti dari diri kita ini. Kita lupa dari mana asal kita ini, bagaimana fisik kita ini tetap dapat bekerja maksimal, dari mana asalnya buah pikiran cemerlang kita yang setiap saat selalu bisa menjadi pujian bahkan senantiasa dinanti oleh orang-orang di sekitar kita. Tak jarang kita takabur, mengaku-ngaku itu karena kemampuan kita, menyombongkan diri bahwa kita memiliki pemikiran cemerlang, padahal pernah kah kita menilik dari mana asal kekuatan cipta itu?

Siwaratrikalpa menyebutkan bahwasanya pada setiap diri seseorang ada gelap ada terang. Ada kalanya terang itu akan menjadi gelap dan gelap itu akan menjadi terang. Diceritakan di dalamnya tokoh Lubdaka yang mencerminkan sifat manusia, mementingkan diri sendiri meski itu untuk keperluan orang banyak, tak pernah mencari dalam diri ada apa di dalam sana, tak mengindahkan harmoni alam di sekitarnya, tak menyempatkan diri mengerti keberadaannya di dunia. Sibuk berkutat dengan kepentingannya hingga suatu ketika tanpa sengaja Lubdaka mengalami keadaan ketika harus terpaksa melakukan perenungan dalam keadaan yang diliputi rasa takut, gundah dan tak tenang.

Haruskah kita menunggu saat kita terpaksa harus merenung dan melihat setiap hal di setiap detik kita sebagai kesadaran akan pentingnya menjalani hidup sebagai wujud sifat-sifatNya? Perlukah kita menunggu hingga harus ditegur olehNya untuk sekedar menyadari bahwa Dia ada dalam kita sehingga patut berlaku layaknya Dia.

Esensi dari Siwaratri tak hanya untuk direnungkan dan dilaksanakan pada kedatangan Prewaning Tilem Kepitu, menunggu saat malam tergelap dalam satu kali perputaran bumi mengitari matahari untuk melakukan perenungan dan kesadaran diri, untuk mengerti bahwa kita juga dapat menjadi gelap dan diliputi oleh kegelapan-kegelapan. Namun sesungguhnya mengajarkan kita untuk selalu berlaku sepatutnya cermin sifat-sifatNya yang ada di dalam setiap diri manusia.

Maka dari itu, tidak ada kata terlanjur terlambat untuk memperbaiki sikap dan sifat kita. Akan selalu ada kesempatan sebelum kita harus terpaksa dan dipaksa untuk merenung.

Segala perbuatan pasti akan memberikan hasil, tidak ada istilah perbuatan yang akan dihapuskan atau dihilangkan akibatnya. Yang ada hanya kita berhak menabur benih kebajikan dan akan memperoleh kebajikan atas perbuatan kita itu. Karma Phala senantiasa menanti, untuk itu, selalu sediakan tabungan perbuatan baik untuk mengimbangi kegelapan yang tak disadari telah kita lakukan yang bisa mengurangi kualitas diri kita di hadapanNya.

DIA ada dalam tiap-tiap sel dalam ciptaanNya. Tak ada istilah menunda untuk berperilaku selayaknya bagian dariNya, dan senantiasa memiliki waktu untuk bercengkerama denganNya untuk mendekatkan dan menguatkan hubunganmu dengan DIA yang berkuasa atas hidup dan jiwamu…melalui jalan tersingkat, yaitu dalam diri kita sendiri.

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 3, 2011 by in Warna-Warni Analogi.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

January 2011
M T W T F S S
    Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Analogi Kliks

  • 33,121 Analogiers
%d bloggers like this: