h1

SUMBAWA dengan Sejuta Keindahan

January 2, 2011

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1285051243565.2045125.1148654626&type=1

Bertandang ke Timur Indonesia saat ini sudah mulai banyak dilakukan oleh para penjelajah ataupun para wisatawan pada umumnya. Pesona timur Indonesia ini memang sudah mulai menampakkan geliatnya. Eksotisme wilayah timur Indonesia merupakan salah satu alasan bagi para penjelajah dan wisatawan untuk berkujung ke sana.

Sumbawa, merupakan satu pulau yang memiliki eksotisme alam dan budaya yang sungguh menakjubkan terutamanya bagi mereka pecinta keindahan alam tropis dengan pesona savana dan peternakan hewan-hewan penghuni savana.Sumbawa, memiliki beberapa kabupaten yang sudah cukup terkenal, namun masih ada satu kabupaten yang rupanya tengah membangun diri setelah memutuskan memisahkan diri dari kabupaten Bima untuk berdiri sendiri yaitu kabupaten Dompu. Dompu terletak di tengah pulau Sumbawa diapit oleh kabupaten Bima di sebelah timur dan Sumbawa Besar di sebelah barat. Kabupaten kecil ini ternyata memiliki  potensi wisata yang sangat menakjubkan yang patut dikunjungi.

Tambora Nan Eksotis


Mengunjungi berbagai daerah di nusantara adalah satu dari sekian banyak impian bagi seorang pemilik hobi travelling. Keinginan untuk selalu menjelajah segenap nusa raya senantiasa muncul di dalam benak. Kali ini saya berkesempatan untuk menapakkan kaki di gunung dengan kawah terbesar di Indonesia, Gunung Tambora (2.851 mdpl). Gunung Tambora berada pada dua wilayah kabupaten yaitu Dompu dan Bima. Akses transportasi menuju desa Pancasila, desa terakhir sebelum melakukan pendakian ke Gunung Tambora dimulai dari terminal Dompu. Untuk mencapai Dompu dapat melalui jalur darat dari Lombok melalui kota Sumbawa Besar dan tiba di Dompu. Dari Dompu dilanjutkan dengan bis umum yang menuju Pancasila hanya dua kali sehari yaitu pukul 6 pagi dan 1 siang. Biaya transportasi menuju Pancasila cukup sebanding dengan lama perjalanan yang akan memakan waktu kurang lebih 6 jam perjalanan mengingat kondisi jalan yang sudah rusak. Namun jangan khawatir, sepanjang perjalanan kita akan dimanja oleh pemandangan sabana yang tidak akan pernah ditemui dalam pendakian di manapun di pulau Jawa.

Tiba di Pancasila kita dapat menemui kepala desa atau ketua perhimpunan pecinta alam warga setempat (Kapata; Bang Saiful) untuk sejenak beristirahat dan melaporkan pendakian, atau mungkin bermalam sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Mendaki Tambora diharapkan membawa seorang pemandu karena jalur pendakian masih belum seberapa terbuka dan untuk menghindari salah jalur di seputar jalur loging. Untuk memperoleh tenaga pemandu dapat menghubungi kepala desa atau ketua Kapata. Atau pada saat di Dompu bila Anda sempat berkunjung ke HUMPA, yaitu perkumpulan pecinta alam pemuda Dompu yang bermarkas di Gedung Pemuda, Jalan Bhayangkara Dompu, Anda dapat meminta bantuan dari rekan-rekan pencinta alam di sana yang tidak akan segan-segan untuk menemani Anda dalam pendakian.

Pendakian diawali dari sini dan akan melalui perkebunan kopi penduduk dengan kondisi jalur yang lebar karena merupakan bekas lalu lintas truk pengangkut hasil loging kayu di hutan Tambora. Dulu, sebelum pelaku loging ilegal di hutan Tambora diseret ke meja hijau, pendakian dapat dimulai dengan menumpang truk-truk loging hingga pos I yang dicapai dalam waktu kurang lebih 1,5 jam dengan kondisi jalur berdebu pada musim kemarau atau berlumpur saat hujan. Berhubung tidak ada lagi loging, maka perjalanan menuju pos I ditempuh dalam waktu kurang lebih 4 – 4,5 jam. Pos I berupa shelter di kanan jalur dan terdapat mata air berupa bocoran pipa aliran air menuju desa Pancasila. Perjalanan dilanjutkan masih dengan jalur loging, dan tak berapa lama berbelok mulai memasuki kawasan hutan yang cukup lebat. Jalur naik – turun menyeberangi bekas aliran sungai di dalam hutan selama kurang lebih 1,5 jam.

Pos II berupa shelter dan terdapat sungai kecil mengalir jernih 5 meter di bawah shelter. Pos III dapat dicapai dalam waktu 2 – 2,5 jam setelah berjuang melalui rintangan berupa pohon-pohon tumbang berdiameter sekitar 1 meter membuat langkah semakin berat ditambah lagi dengan tumbuhan jelatang yang bila terkena kulit akan mengakibatkan luka bakar dan gatal-gatal. Pos III berupa tanah lapang untuk mendirikan tenda sebelum dilakukan summit attack. Untuk menambah persediaan air, kita dapat menuruni lereng pos III ke arah kanan selama kurang lebih 30 menit untuk mendapatkan air yang berupa genangan air tadah hujan dan merupakan tempat satwa Tambora seperti rusa, babi hutan, dan beragam burung mencari minum. Di sinilah terdapat sumber air terakhir sebelum puncak.

Pagi hari sekitar pukul 03.00 kita dapat melanjutkan perjalanan menuju puncak untuk mengejar matahari terbit. Tenda dan carrier dapat kita tinggalkan di pos III mengingat jalur pendakian ini cukup aman karena belum seberapa ramai dikunjungi pendaki. Pada saat berada di puncak Tambora dan bibir kawah, berhati-hatilah terhadap lautan pasir yang cukup dalam dan angin yang bertiup cukup kencang. Serta waspadai untuk tidak berada terlalu dekat dengan bibir kawah yang rawan longsor karena beberapa pijakan bibir kawah hanya berupa tumpukan pasir yang bila diinjak akan mengakibatkan longsor.

Keindahan kawah Tambora memang cukup membuat terpana. Kawah yang menganga lebar dengan luas berkilo-kilo meter, ditambah dengan eksotiknya sebuah anak gunung api yang muncul di dalam kawah. Gunung api kecil ini dalam bahasa Bima disebut sebagai Doro Afi To’i. Belum lagi rumpun-rumpun edelweis yang tumbuh di sela-sela lapisan dataran bibir kawah yang luas dan berlapis-lapis dapat dinikmati di bawah cerahnya langit di bulan Juni – Agustus yang merupakan waktu terbaik melakukan pendakian di Tambora. Jangan lupa setelah mendaki Tambora untuk membawa pulang madu  Sumbawa yang sangat terkenal itu sebagai oleh-oleh yang dapat diperoleh dari masyarakat setempat. Serta kunjungi pantai Lakey yang eksotik yang merupakan surganya para peselancar dunia yang masih belum terjamah modernisasi.

Pohon Berbuah Batu Satonda

Mungkin sebelumnya pembaca lebih mengenal Sumbawa dengan pulau Moyo-nya. Namun ternyata tidak jauh dari letak pulau Moyo terdapat satu pulau kecil yang sangat unik. Kali ini kesempatan itu datang untuk mengunjungi satu pulau unik di utara pulau Sumbawa, yaitu pulau Satonda.

Pulau Satonda yang memiliki luas sekitar 4,8 km2 memiliki keunikan yaitu sebuah danau yang tepat berada di tengah-tengah pulau dengan diameter sekitar 0,8 km, merupakan danau air asin yang belum diketahui sumber airnya dari mana. Namun menurut beberapa teori ada yang mengatakan bahwa danau Satonda terjadi akibat letusan gunung Tambora pada tahun 1815 yang sangat dahsyat menyebabkan air laut pasang dan menggenangi pulau Satonda dan mengganti air danau air tawar Satonda menjadi sebuah danau air asin seperti sekarang ini. Dikatakan bahwa air di danau Satonda tidak pernah mengalami pasang maupun surut karena diyakini tidak memiliki saluran pertukaran air dengan laut di sekitarnya.

Satu keunikan lagi adalah adanya sebuah pohon yang penuh dengan batu-batu yang digantungkan pada dahan dan ranting-rantingnya, sehigga pohon ini disebut sebagai “pohon berbuah batu” oleh masyarakat maupun pengunjung yang datang ke Satonda. Hal ini dilakukan karena adanya kepercayaan bahwa Dengan menggantungkan sebuah batu pada pohon tersebut akan dapat mengabulkan keinginan kita. Menggantung batu ini telah ada sejak cukup lama dan pengunjung yang menggantungkan batu di pohon ini adalah masyarakat sekitar dan pengunjung Satonda bahkan hingga beberapa pejabat yang pernah berkunjung ke Satonda. Perlu diketahui, hanya satu pohon yang memiliki buah batu ini walau ada pohon-pohon lainnya yang masih memiliki dahan dan ranting kosong untuk ditumbuhi buah batu.

Transportasi menuju Satonda dapat diperoleh di labuhan Kenanga di desa Calabai yang dapat dicapai dengan kendaraan pribadi maupun bis angkutan umum dari pusat kota kabupaten Dompu. Di Labuhan Kenanga kita dapat menyewa perahu dari para nelayan sekitar yang memang memiliki pekerjaan sampingan sebagai pemandu untuk berkeliling pulau Satonda dengan  harga yang terjangkau. Selain itu, kita dapat pula berkemah atau sekedar berpiknik di pulau Satonda selama dua atau tiga hari di tepi danau Satonda yang indah dan unik sambil menikmati suasana tenang di tengah pulau yang menyepi. Tidak perlu khawatir karena keamanan di pulau ini masih terjaga baik dari gangguan manusia maupun binatang buas yang memang jarang ditemui di pulau ini. Semoga pemerintah setempat mampu mewujudkan Satonda sebagai salah satu lahan konservasi alam untuk lebih dapat merawat dan menjaga kelestarian dan kelangkaan spesies yang hanya ada di pulau dan danau Satonda.

Lakey – Hu’u, Surga Peselancar yang Belum Terjamah Modernisasi


Tak hanya memiliki gunung Tambora dengan kawah terbesar di Indonesia dan pulau Satonda yang unik, kabupaten Dompu, Sumbawa – NTB juga memiliki objek wisata pantai yang sangat indah. Pantai Lakey – Hu’u yang terletak di selatan wilayah Dompu berjarak kurang lebih 30 menit berkendara dari pusat kota Dompu.

Pantai Lakey merupakan salah satu objek wisata andalan Dompu yang menyediakan berbagai pemandangan eksotik dan kegiatan olahraga air. Pantai ini bahkan memiliki julukan sebagai surga peselancar yang tersembunyi. Memang demikian halnya karena pantai ini hanya dikenal oleh beberapa wisatawan saja yang kebetulan berlibur di Sumbawa atau yang akan menuju pulau Komodo melalui jalur darat yang akan melalui Dompu. Tak ayal pantai ini tidak seberapa ramai dikunjungi wisatawan asing. Namun demikian, beberapa tahun yang lalu, federasi peselancar dunia sempat mengadakan kompetisi selancar kelas dunia yang ternyata membuat para peselancar dunia menemukan satu lagi surga bagi mereka untuk meluncurkan papan selancarnya. Namun mengingat kegiatan pariwisata Dompu yang belum seberapa dapat bergerak maju akibat kurangnya promosi pemerintah setempat terhadap penanam modal atas potensi wisata yang mereka miliki, maka Lakey tetap menjadi satu surga peselancar yang masih tersembunyi dari lirikan wisatawan pada umumnya. Walau demikian pemerintah setempat sedang menggalakkan usaha untuk mempromosikan salah satu potensi wisata mereka dengan mengadakan promosi-promosi wisata dan bekerja sama dengan beberapa agen wisata untuk menarik pengunjung ke Lakey.

Sebenarnya pemerintah juga telah menyediakan beberapa fasilitas wisata yang berkelas setara bintang tiga di sekitar pantai, beberapa bungalow untuk penginapan dengan harga yang terjangkau. Juga beberapa tempat penyewaan perlengkapan surfing dan instruktur selancar bagi mereka yang ingin belajar berselancar. Disamping tersedia pula olahraga air lainnya seperti Kite Surfing, Diving, Kanoing dan sebagainya. Lakey juga sangat tepat dijadikan tempat untuk liburan keluarga seperti berpiknik misalnya ataupun hanya untuk sekedar melepaskan penat yang diakibatkan oleh hingar-bingar kesibukan kota besar dengan memandang lepas laut biru Lakey.

Demikianlah keindahan potensi wisata alam yang ditawarkan oleh satu dari sekian banyak daerah di timur indonesia. Selamat berlibur dan jaga kelestarian alam untuk anak dan cucu kita.

About these ads

2 comments

  1. Hi mbak Inten. Punya no telpon rekan/kawan di Desa Pancasila nggak? Atau di Dompu juga boleh. Kami ada rencana mendaki G Tambora bulan Juni nanti. Trims.


    • hallo mas handjono…maaf skali, saya kehilangan kontak sama sekali dengan mereka, sementara coba langsung ke pancasila, mereka punya perkumpulan pencinta alam namanya KAPATA, atau seperti biasana nanti ketemu kepala desa dulu…
      hmm…coba saya cek lagi ya, beberapa minggu lalu ada temennya temen -:D- yang juga tanya soal kontak tambora dan udah ke sana bulan lalu…kalo ada nanti saya update :D



silakan berbagi sudut pandang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: