an~alogiku

Menghidupi mimpi-mimpi dan membaginya untuk kebaikan…

Jogja Di Hati

Fiuhh..tiba juga di Jogja untuk ke sekian kalinya. Kota ini memang tak pernah membuatku bosan, aku selalu merasa nyaman ada di sini. Hari ini aku mencoba angkutan umum, yup..dari Bandara Adi Sutjipto, tinggal jalan ke arah pakir roda empat, ada stasiun KA Prameks (Prambanan Ekspres), bus  Damri yang menjadi alternatif angkutan ke luar kota, dan Trans Jogja tentunya yang bisa mengantarkan kita berkeliling Jogja, hanya dengan 3 ribu rupiah. Dijamin ga akan kecewa dengan fasilitas angkutan umum yang satu ini. Bersih, aman, nyaman. Ga usah takut copet dan pengamen tentu saja. Yang terpenting adalah petugas-petugas Trans Jogja benar-benar infomati memberikan informasi tentang tempat tujuan kita di sepanjang rute trans. Di samping itu bus berwarna hijau kuning ini memiliki peta rute dan pengumuman jalur-jalurnya.

Tujuanku pagi ini, Taman Pintar di tengah kota, dekat dengan pusat icon kota Jogja; Malioboro, Keraton dan Taman Budaya Jogja. Spot ini memang luar biasa mudah dijangkau dan banyak area objek wisata yang dapat diakses dengan mudah dari sini. Menunggu bus berjalur B1 yang aku tumpangi, memperhatikan penumpang-penumpang lain, ada beberapa orang backpacker juga sepertinya, tapi karena sedang ingin menikmati waktuku sendiri jadi aku sibuk dengan kamera memotret apa saja yang ada di dekatku, hehee..turis dadakan. Bus mulai menyusuri Ring Road menuju pusat kota. Pagi ini jalur menuju Jogja tampak lengang, padahal sekarang libur akhir pekan yang panjang. Mungkin masih nanti siang akan ramai, pikirku. Terbayang sudah suasana Jogja yang dipenuhi wisatawan, tak ubah seperti di Bali, hanya saja di sini tidak ada bule berbikini yang lalu-lalang, maklum, kota beradat Jawa yang kental ini memang sangat mengusung tata krama bagi siapa saja yang berada di lingkungannya. Pagi masih muda seharusnya, namun hari ini cerah sekali dan mulai terasa terik, untungnya public transport ini ber-AC, jadi tak terlalu masalah dengan udara di sekitar.

Gunung Merapi bisa dengan jelas aku lihat di kejauhan berlatarkan gunung Merbabu, ingin rasanya ke sana namun tidak kali ini, seseorang yang sekiranya bisa mengantarku ke puncak ternyata harus menyelesaikan sidang Kompre S2-nya di UGM, jadi apa daya, liburan kali ini aku isi dengan agenda menyaksikan pertunjukan musik dan lain-lain, yang katanya ga bakal bikin aku kecewa (rayuan gombal akibat mengacaukan jadwal pendakianku kali ini). Hohoo…baiklah, pastinya aku tak akan kecewa kali ini. Pertunjukan musik yang dimotori oleh fakultas Fisipol UGM ini digelar di amphitheatre Taman Budaya Jogjakarta, menghadirkan Melancholic Bitch dan The Trees and The Wild sebagai artis utamanya, yippiiee!!

Hmm…ternyata memang masih sepi juga kawasan Benteng dan Istana Negara pagi ini, namun tidak demikian dengan lalu-lintasnya.  Ransel aku letakkan sejenak di tempat tukang-tukang becak, tukang  koran, penjual kerajinan keliling,  bule-bule dan turis lokal biasa bersantai sejenak mengarahkan pandang ke Istana Negara atau ke arah Vredeburg. Sambil menunggu soulmate¬¬-ku yang masih beribadah Jumat Agung pagi ini, dan akan menjadi teman seperjalananku kali ini, aku sempatkan sarapan pagi dengan biskuit dan teh bekalku tadi di pesawat. Bercengkerama dengan orang-orang di sekitarku ternyata mengasikkan juga. Aku bisa melihat-lihat kerajinan yang dijajakan si bapak, mendapat tawaran baca koran gratis dari si loper, hmm…Jogja memang nyaman untuk berwisata meski kita datang sendiri.

Tak lama, seperti telah kami sepakati, kebaktian pagi itu selesai di GPIB di jalan Malioboro tepat pukul 8.45 pagi. Gereja tua yang berarsitektur kuno ala bangunan Belanda, berada tepat di ujung jalan Malioboro yang selalu padat kendaraan dan pejalan kaki, tak hanya menjadi rumah ibadah namun sekaligus peninggalan sejarah yang unik. Siap melanjutkan perjalanan lagi, di atas dua roda bersama si Tallus 45lt di punggungku,  kami menuju arah Kaliurang untuk men-drop up bawaanku sebelum kami memulai liburan kali ini. Rute hari ini, keliling kota Jogja.

Menyusuri benteng-benteng selatan keraton Jogja, kita diajak memasuki suasana perkampungan abdi dalem keraton jaman dahulu. Arsitektur bangunan tempat tinggal warga dalam benteng keraton tetap dipertahankan seperti dahulu. Tembok-tembok kokoh berbahan bata dan tanah berpulas warna putih kapur, pintu-pintu rumah yang dibuat rendah berfilosofi agar barang siapa yang memasuki rumah sekiranya dengan rasa hormat dan rendah hati, yang divisualisasikan dengan  kepala menunduk dan posisi sedikit membungkuk atau merendahkan tubuh. Ini mematuhi tata krama orang timur terutamanya orang Jawa yang menganut Kromo Inggil (tinggi rendahnya makna sikap dan bahasa). Selain itu masih dapat ditemui kelompok-kelompok penghuni areal pekarangan dalam benteng yang merupakan kelompok-kelompok masyarakat tertentu seperti kelompok para pembuat gamelan, para pembuat kerajinan, dan lainnya yang kemungkinan ada pada jaman keraton sehingga memunculkan tingkatan masyarakat pada jamannya. Terlihat dari papan-papan nama yang tertera pada bagian gerbang masing-masing kompleks rumah, seperti Kepandean untuk para keturunan pandai besi, dan lainnya.

Taman Sari, merupakan nama areal pemandian para keluarga keraton jaman dahulu. Sekarang Taman Sari merupakan situs peninggalan bersejarah yang dilindungi oleh negara dan dijadikan sebagai objek wisata kota Jogja. Letaknya di sisi barat daya keraton, memiliki makna kental kepercayaan Jawa-Hindu kuno yang menempatkan area kegiatan pembersihan di hilir areal tempat tinggal. Situs ini masih dapat dinikmati keindahan rancang bangunnya yang berada sebagian di bawah tanah sehingga terkesan mistis namun memberikan kesejukan dan ketenangan jiwa bagi yang berkunjung ke sana. Seperti kembali berada di masa lalu, menjadi salah satu anggota keraton yang akan mensucikan badan di sini. Dinginnya lantai dan tembok-tembok bangunan, temaramnya cahaya lilin, tenangnya suasana dan suara air membuat pikiran seakan tak terbebani apa-apa. Pemandian ini terbagi dalam ruang-ruang pribadi berbentuk kolam besertakan pancuran-pancuran yang tertutup maupun terbuka. Sudut-sudut yang sepertinya memang dirancang untuk memberi ruang bagi mereka yang ingin menenangkan diri menikmati keindahan bangunan di sini, membuatnya layak dijadikan tempat favorit bagi keluarga keraton kala itu. Ah…jadi membayangkan bisa menjadi salah satu putri keraton untuk menikmati treatment ala Taman Sari jaman dahulu, hehee…pasti ada layanan macam di spa-spa gitu tuh pastinya.

Keluar dari area benteng selatan keraton menuju alun-alun utara keraton yang dikenal dengan alun-alun Lor, kita disambut oleh gapura perbatasan wilayah keraton bagian utara. Tidak terlalu berbeda dengan bangunan keraton yang tradisional modern ala Belanda, berdiri di kanan dan kiri jalan menuju Malioboro bangunan berarsitektur Belanda yang sekarang menjadi kantor BNI dan kantor Pos serta Bank Indonesia kota Jogja. Jika cuaca cerah, lurus menanjak ke arah utara pandangan akan bertemu dengan pucak gunung merapi yang melegenda.

Ah…memang para pendahulu kita sudah sangat memperhatikan estetika tata kota dan ruang, selain sebagai kepercayaan mereka dalam mendirikan bangunan-bangunan penting yang selalu disesuaikan dengan adat keyakinan juga sebagai wujud selera seni dan peradaban leluhur kita yang tinggi. Buehh…sejak kapan ya aku jadi arkeolog :p

Yupp…lanjut muter-muter keliling kota, menikmati suasana Jogja yang sejuk hari ini. Orang bilang travelling ke suatu tempat ga cuma soal berkunjung ke tempat-tempat menariknya, tetapi wajib datang ke tempat-tempat kuliner khas daerah tersebut. Sayangnya lidahku memang bukan lidah kuliner ya, dan kami berdua juga memang susah dalam urusan makan, jadi tak terlalu mengejar target mengisi waktu ke wilayah kuliner. Makan siang bisa di mana saja untukku setiap datang ke Jogja. Tapi satu corner favoritku untuk berkuliner adalah Food Fezt di Kaliurang 5 kalo ga salah dan Nanamia Pizza (hmm…berry juice-nya muantap!). Hahaa…ini mah bukan kuliner tradisional dan khas kota Jogja. Di Food Fezt aku bisa makan masakan ala Makassar, Sunda, Jawa Timuran, ahh…sampai menu dengan keju mozarella ala Italian food pun lengkap.

Tempatnya pas banget dengan seleraku, ada garden corner berkanopi tanaman rambat dengan bunga-bunga ungu, romantic dinner area di lantai atas, semua ditata sedemikian hingga dalam konsep bangunan panggung dari batang kelapa membuat aku selalu menyempatkan diri makan di sini, hehee…selain Food Fezt punya kenangan menarik untukku dan Jogja sejak kedatangan pertamaku ke Jogja. Pelayanannya juga patut dapet jempol, penataan makanannya ala hotel bintang lima deh…rasa tak usah diragukan lagi, just come to Food Fezt…”Mau makan apa hari ini?”.

Puas makan siang yang kesorean, menunggu waktu konser beberapa jam lagi, kami menuju area gerbang utara keraton tepatnya di sebelah kantor pos, ada pojok favoritku dan Kunto, kios majalah dan buku bekas, tapi kalo lagi mujur, NatGeo terbaru bisa didapat dengan banrol 25.000 saja (english version) dan 20.000 untuk edisi lokal. Wueehh…kami berdua dijamin kalap kalau sudah begitu. Penjaga kios yang juga cukup ramah dan update tantang majalah-majalah unik ini membuat semakin lupa waktu kalau sudah mblusuk diantara majalh-majalah itu. Senja turun perlahan, duuhhh…Jogja never ending memories deh pokoknya. Tenang, sejuk, semua terlihat berharmoni.

Menuju Taman Budaya Jogja tak jauh dari tempatku mblusukan buku, siap menanti kehadiran grup band asal Jakarta dan Jogja yang bakal mengguncang gedung amphitheater TBY di acara Fallentine #3 warga FMF UGM. Dengan tagline acara “Hasta Manana. See You Again Tomorrow”. Diambil dari quotes manggungnya The Tree and The Wild, berbahasa Spanyol kalo ga salah. Ternyata masih pada check sound, lagu Rasuk TT&TW mengalun samar. Amphiteather yang unik.

Aku kira pertunjukannya di amphitheater dalam gedung TBY, rupanya yang namanya ampibhiteather (meniru kata-kata MC acara bernama Vania) ini berukuran nungil, tapi asik. Berdinding batu-batu blok hitam hanya berukuran kurang lebih 8 x 15 meter persegi saja. Tapi yang namanya Jogja, di mana saja di setiap sudutnya semua akan jadi menarik (wueehhh…bener-bener aku sudah jatuh hati padamu, Jogja).

Jogja dan Jawa Tengah juga memiliki pesona dengan beribu candinya. Bagi yang gemar bernostalgia mengenal kejayaan moyang di masa lalu, Jogja area adalah tempat yang tepat. Mulai dari candi Budha terbesar di Asia, candi Hindu terlengkap, bahkan sampai candi-candi kecil bisa dengan mudah ditemukan di sini. Satu yang menarik hatiku adalah candi Ratu Boko. Letaknya di area perbukitan perbatasan jalur Jogja dan Jawa Tengah menuju Solo, berdekatan dengan candi Hindu terkenal, Prambanan, dengan HTM kurang dari 10.000. Candi Ratu Boko diperkirakan merupakan area pusat kerajaan Hindu yang bernama Ratu Boko. Namun hal ini masih merupakan misteri mengingat banyak studi arkeologi yang masih harus dilakukan untuk mengungkap keberadaan situs ini.

Digali dari perbukitan yang menimbun bangunan beratus tahun lamanya, namun tidak memusnahkan kemegahan arsitektur tempat tinggal raja Boko. Memasuki gerbang candi berbentuk persegi yang kokoh dengan satu gerbang utama dan dua gerbang pendamping di kanan kirinya khas ciri gerbang peradaban Hindu, menyiratkan bahwa Ratu Boko kemungkinan menganut Hindu pada masanya dilihat juga dari adanya bangunan bekas ruang kremasi dan pura keluarga berupa 3 meru dari batu perlambang pemujaan terhadap Brahma, Wisnu dan Siwa.

Di area candi juga terdapat kompleks pemandian berupa kolam-kolam jakuzi yang sampai sekarang masih berair hanya saja tidak terlalu bersih karena berupa genangan air hujan. Warga sekitar memanfaatkannya untuk keperluan cuci dan mandi meski jelas terpasang papan peringatan “dilarang mencuci/mandi/mengambil air di sini”. Arealnya yang luas berada di puncak perbukitan membuat pandangan leluasa menyapu penjuru sekitarnya, candi Prambanan di kejauhan, berlatar candi-candi kecil lainnya, sore atau pagi sekali akan sangat menghanyutkan untuk berada di sini, hmmm…pesona Ratu Boko.

Mari berkunjung juga ke Candi Plaosan yang tak jauh dari Prambanan, berkendara ke arah utara setelah Prambanan sejauh kira-kira 3km, akan sampailah kita di candi Budha yang sedang dalam proses pemugaran. Bentuknya mirip dengan Borobudur, khas bangunan Budha yang persegi dan melebar, kami sepakat menamainya “Angkor What”, sebagai apresiasi pada candi yang memang tak kalah uniknya ini dan siapa tahu nanti kami bisa sampai di Angkorwat beneran. Masih ada candi-candi lainnya yang tak semua kami singgahi, Candi Sewu, Candi Jago, dan lainnya. Sebagian masih dalam pemugaran yang sedang gencar dilakukan oleh pemerintah Jawa Tengah.

Potensi wisata dengan adanya situs-situs ini akan sangat berharga untuk keragaman atraksi budaya negeri ini. Menurutku hal ini juga akan dapat menumbuhkan rasa memiliki, tanggungjawab, dan percaya diri bahwa bangsa kita memang pernah menjadi bangsa yang besar pada masanya dahulu.

Tak puas menikmati atraksi candi sampai di sini, malam harinya kami berencana menyaksikan pagelaran sendratari Ramayana yang di gelar di panggung terbuka Prambanan. Waahh…terbayang sudah suasana candi malam hari, pagelaran berlatar kemegahan Prambanan, should be romantic moment, hehee… Berhubung liburan ala backpacker, maka kami hanya bisa menikmati pertunjukan dari kelas festival, tapi tak mengurangi suasana dan kemegahan pertunjukan tari malam itu, apalagi langit cerah berbintang, lengkap sudah kepuasan berlibur hari ini. Jogja.

Tak hanya wisata budaya, wisata alamnya pun tak kalah menarik dan beragam. Mau ke gunung tinggal ke Merapi dan Kaliurang untuk menikmati area ketinggian dan hawa yang lebih sejuk. Mau lihat pantai, tinggal melaju ke selatan kota ini kita bertemu pantai berpasir landai nan elok Parangtritis. Belum puas dengan kawasan wisata yang telah dikenal luas khalayak dan ingin yang lebih menantang? Jangan khawatir. Jogja menyimpan kekayaan pantai selatan yang eksotik berkarang dan masih belum terjamah wisatawan umum, ada pantai Baron, Pantai Sundak dan lainnya, yang pernah dimuat liputannya oleh National Geographic Traveler.

Hmmm…aku ingin ke gunung. Jadilah kami melaju menanjak sepanjang jalan Kaliurang ke utara menuju Merapi yang berasap. Tujuan pertama Kunto ingin menunjukkan padaku kawasan jalur lahar berupa lembah aliran sungai yang juga menjadi jalur aliran lahar Merapi saat meletus. Letusan terakhir Merapi beberapa tahun yang lalu menghancurkan perkampungan wisata di kaki Merapi yang meluapkan lahar panasnya sehingga telah menimbun kawasan pandang Merapi dengan hanya menyisakan ujung-ujung atap genteng dari bekas kios-kios penjual cinderamata Merapi terlihat di sepanjang areal. Termasuk menyisakan sebuah buker perlindungan yang sedianya disediakan untuk mengantisipasi datangya awan panas oleh Badan Vulkanologi bagi petugas-petugasnya yang  sedang bertugas di kaki Merapi ini, namun seperti kita ketahui bersama, letusan Merapi yang ini membawa korban para petugas pengawas gunung Merapi saat luapan lava pijar melalui jalur lahar dan melebihi kapasitas yang seharusnya.

Hanya menyisakan mulut bunker yang tertimbun air hujan dan debu vulkanik, nampak gelap dan kelam apalagi setelah tahu di dalamnya pernah terjadi evakuasi mayat petugas pengawas Merapi yang menjadi korban. Hiii…ngeri juga saat berfoto di depan pintu jeruji bunker. Kita dapat turun ke dasar lembah sungai jalur lahar yang terlah banyak tergerus hujan menuju hilir, sehingga kembali membentuk cerukan dalam seperti sungai pasir. Banyak bebatuan besar dan kecil bekas muntahan Merapi. Tempat yang tenang untuk puas menatap Merapi dan mencoba berkomunikasi dengannya. Sesekali melintas masyarakat setempat memanggul rumput untuk pakan ternak mereka. Sangat menggugah untuk diabadikan dalam lensa kamera. Tapi eit…jangan sembarangan, mintalah ijin kepada mereka atau paling tidak bidik secara sembunyi-sembunyi, hehee… Aku punya pengalaman tidak mengenakkan dalam upayaku mengabadikan kegiatan masyarakat di sana, dalam hati selalu menyesali perbuatanku itu, hikz..maaf nggih si Mbok…kulo khilaf…ga akan kulo ulangi lagi.

Matahari mulai membakar kulit dan terasa perut mulai keroncongan. Kembali ke areal parkir kendaraan terdapat kios-kios baru yang telah berdiri kembali meski belum permanen menjajakan makanan ringan, buah (hari itu sih yang ada pisang hijau yang ranum, yummyy…aku habiskan 3 buah), beberapa foto dan video bencana Merapi dan proses pengamatan Merapi menjelang letusan, kaos-kaos dan postcard bergambar Merapi dan lava pijarnya. Jangan tanyakan kerajinan apa yang Jogja bisa hasilkan. Buanyak!! Mulai dari batik yang sudah terkenal ke seantero jagat, anyaman-anyaman, pernak-pernik, perhiasan, sampai makanan pun bisa diperoleh sebagai hasil kerajinan, contohnya si coklat berlabel Monggo itu, hehee…dan masih banyak lagi contoh lainnya yang super terkenal, siapa sih yang tak kenal si Bakpia Pathuk.

Hari itu kami menuju salah satu desa pengerajin gerabah yang terkenal kata Pak De Gugel saat kami searching tujuan wisata menarik dan unik lainnya. Desa Kasongan berjarak kurang lebih 18km dari pusat kota Jogja ke arah selatan, kita akan sampai di perkampungan yang seluruh rumah-rumah yang ada berjejer berfungsi sebagai etalase menjajakan hasil kerajinan berupa gerabah dan keramik.

Buat aku mengunjungi pusat kerajinan adalah hal yang menyenangkan, meski hari itu panas terik begitu terasa, tapi saat bisa menyentuh langsung gerabah-gerabah yang ada semua jadi terasa adem, hmnmm…jadi pengen ngeborong semua gerabah yang berbentuk gelas-gelas kecil untuk oleh-oleh di rumah. Namanya saja langsung datang ke pusat produksinya, harga yang ditawarkan termasuk murah dan bisa ditawar pula, meski begitu, tetap saja aku ga tega menawar alias tidak bisa menawar sih sebenarnya.

Bertandang ke Jogja biasanya satu paket perjalanan bernama Joglosemar a.k.a Jogja-Solo-Semarang, dari Jogja kita bisa naek Prameks ke Solo dalam waktu kurang dari 1-1,5jam, untuk ke Semarang memerlukan lebih banyak waktu mengingat jaraknya juga cukup jauh dari Jogja. Tapi mumpung lagi di Jogja dan jatah cuti masih lama, ayo hajar bleh akhirnya kami berencana ke Semarang keesokan harinya. Dan percaya atau tidak, kami naik motor, demi memenuhi hasrat mblusukan di Semarang dan alasan kemudahan transportasi nantinya di Semarang dan sekitarnya.

Pagi-pagi buta sudah packing barang-barang seperlunya, sisanya kami titipkan di tempat seorang teman yang sebenarnya siap menampung kami kapan saja, namun demi alasan etis agar tidak mengganggu tuan rumah yang sedang sibuk kuliah, saya memilih menginap di penginapan selama di Jogja.  Tujuan pertama ternyata adalah, Borobudur, membuka perjalanan untuk tiba di Semarang.

Hahaa…akhirnya gatel juga mampir ke situs candi Budha terbesar di Asia tenggara ini, disamping memang sekali jalur untuk menuju Semarang melalui Magelang. Rencananya menyaksikan sunrise dari puncak Borobudur, namun pukul 6 pagi ini matahari ternyata sudah cukup tinggi, dan akses masuk ke candi juga baru saja di buka. Puas rasanya bisa berkeliling candi menelusuri relief kisah sang Budha di dinding-dinding candi yang masih terawat rapi, meski di sana-sini mulai ada beberapa blok bangunan terutama bagian lantai candi mengalami perubahan bentuk dan struktur batu dikarenakan usia dan pergerakan bumi sepertinya.

Hari itu borobudur cukup ramai meski tidak hari libur. Pemugaran beberapa bagian candi juga terlihat banyak dilakukan. Udara pagi pegunungan yang sejuk, berada di tempat yang istimewa, membuat saya merasakan ketenangan dan keteduhan. Cukup lama kami berada di candi. Mengeksplorasi bagian-bagian candi bersama sang guide dadakan yang bela-belain sebelum kedatanganku ke Jogja kali ini datang ke perpustakaan UGM untuk mencari literatur tentang Borobudur. Trima kasih ya Pak Priyo Akuntomo atas perhatian dan kesediaannya menemani saya jalan-jalan kali ini, hehee… Tak rugi memang mengajak Kunto jalan-jalan, karena dia bagai ensiklopedia berjalan, ditanya apa saja pasti ada jawabannya, tahu tempat-tempat unik dan bisa menjelaskannya.

Seperti saat menuju pelataran candi setelah puas berkeliling, kami sempat berbelok ke samping candi yang rupanya menyimpan area yang menampilkan contoh konstruksi candi Borobudur yang dibuat sedemikian rupa sehingga kita bisa membayangkan seperti apa fondasi dan susunan batu-batu penyusun salah satu bangunan termegah yang pernah diciptakan bangsa kita. Melanjutkan perjalanan di antara jalur antar kota yang padat dan panas menyengat disertai polusi udara yang tinggi. Ugh…tapi tak mengapa, baru kali ini saya travelling dengan motor, hehee…mumpung ada ojek gratisnya juga sih…

Semarang siang itupun tak kalah panas. Sampailah kami di pusat kota yang hingar bingar menambah kepenatan, perut kroncongan, dan harus segera menemukan peta, karena dari referensi online yang kami miliki ternyata sama saja sia-sia tanpa peta. Berkeliling lama untuk menemukan toko buku “G” untuk membeli peta, akhirnya ketemu juga dan perut kami yang sudah berontak minta ampun akhirnya juga menemukan pelabuhannya, fast food, hahaa…travelling ala bekpeker tapi makannya kali ini fast food saking kelaperannya kami berdua, butuh yang praktis dan cepat.

Kota Semarang sangat menarik bagi mereka yang suka berwisata melihat-lihat bangunan kuno, tepat sekali untuk datang ke Semarang. Selain memiliki site wisata “Kota Tua”, bangunan-bangunan pemerintahan kota Semarang dan pusat kotanya masih banyak menyimpan bangunan-bangunan berarsiterktur jaman Belanda. Sore hari mengelilingi kota tua serasa menjadi salah satu penghuni jaman itu. Orang-orang bersepeda, berjalan kaki, masih kerap bisa kita temui.

Sayang banyak bangunan yang sudah tak terawat saat kami mencoba mblusukan lebih jauh ke dalam perkampungan di Kota Tua. Semarang di malam hari sama seperti kota lainnya terpusat di pusat kota yang dikenal dengan sebutan Simpang Lima. Dekat dengan pusat pemerintahan dan perekonomian, mulai dari mall sampai kaki lima pun ada.

Berwisata kuliner di Semarang kita tinggal datang ke sekitar Simpang Lima, sayangnya pusat kuliner ini hanya buka 3 kali dalam seminggu dan pada hari ini bukan hari selasa, sehingga kami hanya mendengar cerita saja tentang keistimewaan kuliner Semarang.

Yang pernah nonton film Ayat-Ayat Cinta pasti ingat dengan adegan di Rumah Sakit, sel penjara, dan kampusnya Fadli, rupanya diambil di sebuah bangunan terkenal dan horor di Semarang, yaitu Lawang Sewu. Namanya saja Lawang Sewu, sudah bisa diterka asal katanya dari mana. Tepat sekali, bangunan tua ini memiliki jendela yang sangat banyak sampai dinamai “seribu pintu”. Bangunan ini agak tidak terawat, namun menurut penjaga dan guide yang ada di sana, pemerintah Semarang sedang menyusun rencana perombakan untuk bangunan yang berada di tengah kota ini.

Suasana mistis dan horor terasa banget, apalagi buat aku yang tidak begitu suka akan suasana bangunan tua. Gelap, dingin, pengap dan besar. Perasaan dari baru masuk sudah ga enak. Apalagi saat pemandu kami mengantarkan kami ke sudut-sudut ruangan yang agak-agak tak biasa, seperti tangga darurat yang super sempit yang digunakan none-none dan tuan Belanda jika dalam keadaaan darurat jaman perang sampai ke atap bangunan yang ternyata berkonstruksi sangat kokoh ini dulunya konon digunakan sebagai ruang untuk menyekap para tawanan perempuan sebelum “diberdayagunakan”, sampai ke ruang mekanik yang men-supply energi ke seluruh ruangan di gedung ini.

Bayangkan saja, pemasok energi panas tersebut berbentuk cerobong yang harus diawasi terus bahan bakarnya dan digerakkan oleh tahanan manusia yang harus menarik tuas maupun pompa agar tungku tetap menyala dan berfungsi. Duhh…Belanda memang kejam, kita sebagai bangsa jajahan hanya bisa menuruti apa kemauan mereka.

Yang lebih menyeramkan lagi adalah cerita-cerita pengalaman mistis yang pernah dialami pengunjung di sini. Gedung ini juga memiliki ruang bawah tanah untuk saluran air dan tempat persembunyian yang juga kadang digunakan untuk menyekap tawanan. Alhasil acara Uka-Uka yang dulu pernah mewarnai pertelevisian nasional dan sempat booming pun pernah melakukan aksinya di sini. Kalau aku mah ogah aja saat diajak mencoba masuk ke dalam meski dibekali senter dan ditemani guide. Hiii…sekali horor tetap horor.

Kembali ke Jogja melewati daerah Ambarawa dengan museum kereta apinya dan monumen Palagan Ambarawa yang jaman SD dulu ada di pelajaran Sejarah, jujur saja aku sendiri lupa kisah heroik yang berkaitan dengan monumen Palagan Ambarawa. Mencari-cari jalur masuk menuju kompleks candi Gedong Songo ternyata tak semudah yang dituliskan di beberapa blog, kami sempat melewatinya dan harus putar balik lagi untuk berbelok ke jalur yang benar.

Dari ujung jalur masuk masih harus menempuh jalur menanjak selama kurang lebih 30 menit yang bikin bokong panas dan punggung encok menahan beban daypack di punggung. Udara mulai sejuk dan tanjakan semakin menjadi hingga pada ujung tanjakan ekstrim sampailah kami di kawasan wisata Gedong Songo.

Sore itu masih cukup ramai pengunjung. Karena kelelahan berkendara (sebenarnya sih untuk memenuhi hasratku yang belum pernah merasakan naik kuda) akhirnya dengan merogoh kocek lebih dalam meninggalkan idealisme sebagai backpacking dengan dana terbatas, kami akhirnya naik kuda berkeliling kawasan Gedong Songo yang katanya memerlukan waktu lama dan bikin capek (versi pemilik kuda).

Yah…namanya juga orang jualan, jarak yang ternyata ga sampai 1 km itu dibesar-besarkan, padahal kami datang sudah dengan gaya pejalan tangguh bersepatu gunung, bercelana cargo dan jaket gunung, ketipu mentah-mentah deh, ternyata jaraknya tak seberapa jauh dan sepertinya lebih nikmat bila dilalui dengan berjalan kaki.

Alhasil sampai sekarang aku selalu jadi bahan ejekan setiap melihat kawasan wisata yang menyediakan jasa kuda sebagai alternatif. Ya mahap…namanya juga kepengen banget naek kuda.

Kawasan Gedong Songo yang berada di pegunungan membuat hawa di sini sangat sejuk apalagi suasana sore yang cerah membuat aku semakin betah berlama-lama di sini menunggu saatnya senja memerah. Ada sembilan candi utama; sudah pasti karena itu nama tempat ini Gedong Songo yang artinya sembilan bangunan; yang jaraknya berdekatan sepanjang kurang lebih sepanjang 1km tersebar sepanjang jalur yang telah ditata sedemikian rupa sehingga nyaman untuk pejalan kaki. Bangunan-bangunan candi masih cukup kokoh meski di beberapa sudut terdapat reruntuhan candi yang juga tetap tersusun rapi di seputaran candi induknya.

Di pertengahan jalur kita akan melalui cerukan sungai air panas yang dimanfaatkan oleh pengelola kawasan wisata untuk tempat pemandian air panas umum. Berupa beberapa ruang kamar mandi dan pancuran air panas yang diperuntukkan bagi pengunjung yang ingin menikmati khasiat air panas belerang dari mata air alami perut bumi. Kita juga bisa menikmati pemandangan rembesan air panas belerang pada lereng tebing di sisi sungai, cukup menghibur di tengah perjalanan.

Hari terakhirku di Jogja, setelah kemarin tepar istirahat seharian dengan tidur dan bermalas-malasan setelah perjalanan panjang dari Semarang, aku memutuskan untuk menikmati kota Jogja.

Berkeliling kota, makan enak dan nge-mall, hahaa… Tak lupa nonton film di bioskop. Kebetulan hari ini ada Ice Age, salah satu film favorit kami karena pertama kali kami nonton film ini waktu SMA dulu banyak mengingatkan pada kenangan kebersamaan kami dulu, hahaa…malah jadi nostalgila, lama ga bersama si mas Priyo ini.

Hariku berlalu di Jogja yang aman berhati nyaman tanpa terasa. Aku jatuh cinta pada Jogja. Ingin rasanya aku selalu bersamanya di sini, menikmati setiap jengkal tanah budaya yang ramah dan rendah hati ini. Mengenalkanku pada beragamnya kehidupan, budaya, kebiasaan, dan banyak hal menarik di kehidupan ini.

King of Convenience, Adithiya Sofyan, Maliq ‘n The Essential, The Trees And The Wild…ah..banyak sekali lagu di playlist-ku kali ini. Menemaniku menyusuri akhir jejak-jejak perjalananku kali ini di Jogjakarta.

Berat rasanya hati ini kembali ke tanah yang meski tak kalah uniknya juga, kampung halamanku, Bali yang eksotik. Ya, aku harus pulang, sesak dengan kenangan indah dari mata dan hati membuncah mengisi benak untuk segera dituangkan dalam tulisan.

Mencoba mengabadikannya untuk pengobat kerinduanku yang belum benar-benar meninggalkan Jogja pun rasanya sudah membuat sesak di dada. Hahaaa…Jogja, kau memang memikat.

Sampai jumpa lagi di waktu yang pasti akan selalu menjadi istimewa bagiku bersamamu.

One comment on “Jogja Di Hati

  1. intenarsriani
    September 18, 2011

    dan akhirnya kotamu menjadi kenangan untuk kita… (tak bisa mengelak, lagu Kla Jogjakarta akhirnya harus dinyanyikan)

silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 2, 2011 by in Analogi Plesiran.
Follow an~alogiku on WordPress.com

Kalender

January 2011
M T W T F S S
    Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Analogi Kliks

  • 33,170 Analogiers
%d bloggers like this: