an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Sahabat Kekasih

“An, ntar malem temenin aku nge-leading anak kelas sebelah ya, mereka pengen refreshing naek gunung.”

“Hmm…gemana ya? Aku ada jadwal les pelajaran sore nanti, jadi kayaknya kecapekan. Sorry ya…”, jawabku pada Saka, cowokku hampir 4 bulan ini.

Kami memang sama-sama dalam satu kelompok pencinta alam di sekolah, Green_Squad, begitu nama angkatan kami. Kami juga sering menjadi pemandu bagi temen-temen di sekolah kalau mereka ingin mendaki ke beberapa gunung yang ada di kawasan timur pulau ini, ataupun hanya sekedar untuk hiking maupun refreshing ke alam bebas untuk melepas penat sebagai siswa salah satu sekolah unggulan di kota ini.

Awal jadian sampai hari ini aku dan Saka masih selayaknya seperti sebelum kami mengikat satu janji bersama. Tidak ada yang berubah,  tidak ada yang istimewa. Hanya ada semacam tanggungjawab dan kewajiban baru saja bagiku untuk lebih memperhatikan Saka. Namun, tetap saja itu tidak menunjukkan hubungan kami sebagaimana layaknya pasangan kekasih. Hubunganku dengan Saka hampir tidak diketahui oleh siapapun bahkan temen-temen di Green_Squad sekalipun yang telah aku anggap sebagai saudara sekandungku.

Aku dan Saka memang ibarat langit dan bumi. Saka yang pendiam, pintar di segala mata pelajaran; ini salah satu alasan aku suka Saka; selain dia memang perhatian banget sama aku dan menurut Saka aku yang selalu penuh semangat dan gemar bergaul ditambah ‘agak’ cerewet bisa menghiburnya kapan saja. Benar-benar sosok yang berbeda dengan Saka.

“Ya udah deh kalau begitu, biar aku ditemenin Bimbim aja nanti malem.”

Sahutnya tidak memaksaku. Namun dapat aku baca satu getir kekecewaan dari matanya.

“Okey, hati-hati ya.” Ucapku pendek menahan perasaan.

“Oya, nanti kamu les berangkat bareng siapa?”

“Seperti biasa, aku dijemput Tantra.” Sahutku tanpa berani menatap matanya.

“Aku berangkat jam 9 malem dari rumah bareng team. Kamu baek-baek ya…”

Saka meninggalkan aku sendiri yang sedang mengalihkan pandangan ke ujung koridor membiarkan punggung itu pergi menjauh…

***

Tidaaakkk…!!!

Rasa itu telah pergi. Aku tak pernah berani mengakuinya. Tapi hari ini, setelah apa yang barusan terjadi, aku benar-benar merasa kacau. Aku merasa telah menyakiti perasaan dan hati seseorang yang selama ini menyayangi aku dengan setulus hati, yang dengan sabar selalul mengertikan perasaanku. Aku telah menjadi pengkhianat baginya…

Sore hari seperti yang telah aku katakan pada Saka, aku berangkat ke tempat les pelajaran seperti biasa dijemput Tantra, sahabatku, yang juga sahabat Saka karena Tantra juga salah satu anggota Green_Squad.

“Knapa manyun?”

Sebagai pembuka percakapan Tantra melontarkan pertanyaan pendek yang aku tahu hanya basa-basi biasa jika Tantra melihat aku sedikit ‘tidak normal’.

“Ga pa-pa”.

“Hmm..ya sudah.”

Jawaban pendek dari Tantra seperti memberi kesempatan bagiku untuk sibuk kembali dengan pikiran dan hatiku yang sedang tidak karuan. Sambil mengendarai sepeda motor di tengah kemacetan kota Denpasar di sore hari, Tantra tidak mengungkit kembali sebab mengapa aku bersikap seperti hari ini.

Begitulah Tantra. Sahabat yang paling mengerti aku. Tak pernah menuntut penjelasan dariku, cukup hanya dengan satu pertanyaan singkat baginya sudah dapat memastikan keadaanku.

Sayangnya hari ini aku semakin merasa bersalah pada Tantra karena sampai saat ini aku tidak pernah mengatakan langsung kepadanya mengenai hubunganku dengan Saka walaupun aku tahu Tantra telah mengetahui hal itu. Entah karena alasan apa, ada satu perasaan yang tak pernah bisa aku mengerti, aku hanya tak ingin dia tahu hubunganku dengan Saka.

Tantra selalu mampu menenangkan aku. Membuat tawa di antara derai air mataku, tempatku bersandar bila aku gelisah saat pertengkaran-pertengkaran kecil terjadi di antara aku dan Saka.

Setiap berangkat dan pulang sekolah Tantra-lah yang selau memberiku tumpangan karena kebetulan rumah kami searah, bila ada kegiatan keluar di Green_Squad kami lebih sering bersama dan lebih banyak lagi kegiatan yang aku lalui bersama Tantra. Hal ini pernah menjadi pembicaraanku dengan Saka, tapi Saka dengan sabar selalu mengatakan bahwa dia tidak akan merusak persahabatan di antara aku dan Tantra hanya karena sekarang dia adalah pacarku. Aku hanya bisa menghela nafas, berkata dalam hati…

“Betapa sabarnya engkau sebagai kekasih…”

***

Klimaks dari persimpangan hatiku…

Malam itu malam valentine dan aku ke rumah Tantra untuk keperluan mengambil bahan ujian karena kebetulan itu adalah minggu ujian. Seperti biasa aku dan Tantra tidak melewatkan kesempatan untuk mengobrol walau sejenak di tempat favorit kami, di bawah pohon mangga di halaman rumah Tantra.

“Tunggu An, aku punya sesuatu buat kamu. Sebentar ya…” Tantra lalu meninggalkan aku yang asyik bermain dengan Si Belang kucing kesayangan keluarga Tantra, dan tak lama kemudian sudah kembali dengan bingkisan berhiaskan pita berwarna merah jambu dan setangkai bunga mawar putih.

“I…ini…maksudnya apa?”

“Sudah…dibuka di rumah aja ya. Besok kita ngobrol lagi, sekarang kamu pulang dulu dan belajar.” Kata Tantra sambil mengacak rambutku dan menuntunku ke arah gerbang rumahnya.

“Haa..iya..makasi… Aku pulang dulu…”

“Sorry ga nganter kamu pulang. Aku juga harus belajar, tahu sendiri kan aku paling ga bisa pelajaran Fisika?!”

Senyum dan sorot mata Tantra yang sama sekali asing bagiku itu semakin sukses membuatku limbung dan meninggalkan rumah Tantra dengan berbagai perasaan yang aneh…

***

“U’Re One of Those that I Care Very Much…”

Kata-kata itu tertulis pada selembar kertas kecil berwarna senada dengan pita pada sekotak coklat pemberian Tantra.

Bergegas sambil membendung air di pelupuk mata, kuputar nomor telepon rumah Saka.

“Saka?”

“Iya, An?! Kenapa tumben malem-malem bgini? Ga blajar?” Suara di seberang membuat tanggul itu jebol juga dan aku menangis tanpa suara…

“Sudah…kamu tahu kan kalau Tantra suka bercanda sama kamu. Ga mungkin dia serius dengan apa yang dia lakukan tadi. Apalagi dia sudah tahu kamu adalah pacarku.” Jawab Saka ringan.

“Apa?!”

Jantungku terasa akan melompat keluar.

Keesokan harinya berusaha aku lalui seperti biasa. Namun tetap saja perasaan gugup yang entah dari mana datangnya bila aku bertemu dengan Tantra selalu muncul kali ini. Aku bingung dengan perasanku hari itu…

“Tantra aku pengen denger penjelasanmu tentang yang kemaren.”

“An, aku serius dengan apa yang aku lakukan…”

***

“Eh!! Bengong aja kayak kebo dungu!”

Tepukan di bahuku menyadarkan aku untuk kembali ke ruang kelas les pelajaranku yang… ya Tuhan…sudah berakhir tanpa aku sadari.

“An, kamu ada acara ga pulang les?” sambung Kean lagi.

“Hmm..ga ada. Kenapa?”  Sahutku malas-malas sambil merapikan binder pelajaran yang sedari tadi tidak tergores tinta sedikit pun.

“Tapi kamu tanya dulu supirku”, lirikku ke arah Tantra.

“Sudahh..jangan manyun mulu! Bengong kayak kebo dungu. Ga sadar ya kalo dari tadi kamu dipelototin terus sama Pak Halim?”

“Ha..ha..biarin aja Tan…biar tambah seru tuh mukanya yang udah kusut ditambah lagi kalo ditegor Pak Halim kan jadi tambah mendukung… Mendukung buat diejekin maksudnya…ha..ha..”

Tanpa menghentikan tawanya Bian mendekat sambil langsung mencubit-cubit hidungku.

“Idiiiii…Bian apaan sihhh…”, sedikit tidak jelas sambil terus berusaha melepaskan tangan Bian dari hidungku.

“Biar..biar ga flat lagi hidungmu…”

Satu lagi penghiburku, Bian dan juga Kean adalah sahabatku dan juga anggota Green_Squad.

“Gini, kita berdua mo naek nie ntar malem. Biasaaaa… Berhubung kita lagi baek dan ga pengen kesepian dalam perjalanan, kita mo ajak ‘kebo dungu’ ikutan. Lagian besok juga kan libur dan sekalian bikin kamu balik normal lagi, biar ga manyun terus…” Akhirnya Bian melepaskan tangannya.

“Gemana?! Ikut ya Tan…skalian ngilangin penat nie…”, kata Kean sambil menjambak-jambak rambutnya yang hanya 1 cm.

“Terserah nyonya…” Tantra menyerahkan keputusan padaku.

“Okeh deh… Tapi kalian pamitin ke ayah-bundaku ya…”

“Beressss…apa sih yang enggak buat kamuuu..” tangan-tangan Bian kembali beraksi dan kali ini mengacak-acak rambutku sampai akhirnya aku pura-pura menangis dan… tetap saja Bian ga berhenti melancarkan godaannya.

Merekalah sahabat yang selalu mengerti saat-saat di mana aku membutuhkan mereka sebagai penyejuk hatiku…

***

Udara dingin menusuk tulang mematahkan pertahanan tubuh meski dalam balutan jaket, glove dan kerpus yang kami pakai. Kabut menghalangi batas pandang ketika telah sampai di kawasan Kintamani. Berbekal backpack yang memuat segala kebutuhan perjalanan sehari di punggung. Headlamp, raincoat, minuman dan snack dan kamera SLR Tantra yang tidak pernah lupa di-packing dalam setiap perjalanan kami.

Melaju di atas dua roda sepasang sepeda motor kami, kami berempat menembus tanjakan-tanjakan terakhir dan akhirnya menelusuri tepi danau Batur untuk mencapai kaki gunung Batur tempat pelarian favorit kami.

Purnama menggantung di atas kepala membuat headlamp kami tak ada fungsinya. Dengan gurauan khas anak gunung, pendakain rekreasi itu kami lalui seperti biasa tanpa hambatan dan sampai di puncak yang beku tepat ketika mentari tersenyum ramah di horison timur, bersih, tanpa kabut sedikitpun, mulai menghangatkan kulit.

“Aaaaahhhhhh……” teriakku lepas seperti biasa setiap sampai di tempat ini apalagi dengan keadaan pikiran yang penat. Seakan semua beban dalam kepala menghilang seiring embun-embun di kelopak edelweiss yang menguap diterpa sinar mentari pagi. Sujud syukur pada Tuhan karena menganugerahkan tempat secantik ini. Memberikan pengobatan terbaik bagi jiwaku yang  lelah…

***

Puncak yang membeku diterpa dinginnya angin dingin di pagi hari menambah beku tubuhku saat mataku beradu tatap dengan sepasang mata yang telah aku kenal.

Aku beku saat itu juga…

“Saka…”

– 25/4/05 –

2 comments on “Sahabat Kekasih

  1. ngejer
    February 25, 2011

    serasa flashback..tapi semua kulihat dari sudut pandangmu…heheheh

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 3, 2011 by in Warna-Warni Analogi.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

January 2011
M T W T F S S
    Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Analogi Kliks

  • 33,170 Analogiers
%d bloggers like this: